Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 13 Restauran


__ADS_3

...'Kebanyakan orang berbohong karena mereka lebih memperhatikan apa yang mereka lewatkan dari pada apa yang mereka miliki.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Sudah satu minggu ini Dinda tidak bertemu dengan Candra lagi, tapi lebih sering berjumpa dengan Adit dan katanya akan mengambil hati Dinda agar mau menerima lamarannya sehabis lebaran.


Tidak ada penolakan atau langsung menerima, Dinda hanya membiarkannya mengalir seperti air yang mengikuti arus. Dengan kata lain Dinda juga menyimpan harapan untuk dipersunting oleh Adit.


Kakek Dinda juga sudah keluar dari rumah sakit satu hari lalu setelah lima hari dirawat terhitung dari beliau sadar, sesuai keinginan sang kakek yang ingin pulang ke kalimantan. Mama Mita dan Papa Zahir lantas mengantarkannya langsung dan memutuskan akan menetap selama bulan puasa menemani kakek Abdul, sembari mengurus bisnis batu bara yang sedang digarap Zahir.


Ditinggal oleh kedua orang tuanya, Dinda memilih tinggal di rumah Bunda Vita dan membiarkan Kaamil sendiri di rumah besar.


"Nona, di depan sudah ada yang menunggu nona." Nena datang menghentikan aktivitas Dinda di depan leptopnya.


Di jelang-jelang mendekati puasa, Dinda lebih sering menghabiskan waktunya di restoran. Mereka akan merubah jadual buka restaurannya dari jam empat sore hingga malam.


"Mas Adit," tebak Dinda yang sudah tahu kalau setiap pagi dan siang dia akan datang.


"Iya nona." Nena mengangguk pasti.


"Ya sudah, akan aku temui dia." Dinda segera berdiri dan beranjak dari kursi kebanggaannya.


Keluar ruang kerja, Dinda langsung menuju tempat di mana biasanya para pelanggan duduk menikmati makanan yang tersedia di restauran nya.


Mengedarkan pandangan ke segala arah di ruang tersebut, kedua sudut bibirnya seketika terangkat tatkala menemukan keberadaan Adit di antara deretan pengunjung.


Tidak jauh berbeda dengan Dinda, Adit yang sudah menunggu kedatangannya juga menyadari jika dirinya mendekat dan langsung menyambutnya dengan senyum yang mengembang sempurna.


"Sayang," satu kata itulah yang selalu Adit lontarkan setiap kali bertemu walau tidak ada kepastian di antara hubungan mereka.


Adit selalu mengungkapkan rasa cintanya kepada Dinda dengan tindakan dan ucapan manis, tapi mungkin karena trauma pernikahan lantas Dinda menganggap itu hanyalah bualan. Adit tidak masalah dengan penolakan yang terbilang samar, tidak mau tapi mau.


"Sudah lama Mas?" terbukti sekarang, Dinda bahkan tidak pernah melarang lagi Adit memanggilnya sayang.


"Nggak juga, ayo sini! Temenin aku ngopi." Adit berdiri dan memutar badan guna menarik'kan kursi untuk Dinda yang berada di seberang kursinya.


"Sudah selesai kerjanya Mas? Kok bisa santai?" Adit terkekeh mendapat pertanyaan itu.


Bukan tanpa alasan Dinda bertanya, Adit selalu dapat mengunjunginya setiap hari. Padahal Adit bukanlah seorang atasan, apa lagi bosnya baru saja menikah.


"Beberapa hari ini, Abdar sudah mulai berkerja! Jadi dia memberikan kesempatan untukku agar bisa sedikit bersantai. Dia bilang, itung-itung mengganti hariku yang sudah dia ambil," jawab Adit.


"Apa kau mau kopi?" sambung Adit menawari.


"Nggak Mas, aku sudah minum," tolak Dinda halus.


"Baiklah." Adit mengangguk paham.


"Bagaimana dengan keadaan butik Imah?" tanya Adit selang beberapa detik.

__ADS_1


"Ah iya," seru Dinda teringat sesuatu.


"Kata Imah, butiknya semakin ramai mas. Padaha'kan butiknya tergolong baru," jawab Dinda keheranan.


"Jangan remehkan usahaku. Maka dari itu, aku patut mendapatkan waktu senggangku," ujar Adit bangga.


"Jadi ini semua karena, Mas Adit?" tanya Dinda penuh ceria.


"Yap," jawab Adit pasti.


"Rencananya, aku sama teman-teman sebentar lagi akan ke butik Imah Mas. Mumpung masih siang," ujar Dinda.


"Kalau gitu, kita bareng aja nanti. Sekalian aku kembali ke kantor," usul Adit.


"Boleh."


Dinda memperhatikan Adit yang tengah meminum kopinya dengan tatapan terpesona, memang tidak diragukan jika seorang Adit sangatlah tampan.


