
...'Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edar-nya.'...
...(Qs. Yasin, ayat 40)...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Siapa ya?" pertanyaan Mama Mita menarik perhatian Dinda, dan bisa disimpulkan bahwa Mamanya tidaklah mengenal orang tersebut.
"Perkenalkan tante, saya Candra anaknya Pak Arwan." Candra sedikit membungkuk.
"Oh Candra anaknya Arwan?" seru Mita.
"Pantes ada mirip-mirip nya." Mita terkekeh.
"Jadi, kamu ini Candra?" Zahir sudah berdiri di samping Candra sambil merangkulnya akrab dan dibalas senyum sungkan.
"Iya Om." Candra menyodorkan tangan kepada pria paruh baya yang mengakrab'kan diri padanya, tak lupa juga pada Mita.
"Silahkan duduk nak Candra," suruh Mita.
"Terimakasih tante," balas Candra.
"Apa Papa kamu yang memberi tahu kami di sini?" tanya Zahir.
Sebelum menjawab Candra melirik Dinda sekilas, dan pandangan mereka bertemu. Namun, Candra langsung beralih.
"Iya Om, tadi siang Papa telepon ... katanya keluarga teman beliau sedang sakit dan minta saya untuk menjenguknya," jelas Candra.
Semenjak Dinda tahu yang bertamu itu adalah Candra, seluruh atensi nya tidak lepas sama sekali dari pria yang Dinda tahu adalah pelatih taekwondo Rahman. Anak sahabatnya.
Dari pembicaraan antara Papa dan Candra, Dinda sudah bisa menyimpulkan bahwa Papanya mengenal Papa dari pria itu.
"Iya, kebetulan kemarin papa kamu liat status om sedang di rumah sakit. Dia langsung telepon om, dan cerita kalau anaknya sedang di Jakarta. Kalau ada waktu akan menyuruh ke sini," cerita papa.
"Iya Om, tadi saya sudah telepon papa. Kalau saya sudah di sini," balas Candra.
"Heh kalian, ayo sini! Kenalin, dia Candra ... Mamanya itu teman mama kalian waktu kuliah." Zahir melambaikan tangan kepada Dinda dan Kaamil yang duduk di tepi ranjang sang kakek.
Oh, anak teman Mama.
"Candra, kenalkan itu anak-anak om. Namanya Adinda dan Kaamil," tunjuk Zahir pada mereka yang bergerak mendekat dengan ragu.
"Udah kenal pa!" jawab Dinda.
"Loh, kenal di mana? Nak Candra inikan tinggal di Bandung!" Mita menimpali.
"Dia pelatih taekwondo Rahman, waktu di Bandung ma dan di sini," ujar Dinda.
"Wah, pelatih lu Bang?" celetuk Kaamil langsung duduk di samping Candra dari sisi lainnya.
"Iya," jawab Candra sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Papa tau kalau Arwan punya gedung pelatihan taekwondo ... tapi Papa nggak tau, kalau anaknya ikut jadi pelatih juga," kata Zahir turut bangga.
"Om dengar dari Papa kamu. Katanya kamu menetap di Jakarta, ya?"
"Iya Om. Sebenarnya saya tidak mau! Tapi keburu Papa kasih tau keponakannya yang ada di sini ... jadi dia menahan saya untuk tetap tinggal."
"Kenapa Papa kamu nggak sekalian saja ikut tinggal di Jakarta?" Mita bertanya sambil menarik Dinda untuk ikut bergabung duduk di sofa seberang Candra, Papa dan Kaamil.
"Entahlah tante, mungkin Papa punya alasan sendiri," jawab Candra sopan.
"Nanti kapan-kapan, ajak Papa kamu berkunjung ke rumah kami," ucap Zahir.
"Insya Allah, om. Bagaimana keadaan Kakek Abdul, Om?" Candra melirik kakek yang terbaring lemah di atas ranjang pasien sambil memejamkan mata.
"Alhamdulilah, sudah mulai membaik. Kemungkinan harus dirawat sampai lima hari kedepan."
Candra mengangguk ngangguk'kan kepala mengerti. "Maaf ya, Om ... saya tidak membawakan apa-apa tadi," sesalnya yang datang hanya dengan tangan kosong.
"Ah, tidak apa-apa. Kamu datang saja, Om sudah senang." Zahir menepuk-nepuk pundak Candra pelan.
"Oya Bang, bisa dong nanti kalau gw sekali-sekali latihan taekwondo sama lu," kata Kaamil penuh harap.
"Mil, bicara yang sopan," tegur Mita.
"Hehehe, maaf Ma." Kaamil nyengir, baginya cara bicara dengan sesama lelaki adalah lu-gw. Bahkan dengan kakaknya saja kalau bisa Kaamil juga demikian, tapi dirinya selalu kena marah sang Mama.
