Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
(Extra part)


__ADS_3

Peluh masih membanjiri keduanya dari balik selimut. Lelah pun turut hinggap dan enggan berlalu pergi, hingga memaksa mereka untuk memejamkan mata sejenak.


Dinda mendongkakkan kepala agar lebih jelas melihat wajah kelelahan yang sedang terpejam di sampingnya. Dengan lengan yang berotot milik Candra sebagai bantalnya, dia menikmati sambil bersemu merah.


Entah dorongan dari mana, tangannya terangkat dengan satu jari telunjuk mendarat dan mengusap pangkal hidung Candra pelan. Berharap sang pemilik hidung tidak mengetahui aksinya.


"Kenapa? Mau lagi?" goda Candra yang masih memejamkan mata.


"Iih, apaan sih," Dinda tersentak dan buru-buru menarik tangannya ketika mendengar pertanyaan ambigu dari suaminya.


Dinda pun bangkit, mencari baju dan kemudian mengenakannya. Belum tuntas mengenakan baju tersebut. Jari-jari Candra malah menari-nari di punggungnya yang terbuka hingga membuat dia kegelian.


"Mas," protesnya manja sambil menutup punggung dengan baju.


"Iya sayang," sahut Candra menahan senyum.


"Tau ah," ketus Dinda bergegas lari ke kamar mandi.


"Sayang ... tunggu aku! Kita mandi bareng," ujar Candra sambil duduk dan mengenakan CD-nya.


"Nggak mau," tolak Dinda mentah-mentah sembari mengunci pintu kamar mandi.


Akan tetapi, penolakan itu harus ditepis ketika panggilan Vita dari luar kamar meminta mereka untuk segera makan siang. Mau tidak mau, Dinda terpaksa membiarkan suaminya mandi bersama. Dengan sedikit kejahilan Candra yang memcuri-curi kesempatan, Dinda mengakhiri mandinya dengan wajah yang memberenggut masam.


"Lain kali kita mandinya lamaan, ya?" ajak Candra sambil mengedipkan mata.


"Nggak ada namanya lain kali," ketus Dinda sambil mengeringkan rambutnya, Candra terkekeh melihat raut wajah kesal sang istri.


"Aku pastikan, tetap akan ada lain kali."


Dinda seketika mendelik kesal, dan itu malah membuat Candra semakin tergelak. Sebelum keluar dari kamar tidur, mereka menyempatkan solat yang sempat tertunda akibat mandi bersama.


"Mas---."


"Adin ... Bara ...!"


Seruan Vita dari balik pintu membuat Dinda menghentikan kalimat yang hendak mengajak Candra keluar dari kamar. Ya, sekarang Candra lebih sering dipanggil Bara dari pada Candra oleh keluarga Dinda. Tentu saja karena terbiasa mendengar Arwan yang memanggilnya. Candra sendiri pun tidak ada penolakan untuk nama panggil itu.


"Iya, Bunda," sahut Candra mewakili sembari membukakan pintu.


"Ayo, buruan makan siang! Kenapa kalian lama sekali sih?" kelu Vita ketika berhadapan dengan suami keponakannya.

__ADS_1


"Ini, baru aja kita mau ke sana," timpal Dinda menyusul.


"Ya sudah, ayo!" Vita lebih dulu berbalik dan meninggalkan mereka satu langkah di belakang.


Sesampainya di ruang makan sudah ada tiga orang paruh baya. Siapa lagi kalau bukan Zahir, Mita, dan Al. Semenjak besan mereka itu menginap di rumah sepasang manusia yang kesepian tanpa kehadiran seorang anak. Zahir dan Mita juga betah tinggal di rumah tersebut. Tidak terkecuali Kaamil yang tidur di ruang tamu.


"Maaf, membuat kalian menunggu," sesal Candra sambil menarik kursi dan ikut duduk.


Dinda hanya bisa menggerutu di dalam hati. Padahal keterlambatan mereka juga karena Candra yang sempat membawanya melayang nirwana di atas kasur dan kamar mandi.


Mengingat kejadian beberapa jam lalu, seketika Dinda tertunduk malu menyembunyikan rona merah yang ada di kedua pipinya.


"Sepertinya kau kelelahan? Apa karena epek obatnya?" tanya Zahir menanggapi dengan kembali bertanya.


Dinda melirik sang suami, menunggu alasan apa yang akan dikatakannya.


