
Seminggu sudah semenjak hilangnya Dinda dari pencarian Candra, dan itu membuat tidurnya tidak pernah nyenyak hingga sampai detik ini. Setiap harinya dalam hitungan detik, menit, dan jam. Menjadi kekhawatiran tersendiri tentang nasib istrinya.
Candra begitu dilanda rasa bersalah, ketika masalah ini, mau tidak mau harus dia sampaikan kepada pihak mertuanya nan jauh di sana. Dia begitu malu dan merasa bodoh, karena tidak bisa menjaga sang istri saat jauh dari keluarga besarnya.
Hari ini pun perasaan Candra semakin bersalah, ketika mendengar kabar duka dari kakek istrinya. Dia tidak bisa membawa Dinda untuk mengunjungi sang kakek didetik-detik pemakaman kakeknya. Candra juga tidak bisa turut serta, karena masih harus mencari istri yang belum lama dinikahinya.
Di malam yang sunyi nan pekat bertabur bintang berhiaskan bulan sabit, menampakkan keindahan dan kedamaian dari ciptaan sang Pemilik Kehidupan. Namun, tidak di hati Candra dan seluruh orang yang mengenal Dinda.
Candra sama sekali tidak merasakan keindahan dan kedamaian tersebut. Hatinya diliputi awan mendung dan petir penyesalan. Di dalam ruang kerjanya, dia duduk menyendiri dengan pikiran yang melayang tentang keberadaan Dinda saat ini.
Candra menatap sendu dan menggenggam erat dua buah buku kecil berwarna merah dan hijau berlambangkan gambar garuda dengan tulisan tinta emas dan sederet kalimat 'Buku Nikah Istri-Buku Nikah Suami', yang di dapatnya beberapa hari lalu dari kantor KUA.
"Kamu di mana ...?" tanya Candra dengan suara yang bergetar sambil menatap foto Dinda dan mengusapnya.
Perlahan tangannya meletakan kedua buku itu di atas meja, lantas menyandarkan punggung juga kepada pada sandaran kursi sembari menghela napas panjang dan memejamkan mata. Sedih, lelah, khawatir, dan juga marah pada diri sendiri, karena tidak bisa menemukan Dinda.
Lama dia memejamkan mata, hingga ingatannya melayang pada saat kejadian ketika menemukan tempat persinggahan Dinda.
Flashback on.
Ruangan sunyi dan kosong menjadi pemandangan pertama yang tertangkap oleh penglihatan mata. Tanpa peduli siapa pemilik gubuk tersebut, Candra bergegas masuk dan menuju pintu di sudut ruangan.
Membuka pintu satu-satunya yang berada di ruangan itu, jantungnya seketika berdegup menggila saat memikirkan jika Dinda ada di balik pintu.
"Adin," gumamnya membatin seiring pintu yang dia. dorong.
Candra bergeming menelisik setiap sudut. Tidak ada seorang pun di dalam ruangan tersebut, dan itu membuat hatinya hancur seketika.
"Bang," panggil Bagus cemas sambil menahan tubuh Candra yang tiba-tiba terhuyung kebelakang.
"Adin nggak ada di sini, Gus," ujar Candra lirih dengan pandangan mengedar, mengabsen seluruh isi ruangan.
__ADS_1
"Kita akan berusaha lagi Bang, ini belum terlambat. Istri Abang pasti akan kita temukan," balas Bagus berusaha membangkitkan semangat Candra.
"Tapi, kenapa aku merasa sudah kalah, Gus? Kita kehilangan jejaknya, dan apa yang akan terjadi dengan istriku?" khawatir Candra gelisah, "Ini salahku ... salahku, Gus. Kenapa bukan aku yang mengantarnya dan memastikan keadaaannya. Padahal dia sudah meminta ijin dan memberitahuku keinginannya untuk mengambil baju di rumah orang tuanya," sambungnya menyesal.
"Ini bukan salah Bang Candra. Kita memang tidak tau akan seperti ini jadinya ketika Mbak Dinda pulang ke rumah orang tuanya," hibur Bagus sambil menepuk pundak Candra pelan
"Aku sangat menyesal ... kenapa firasat itu datangnya terlambat," ungkap Candra yang mengingat pembicaraannya bersama Lintang ketika di kantor. Mengenai kebebasan Baskoro, dan awal mula firasat itu mencuat kepermukaan.