"Nggak apa-apa tente, kalau anak cowok memang lebih enak ngomongnya kaya gitu. Biar cepat akrab." Candra merangkul Kaamil dan dibalas dua acungan jempol olehnya sambil tersenyum.
"Ets .., tapi Abang normal lo," gurau Candra.
"Hahaha, maksudnya gw suka gaya lu Bang! Trus, kapan gw bisa ikut latihan sama lu Bang?"
"Gampang, sini ... mana nomor ponsel kamu?" Candra mengeluarkan ponselnya, begitu juga dengan Kaamil.
Dinda mengedipkan mata beberapa kali, benar-benar terkesiap melihat adiknya langsung akrab dengan orang yang baru dia temui. Bukan adiknya saja, melihat Candra demikian juga adalah yang langka menurutnya.
"Ok, sudah Abang simpan. Nanti kita cocokkan saja waktu luang kita," ujar Candra, Kaamil mengangguk cepat.
Cukup lama Candra berada di ruangan yang sama dengannya, tapi Dinda sama sekali tidak ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Bisa dibilang, tidak berminat.
"Sebentar ya Bang, ada teman gw yang telepon," ijin Kaamil ingin mengangkat ponsenya yang tiba-tiba berdering.
"Ya, silahkan."
Dinda melirik benda bulat yang berada di pergelangan tangannya, ternyata hari sudah mulai senja. Waktu sudah menunjukan pukul lima lebih tujuh menit. Dinda pun menunggu Kaamil, untuk mengajaknya pulang.
"Mil, kita balik sekarang yuk," ajak Dinda ketika Kaamil sudah kembali.
"Aduh, sorry kak. Aku nggak bisa ngantar kakak pulang, soalnya mendadak ada rapat. Aku musti langsung ke kantor, karena sudah ditungguin," ucap Kaamil dengan kening berkerut bingung.
"Nak Candra, ke sini naik kendaraan sendiri'kan?" semua seketika menatap Zahir yang bertanya kepada Candra.
__ADS_1
"Iya, Om."
"Kamu bisa'kan, antar anak Om pulang?"
"Hah," pekik Dinda tersentak kecil.
"Nggak usah Pa, biar naik taksi aja," tolak Dinda cepat.
"Loh, mending diantar sama nak Candra saja. Kan Candra juga mau pulang, jadi bisa sekalian," sahut Mita.
"Nanti merepotkan mas Candra ma," ucap Dinda pelan tapi masih bisa didengar.
"Apa merepot'kan, nak Candra?" Mita memastikan kepada orangnya langsung.
Jika ditanya seperti itu, Candra menjadi sungkan untuk menolaknya. Mau tidak mau ... "Tidak sama sekali tante," kalimat itulah yang terlontar dari mulutnya.
"Tu'kan ... ayo kalian bareng aja perginya," usul Mama Mita.
"Ya sudah ma, aku pergi sekarang," pangkas Kaamil angkat suara.
"Kalau begitu saya pamit juga tante," ucap Candra menyela.
Dinda menghela napas berat. Kalau saja Dinda tahu akan jadi begini, mungkin sebaiknya tadi membawa mobil sendiri saja. Namun, apa mau dikata, ibarat sebuah makanan ... nasi sudah menjadi bubur.
"Titip anak tante ya nak Candra?"
"Baik tante," jawabnya pendek.
Usai berpamitan dengan sepasang manusia dan kakek Abdul, mereka berjalan beriringan. Dinda memilih jalan di samping kiri Kaamil, sehingga adiknya itu berada di tengah-tengah mereka.
"Bang, gw duluan ya? Jagain kakak gw," ucap Kaamil sambil membuka pintu mobilnya, ketika tiba di parkiran.
"Hmmm," gumam Candra menyahut.
Candra segera berjalan ke arah di mana motornya terparkir dan disusul Dinda di belakang.
"Ini ambil!" Candra menyerahkan helm-nya kepada Dinda.
Dinda melirik ke setang motor besar Candra, ternyata tidak ada helm lain. "Tidak perlu, mas bisa memakainya sandiri," tolak Dinda.
Dinda terperangah, Candra langsung saja memakaikan helm yang baru saja disodorkan kepadanya.
Kesadaran Dinda kembali ketika Candra sengaja mengetuk helm di kepalanya. "Apa kamu akan tetap berdiri di situ?" tanya Candra datar.
Tanpa banyak bicara Dinda gegas naik ke atas motor besar itu dengan perasaan dongkol, karena susah baginya untuk menaiki-nya lantas Dinda berpegangan di atas pundak Candra.
Untung saja Dinda memakai celana kain yang longgar hingga mempermudah-nya duduk seperti laki-laki.
Tidak bertanya apakah Dinda siap atau belum, Candra langsung saja menjalankan laju motornya cepat, membuat Dinda tersentak kaget dan berpegang erat dipundak Candra.
Apa dia sengaja?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....