"Sepertinya iya, Pa. Sebelum mengantar papah ke bandara, saya sempat meminum obatnya. Dan ketika pulang, agak sedikit mengantuk," jelasnya jujur.


Ya, memang tidak ada kebohongan yang Candra katakan. Dia memang sedikit mengantuk saat datang dari bandara. Akan tetapi, kantuknya seketika lenyap dan berubah menjadi segar ketika dihadapkan dengan seorang bidadari.


"Bagaimana? Apa lukanya sudah sembuh?" Al turut menyahut sambil menunggu nasi yang disiapkan sang istri.


"Sama-sama," balas Dinda pelan seperti berbisik.


"Apa masih perlu minum obat?" Mita pun ikut berkomentar.


"Nggak Ma."


"Berhenti dulu ngobrolnya! Ayo semuanya makan!" Vita menegur mereka.


"Emil ke mana? Nggak ikut makan?" Candra yang sadar tidak ada keberadaan adik ipar itu, lantas mencarinya.


"Emil tadi pergi. Katanya ada keperluan mendesak," jalas sang mama mertu.


Candra mengangguk mengerti. Mereka pun segera memakan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja dengan berbagai aneka masakan nusantara hasil masakan Vita dan Mita.


Usai makan siang, para pria memilih duduk di ruang tamu sambil mengobrol santai. Sementara para wanita berkumpul di ruang televisi yang sedang menayangkan drama korea.


"Bener-bener hebat ya. Kok bisa sih, mereka kepikiran buat cerita tentang manusia yang rohnya masih bisa berkeliaran. Trus rohnya bisa masuk ke tubuh seseorang, dan mau menggagalkan rencana tunangannya?" kata Vita kagum dengan salah satu drama korea yang mereka tonton.


"Ngapain juga mikirin itu, Bunda? Kita cukup menikmati hasil dari sebuah pemikiran yang sudah diciptakan oleh ahlinya. Jadi nggak perlu repot-repot mikirin ke sana," kata Dinda tidak habis pikir dengan kata-kata adik mamanya.

__ADS_1


"Ini nih! Gara-gara kamu terlalu menghayati drakor. Malah repot-repot mikir itu," gerutu Mita.


"Yeeh ... aku, kan, cuman takjub aja, Mbak," balas Mita manyun.


Dinda menggelengkan kepala mendengar itu.


Sementara itu ....


"Pa, Ayah ... Bara mau minta izin. Rencananya nanti sore, saya mau pulang ke rumah dulu."


Zahir dan Al memusatkan perhatian mereka pada Candra, ketika mendengar permintaan ijin sang menantu.


"Kamu yakin, tidak akan terjadi sesuatu lagi sama Adin?" tanya Zahir serius.


Walau pun penculikan itu terjadi di kediamannya. Akan tetapi, perasaan was-was terhadap keselamatan anak-anaknya tetap saja menyusup di sudut hatinya.


"Insyaallah, Pa. Saya akan menjaga dan tidak akan membiarkan kejadian dulu terulang lagi," janji Candra bersungguh-sungguh.


"Papa pegang kata-kata, kamu. Kalau kamu tidak bisa menepatinya ... lebih baik kembalikan Adin sama Papa."


"Mas, jangan seperti itu," Al tentu saja tidak setuju dengan ancaman Zahir. Walau itu hanya sebuah kalimat biasa, tapi sirat penuh makna.


Zahir menatap tajam kepada adik ipar istrinya. Akan tetapi, Al sama sekali tidak gentar. Dia bahkan membalas tatapan itu dengan santai.


"Papa bisa pegang kata-kata saya. Saya tidak akan memberikan para penjahat itu celah."


Tanpa berjanji pun, Candra tetap akan menjaga istrinya, walau nyawa taruhannya.


"Apa Adin sudah tahu, tentang kepulangan kalian?" tanya Al.


"Belum, Yah. Biar nanti saja, saya beritahu."


"Katakan sekarang saja! Buat apa menunggu nanti? Sebentar lagi sore," ujar Zahir sambil berdiri.


"Baik, Pa."


Candra dan Al turut berdiri dan mengekor di belakang Zahir menuju ruang tengah. Candra menghela nafas lega dan diam-diam mengusap dadanya.


"Kalau gini, kan, bisa semedi di kamar dan mandi bareng lebih lama," gumam Candra yang mulai ketagihan usai merasakan kenikmatan surga dunia.


Yoi ...! Jangan mikir macam-macam! Cukup satu macam saja! 😎

__ADS_1


__ADS_2