Seseorang datang menghentikan pembicaraan keduanya, ketika Bagus hendak membuka suara.
"Kami menemukan sesuatu, Bang." Refleks Candra dan Bagus menoleh ke asal suara.
"Lu nemuin apa, Do?" tanya Bagus mewakili Candra yang turut penasaran.
"Kalian harus melihatnya!" mereka segera keluar dari bangunan kecil itu, untuk melihat penemuan apa yang rejannya katakan.
Dengan langkah cepat dan setengah berlari mereka mengekor Edo yang berjalan ke sisi lain bangun tersebut.
Dari balik pohon dan tumpukan batang ranting yang masih segar, bertutupkan sebuah terpal. Mereka menemukan sebuah mobil yang mereka kejar sejak tadi.
Candra terdiam dengan isi pemikiran mencari jawaban atas keberadaan mobil tersebut disembunyikan.
"Apa jangan-jangan---," ucap Candra tertahan.
"Dua buah mobil yang berselisih dengan kita tadi adalah mereka," tebak Bagus menyambut kalimat Candra yang langsung menatapnya, karena satu pemikiran dengannya.
Seketika Candra langsung lemas, karena merasa lengah dan kecolongan oleh pergantian mobil. Mereka hanya fokus mencari mobil yang membawa Dinda, tanpa menyadari bahwa itu hanyalah sebuah pengalihan. Mereka lengah dan tidak merasa curiga ketika bersesilihan dengan dua mobil yang mereka lewati tadi.
Kini rasa bersalah di hati Candra berkali-kali lipat saat mendapati kenyataan, bahwa dia benar-benar kehilangan jejak Dinda. Di desa ini tidak ada cctv yang bisa mereka tonton untuk memastikan kendaraan si penculik, atau sekedar mencek plat mobilnya.
Dia juga tidak mempunyai bukti siapa pelaku yang sudah menculik Dinda, menuduh Baskoro hanya akan membalik keadan. Baskoro bisa dengan mudah mengatakan jika itu adalah tuduhan palsu dan bisa menyerangnya.
__ADS_1
Flashback off.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Candra hampir saja terlelap saat mengingat tentang pencarian keberadaan Dinda kapan mana itu, ketika ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Tersentak kecil, tangannya bergegas menggapai ponsel dan menjawab panggilan yang hampir saja berhenti berdering.
"Hallo, Assalamualaikum," sapa Candra sambil memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
Dengan sembari masih memijat kening dan pangkal hidungnya, Candra berusaha fokus mendengarkan sederet kalimat dari seberang teleponnya.
Jari-jari besarnya seketika berhenti memijat di pangkal hidung, kala mendengar penuturan yang mengejutkan jiwa raganya dari lawan bicaranya.
"Kamu serius, Gus? Kamu sudah menemukan petunjuknya?" tanya Candra dengan hati yang berdebar tak karuan, duduknya pun langsung tegap sambil menatap lurus ke depan di satu titik.
"Aku ke sana sekarang," ucapnya beranjak dari duduk dan ruang kerjanya.
Candra segera mematikan ponsel usai mengucap salam dan berlari ke lantai atas guna berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, dia pergi ke dapur dan memanggil pelayan.
"Bik Susi. Saya pergi dulu," pamit Candra yang diiyakan Bik Susi tanpa bisa bertanya ke mana perginya sang majikan.
"Ba--baik, Den," Susi cukup tahu diri dengan batasan yang dia miliki sebagai art (asisten rumah tangga), sehingga dia pun tidak ingin berlaku kurang sopan kepada Candra.
"Mang Pur, bukakan pagar," perintah Candra cepat.
Candra kembali berlari menuju keluar rumah dengan kunci motor di tangannya. Sedang suami Bik Susi mengekor guna membukakan pintu gerbangnya.
Memasang helm dan menghidupkan motornya cepat. Dengan kecepatan di atas rata-rata, motor besar Candra membelah keheningan malam bersama harapan yang begitu besar terselip di lubuk hatinya.
Genggaman tangannya semakin mengerat, ketika hatinya yakin dengan harapan yang pasti bisa dia capai nanti.
__ADS_1
"Tunggu aku. Aku akan menjemputmu, Adin!" ujar Candra membatin semakin menambah kecepatan motornya.
BERSAMBUNG ....