
"Emang Mas Abdar, masih suka muntah-muntah?" tanya Soraya pada Rahimah sambil memakan pancake coklatnya.
Sekarang mereka tengah duduk santai di sofa ruang kerja Dinda. Sudah hampir setengah jam berkumpul setelah kedatangan kedua sahabat mereka dengan ditemani pancake coklat dan jus jeruk.
"Iya ... aku kasian liatnya. Periksa ke dokter, tapi kata dokternya nggak ada masalah," jawab Rahimah mengeluh lesu, sembari memainkan kue di piringnya.
"Aneh ya? Udah kaya aku aja, pakai muntah-muntah terus tiap hari," komentar Soraya disela-sela mengunyah kue dengan mengerutkan kening, perut yang membuncit sama sekali tidak menyulitkannya.
"Tapi kamu, kan, lagi hamil Ay. Masa Mas Abdar, juga hamil?" timpal Nurul terkekeh geli, tangannya juga bergerak menyendok kue di piring kecil yang dipegangnya.
"Ya kali, cowok bisa hamil." Dinda melempar Nurul dengan tisu yang sudah diremasnya usai mengusap bibir.
"Hehe, kali aja ...," ucap Nurul cengengesan tanpa dosa.
"Eh, tunggu?" pangkas Rahimah menegakkan duduknya, terdiam dengan mengerutkan kening dalam seolah berpikir keras.
"Ada apa, Imah?" tanya Dinda heran dengan sahabatnya itu.
"Kok, aku lupa ya. Puasa kemarin ... aku puasanya, full lo!" ujar Rahimah melirik ketiga temannya bergantian.
Mereka pun terdiam sebelum akhirnya memekik bersama, "Jangan-jangan, kamu hamil?" ucap serempak.
"Masa sih? Kok bisa cepat ya?" tanya Rahimah kaget dan bingung.
"Kamu lupa? Rahman aja, cepat jadinya."
Lemparan tisu yang sengaja diremas oleh Dinda dan Soraya seketika menyerang Nurul, karena berbicara demikian.
"Loh, memangnya aku salah? Aku, kan, cuman bilang ... cepat jadinya. Jadi, itu adik Rahman, kemungkinan bisa saja juga cepat jadinya!" tutur Nurul apa adanya.
Dinda dan Soraya mendengus kesal, tapi berbeda dengan Rahimah. Dia mengangguk samar dengan pandangan menerawang kedepan.
"Emm, apa ini ada kaitannya sama Mas Abdar yang suka muntah-muntah?" tanya Rahimah tiba-tiba, dan membuat kedua temannya lega.
"Bisa jadi," sahut Soraya berpikir sejenak, dan kembali memakan kuenya.
"Aku sih mikirnya juga gitu," aku Dinda setuju.
"Tapi, aku masih bingung," ucap Rahimah.
__ADS_1
"Gini ya Imah, biar aku jelasin," ujar Dinda menarik perhatian teman-temannya.
"Tapi sebelum aku jelasin, kamu jawab dulu pertanyaan aku," lanjut Dinda sambil mengulum senyum tipis.
"Pertanyaan apaan?"
"Kamu kan, pas nikah itu sedang dapat tamu bulanan. Terus ... apa setelah kamu selesai, kamu langsung---," kata Dinda menggantungkan kalimatnya dengan alis yang turun naik.
"Apaan sih, Din." Rahimah memukul lengan Dinda pelan yang duduk di sampingnya dengan semburan yang memerah di pipi.
Ketiganya tertawa lepas. Tanpa diperjelas Rahimah, mereka menyadari jika itu pasti adalah jawaban yang tersirat.
"Udah, buruan jelasin!" desak Rahimah sambil makan kuenya, guna mengurangi rasa grogi.
"Oke, dengarin ya! Masa subur biasanya terjadi sepuluh hingga tujuh belas hari setelah hari pertama menstru4si terakhir. Hal ini berlaku jika siklus h4id kita normal yaitu dua puluh delapanhari dalam satu periode."
"Di antara ribuan wanita, kadang masih banyak orang yang salah kabrah prihal masa subur wanita usai menstru4si. Sebagian dari mereka percaya kalau sehari setelah menstru4si selesai, tidak akan mengalami kehamilan ketika 'berhubungan'. Dan pertanyaannya adalah ... apakah 'berhubungan' (Dinda menekuk jari telunjuk dan tengahnya) usai menstru4si dapat menyebabkan hamil?" kata Dinda serius menjelaskan sembari bertanya, yang mendapat perhatian teman-temannya.
