
Candra masih memeluk Dinda, dan disela-sela bisikan dia memberikan kecupan sayang di kening istrinya. Menyadari Dinda yang masih terikat menyatu dengan kursi. Dia lantas langsung menarik diri dan melepaskan tali dari Dinda, tapi sebelumnya Candra membetulkan jilbab istrinya.
"Raka. Kamu lihat teman-teman kita! Apa mereka baik-baik saja," suruh Candra melirik Raka sekilas dan kembali fokus pada tali yang berusaha dia lepaskan.
"Baik, Bang," sigap Raka meninggalkan mereka berdua.
"Tenanglah! Ada aku di sini," hibur Candra, karena sejak tadi Dinda masih menangis hingga segukan ketika dia masih berusaha melepaskan talinya.
Dinda berusaha menghentikan tangisnya sembari mengangguk pelan. Keduanya langsung menghambur ke dalam pelukan, ketika tali itu sudah berhasil dibuka.
"Mas ...," gumam Dinda dengan suara bergetar, tanda dia sedang ketakutan.
"Nggak apa-apa. Kamu sudah bersamaku," balas Candra sambil mengusap punggung Dinda.
"Aku takut," kata Dinda jujur.
Candra memejamkan mata guna meredam emosi yang seketika muncul, karena melihat keadaan Dinda saat ini begitu menyakitinya.
"Ayo!" ajaknya pelan.
Dinda yang masih diliputi rasa ketakutan, berjalan dengan kedua tangan yang masih memeluk pinggang Candra. Tentu saja suaminya itu tidak menolak dan membiarkannya.
Candra melangkah demi langkah dengan pelan guna mengimbangi pergerakan Dinda, sekekali dia juga mengecup keningnya.
"Apa kalian sudah puas bertemu?"
Candra dan Dinda langsung menoleh ke asal suara, ketika kaki mereka baru saja menapak lantai dasar. Mereka yang berjalan pelan lebih memilih menunduk guna memperhatikan langkah kaki, dan tidak menyadari keadaan di sekitar tersebut.
"Mas, aku takut," bisik Dinda semakin mengencangkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Candra.
Candra mengeraskan rahang hingga giginya mengeletuk sambil memperhatikan semua teman-temannya yang duduk jongkok membentuk kelompok dengan keadaan ditodong senjata api jenis Pistol mitraliur Thomson (Thompson SMG).
Bahkan Bagus yang sejak tadi berjaga di bagian luar bersama keempat temannya, kini turut bergabung dalam kelompok tahanan. Musuhnya bertambah lebih banyak dari yang mereka temui pertama tadi.
"Sebenarnya, apa mau Anda?" tanya Candra dingin menatap tajam pada orang yang kini tengah duduk santai di salah satu kursi tunggal.
Pria yang sudah berumur setengah abat itu tertawa memecah kesunyian di antara dinginnya malam, memenuhi ruangan tersebut.
"Aku tidak mau apa-apa. Ini semua terjadi karena kau terlalu ikut campur anak muda," jawabnya di akhir tawa.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak usah terlibat dengan apa yang sudah aku lakukan! Tapi rupanya kau malah semakin terlibat dengan mengusikku, dan melindungi keluarga kecil itu," tambahnya santai.
Candra diam. Dia sama sekali tidak tertarik untuk meladeni pernyataan yang baru saja mengatakan alasan karena semua ini terjadi.
"Kalau saja kau biarkan kasusnya itu tetap menjadi berita topik terbesar hingga sampai sekarang. Tentu aku tidak akan bertindak sejauh ini."
Candra paham ke mana arah tujuan pembicaraan itu. Akan tetapi, dia memilih tetap bergeming. Diam-diam tangannya yang tertutup tubuh Dinda, meraih ponsel yang berada di saku celananya.
Dengan tanpa melihat, tangannya bergerah membuka layar ponsel. Samar telinganya mendengar layar ponsel terbuka di antara suara pria paruh baya yang dominan.
Candra berharap tidak ada yang menyadari apa yang dia lakukan saat ini. Berdalih mengecup kening Dinda, matanya melirik ponsel guna mencari aplikasi panggilan yang terpampang di layar utama.
Setelah apa yang dia cari sudah didapatkan, Candra segera menekan panggilan darurat dan kembali menyimpan ponsel sambil menatap tajam lawannya.
"Anda hanya punya masalah dengan saya. Jadi lepaskanlah mereka!" tawar Candra.
Orang itu kembali tertawa sumbang.
