
Mobil hitam yang membawa Dinda dan Candra kini berhenti di warung makan pinggir jalan. Pergi tanpa makan membuat perut Dinda berbunyi ketika menuju pulang.
Dinda tertunduk malu, disebabkan suara perutnya berbunyi hingga beberapa kali dan terdengar nyaring di pendengaran keduanya.
Candra yang mendengar, jelas tidak ingin Dinda semakin kelaparan. Dia pun memutuskan singgah pada salah satu warung nasi yang kebetulan mereka lewati.
"Nggak keberatan, kan, kalau makan di sini?" tanya Candra menghentikan mobil di samping warung nasi.
Dinda melirik ke dalam tenda yang terlihat begitu ramai, dia pun mengangguk dengan pipi yang masih bersemu karena memahan malu.
"Nggak apa-apa, kan, lari dikit?" lanjutnya dan kembali dibalas Dinda dengan anggukan kecil.
Di luar air masih berjatuhan dari langit, walau tidak begitu lebat. Namun, jika tidak lari pasti mereka akan kebasahan.
"Sebentar!" Candra mengambil sesuatu di bagian kursi belakang tepat dibelakang Dinda, membuat indra penciuman Dinda penuh oleh aroma tubuh suaminya. Tanpa disadari dia menahan nafas sejenak dan jantungnya berdegup kencang.
Jaket kulit yang sering Candra pakai ternyata tersimpan di sana. Dia mengambilnya untuk dijadikan pelindung diri dari hujan. Candra turun lebih dulu dan mengitari mobil.
Membukakan pintu untuk Dinda, sekaligus berlindung di bawah jaket yang sama. Mendapatkan perlakukan itu, mengingatkan Dinda pada kejadian saat Candra juga pernah seperi demikian.
"Di sana saja." Tunjuk Candra pada meja kosong di bagian ujung setelah memasuki tenda.
Dinda langsung mengiyakan dan mengekor ke arah yang dimaksud. Keduanya duduk berhadapan dibatasi meja panjang.
"Apa Mas Candra nggak takut, kalau Mas Lintang nanti marah?" tanya Dinda usai pelayan pergi membawa catatan pesanan mereka.
"Dia nggak akan marah," jawab Candra datar, kedua tangannya terlipat di tepi meja.
"Tapi aku jadi nggak enak, Mas," keluh Dinda memelas.
"Udah, jangan dipikirin! Itu biar jadi urusanku."
Dinda mengerucutkan bibir. Tidak ingin memikirkan, tapi tetap saja menjadi beban pikirannya. Apa lagi itu semua disebabkan dirinya.
"Enak bener, nyuruh nggak usah dipikirin," gerutu Dinda pelan.
"Kamu ngomong, apa?"
"Hah, nggak ngomong apa-apa," elak Dinda sambil menggeleng cepat, kedua tangannya turut melipat dan bertumpu di tepi meja seperti Candra.
Candra memicing'kan mata. Dia ingin protes dengan jawaban Dinda, sebab sempat mendengar jika Dinda tadi bergumam. Namun urung, karena pelayan terlanjur datang sambil membawa napan berisi pesanan mereka.
__ADS_1
"Udah biasakan, makan pakai tangan langsung?" tanya Candra yang melihat Dinda tidak lekas menyentuh makanannya.
"Nggak biasa sih, tapi bisa kok," balas Dinda jujur.
Dinda mencuci tangannya terlebih dulu pada mangkok kecil yang berisi air, barulah mengambil sedikit ikan nila goreng dengan kedua tangannya.
"Aaa!"
Dinda terkesiap, karena tangan Candra yang berisi nasi dan ikan sudah berapa di depan mulutnya, sebelum dia mengangkat tangan yang berisi sama persis.
"Nggak usah Mas, aku bisa sendiri!" tolak Dinda pelan sambil memperhatikan sekitar, takut ada yang milihat aksi Candra.
"Aaa," ucap Candra lembut, tapi tegas.
Dinda menelan ludah sebelum akhirnya menyambut suapan pertamanya dari tangan yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Makasih," ujar Dinda disela kunyahannya.
"Hmm," gumam Candra.
"Eh, kenapa Mas," pekik Dinda, karena piring tempat ikan dan sayur lalapannya ditarik oleh Candra.
Tanpa menjawab, Candra acuh tak acuh mencubitkan ikan nila goreng, dan meletakkannya pada piring milik Dinda.
