Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 35


__ADS_3

Sunyi dan hening ....


Itulah suasana di dalam kamar Dinda. Dia sendirian di tempat pembaringannya usai ditinggal Vita ke luar kamar, saat dirinya benar-benar tertidur.


Entah sudah berapa lama berkelana di alam mimpi. Dinda perlahan mengerjap dan membuka mata yang terasa amat berat, tapi tetap dia paksakan agar terbuka sempurna.


Yang pertama dilihatnya adalah langit-langit kamar. Dinda memandang dengan tatapan kosong, bagaikan raga tanpa nyawa.


Menoleh ke samping. Di mana ponselnya tergeletak di atas nakas, tanpa ada niatan untuk mengambilnya.


Kembali membetulkan posisi kepalanya, lurus ke depan. Selang beberapa detik, kedua sudut matanya berair dan berjatuhan.


Bunyi pintu yang terbuka, langsung mengambil penuh atensi Dinda. Tangannya terangkat dan buru-buru menyeka air matanya.


"Sayang ... kamu sudah bangun?" tanya Vita lembut sambil berjalan mendekati ranjang.


Vita duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur membantu mengusap jejak air mata Dinda dengan pandangan sedih. "Teman-teman Kamu sudah datang, Nak," hibur Vita memaksakan senyum.


"Bunda, panggilkan dulu, ya?" tawar Vita karena Dinda diam saja.


Dinda sempat memandang Vita dalam, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan sembari bangkit dan duduk.


Gegas Vita beranjak setelah memberikan kecupan sayang di kening Dinda. Tidak lama Tantenya keluar, teman-teman Dinda masuk bersamaan.


"Dinda!" seru mereka dengan serempak.


Dinda yang tadi mencoba menghalau cairan bening agar tidak keluar lagi, seketika runtuh oleh sahabat yang datang mendekat.


Ketiga sahabatnya langsung memeluknya sambil ikut duduk di tepi ranjang, tak terasa mereka menangis bersama.


"Itu pasti bukan kamu, kan, Din?" tanya Nurul lirih, sedikit mengurai pelukan agar dapat melihat wajah Dinda yang sembab.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Dinda memandang ibu beranak satu itu muram. Ingin menjawab yang sebenarnya, tapi dia ragu untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Rul, kamu gimana sih ... kita tau bagimana Dinda. Jadi nggak usah, tanya-tanya sembarangan!" sentak Soraya tidak suka.


"Iya ... iya, maaf," ucap Nurul merasa bersalah karena perubahan mimik wajah Dinda yang semakin pucat.


"Sudahlah Aya, Nurul pasti nggak bermaksud kaya gitu," bela Rahimah.


Nurul dengan cepat mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Iya, Ay ...," sahutnya pelan.


"Dinda, kami akan selalu ada untukmu, kamu bisa membagi kesedihan atau masalah apa pun itu! Kami pasti akan membantu, jadi jangan kamu pendam sendiri!" ucap Rahima menangkupkan kedua pipi Dinda sambil mengusapnya lembut.


Rahimah menghela napas. "Kamu bisa berbagi cerita, tapi bukan berarti kami tidak percaya. Kami hanya mengkhawatirkan Kamu. Kamu ingat, kan, dengan perjalanan kisah hidupku? Aku tidaklah salah, tapi para warga menyimpulkannya sendiri. Karena gosip yang beredar semakin besar, mereka menganggapku bagaikan wanita hin4," sambung Rahimah sendu.


Dinda memandang Rahimah lekat. Jika diukur, pasti penderitaannya jelas tak sebanding dengan apa yang sudah dialami sahabatnya itu.

__ADS_1


"Makasih, karena selalu ada disaat aku membutuhkan, kalian," ucap Dinda tulus.


"Kalau kamu belum bisa cerita! Nggak apa-apa kok, Din! Mungkin kamu masih perlu waktu!" kata Rahimah bijak.


"Gimana sama rencana, kamu mau pulang ke Kalimantan, besok?" tanya Soraya.


Dinda menggeleng pelan, "Rencananya setelah kita kumpul, aku mau langsung berangkat. Tapi sekarang ...," jawab Dinda terisak kecil.


"Mau minta bantuan, Mas Candra, nggak? Dia bisa nyari, siapa orang yang sudah menyebar foto-foto itu," usul Rahimah.


"Tapi kamu tenang aja, Din. Kita percaya kok, itu pasti bukan Kamu!" seru Nurul menyela.


