Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 55 Nasehat sahabat.


__ADS_3

Tak terasa waktu terus bergulir. Langit terang kini berganti gelap, menyambut malam bertemankan bulan dan bintang.


Namun, pikiran Dinda tidak juga lepas pada kejadian tadi siang. Masih bingung dan terasa kaku menanggapi perlakuan Candra yang tiba-tiba bersikap romantis.


Ditambah lagi dengan kata-kata perlindungan suaminya itu sudah seperti layaknya seorang suami, yang bertanggung jawab terhadap keselamatan istrinya.


Tidak salah memang jika Candra memeluknya, mungkin itu adalah usaha suaminya untuk bisa menerima dirinya.


Tanpa sadar, Dinda membayangkan orang lain. Seandainya Adit yang menikah dengannya, pasti Adit juga akan melakukan hal yang sama seperti Candra.


Jika saja bisa mengulang semua yang terjadi dalam hidupnya, ingin rasanya dia menyangkal apa yang sudah terjadi saat ini.


Satu helaan napas panjang dan berat lolos begitu saja, mengurai sesak di dalam dada. Menyadari harapannya hanyanya sebuah harapan semu.


Harusnya dia tidak boleh berpikir demikian, ini sudah ketetapan yang diberikan Tuhan padanya. Syukurlah yang harusnya dia ucapkan, karena ada hikmah di dalamnya.


Entah akan seperti apa jika dia menikah dengan Adit. Seorang laki-laki yang selalu membujuknya untuk menerima cintanya. Seorang laki-laki yang rela melakukan apa pun untuknya, karena mengaku mencintainya. Seorang laki-laki yang susah payah menyakinkannya agar mau membina rumah tangga kembali terlepas skandalnya. Seorang laki-laki yang sudah melamarnya beberapa hari lalu.


Akan tetapi, semua itu seketika hancur saat dia mengingat bahwa terhalang restu orang tua Adit. Mungkin dia akan bahagia jika menikah dengan Adit, tapi bayang-bayang penolakan orang tuanya akan menyiksanya sedikit demi sedikit.


Itulah hikmah yang tersemat dalam pernikahannya saat ini. Dia tidak mencintai Candra, namun suami dan orang tua Candra mau menerimanya karena permintaan sang papa.


"Lagi ngelamunin apa?" tanya Candra ikut duduk di kursi balkon kamar mereka.


Dinda tersentak kecil dan langsung menoleh. "Nggak ngelamun apa-apa, Mas," elak Dinda.


Dia tidak tahu sudah berapa lama duduk menyendiri, hingga tidak menyadari kalau Candra sudah kembali dari masjid.


"Iya, nggak ngelamun, tapi dipanggil tiga kali nggak denger?"


Dinda terperangah dan salah tingkah mendengar apa yang Candra katakan.


"A-aku dengar kok," bohong Dinda gugup.


"Dengar apa?" tanya Candra mengangkat satu alis, sembari menatap manik mata kecoklatan yang kini bergerak-gerak gusar.


"Manggil aku, kan? Iya, aku dengar kok." Dinda mengangguk pasti.


"Jadi ... kamu bisa dengar isi hatiku? Padahal aku tadi cuman panggil dalam hati," tanya Candra santai.


"Hah?" Dinda bengong. "Maksud Mas Candra?"


"Jujur saja, apa yang kamu pikirkan?" ucap Candra sambil menengadah, menikmati melihat bintang-bintang.


Dinda tertunduk malu, menyadari bahwa tadi hanyalah jebakan Candra.

__ADS_1


"Apa kamu masih memikirkan Adit?"


Dinda kalah telak, dia semakin malu karena Candra dapat menebak pikirannya yang sempat berkelana. Menghela napas, Dinda ikut menengadah.


"Mas benar, aku masih memikirkannya. Sulit untukku melupakannya," aku Dinda pelan.


Candra mengangguk paham dengan tetap melihat ribuan bintang di atas langit, yang semakin larut semakin banyak dan bercahaya terang. Diiringi angin yang berhembus menembus baju menerpa permukaan kulit sampai ketulang.


"Tentu, aku mengerti. Itu memang tidak mudah bagimu, dan aku tidak melarangmu untuk memikirkannya." Dinda menoleh, memperhatikan wajah Candra dari samping yang bicara tetap pada posisinya.


"Aku memberimu waktu untuk melupakannya. Tapi ... setelah semua ini selesai, aku tidak akan lagi mengijinkanmu untuk memikirkannya," ucap Candra serius sembari menoleh, membuat mereka bersitatap.


Dinda terkesiap dan mematung.


"Walau sekejap pun," tambah Candra penuh penekanan dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan.


