
"Candra," sapa Zahir ketika rombongan orang-orang seusia Dinda datang ikut bergabung di antara mereka di ruang tengah, setelah dipersilakan masuk oleh Kaamil.
"Hallo Om, Tante," balas Candra ramah sambil menyodorkan tangan dan menciumnya bergantian kepada orang tua yang berkumpul.
Rombongan yang tidak lain adalah teman-teman Dinda berserta suaminya, hanya bisa bengong dan terheran-heran saat menyaksikan sambutan dari pria paruh baya itu pada Candra.
"Kalian teman-temannya, Adin, ya?" tanya Mita, memutus rasa penasaran mereka pada Candra yang terlihat sudah sangat kenal pada keluarga besar Dinda.
"Iya Tante. Saya Imah, dan ini suami saya. Mas Abdar." Rahimah lebih dulu mengenalkan diri sambil bersalaman.
"Saya Soraya, dan ini suami saya. Mas Zidan." Soraya ikut mengenalkan diri, sama seperti Rahimah.
"Saya Nurul, tante. Ini suami saya, namanya Ari. Kalau boleh tau, Tante siapa?" dengan santainya, Nurul menanyakan siapa orang yang menjadi pusat perhatian mereka sejak tadi.
"Nurul," protes teman-temannya tanpa suara sambil melotot. Namun, sang empuhnya seolah-olah tidak melihat.
"Saya Mita, Mamanya Adin," jawab Mita tersenyum ramah.
Jangan tanyakan bagaimana expresi ke enam orang itu, tentu ada terselip rasa kaget dan sempat tak percaya. Apa lagi para lelakinya, sebab kemaren mereka bertiga baru berkenalan dengan Al dan Vita sebagai orang tua Dinda. Akan tetapi, mereka segera bersikap normal ketika ingat berita tentang jati diri Dinda. Seorang putri pengusaha batu bara.
"Dan ini, suami tante. Kalian bisa panggil, Om Zahir," lanjutnya mengenalkan orang yang pertama menyambut kedatangan Candra tadi.
"Jadi kamu, yang akan bantu Om, mencari orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu, Candra?" tanya Zahir usai menyamput semua uluran tangan teman-teman Dinda.
"Insyaallah, Om. Tadi malam, saya sudah melacak dan ada sedikit titik terang," jawab Candra mendapat perhatian penuh dari semua orang.
"Oya? Coba tunjukan," pinta Zahir cepat. Mempersikahkan Candra duduk di sofa yang muat menampung tiga orang. Dengan dihimpit Zahir dan Al, Candra segera mengeluarkan laptop dari dalam tas yang dia bawa.
Yang lain pun dipersilahkan duduk. Semenatara itu, para wanita berlalu pergi ke meja makan. Selain tempat duduk yang tidak muat, mereka juga membiarkan para pria berdiskusi secara leluasa.
Dinda diam seribu bahasa. Dia hanya memperhatikan interaksi Papanya dan Candra dari jarak jauh.
"Apa Tante Vita itu, mama tiri, kamu? Atau Om Al, yang ayah tiri, kamu?" bisik Nurul tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
Dinda tersentak mendengar pertanyaan itu, dia langsung menoleh dengan alis yang hampir menyatu.
"Aku jadi bingung, yang mana orang tua tiri, kamu?" Dinda masih menatap Nurul dengan diam, ketika pertanyaan lain kembali dilayangkan.
"Nurul, bisa diam nggak, sih?" bisik Soraya geram.
__ADS_1
"Nanti, aku ceritain," jawab Dinda ikut berbisik. Dinda menggeleng pelan, mengetahui isi pemikiran temannya itu tentang orang tua tiri.
"Dari data yang saya dapat, dia menggunakan data palsu, tapi masih bisa saya telusuri," ujar Candra lugas, jarinya menari-nari di atas papan keyboard.
"Ini." Candra memperlihatkan layar laptopnya yang terdapat deretan kalimat.
"Danu---," pekik Kaamil tertahan.
Semua orang langsung menoleh ke arah Kaamil tanpa dikomando yang berada di belakang kursi Zahir, Candra dan Al. Rupanya Kaamil ikut membaca secara diam-diam di balik punggung mereka.
"Kamu, kenal?" tanya Candra cepat.
"Teman gw, Bang," jawab Kaamil sambil melirik Dinda yang menatapnya lekat.