"Hmm," gumam Candra dan kembali memakan makanannya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Setibanya di rumah, hujan sudah benar-benar reda. Dinda dan Candra lekas masuk ke kamar mereka. Bergantian memakai kamar mandi, dengan canggung Dinda ikut bergabung ke kasur yang sama usai dari rutinitasnya.
Masih tidak biasa melepas kain penutup yang membalut rambut panjangnya di depan orang lain. Apa lagi malam pertama mereka tidur bersama, Candra sama sekali tidak mempersalahkan dirinya yang tetap mengenakan kerudung instan.
Dinda pun kembali menggunakan kerudungnya malam ini, sembari menahan malu yang tak berkesudahan. Entah mengapa, semenjak menjadi suami istri, Dinda tidak bisa bersikap angguh lagi di hadapan Candra.
Padahal dulu, dia cukup percaya diri dan siap berdepat walau hanya masah sepele. Namun, sekarang benar-benar berbeda, dan seperti ada sekat tak kasat mata yang melarangnya bersikap layaknya musuh.
Dinda naik ke atas kasur dengan sangat hati-hati, agar tidak mengganggu Candra yang tengah memejamkan mata. Dia cukup tahu diri. Sebagai pengungsi baru, tidak ingin mengusik ketenangan sang pemilik kuasa tempatnya bernaung.
"Apa kau, akan langsung tidur?"
Tersentak kaget bagaikan tersengat aliran listrik dengan tegangan lima puluh volt, Dinda menoleh gugup. Dia pikir suaminya itu sudah tidur.
__ADS_1
"Ke--kenapa, Mas?" Dinda merutuki dirinya, karena kegugupannya begitu jelas dan sangat kentara di netra laki-laki yang kini berstatus suami sahnya.
Candra duduk dengan punggung tegap sembari menatap Dinda. Sedang yang ditatap semakin salah tingkah.
"Ada yang ingin aku bicarakan," tutur Candra serius.
Dinda menelan ludah, dan perlahan ikut duduk guna menghargai suaminya. Walau tidak ada cinta, tapi Dinda berhutang budi atas pengorbanan Candra padanya.
"Apa itu, Mas?" balas Dinda bertanya.
"Ini tentang pelaku."
Jawaban Candra sedikit melegakan hatinya. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak, dan siap melayangkan protes. Akan tetapi, jawaban itu membuatnya langsung fokus pada Candra.
"Besok aku dan Kaamil akan menemuinya lagi, apa kau akan ikut? Dia masih belum mau mengaku, siapa dalang dari penyebaran foto itu."
"Kalau dibolehkan, aku akan ikut," aku Dinda.
"Ya. Kalau kau ingin ikut, aku tidak keberatan," pangkas Candra.
"Apa aku boleh minta sesuatu?"
Dinda mengerjam mata bingung, diam membeku tanpa bisa mengeluarkan satu kalimat pun. Mencoba menebak apa yang akan Candra minta darinya.
"Apa aku boleh minta sesuatu?" ulang Candra, memutus lamunannya.
"Si--silakan," pasrah Dinda berat.
Asmofir seketi memanas. Degup jantung tak seirama, telapak tangan tiba-tiba basah tanpa sadar. Walau ingin menyangkal, tapi ini memang nyata. Dia yang pernah berumah tangga, jelas bisa menebak pikiran pria yang hanya tingal berdua dalam sebuah kamar dengannya.
"Nanti, jika kau bertemu dengan pelaku. Aku harap ... kau tidak usah bertanya terlalu baanyak! Aku khawatir, kau tidak bisa mengontrol diri. Biar aku dan Kaamil saja yang menginterogasinya."
"Oh ... begitu ya? Aku mengeri," timpal Dinda pura-pura mengangguk paham.
"Tenang, Dinda ... tenang," jerit Dinda membatin, mensugesti dirinya.
"Ada lagi?" Dinda ingin segera menenggelamkan diri di bawah selimut, karena isi pikiran yang melayang entah ke mana membuatnya malu sendiri.
Candra tidak langsung bersuara. Mata mereka beradu pandang sejenak, hingga akhirnya Dinda lebih dulu memutus konta. Menghindari tatapan manik hitam pekat, yang jaraknya cukup dekat.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin kita belajar saling menerima setelah masalah ini selesai! Kita sudah sama-sama dewasa, dan bisa mengambil sikap tegas. Aku tidak ingin ... pernikahan kita disamakan dengan pernikahanmu dulu!" terang Candra.
__ADS_1
"Jadi ... mulai sekarang! Buka jilbabmu jika hanya berdua denganku, sebagai awal mula agar kita bisa belajar saling menerima," tegas Candra.
BERSAMBUNG ....