Namun, Dinda juga sedikit heran, kenapa pria setampan Adit belum juga menikah dan sekarang malah memilih dirinya untuk dijadikan calon pendamping.


"Mas Adit," panggil Dinda ragu-ragu.


"Iya, ada apa?" tanya Adit cepat usai minum.


"Kenapa mas Adit, belum menikah sampai sekarang?" Dinda tergelitik ingin mengetahui alasan Adit dan pertanyaan itu lolos begitu saja.


Sebelum menjawab Adit berdecak kesal. "Kau pikir, siapa yang membuat aku tidak punya pasangan? Abdar selalu menyuruhku ini dan itu, sehingga tidak sempat mencari pacar," keluh Adit.


"Apa lagi semenjak dia tergila-gila dengan Imah," ujar Adit.


"Masa sih?"


"Apa kau tau?"


"Nggak."


"Ck, kau ini langsung jawab saja ... belum juga diberi pertanyaan," tangan Adit terulur ke atas dan mendaratkan ketukan kecil di kening Dinda dengan jari telunjuknya.


Dinda terkesiap tapi tetap bersikap normal. "Bukannya tadi itu pertanyaan ya?" ujar Dinda sambil mengusap keningnya yang tidak sakit guna menyamarkan rasa terkejutnya karena tindakan Adit yang spontan tadi.


"Belum selesai."


"Terus?"


"Semenjak Abdar tau, kalau Rahman adalah anaknya! Dia selalu senyum-senyum sendiri. Tapi pas tau kalau Imah menerima lamaran Pak Ustadz itu, dia jadi orang yang kaya kesambet jin! Kerjaannya melamun terus," cerita Adit.


"Sejak kapan mas Abdar tau Rahman anaknya? Apa karena muka mereka sama?"


"Itu salah satunya, tapi selain itu Abdar juga sudah menugaskan Tomi untuk menyelidikinya. Kalau tidak salah, semenjak Imah dan Rahman tinggal di ruko," jelas Adit.

__ADS_1


Tentu Dinda tidak tahu akan hal ini, sekarang jadi semakin paham kenapa Abdar langsung melamar temannya itu ketika putus tunangan dengan seorang Ustadz.


Pembicaraan keduanya terhenti dengan kedatangan sepasang manusia. "Pak Aditya," sapa seorang pria yang seumuran Adit.


"Pak Lintang, anda di sini?" Adit segera berdiri dan mengulurkan tangan padanya.


"Ya, kebetulan saya sedang ingin ngopi di luar bersama istri saya," lirik orang itu kepada seorang wanita di sampingnya, penampilannya begitu anggun dan menampilkan sebagian tubuhnya. Baju tanpa lengan dan panjang sebatas paha.


"Kenalkan, ini istri saya. Kaluna," lanjutnya mengenalkan.


"Kaluna," ujarnya bersalaman dengan Adit.


Sementara Dinda terperangah dengan sosok wanita tersebut. Dinda tersentak kecil saat wanita di hadapannya mengulurkan tangan padanya.


"Kaluna."


"Din-Dinda," ucapnya gugup.


Luna.


"Apa nona ini istri anda Pak Adit?" tanya Lintang tersenyum ramah pada Adit dan Dinda.


Adit tertawa sedang Dinda langsung menggeleng. "Bukan, saya bukan istrinya," aku Dinda jujur.


"Doakan saja, Pak Lintang. Semoga itu lekas terkabul," kata Adit masih dengan tawanya.


"Amin, semoga terlaksana," ujar Lintang ikut tertawa kecil.


Dinda membuang muka menahan malu, tapi ketika melirik Kaluna yang juga ikut tertawa di antara tawa kedua pria itu ... ingatannya langsung melayang saat melihat Kaluna bertemu Candra dan teman Kaamil yang kata adiknya adalah koleksi wanita itu.


Bergidik ngeri membayangkan Kaluna berganti-ganti pria sementara dia sudah bersuami yang tidak kalah tampan dari koleksinya.


"Mbak Dinda," panggil Kaluna ramah.


"Hah, iya," lagi-lagi Dinda tersentak kecil.


"Kami ke sana dulu ya?" Kaluna menunjuk salah meja kosong di sudut, sangat cocok jika ingin berduaan.


"Oh, iya ... silakan Mbak, silahkan," kata Dinda mengijinkan.


"Pak Adit, saya dan istri saya permisi ke sana dulu."


"Iya, silakan. Nikmati makanan yang ada di restoran ini," saran Adit.


Kedua pasang manusia itu berlalu sambil diiringi tatapan dari Adit dan Dinda. "Apa, kita pergi sekarang?" tanya Adit beralih menoleh pada Dinda.


"Iya mas, aku ambil tas dulu," ujar Dinda.


Kasian sekali yang jadi suaminya Luna.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2