
Bermodalkan alamat yang dikirim Luna melalu pesan singkat kepada Candra, kini Dinda pun duduk di barisan depan mobil bersama sang pengemudi yang tak lain ialah suaminya.
Ya ... kebenaran yang lagi-lagi membuat Dinda geleng-geleng kepala adalah, rupanya Candra tidak mengetahui alamat rumah tersebut dan meminta Luna mengiriminya alamat tadi malam. Tentu saja, saat hendak berangkat barulah Dinda mengetahuinya.
Dinda juga sempat berpikir jika Candra tidak mungkin mengajaknya ke tempat yang akan di tempati keluarga Danu, tapi ternyata suaminya itu langsung menyampaikan niatnya saat mereka baru bangun tidur.
Tak lupa Dinda menanyakan keberadaan korban kebakaran itu. Apakah mereka sudah dijemput atau belum, mengingat jika Candra baru miminta alamat Luna tadi malam.
Setibanya di tempat tujuan, mereka pun langsung turun dari mobil usai menepikan mobilnya di seberang jalan yang mana terdapat lahan kosong lumayan luas.
Bukan di jalan utama, tapi di sebuah gang. Akan tetapi, kendaran tetap ramai hilir mudik walau tak sepadat di jalan tol.
Berjalan beriringan menyeberangi jalan dan berselisihan dengan beberapa sepeda motor, membuat naluri Candra sebagai seorang pelindung pada sang istri mencuat. Sikap awas dan refleks menggandeng tangan Dinda santai.
Jika Candra terlihat biasa-biasa saja, maka lain halnya dengan Dinda. Dia sempat tersentak kecil, namun tak bisa berbuat apa-apa saat tangannya tertarik pelan oleh sang suami.
Rumah minimalis berlantai dua dengan warna putih abu-abu tengah berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah lainnya telah mencuri perhatian Dinda juga Candra.
Candra sedang mencocokkan nomor rumahnya, ketika seseorang dari dalam pagar sudah lebih dulu memanggilnya.
"Bang!" suara bas setengah teriak, yang tadi malam berbincang dengan Candra membuat keduanya menoleh.
"Luna sudah ada?" tanya Candra ketika pagar rumah dibukakan.
Di dalam hati, Dinda hanya bisa membuat pertanyaan-pertanyaan penasaran tanpa berani meminta jawaban atas kalimat Candra.
"Apa Mas Bagus, juga kenal sama Mbak Luna?" monolog Dinda membatin.
"Kalau Mbak Luna nggak ada, kita mana bisa masuk, Bang," jawab Bagus jenaka, Dinda mengulum senyum, membenarkan jawaban Bagus.
"Itu mobilnya, dia yang lebih dulu datang," imbuhnya sambil menunjuk mobil yang tersimpan di bagasi rumah tersebut.
Candra menganggu dan mengikuti Bagus guna memasuki rumah dengan tangan yang masih menggenggam bergelangan Dinda.
"Apa kalian sudah lama datang?" tanya Candra lagi membuat langkah kaki Bagus melambat agar bisa menjawab pertanyaannya.
"Baru aja, Bang."
"Mobilmu?"
"Balik lagi, ngantar bapak yang bantuin kami mengangkat Ibu Ima dan barang-barang," jelasnya, dan memang benar. Ada sebagian barang yang terselamatkan bertumpuk di teras rumah, belum dihangkut ke dalam.
Candra kembali mengangguk mengerti dan langsung mengucap salam ketika sampai di ambang pintu. "Assalamualai'kum," sapa Candra mengalihkan perhatian orang-orang di dalam rumah yang tengah duduk berkumpul.
"Wa'alaikumussalam," balasan serempak memenuhi ruang tamu yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
Ada Luna, Zivi, juga seorang laki-laki yang belum pernah Dinda lihat sebelumnya tengah berbincang, sementara orang tua Zivi tidak ada di antara mereka. Dilihat dari raut wajah ketiganya, sepertinya mereka tengah berbicara serius.
