Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 72 Kronologis kejadian.


__ADS_3

"Pak Ujang!" panggil Candra terkesan datar dan dingin, membuat yang mendengarnya bergedik ngeri.


"I--iya Den," sahut Pak Ujang kaget langsung berdiri sempoyongan sambil memegang lehernya dengan mimik wajah takut. Di sampingnya Bik Arti pun bergedik ngeri.


"Cek cctv," perintah Candra langsung pada intinya, "dan jelaskan semuanya!" sambungnya menatap Pak Ujang tajam. Sementara Bik Arti, dia langsung permisi pergi lebih dulu masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua pria itu.


"Ba-baik Den," ujar Pak Ujang menahan gugup serta ketakutan.


Mereka berdua pun akhirnya menyusul Bik Arti di depan masuk ke dalam rumah. Pak Ujang yang masih takut-takut, segera mengajak Candra ke sebuah ruangan di dekat ruang tamu.


Memutar ulang kejadian sebelum Pak Ujang jatuh pingsan, dan hilangnya keberadaan sang istri. Saat ini Candra tengah memperhatikan layar monitor yang menampilkan detik-detik kedatangan seseorang, dengan sangat serius.


Pak Ujang pun menceritakan tentang sebuah mobil yang menepi di dekat rumah besar tersebut. Awal mulanya, Pak Ujang sama sekali tidak menyadarinya.


Namun, si pengemudi mobil itu mendatangi dan memanggilnya dari balik pagar besi. Lantas Pak Ujang bertanya tentang keperluan pria bertopi baseball hitam polos dengan celana jins dan kemeja berwarna senada itu.


Dari rekaman yang ditonton, terlihat Pak Ujang keluar dari tempatnya dan mengikuti pria bertopi ke arah mobilnya. Menurut pengakuan penjaga rumah mertu Candra tersebut, pria itu meminta tolong karena mobilnya tiba-tiba mogok. Maka dari itu, bermodalkan empati yang dimiliki Pak Ujang, dia turut membantunya.


Wajah pucat bak tak berdarah semakin terlihat jelas di paras lelaki setengah abat itu, kala melihat dalam layar televisi menampilkan ada seseorang yang berpakaian serupa dengan pria yang meminta bantuannya menyusup masuk melewati pagar saat dia membantu memperbaiki mobil tadi.


Candra memusatkan atensinya pada pria yang diam-diam masuk ke rumah sambil memperhatikan sekelilingnya. Dari rekaman yang lain, terlihat Dinda sedang menuruni anak tangga dan melesat menuju dapur. Antara Dinda dan pria yang mengendap endap itu, belum menyadari satu sama lain karena tidak saling melihat.


Candra silih berganti memperhatikan Dinda dengan aktivitasnya, dan pria misterius yang mengendap secara perlahan. Hingga tibalah pada titik kejadian disaat keduanya bertemu. Namun, sebelumnya si pria misterius itu terlihat mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.

__ADS_1


Terlihat jelas jika di rekamaan itu Dinda sedang menggerakkan bibir, mengeluarkan beberapa kalimat yang menurut Candra adalah sebuah pertanyaan.


Lama kelamaan pergerakan kedua orang di dalam rekaman itu bergerak seirama. Dinda mundur merapatkan tubuhnya ke meja kompor, dan pria bertopi itu maju mendekati istri Candra.


Detik berikutnya Dinda melempar mangkuk yang ada di tangannya ke arah pria itu. Akan tetapi, ditangkis oleh tangannya, membuat mangkuk itu jatuh sedikit ke samping dan pecah berserakan.


Candra mengeraskan rahangnya menatap tajam pada sesosok orang yang masih berusaha mendekati istrinya. Dinda dengan tubuh ketakutan, tangannya sambil meraba ke belakang mencari apa saja yang bisa dia gunakan untuk melindungi diri.


Sebuah pisau sudah dalam genggaman saat pria itu juga sigap menggapainya. Dinda tidak tinggal diam, dia segera mengacungkan pisau itu sebagai bentuk pertahanan diri.


Pria itu berhenti dan terdiam, Dinda pun bergerak mencari celah agar bisa kabur sambil tetap menodongkan pisaunya.


