Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 40 Besok menikah?


__ADS_3

"Om mau, kalian besok menikah! Bisa?"


"Hah," pekik Adit terkesiap tidak percaya atas permintaan Zahir yang terkesan perintah.


"Besok menikah," gumam Adit mengulang.


"Kamu serius, kan, sama anak, Om?" Zahir bertanya lagi.


"Iya, saya serius. Tapi, kenapa harus mendadak, Om?"


Adit menciut saat tatapan Zahir menajam padanya. Ingin rasanya menarik kembali apa yang sudah dia ucapkan, tapi sudah terlanjur terucap.


"Kalau kamu, serius? Kamu, pasti tidak keberatan, kan?"


"Tapi Om---," ujar Adit bingung.


Adit sulit mengatakan iya, tapi tidak mungkin juga dia berkata tidak. Memang inilah yang dia harapkan sejak melamar Dinda, kapan mana dulu. Namun, hatinya tidak serta merta langsung menerima. Ada sesuatu yang mengganjal untuk menyetujui itu semua, apa lagi keluarganya sama sekali tidak tahu.


"Kalau kamu, ragu. Om akan mencari orang lain agar mau menikah dengan Adin, besok," sergah Zahir datar.


"Jangan, Om," cegat Adit cepat.


"Om beri kamu, waktu sampai besok siang. Kalau kamu, tidak setuju atau tidak datang ... Om akan menikah'kan Adin dengan orang lain," ancam Zahir. "Jadi manfaatkan waktumu, untuk membicarakannya pada keluargamu."


"Kalau saya, boleh tau ... apa alasan Om, ingin kami menikah besok?" Adit mengabaikan apa yang dikatakan Zahir, dia lebih tertarik dengan alasan pernikahan mendadak tersebut.


"Lusa, Om akan mengadakan konferensi pers. Dan mengatakan, kalau laki-laki yang ada difoto itu memanglah suami, Dinda," ucap Zahir sambil menghela napas berat.


"Yang terpenting adalah, agar mengurangi sedikit kebohongan tentang fakta. Maka dari itu, Om ingin, Dinda menikah sebelum konferensi pers digelar."


Adit terdiam dan meresap setiap kalimat yang diucapkan, Zahir. Hingga benar-benar mengerti maksudnya.


"Jika Om, ingin mengurangi kebohongan dengan cara menikahkan kami ... apa Om, bisa menjamin? Jika mantan suami, Dinda tidak akan buka suara? Atau yang terburuk, dia membeberkan tentang perceraian yang baru saja genap. Maka masalahnya, akan semakin rumit. "


Adit memang gugup sejak tadi, dan itu tidak dipungkiri. Akan tetapi, saat jiwa bisnisnya mulai terpancing oleh perhitungan Zahir, maka mode bernegoisasi telah menguasai hingga gugupnya mengurai entah kemana.


"Itu yang sedang, Om lakukan dua hari ini. Kamu cukup pikirkan rencana untuk menikah besok. Biar itu menjadi urusaan, Om."


"Apa putri, Om belum tau tentang rencana ini?" tebak Adit.


Adit pikir jika Dinda tahu tentang menikah besok, maka dia pasti sudah diberi tahu oleh sang kekasih. Maka dari itu, Adit menebak bahwa Dinda juga belum mengetahui rencana ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Iya, Om belum mengatakan rencana besok pada, Adin. Tapi semua sudah siap, tinggal menunggu kesanggupan, kamu."


"Bagaimana jika para wartawan mencari tau sendiri tentang perceraian, Dinda?" Adit masih mencari celah untuk memantapkan hati mengatakan 'iya' tanpa kendala.


"Dan mereka mencocokkan tanggal perceraiannya dengan pernikahan yang ini, sementara itu, Om akan mengatakan jika pernikahan itu sebelum foto itu tersebar. Maka akan sangat ganjil jika waktu masa iddahnya baru saja cukup, tapi sudah menikah lagi," tambah Adit meluruskan berkata seriua.


"Lebih memalukan mana? Menikah lagi disaat masa iddah-nya baru cukup, atau berhubungan suami istri tapi tanpa ada ikatan pernikahan?"


Adit bungkam seribu bahasa, dia kalah telak dengan perhitungan yang salah. Jika dihadapkan dengan pilihan itu, maka pilihan menikah adalah jawabannya.


"Dari cerita Adin, kejadian itu sebelum iddah-nya genap. Dan kebetulan foto itu tersebar di saat iddah-nya genap. Maka yang harus dilakukan adalah, mengambil keuntungan itu dan menangkap pelaku agar menutup mulutnya."


"Lalu, bagaimana jika pelakunya menjadi bumerang?"


