Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 49 Adit yang marah.


__ADS_3

Di sebuah apartement dalam remang cahaya, bau dari tembakau memenuhi ruangan. Puntung dan abu menempati asbak hingga merempes ke atas meja. Kaleng kosong dengan merek bintang tiga pun berserakan di mana-mana.


Seorang pria tengah tertidur di atas sofa panjang dengan keadaan yang tidak biasa. Jas hitam tergantung asal di sandaran sofa, satu kaki dan tangannya menjuntai di permukaan lantai.


Ia yang biasanya berpakaian rapi, hari ini terlihat begitu acak-acakan. Kemejanya lusuh, keluar, dan sebagian kancing terbuka. Wajahnya kusam dengan rambut yang berantakan.


Keadaan sunyi, seketika pecah oleh ponsel yang berdering. Sudah tidak terhitung, berapa kali panggilan yang terlewatkan. Namun, tetap tidak membangunkan pria yang masih betah dalam alam mimpinya.


Perlahan kelopak mata yang tertutup rapat itu bergerak dan mengerjam. Pusing dan berputar-putar adalah efek yang didapat.


Tangannya refleks terangkat memegang kepala yang terasa sakit. Bukan hanya kepala, tapi seluruh tubuhnya pun ikut sakit ketika hendak bangkit.


Ponsel di atas meja kembali berdering, meminta untuk segera di angkat. Ekor matanya melirik malas, dengan enggan menjangkau benda yang menampilkan buah digigit ulat di bagian belakangnya.


Bangkit dari tidurnya. Pusing masih sangat mendera, ia pun langsung menyandarkan punggung lebarnya dan meletakkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Hmmm," gumamnya begitu malas setelah membiarkan ponselnya menunggu berapa detik sebelum ia sahut.


📱"Lu kalau patah hati, jangan sampai hilang tanggung jawab, dong," marah seseorang di ujung telepon. Ia tidak merespon. Matanya menatap kosong langit-langit, sembari pikiran yang berkelana.


📱"Gw bayar lu buat kerja, bukan buat santai aja," ucap orang itu mengingatkan.


📱"Adit! Lu dengar gw, nggak sih?" sentak suara bas dengan bersungut-sungut.


Adit masih sama seperti tadi, tidak merespon. Perlahan tangan yang memegang ponsel itu menjauh dari daun kuping, dan jarinya dengan sengaja menekan tombol mati tanpa peduli pada seseorang yang masih melampiaskan kekesalannya di seberang telepon.


Beranjak dan berdiri. Namun, dia malah terhuyung dan hampir terjatuh karena masih pusing. Adit pun diam sebentar sambil menahan diri agar tidak ambruk.


Kaki jenjang yang masih terbungkus kaus kaki menyeretnya ke dalam kamar mandi dengan langkah gontai. Setibanya di sana, Adit lekas mencuci muka beberapa kali.


Dengan wajah yang masih basah, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Kedua tangannya menempel di permukaan kaca guna menopang tubuhnya.


Rahangnya mengeras hingga guratan nadinya terlihat. Mata yang awalnya sayu kini berubah penuh amarah dan kebencian. Menandakan, begitu marahnya dia saat ini.

__ADS_1


"Gw salut sama lu, Zak. Lu bisa menentang mama dan menikahi wanita yang lu sukai," puji Adit sambil tersenyum menyedihkan.


"Walau hidup lu cuman sebentar, setidaknya lu pernah hidup bersama dengannya dan memiliki putri yang sangat cantik, Zak," lanjut Adit sambil mengenang sang adik yang sudah meninggal beberapa bulan lalu.


Seandainya bisa mengulang waktu dan mempunyai keberanian seperti adiknya, dan tidak berakhir dengan pertengkaran bersama sang mama. Dia pasti sudah menikahi wanita pujaan hatinya.


Akan tetapi, dia begitu pengecut untuk mengambil sebuah keputusan yang menyangkut restu orang tuanya. Berbanding terbalik dari Zaki, adiknya.


"Gw udah bosan dengan semua ini."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Bunyi suara bel mengambil perhatian Adit dari aktifitasnya menyisir rambut, tapi dia tidak langsung menghentikan kegiatannya dan tetap menyelesaikan tugas yang hampir selesai.


Selesai dengan rambut yang sudah tertata rapi belah samping, baju kaus putih dan celana selutut berwarna hitam, dia bergegas berjalan ke luar kamar dan menuju pintu utama apartement.