"Jawabannya adalah iya. Melansir New Health Guide, kehamilan dapat terjadi meskipun peluangnya relatif kecil," sambung Dinda menjawab pertanyaan sendiri dengan penuh penekanan diujung kalimat.
"Pada saat menstru4si, kita akan membuang s3l telur yang tidak terpakai. Kemudian segera mempersiapkan lagi s3l telur baru untuk dibu4hi dalam beberapa hari."
"Jadi ... jika kita melakukan 'hubungan' (kembali jari telunjuk dan tengahnya ditekuk) sehari setelah menstru4si berakhir, masih ada kemungkinan hamil. Pasalnya, ****** dapat menunggu hingga 5 hari di dalam v4gin4."
"Sementara itu, s3l telur wanita biasanya butuh waktu beberapa hari sebelum matang dan dilepaskan ke r4him untuk dibu4hi."
"Kemungkinan yang lainnya ialah ... Mas Abdar juga sedang dalam masa subur, sehingga pembuahan bisa berjalan dengan lancar dan semestinya. Hingga terjadikah kehamilan," goda Dinda sambil tertawa melihat Rahimah yang tersipu malu, dan diikuti tawa kedua temannya.
"Coba aja, beli alat tes pack," usul Nurul sembari tersenyum riang.
"Iya deh nanti."
"Dinda hebat juga bisa tau itu," kagum Nurul.
"Itu karena mama aku dokter kandungan," tanggap Dinda.
"Kalau kamu tau itu dan mama kamu adalah seorang dokter kandungan, lalu kenapa kamu dulu nggak hamil-hamil ya?" celetuk Nurul tanpa sadar.
"Mulutmu!" sergah Rahimah dan Soraya geram.
__ADS_1
"Aku juga sudah menerapkan semua yang disarankan mama, tapi kalau Mas Angganya jarang di rumah ... ya gimana dong?" tanya Dinda tersenyum kecut mengenang masa lalunya. Ketiga melihat prihatin.
"Malahan, aku sempat mau ikut program bayi tabung tau nggak, takut akunya yang bermasalah. Mungkin itu sebabnya, kenapa Tuhan belum kasih kepercayan hingga pernikahan kami yang mau tiga tahun. Aku bersyukur karena Mas Angga membebaskanku dalam pernikahan ini," tutur Dinda sendu.
Ketiganya langsung merapat dan memeluk Dinda sayang. "Maaf, udah ngingatin kamu soal ini," sesal Nurul tulus.
"Nggak apa-apa, itu bukan salah kamu. Aku tau, masalah ini nggak akan pernah lepas dari hidupku," balas Dinda lapang dada.
"Kamu sempat mikir nggak sih, kenapa si angsa itu menggugat cerai kamu?"
Suasana sedih seketika berubah tawa dengan pertanyaan Nurul, karena nama Angga dirubahnya menjadi angsa.
"Enggak." Dinda menggeleng pelan.
"Bisa jadi, karena dia merasa bersalah. Makanya lebih memilih menceraikan Dinda," pendapat Soraya.
"Bukan ...," tolak Nurul.
"Terus?" cetus Rahimah.
"Kayanya nih ya ... si cewek simpanan itu yang menghasut angsa buat menceraikan kamu," asumsi Nurul.
Dinda menghela napas berat. "Udah ah, kita kan, lagi bahas Imah. Kenapa jadi bahas mereka?" Nurul meringis menyadari tatapan Rahimah dan Soraya begitu tajam ke arahnya.
"Hehe, maaf maaf ... iya, aku ngaku salah," kata Nurul meminta maaf sambil memeluk semuanya.
"Oiya, berita tentang skandal kamu sudah mulai mereda lo. Sekarang mensos lebih tertarik mencari siapa dalang penyebaran foto dan penjebakan itu." Nurul menarik diri dan langsung merubah topik pembahasan.
"Syukur alhamdulilah," sahut mereka.
"Semoga masalah kamu cepat selesai, dan kelak kamu bisa hidup bahagia sama Mas Candra," do'a Rahimah yang diamini mereka sungguh-sungguh, walah dirasa berat bagi Dinda.
"Kamu udah terima Mas Candra dengan ikhlas, kan, Din?"
"Do'ain ya, semoga hatiku lapang," minta Dinda.
"Pasti kita do'ain. Tapi bukan cuman do'a, dari kami doang. Kamu juga harus berusaha mendekatkan diri sama Mas Candra, agar hatimu cepat menerima dia." Soraya dan Nurul mengangguk setuju apa yang dikatakan Rahimah.
"Dan ... semua itu dimulai dari kamu! Misalnya, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri yang baik."
__ADS_1
Dinda tersentak kecil dengan saran Nurul tersebut.
BERSAMBUNG ....