"Sudah, Om katakan ... kamu tidak perlu memikirkan hal itu, Om sudah mengurusnya dengan pengacara. Kamu tinggal bilang, setuju atau tidak?" tanya Zahir tak kalah serius.


Adit menghela napas perlahan, punggung kokoh dan lebar itu perlahan bersandar mencari kenyamanan pada sandaran kursi sambil menimang permintaan pria di hadapannya.


Memikirkan resiko apa saja yang akan menghadang mereka, jika benar-benar dilakukan.


"Baik. Saya akan datang besok," ucap Adit setelah sempat terhanyut dalam pikiran sesaat.


"Bagus, Om tunggu besok."


Sekuat tenaga menahan suara tangisnya. Bukan menangis karena akan dinikahkan, bukan! Jika dulu dia tidak ingin menikah, tapi melihat perjuangan Adit hatinya sudah luluh dan juga menginginkan hal itu. Dia tidak peduli akan dicap sebagai wanita yang tidak tahan sendiri dan kesepian, yang terpenting adalah ada orang yang mau mengerti dirinya dan segala kekurangannya.


Hanya saja mendengar rentetan kalimat antara ayahnya dan Adit, tentang foto dan segala resikonya telah mengusik hati kecil, Dinda.


Begitu besar masalah yang tercipta di balik selembar foto, tidak hanya dirinya yang dipertaruhkan, melainkan kehormatan keluarganya turut juga terancam.


Dinda gegas berlari saat mendengar Adit akan keluar dari ruang kerja ayahnya. Menyeka air mata sebelum ada yang tahu jika dia habis menangis saat mencuri dengar percakapan ayahnya dan Adit.


"Kakak," panggil seseorang. Tanpa melihat orangnya pun Dinda tahu jika itu adalah suara Kaamil.


Dinda menoleh dan mendapati Kaamil bersama Candra yang baru saja datang.


"Papa mana?" tanya Kaamil.


"Di ruang kerja, bentar lagi---."


"Oh lagi bicarain soal itu," kata Kaamil memotong kalimat Dinda.

__ADS_1


"Ayo Bang, kita ke dapur! Cari makanan, laper nih perut. Nggak usah sungkan-sungkan, Bang, anggap aja rumah sendiri." Kaamil merangkul Candra dan menariknya ke arah dapur.


Zahir dan Adit datang tepat ketika Kaamil bersama Candra menghilang di balik dinding memasuki dapur.


"Adin."


"Iya, Pa?"


"Antar Adit ke depan," perintah Zahir.


Dinda mengangguk sambil melirik Adit. "Kaamil, baru aja datang, Pa," ujarnya sambil mendekat.


"Sekarang di mana?"


"Di dapur," ucap Dinda sebelum berlalu bersama Adit.


Keduanya berjalan beriringan dengan diam, sama-sama memikirkan sesuatu.


"Apa Mas Adit, keberatan menikah denganku?" Dinda tidak tahan untuk tidak bertanya tentang hal itu.


Adit menghentikan langkah kakinya di ambang pintu utama, dan seketika menoleh pada Dinda.


"Apa kamu, menguping?" tanya Adit dan Dinda menunduk merasa bersalah.


"Aku sama sekali tidak keberatan menikah denganmu, bukankah kamu tahu? Ini yang aku tunggu sejak kita menjalin hubungan." Adit memutar badan menghadap Dinda dan menggenggam tangannya sembari tersenyum hangat, menatap penuh cinta.


"Tapi mungkin, Mas juga akan terkena imbasnya jika menikah denganku." Dinda tahu, bukan hanya dirinya saja yang akan disorot media, kehidupan Adit juga akan berdampak sama.


"Aku sudah berjanji, kan? Bahwa aku akan mengikatmu dalam sebuah hubungan pernikahan! Dan sekarang tuhan sudah membukakan jalannya. Ahh, satu lagi yang terpenting, aku juga berjanji akan membantumu dan mungkin ini adalah jalan yang terbaik," kata Adit tulus.


Dinda tidak bisa membalas apa yang sudah dikatakan Adit, dia terlalu terharu hingga lidahnya terasa kelu walau mengucapkan satu kata pun.


"Ayo, antar aku sampai depan."


Dinda hanya mengangguk dengan pandangan mengabur.


Sebelum masuk ke dalam mobil, pandangan keduanya tertuju pada sebuah motor besar hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil Adit.


"Aku pulang dulu, sampai ketemu besok siang. Assalamualaikum," pamit Adit dari dalam mobil dengan kaca yang terbuka sempurna.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Mas Adit," pesan Dinda sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil yang bergerak menjauh.

__ADS_1


"Apakah harus dengan cara seperti ini kita menikah, Mas Adit?" batin Dinda sendu.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2