"Bara, kupikir kamu pinjam rumah ini buat siapa? Ternyata buat mereka," seru Luna sambil berdiri mendekati mereka.
Dinda melirik Candra yang berwajah datar. Tidak mengerti dengan hubungan keduanya. Terkesan tidak akur, namun saling tolong menolong.
"Nanti kita bicara, ada sesuatu yang akan kukatakan!" ucap Candra datar.
Luna mengangguk dan mengalihkan perhatiannya pada Dinda. "Kenapa ajak dia juga?" protes Luna sinis.
"Karena dia, istriku!" pangkas Candra cepat melewati Luna sambil menarik tangan Dinda.
Dinda pasrah mengekor suaminya. Niat hati ingin menegur Luna, karena walau bagai mana pun Luna adalah istri dari saudara suaminya. Jadi Dinda harus memperlakukan Luna sebagai kerabat dekatnya. Akan tetapi, niat itu pupus dilakukan. Sebab, tidak ada kesempatan untuknya bicara.
"Mbak Dinda, Mas Candra, terimakasih karena sudah meminjamkan kami rumah ini," kata Vizi saat mereka berhadapan.
"Jangan berterimakasih padaku, tapi berterimakasihlah padanya!" Candra menunjuk menggunakan pergerakan wajah dan ekor matanya pada Luna yang kini sudah berada di dekat mereka.
"Karena rumah ini, adalah rumahnya," lanjutnya memaparkan.
"Ya Allah ... jadu Mbak Luna ya, yang punya rumah ini? Terimakasih ya Mbak, karena sudah meminjamkan rumahnya," ucap Zivi tulus sambil meraih tangan Luna dan menciumnya.
Bisa Dinda lihat, jika ada senyum tipis yang menghiasi wajah cantik Luna.
Semua orang terkejut ketika melihat Vizi tiba-tiba menangis sembari memeluk Luna.
"Makasih Mbak, kami tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kalian. Mas Danu nggak bisa diharapin lagi buat lindungin kami, dan kami juga nggak punya keluarga di sini. Untungnya masih ada yang peduli sama kami, seperti kalian," adu Zivi dengan sesegukan.
"Nggak apa-apa, Vi. Kamu bisa minta tolong sama Mbak, kalau perlu sesuatu!"
Dinda terkesiap melihat perlakuan lembut Luna pada Zivi, tangannya bahkan membalas pelukan gadis muda itu sembari memberi usapan sayang. Keduanya juga seolah sudah saling kenal.
"Jangan sedih lagi! Semua ini pasti ada hikmahnya," Luna lebih dulu mengurai pelukan dan membantu Zivi mengusap pipinya.
"Gih, liat ibu kamu! Apa dia peelu sesuatu," Zivi mengangguk dan berlalu sambil menduduk, masih terlihat ada kesedihat. Namun, bukan sebuah duka, melainkan rasa bahagia karena memiliki sandaran untuk mengadu.
Sejak Dinda tiba di rumah tersebut, dia belum mengeluarkan satu patah kata pun. Dia merasa sama sekali tidak diperlukan di tempat itu, dan menyesal karena sudah memilih ikut dengan Candra.
"Kamu temanin Zivi, temui ibunya!" bisik Candra yang membuat Dinda tersentak kecil
"Iya, Mas," sahut Dinda merasa berguna.
Dinda pun menyusul Zivi ke sebuah kamar di dekat ruang tamu. Sebelum benar-benar menjauh, Dinda sempat menangkap perkerakan Candra yang juga berbisik pada Luna.
Dinda bergeming dan menoleh pada keduanya yang kini tengah berjalan bersisian menuju belakang rumah. Sementara itu, Bagus dan satu pria yang belum Dinda tahu namanya, sedang sibuk menata barang-barang bawaan Zivi.