"Kau pikir aku b0d0h? Mereka sudah terlanjur ikut dalam permainan ini. Jadi sudah kuputuskan ... bawah mereka akan mati," ucapnya yakin.
Candra berpikir keras agar dapat membalik keadaan. Namun, dengan keberadaan Dinda saat ini, membuat pergerakannya terasa sulit untuk bertindak gegabah dan situasi menjadi tidak menguntungkan.
"Berpikir, ayo berpikir!" monolog Candra di dalam hati guna mengulur waktu.
"Untuk apa kau menanyakan itu?" balasnya bertanya diiringi tawa mengejek.
"Anda pasti tidak tahu? Kalau putri Anda, saat ini tengah masuk rumah sakit," ucap Candra membuat pria itu terdiam.
"Jangan omong kosong! Dia baik-baik saja."
Candra menyimpan senyum tipis, mana kala tersirat kegelisahan di wajah pria tersebut.
"Kalau Anda tidak percaya! Anda bisa mencari tahu sendiri!" usul Candra.
Pria itu terdiam seolah berpikir keras. Tangannya pun bergerak mengambil ponsel dari balik jaket kulit berwarna coklat.
Jarinya pun bergerak dengan cepat di permukaan layar ponselnya. Akan tetapi, di detik berikutnya dia terdiam tanpa pergerakan.
Candra yang sejak tadi memperhatikan itu, tidak ingin hilang kesempatan dan langsung melirik ke arah teman-temannya. Memberi isyarat melalui kontak mata kepada semua rekannya.
__ADS_1
Semuanya serempak mengangguk samar, dan untungnya para penodong pistol itu lengah karena turut memperhatikan bos mereka yang tampak gelisah.
Dinda hampir saja terjatuh, karena lemas dan tak sadarkan diri. Akan tetapi, Candra dengan sigap mengeratkan rangkulan tangannya.
Bagus dan teman-temannya berdiri cepat sambil berlari ke arah penodong pistol dan menghajarnya, diikuti yang lain.
"Sialan!" teriak salah satu pemegang pistol yang berhasil direbut Bagus, dan itu malah menarik perhatian pria yang sejak tadi menatap ponselnya.
"Banggg sattt," umpatnya sembari berdiri dan menatap sengit keadaan yang kacau, akibat perkelahian yang terjadi.
"Dorr," perkelahian pun diselingi tembakan.
Ditengah kegaduhan tersebut, diam-diam Candra menggendong Dinda dan pergi dari tempat itu. Namun, belum sampai pada pintu utama, mereka dihadang seseorang dengan pistol otomatis.
Candra yang sudah khawatir pada Dinda, mau tidak mau meletakkan istrinya terlebih dulu ke tepi lantai. Dia pun maju menyerang musuh sambil terus memperhatikan Dinda, agar tetap dalam pengawasannya.
Candra melayangkan tendangan ke arah tangan musuh agar pistol itu terjatuh.
"Dorr!" pelurunya melesat mengenai Dinding.
"Dorr," kembali bunyi tembakan terdengar dari arah lain.
"Bang, biar aku yang lawan dia. Abang cepat bawa Mbak Dinda! Keadaan sudah mulai kacau," Raka datang membantu Candra.
Candra mengangguk dan menyerahkan musuhnya pada Raka. Gegas menghampiri Dinda yang dari penglihatannya tengah di dekati pria paruh baya selaku bos penjahat tersebut.
"Jangan coba menyentuhnya!" ancam Candra sambil menendang tanpa rasa kasian, hingga pria itu jatuh ke samping.
"Banggg sattt," hardiknya berusaha bangun.
Tanpa mempedulikan pria itu, Candra kembali mengangkat tubuh Dinda. Baru satu langkah kakinya keluar dari rumah tersebut, bunyi tembakan terdengar bersamaan pundak sebelah kanannya yang terasa teramat sakit.
"Aa," pekik Candra hampir tersungkur, namun berusaha tetap seimbang dan melanjutkan langkahnya.
"Bang!" teriak Raka yang menyadarinya.
"Dorr," Raka menembakkan pistol yang berhasil dia rebut ke arah kaki musuhnya.
"Jangan biarkan mereka lolos!" perintah pria paruh baya yang tidak bisa dilakukan anak buahnya, karena mereka juga tengah sibuk berkelahi.
__ADS_1
Pria paruh baya itu pun berlari hendak menyusul Candra sambil tertatih akibat jatuh. Akan tetapi, Raka datang menghalanginya sambil melepaskan peluru ke lantai yang akan dia lewati, sebagai peringatan untuk tidak mengejar Candra.
BERSAMBUNG ....