Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 50 Melindungi.


__ADS_3

Sebuah mobil hitam nampak membelah keramayan jalan ibu kota di tengah kegelapan malam dengan perlahan.


Bulan dan bintang tak menampakkan diri, hanya ada awan gelap yang terbentang luas sejak magrib berkumandang. Petir tanpa suara satu dua kali terlihat menyala di atas langit di kejahuan. Perlahan namun pasti, rintik hujan mulai berjatuhan sedikit demi sedikit hingga membasahi jalan.


Roda mobil berputar cepat. Di dalam mobil yang hanya ada dua penumpang berlawanan jenis, duduk di baris depan bersisian dengan diam dan tenang menikmati perjalanan.


Dengan fokus dan santainya sang pengemudi yang mengenakan kemeja biru muda, melewati mobil-mobil yang menghalangi jalan, baik searah maupun berlawanan arah.


Sedangkan wanita di sampingnya memakai rok tutu polos tidak terlalu mengembang dipadu padankan dengan kemeja putih berbahan ringan, dan kerudung berwarna coklat senada dengan roknya, nampak memperhatikan air hujan diluar kaca jendela.


"Seharusnya tadi, kita batalkan saja pergi sekarang. Cuacanya semakin buruk," ucap pengemudi memecah keheningan, dan tidak lain ialah Candra.


"Tapi Mas, kamu bilang kakak sepupumu yang meminta kita untuk datang! Nggak enak dong, kalau kita nolak," balas Dinda.


Mereka memang tidak berencana pergi ke mana-mana, apa lagi mendung sudah terlihat sejak hari senja. Namun, panggilan dari sepupu Candra membuat Dinda sungkan jika harus menolaknya.


Sepupu yang dikatakan Candra sebagai kakak laki-lakinya itu, meminta klarifikasi mengenai pernikahan mereka yang mendadak.


"Dia pasti ngerti, karena harinya tiba-tiba hujan," balas Candra tanpa melirik.


"Dia pasti marah sama kamu, terutama aku Mas, kerena nikah nggak ngundang dia."


"Nggak kepikiran buat nyuruh dia datang, kan nikahnya dadakan," kilah Candra yang masuk akal.


"Iya sih," ucap Dinda tak enak hati jika mengingat pernikahan mereka, terlebih lagi dengan pengorbanan Candra.


"Makanya sebaiknya kita langsung aja ke sana! Jelasin ... kalau kita itu, hmm ... gimana jelasinnya, ya?" Dinda menggaruk pelipisnya, bingung sendiri dengan apa yang akan dia katakan pada sepupu Candra.


Candra tidak memberi tanggapan, dan memilih fokus pada kemudi. Setengah jam perjalanan, mereka tiba di tempat tujuannya.


Keluar dari mobil, Dinda menatap bangunan besar dihadapannya takut. Tanpa sadar, dia mendadak gugup. Perasaannya jadi was-was, karena akan menemui keluarga Candra.


Dinda takut sepupu Candra itu benar-benar marah padanya, karena meminta Candra menikahinya demi kepentingan pribadi. Dia menghirup udah sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan.


"Ayo!" Candra berlalu lebih dulu.


Dinda mengekor dan berusaha mengimbangi langkah Candra agar berjalan bersisian. Dinda memperhatikan sekeliling rumah sembari menunggu pintu dibukakan.


Tidak perlu menunggu lama, pintu dibuka oleh seorang pelayan. Mereka pun disambut ramah dan dipersilakan masuk.


"Akhirnya, kalian datang juga. Mas kira nggak jadi datang," sambutan pertama dari tuan rumah ketika mereka bergabung di ruang tengah. Perlukan hanyat mendarat pada suami Dinda.


Dinda terpaku dan terkesiap sast melihat dua sosok manusia yang pernah dia temui di restoran miliknya. Bukan hanya bertemu, tapi mereka sempat berkenalan. Wanita itu juga beberapa kali Dinda temui dan saling bicara.


"Dinda, kan?" pertanyaan wanita itu menyadarkan Dinda.


Dinda mengerjam mata, mencoba bersikap biasa dan senatural mungkin sebelum menjawab pertanyaan itu, "Iya, saya Dinda." ujarnya sambil menyodorkan tangan yang langsung disambut wanita itu.

__ADS_1


"Apa kabar, Din? Masih ingat kami?" tanya tuan rumah usai bergantian bersalaman dengan nyonya rumah.


Dinda mengangguk pelan. "Pak Lintang dan istrinya, kan?"


"Jangan panggil, pak. Panggil saja Mas, karena sekarang kamu sudah jadi istri adik saya. Dan kamu bisa panggil istri saya, Mbak Luna."


"Baik, Mas Lintang."


"Kalian sudah saling kenal?" pangkas Candra mengerutkan kening heran.


"Iya, Mas Candra. Kami sudah kenal!"


"Ayo silakan duduk! Dari tadi berdiri saja," suruh Lintang duduk di sofa.


"Kenal di mana?" setelah duduk Candra langsung melayangkan pertanyaan pada mereka.