__ADS_1
Entah mengapa, ada terselip rasa tidak suka ketika melihat Candra bersama Luna. Menghela napas panjang, sebelum akhirnya mengetuk pintu dan masuk usai mendengar jawaban mengijinkannya ke dalam.
Bertemu dengan Zivi dan Ibu Ima adalah kali kedua bagi Dinda. Di pertemuan kali ini, Dinda baru mengetahui tentang penyakit yang diderita Ibu Ima. Ternyata beliau sedang menderita penyakit konplikasi, darah tinggi, klestrol, dan deabete. Dampak dari ketiga penyakit tersebut membuat beliau terkena struk berat hingga berbicara pun sulit dilakukan.
Sudah hampir empat bulan Ibu Ima tidak bisa menggerakan badannya, dan terbujur kaku di atas pembaringan.
Dinda yang tidak mengerti dengan isyrat Ibu Ima hanya diam menyimak apa yang dikatakan Zivi sebagai penterjemahnya.
"Ini Mbak Dinda, Bu! Mbak Dinda ini istrinya Mas Candra," Zivi mengenalkannya secara langsung.
"Bu," ujar Dinda menggapai tangan Ibu Ima, sebagai bentuk hormat kepada orang tua. Tak lupa disertai ciuman.
Dinda menebak jika Zivi sudah menceritakan tentang Candra pada ibunya. Cukup lama Dinda berbincang-bincang dengan Zivi. Atau labih tepatnya, Zivi-lah yang berbcerita. Banyak hal yang Zivi katakan. Dimulai dari saat terjadinya kebakaran, yang menyebabkannya panik dan langsung mencari pertolongan warga.
Dinda ikut merasa lega, saat mendengar cerita yang disampaikan Zivi. Untung saja, dia belum tidur dan memastikan bahwa pintu terkunci rapat. Hingga akhirnya dia menyadari ada apa yang mulai membesar di luar jendela.
Sedikit aneh dengan cerita Zivi, tapi Dinda memilih menjadi pendengar dari pada bertanya berlebihan. Tidak hanya sampai di situ, Zivi kembali melanjutkan ceritanya tentang kakak, Danu.
Dinda jadi sedikit tahu tentng keseharian Danu, sahabat adiknya itu. Seorang kakak yang berkerja keres, siang dan juga malam guna membiayai keseharian mereka.
Pekerjaannya semakin bertambah, saat Ibu Ima jatuh sakit seperi ini. Pikiran Dinda melayang memikirkan tentang Danu yang mengorbonkan waktunya untuk bekerja demi keluarga. Namun, seketika lenyap tak berbekas ketika suara bas Candra mengalun di dalam kamar tersebut.
"Apa aku mengganggu?"
"Eh Mas Candra. Nggak kok Mas, mari masuk!" suruh Zivi sambil berdiri, dia baru saja memijit kaki ibunya.
"Kamu tidak masalahkan, tinggal di sini berdua?" tanya Candra pada Zivi usai menyapa Ibu Ima.
"Tidak apa-apa, Mas. Sekali lagi, terimakasih."
Candra mengangguk dan melirik Dinda. "Sebaiknya kita pergi sekarang," ucapnya dan diiyakan Dinda.
Zivi pun mengantar kepergian mereka hingga ke teras rumah.
"Kamu pulang diantar Bagus, aku akan langsung pergi ke kantor!" kata Candra membuat Dinda kecewa.
Luna pun sudah pergi lebih dulu dengan mobilnya, sedangkan laki-laki yang baru Dinda tahu adalah kekasih Zivi, menyusul pergi dengan sepeda motornya.
"Gus, antarkan istriku ke rumah."
"Siap, Bang," seru Bagus semangat. Namun, tidak dengan Dinda.
"Padahal tadi berangkatnya sama-sama, tapi kenapa pulangnya enggak," gerutu Dinda dalam hati.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1