Candra semakin menggeram marah, kedua tangannya mengepal kuat ketika pria itu berhasil menangkap Dinda, dan mengambil alih pisau usai saling memberi perlawanan tanpa adanya yang terluka.


Dinda kini pasrah, saat pria itu mendekapnya dari belakang dengan pisau yang bertengger didekat lehernya.


Di dalam ketakutan Pak Ujang, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Refleks Pak Ujang memekik kaget karena takut, dan ternyata itu adalah Bin Dami yang membawakan minimum untuknya. Gegas Pak Ujang meminumnya guna menghilangkan pusing dan rasa takutnya walau pun hanya semantara, setidaknya sedikit menghilangkan dehaga di tenggorokannya.


Namun, pekikan dan segala apa yang Pak Ujang lakukan itu tidak merusak konsentrasi Candra dari layar monitor.


Dinda berjalan keluar dengan pria misterius itu menempel di punggungnya sambil memegang pisau ke arah lehernya.


Dari rekaman lain, Pak Ujang sudah pingsan sambil dipapah pria satunya ke dalam pos jaganya. Dinda pun didesak keluar pagar dengan kedua pria itu menuju mobil yang sebenarnya tidak ada kerusakan sama sekali.

__ADS_1


Keadaan sekitar nampak sunyi dan legang, membuat aksi keduanya berjalan lancar hingga Dinda memasuki mobil. Mungkin karena orang-orang sekitar sudah pergi bekerja, mengingat waktu sudah pada jam kerja.


"Kirim rekamannya!" tegas Candra membuka suara di antara heningnya ketegangan.


Tanpa diperintah untuk yang kedua kali, Pak Ujang segera menyalin rekaman ke perangkat Candra.


Candra langsung berbalik dan berlari keluar rumah setelah mendapatkan apa yang dia mau guna mencari mobil yang membawa istrinya pergi. Sebelum masuk ke mobil, dia menghubungi seseorang dan turut mengirim rekaman, barulah melesatkan mobilnya ke arah yang sama.


Melirik arloji yang bertengger di pergelangan tangannya, waktu kepergian sang istri tidaklah terlampau jauh dari kedatangannya. Candra cukup bersyukur karena menyusul Dinda ke rumah mertuanya, kalau tidak ... dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada sang istri hingga malam harinya. Ya, walau pun terlambat setidaknya dia bisa menusul lebih awal.


Bermodalkan ingatan tentang tipe mobil penculik dan plat mobil yang sempat terekam di cctv, Candra memacu kendaraannya membelah jalan aspal begitu cepat.


Disetiap melewati area cctv, Candra akan menepikan mobilnya dan meminta untuk melihat rekaman yang mungkin saja merekam mobil si penculik. Walau pun itu rumah warga, Candra akan meminta tolong agar mereka mau memperlihatkan rekamannya.


Tentu tidak semudah yang dibayangkan. Mana ada orang dengan suka rela memperlihatkan rekaman cctv kepada orang asing, dan seperti yang sudah diperhitungkannya. Candra menunjukan sedikit kejadian yang menimpa istrinya, membuat orang lain menjadi iba dan tersentuh hingga berubah antusias membantu menunjukan rekaman tersebut.


Kembali bergerak usai menemukan titik terang. Mengabsen setiap mobil hitam dan melaluinya setelah dirasa bukan. Hampir setengah jam dalam pencarian asalnya yang hanya menggunakan insting, namun mujur karena setiap cctv menangkap perjalanan sang menculik.


Entah di jalan apa dia berada sekarang, yang Candra yakin adalah mobil penculik itu membawa istrinya pergi ke daerah pegunungan.


Di perjalannan Candra menghubungi seseorang, dan mengatakan perkembangan tentang penemuannya. Selang setengah jam sampai pada ujung jalan persimpangan, sudah ada sekitar lima buah mobil yang terparkir. Candra melewatinya begitu saja, dan mobil itu sudah mengekor di belakangnya.


Untuk yang kesekian kalinya, Candra kembali mencek cctv yang terdapat di pinggir jalan. Namun, kali ini Candra tidak turun dan terus melajukan mobilnya. Salah satu mobil yang membuntutinya-lah yang berhenti dan mengirim informasi kepadanya.

__ADS_1


"Akanku temukan," gumam Candra membulatkan tekat.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2