"Waktu di restoran aku, Mas," jelas Dinda.


"Dan yang mengenalkan kami, adalah kekasihnya," sela Luna yang duduk di samping Lintang berseberangan dengan mereka. Salah satu kakinya bertumpu di atas kaki satunya, memperlihatkan paha mulus nan putihnya.


Dinda tidak terlalu terkejut dengan pernyataan itu, begitu juga Candra. Mereka hanya menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit diterjemahkan.


"Wahh, jadi restoran itu milikmu?" tanya Lintang mengalihkan perhatian.


"Iya Mas, restoran itu pemberian kakek saya."


"Luna," tegur Lintang pelan, namun masih bisa mereka dengar.


"Iya, itu benar," aku Dinda apa adanya.


"Dan sekarang, kamu malah menikah sama, Bara. Apa Adit meninggalkanmu, karena sekandal itu?" tanya Luna terang-terangan sambil tersenyum sinis.


"Luna, jaga sikapmu," tegur Lintang tegas untuk kedua kalinya.


"Memang benarkan? Bara bahkan tidak pernah membahas akan segera menikah. Tap tiba-tiba sekarang dia menikahi wanita yang terlibat sekandal," bela Luna sombong.


Dinda menatap Luna kesal. Ingin rasanya menutup mulut wanita itu dengan hak sepatunya, karena sudah mempermalukannya diawal pertemuan sebagai keluarga.


Kalau Dinda tahu dari awal siapa keluarga Candra yang akan mereka datangi, maka sudah pasti dia menerima tawaran suaminya untuk tidak berkunjung.


"Itulah yang namanya takdir, aku tidak bisa menolak apa yang sudah ditetapkan Tuhan untukku. Dan itu pasti yang terbaik dari apa yang telah aku rencanakan sebelumnya," ujar Candra cepat sebelum Dinda bersua.


"Aku tau, kamu pasti sangat terpaksa dengan pernikahan ini, dan kamu pasti tidak menerimanya."


"Siapa kau bisa menyimpulkan seperti itu? Aku sama sekali tidak terpaksa, dan aku sangat menerimanya."


"Kamu tidak bisa bohong, Bara. Aku tau kamu hanya ingin menolongnya!"

__ADS_1


"Tidak ada kebohongan, ini semua kenyataan," kata Candra tegas sambil merangkul bahu Dinda mesra.


"Orang mungkin bisa kamu bohongi, tapi aku tidak. "


"Sudah cukup!" hentak Lintang melirik marah pada Luna.


"Kita mengundang mereka, untuk berkenalan dengan istri Bara. Bukan untuk membahas masalah yang tidak penting," lanjut Lintang menekan kalimatnya.


Dinda tertunduk sungkan, karena kehadirannya menimbulkan perdepatan antara suami, nyonya, dan tuan rumah. Dia melirik dan tidak berani berkomentar. Berbeda dengan Luna, yang bersikap acuh terhadap teguran Lintang.


"Sebaiknya, kita langsung makan malam saja," ajak Lintang mencairkan suasana.


"Tidak perlu repot-repot, Mas. Kami hanya sebentar di sini, karena kami akan pergi menghadiri acara."


Dinda melirik Candra terkejut, mereka tidak pernah membahas akan pergi ke acara usai dari rumah sepupunya.


"Batalkan, saja! Dan kita makan malam bersama," bujuk Lintang penuh harap.


"Maaf Mas, tapi kami sudah berjanji. Kami hanya mampir dan menyapa sebentar. Kami akan langsung pergi."


"Bara," protes Lintang.


"Apa ini karena ucapan kakak iparmu? Kalau itu benar ... Mas mewakilinya, meminta maaf pada kalian."


"Mas ...."


"Mas ...," ucap Luna dan Candra serempak.


"Mas tidak usah mewakilinya meminta maaf! Nanti dia tambah ngelunjak," sindir Candra.


"Jaga bicaramu," perintah Luna.


"Aku pulang, Mas." Candra mengabaikan Luna dan segera berpamitan pada Lintang.


"Tapi kalian belum minum. Tunggu sebentar lagi."


Candra tetap menolak dan berlalu pergi sambil menatap tajam Luna. Dinda sempat melirik dan menangkap kebencian di mata Candra.


"Emang di mana ada acara, Mas?" sedari tadi Dinda menahan pertanyaan dan baru mendapat kesempatan ketika memasuki mobil.


"Nggak ada."


"Hah," pekik Dinda tersentak kaget.


"Terus, kenapa bilang gitu tadi?"


"Mereka (suami-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Pakaian berfungsi untuk menutupi aurat dan sekaligus melindungi tubuh dari cuaca panas atau dingin. Demikian pula dengan fungsi dan kedudukan suami istri. Masing-masing harus bisa menutupi dan melindungi pasangannya. Suami harus bisa menutupi aib dan kekurangan istri, dan istri pun harus bisa memahami dan menutupi kekurangan suami." Dinda tercengang mendengar deretan kalimat itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2