"Tapi ... kalau nggak salah, sih. Kan, nama Danu, nggak cuman satu," elak Kaamil meragukan dugaannya.
"Nanti kita, buktikan. Aku sudah hampir menemukan alamat terakhir, dia berada," jawab Candra percaya diri.
Candra sudah begadang sejak tadi malam ketika dimintai tolong oleh Abdar, maka dari itu dia tidak akan menyerah sampai di situ saja.
Awalnya Candra terkejut bukan main ketika mengetahui skandal yang dialami Dinda, tapi berangsur menghilang saat tadi malam dia dijelaskan oleh Abdar tentang kabar dari istrinya yang mengatakan bahwa Dinda dijebak.
"Emil ... kamu cari orang, untuk menemukan orang ini dan seret dia ke sini," perintah Zahir tegas pada anak bungsunya.
"Biar saya dan Kaamil saja Om, yang mencarinya. Akan memakan waktu lebih lama lagi kalau mencari orang, nanti dia keburu sadar karena sudah dilacak dan orangnya kabur duluan," usul Candra menawarkan diri sebelum Kaamil menyahut.
"Apa Om tidak merepotkanmu?"
"Tidak sama sekali."
"Baiklah. Karena kamu tidak keberatan, Om minta tolong ya?" ujar Zahir. Tangannya terangkat dan menepuk punggung Candra pelan beberapa kali.
"Tolong temukan orang ini, yang sudah mempermalukan putri Om," lanjut Zahir lirih. Di balik wajah datarnya, tersirat kesedihan seorang ayah akan nasib sang putri.
"Insyaallah, Om."
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Dinda termenung di dalam kamar usai kepergian teman-temannya tadi siang. Cukup lama mereka berkumpul, tapi tidak banyak yang dibicarakan selain hanya memperhatikan para pria di ruang tengah dengan mimik wajah serius.
__ADS_1
"Adin ...."
Tiba-tiba dari balik pintu ada yang mengetuk dan memanggil namanya. Mendengar suara itu, Dinda sudah tahu siapa orang yang mendatanginya tersebut.
"Iya, Pa," kata Dinda membukakan pintu dan menyambut Zahir.
"Boleh Papa, masuk?"
"Boleh, Pa." Dinda menepi sembari membuka pintu lebih lebar agar memudahkan ayahnya masuk ke dalam kamar.
Zahir masuk dan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Dinda yang mendekat usai menutup pintu.
"Papa, tidak akan menyalahkan apa yang sudah terjadi padamu. Tapi Papa, juga---," jeda Zahir menatap dalam manik Dinda yang seketika berair saat dia membuka suara.
"Kecewa sama Adin."
Deg ....
Satu ungkapan rasa kecewa dari sang ayah, membuatnya bagaikan berdiri di tepi gunung dengan ketinggian 19.715 kaki dan terpeleset hingga terhempas sampai ke dasar jurang yang paling dalam.
"Pa---," suara Dinda bergetar bersamaan air mata yang mengalir deras.
"Adin, minta maaf ... Adin, minta ampun, Pa." Dinda beringsut, bersimpuh di hadapan Zahir sambil terisak.
"Adin tau ... selama ini, Adin salah karena nggak pernah nurut sama Papa dan Mama. Adin terima hukuman dari Papa, tapi Adin, mohon Pa. Maafin Adin, Pa." Dinda menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Zahir, meratapi kesedihan hati yang lara.
Dinda teringan tentang apa yang dilakukannya dulu. Selalu mengecewakan orang tua dengan pilihannya. Mulai dari keinginan tinggal di rumah Vita sedari kecil, menyembunyikan identitas, hingga menikah dengan Angga. Namun, pernikahannya berakhir dengan perpisahan, dan sekarang ... dia kembali mengecewakan kedua orang tua yang sudah membesarkan dengan penuh kasih sayang.
"Bangun, Adin! Papa sudah memaafkanmu, hanya saja ... Papa, masih kecewa." Dinda bangkit dibantu sang ayah, dia pun dipeluk sayang tanpa berhenti menangis.
"Setelah ini, Papa cuman minta satu hal sama, Adin."
"Iya Pa, Adin akan nurut." Dinda mengangguk cepat dalam dekapan Zahir.
"Kamu, janji?"
"Janji!" kata Dinda pasti.
"Baik, Papa pegang kata-katamu sampai Papa meminta janji itu."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....