"Kau mengerti?" tanya Candra serius dan dingin.


Dinda nergedik ngeri, menelan ludah sebelum dia bersuara. "Iya, aku mengerti," balasnya sambil mengangguk patuh dan takut.


Baru saja dia merasa Candra bagitu manis karena perlakuannya tadi siang. Namun, semua itu menguap begitu saja saat suaranya terkesan penuh ancaman.


Beberapa saat keadaan hening dengan saling tatap. Dinda tersadar dan mengerjap.


"Ekhem ... Mas Candra---," panggil Dinda sambil menguasai diri agar tidak terintimidasi.


"Apa besok, aku boleh ke restoran?"


"Silakan," ucap Candra mengijinkan, membuat Dinda merasa lega.


"Tapi aku yang mengantar dan menjemputmu!" pangkas Candra menghentikan Dinda yang ingin bersuara.


Dinda mengangguk pasrah. Kalimat terimakasih yang hendak dia ucapkan, seketika urung untuk diutarakan.


"Ayo tidur, ini sudah larut malam!" perintah Candra berdiri lebih dulu dan meninggalkannya.


Dinda terpaku menatap punggung lebar Candra.


"Kau ingin tetap di situ, atau masuk?" tanya Candra tanpa menoleh dan menghilang di balik dinding.


"Eh," pekik Dinda langsung bangkit dari duduknya dan berlari kecil menusul suaminya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Seperti yang Candra katakan tadi malam. Sebelum ke kantornya dia mengantar Dinda lebih dulu, barulah pergi meninggalkan Dinda yang mengantar kepergian mobilnya di depan restoran.

__ADS_1


Usai tak terlihat lagi mobil yang mengantarnya. Dinda bergegas mengambil ponsel dari dalam envlope clutch, lantas mengetik pesan pada room grupnya.


"Gays ... aku baru sampai," tulis Dinda dan berbalik masuk ke restorannya.


Satu pesan balasan masuk, membuatnya berhenti melangkah.


"Oke, aku otw. Nuri udah aku titipkan ke mama."


Kembali mendapat balasan secara bersaaman.


"Aku mungkin telat ya! Soalnya Mas Abdar belum berangkat, dan mungkin sekalian barengan sama Mas Abdar."


"Aku telat juga, taulah kamu apa alasannya ... aku tuh masih pusing! Pengen deh cepat-cepat berhenti, biar bisa makan enak."


Dinda terkekeh membaca pesan teman-temannya. Dengan cekatan, jarinya menari-nari di atas layar ponselnya.


"Santai aja, masih banyak waktu buat kumpul bareng."


Dinda kembali berjalan dan menyimpan ponsel pada tempat asalnya.


"Pagi Nona," sapa Nena ramah.


"Pagu juga Nena," balas Dinda tersenyum dengan terus berjalan menuju ruangannya.


Setibanya di dalam ruang kerjanya, Dinda langsung berkutat dengan pekerjaan yang beberapa hari ini tidak dijambanginya.


Larut dalam dunia kerja, membuatnya semakin tenggelam dalam tumpukan laporan karyawan. Sejenak dia melupakan semua beban pikiran dari dunia fana.


"Assalamualaikum, serius amat bacanya," kata Nurul yang sudah datang mengagetkannya, sambil menutup pintu.


"Eh, Wa'alaikumussalam." pekik Dinda terkejut.


"Gimana nih, kabarnya pengantin baru? Udah belah duren dong?" goda Nurul sambil duduk di sofa panjang dan terkekeh geli.


Dinda memutar bola matanya malas, dan tidak menjawab pertanyaan Nurul. Menurut Dinda itu sama sekali tidak penting. Dia kembali menyibukan diri pada kertas-kertas yang lebih menarik perhatiannya.


"Surat-surat udah diuruskan? Walau pun nggak ada cinta di antara kalian, tapi kamu tetap harus menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri. Karena pernikahan kalian itu sah ... kalau itu enggak kamu lakuin, kamu dapat dosa lo Din."


Seketika pergerakan tangan Dinda berhenti, pena yang terjepit di antara jarinya merenggang dan terkulai di atas kertas.


Masih meresap apa yang Nurul katakan, walau hendak mengelak. Namun, itu adalah sebuah kebenaran.


"Itu memang benar."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Selamat hari lebaran idhul adha, 1443 h./2022 m. bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin, jika ada salah-salah kata yang disengaja mau pun yang tidak 🙏. Semoga kita semua diberi umur panjang, hingga kembali dipertemukan pada bulan haji mendatang. Aamiin , aamiin , aamiin ... yarabbal alamin 🤲.


__ADS_2