Adit mendengus kesal ketika mengetahui siapa tamunya dari celah kecil yang terdapat di daun pintunya. Dia langsung membalikkan badan dengan sikap acuh tak acuh saat pintu sudah terbuka lebar.


"Adit, Mama mau bicara serius sama kamu," ucap wanita yang mengaku dirinya sebagai mamanya.


Dengan sikap angkuh dan tidak peduli apa yang Adit ucapkan, mamanya duduk di sofa sambil mengangkat satu kakinya ke atas kaki yang lain.


Tidak ada lagi bau dari tembakau, asbak penuh puntung rokok dan abu, atau kaleng kosong yang berserakan di mana-mana. Yang ada ialah, sebuah hunian seorang pria lajang yang sangat rapih, dan bau semerbak perpaduan mint juga jeruk.


"Kamu bicara apa sih, Dit? Mama melakukan ini, semua itu demi kamu," elaknya beralasan.


"Demi aku ...? Apanya yang demi aku, Ma? Semua ini hanya menguntungkan Mama, tapi tidak membuat aku bahagia," protes Adit marah. Lenyap sudah sopan santunnya, karena mengingat betapa egoisnya sang mama.


"Mama hanya berpikir realistis, Dit. Kalau kamu memilih janda dengan sekandalnya itu ... Mama jamin hidup kamu nggak akan tenang! Bisa-bisa kamu akan selalu menjadi gunjingan orang-orang, jika tetap keras kepala bersamanya. Lebih baik tinggalkan dia, sebelum terlambat dan nurut sama pilihan Mama."


Adit menatap mamanya frustasi, dan berucap sinis, "Aku udah ninggalin dia, Ma. Tapi bukan berarti aku setuju dengan pilihan Mama," tegasnya penuh penekanan.


"Kamu mau jadi anak durhaka? Kamu mau seperti Zaki? Apa kamu mau bikin Mama kecewa? Hah!" sentak mamanya dengan mimik wajah sedih penuh kepalsuan.

__ADS_1


"Mama selalu mengatur dan mengekang kami. Apa Mama juga akan seperti ini sama Aira dan Embun?"


"Itu tergantung dengan pilihan adik-adikmu." Jawaban yang sangat Adit benci.


"Sebaiknya Mama, pulang," usir Adit terang-terangan.


"Mama belum selesai bicara, Dit. Soal---."


"Apa uang yang aku kasih tiap bulan itu nggak cukup, Ma?" sentak Adit memotong kalimat yang akan mamanya katakan.


"Sampai Mama repot-repot cari orang kaya raya, buat jadi besan Mama. Padahal istrinya Zaki itu juga orang kaya. Tapi kenapa Mama nggak merestui mereka?"


"Itu karena waktu itu, Mama udah janji sama teman Mama buat jodohin Zaki sama anak teman Mama. Tapi gara-gara Zaki nolak, anak teman Mama jadi dinikahkan sama orang lain. Kamu juga ... Mama sudah suruh kamu buat gantiin Zaki, malah nggak mau."


"Nggak usah dibahas lagi, Ma," pangkas Adit


"Tapi---."


"Mama pulang sekarang!"


"Nggak mau."


"Apa perlu aku panggil security?" ancam Adit.


Mamanya berdecak. Tidak ingin mengambil risiko, dia pun lekas berdiri dengan wajah yang ditekuk. "Mama akan datang lagi nanti," ujarnya sambil berlalu.


Adit memutar matanya malas, membiarkan sang mama pergi sendiri dari tempat kediaman ternyamannya. Detik berikutnya terdengar pintu yang dibanting begitu keras.


Adit menghembuskan napas berat dan panjang. Begitu menyayangkan sikap mamanya yang hanya mementingkan diri sendiri, meski pun adik laki-lakinya itu sudah meninggal. Akan tetapi, sang mama sama sekali tidak terketuk hatinya untuk berubah dan tidak lagi ikut campur dalam urusan percintaan mereka.


"Apa aku harus berkorban, demi kebahagian adik-adikku?" tanya Adit pada diri sendiri sambil mengenang kedua adik perempuannya.


Dia harus menyiapkan sebuah rencana agar tidak selalu dimanfaatkan mamanya, walau harus berkorban sekali pun demi masa depan adik-adiknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2