Dinda semakin terisak, setelah mendengar itu. Rahimah dan Soraya yang duduk di sisi kiri juga kanannya, dengan lembut mengusap punggungnya.


"Sabar, Din! Semua pasti akan baik-baik saja. Minta bantuan Mas Candra aja, ya?" Soraya ikut menimpali.


Bukannya menjawab, Dinda malah mekencangkan tangisnya. Mereka akhirnya memilih diam sambil mengusap punggung dan tangannya.


Setelah sudah mulai tenang, Dinda menatap teman-temannya bergantian. Menarik napas dalam dan menghembusnya perlahan.


"Sebenarnya---," kata Dinda ragu.


"Wanita difoto itu---," lanjutnya menjeda kalimatnya lagi.


"Memang, aku," ujar Dinda lirih sambil tertunduk. Mungkin karena sudah banyak menangis, dia jadi bisa mengontrol emosinya.


"Apa, kamu mau cerita?" ucap Rahimah memecah keheningan.


"Tapi aku nggak berbuat apa-apa, Imah," sangkal Dinda menjelaskan.


"Waktu itu, aku pulang kemalaman. Pas mau masuk mobil, tiba-tiba ada yang bekap aku dari belakang," ujar Dinda mulai bercerita.


"Saat aku bangun, tau-tau susah ada di kamar hotel, tapi nggak ada siapa pun," lanjut cerita Dinda sambil menggeleng pelan.


Lagi-lagi ketiganya saling pandang, dan mencerna semua yang dikatakan Dinda.


"Nanti aku bicarakan sama, Mas Abdar. Biar dia minta bantuan, Mas Candra," kata Rahimah.


Dinda menghela nafas pasrah. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia memerlukan bantuan Candra. Yang Dinda dengar dari Rahimah, selain pelatih taekwondo anaknya, Candra juga seorang hacker.


"Minta tolong ya, Imah," mohon Dinda pada Rahimah.


"Kamu tenang aja, habis pulang aku omongin sama, Mas Abdar," sahut Rahimah.


"Kalau perlu bantuan, Mas Zidan! Bilang aja," ucap Soraya.


"Mas Zidan dan Mas Candra, kan, temenan?" lanjut Soraya yang dibenarkan Dinda begitu juga yang lain.

__ADS_1


"Kebetulan aku diantar, Mas Zidan. Nanti kami cari solusi di rumah, Imah. Gimana, Imah?" tanya Soraya beralih pada Rahimah.


"Ide bagus," angguk Rahimah setuju.


"Kalau gitu kita pulang dulu, Din," izin Nurul.


"Nanti kita bahas lagi, di grup," pangkas Soraya.


"Kamu istrahat aja, biar kami yang urus," ujar Rahimah.


Ketiganya pun pulang, tanpa diantar Dinda Karena mereka melarang. Usai kepulangan teman-temannya, Dinda termenung.


"Jangan terlalu dipikirkan."


Dinda menoleh ke asal suara. "Bunda."


"Tadi ayah bicara banyak sama suami teman-teman kamu, mereka bilang akan membantu." Vita datang mendekat.


"Apa kamu sudah merasa, baikan?" tanya Vita menggenggam tangan Dinda sayang.


Dinda mengangguk pekan. "Sudah, Bun," kata Dinda jujur.


Vita tersenyum dengan keadaan Dinda yang memang lebih baik setelah bertemu dengan ketiga temannya.


"Di luar ada, Nak Adit. Dia baru datang," kata Vita kemudian.


"Mas Adit?" pekik Dinda tersentak kaget.


"Kata Adit, dia udah janji sama kamu, mau ke sini."


Seketika wajah Dinda berubah pucat. "Gimana ini, Bunda? Mas Adit, pasti udah tau masalah Adin," ungkap Dinda panik.


"Apa nanti yang dipikirkan, Mas Adit?" tanya Dinda kawatir.


"Nak Adit, pasti nggak akan berpikir yang macam-macam. Bunda tau siapa putri kesayangan Bunda ini! Dia nggak akan melakukan hal yang mengarah kepada dosa, Nak Adit juga pasti berpikir demikian."


"Maaf, Bun. Dinda belum bercerita sama, Bunda," tatap Dinda merasa bersalah.


"Kalau kamu mau ketemu, Adit, temui saja dulu. Nanti kita bicarakan."


"Adin temui, Mas Adit dulu, Bun. Nanti Adin, ceritakan cerita yang sebenarnya."


"Iya, sayang," angguk Vita.


Dengan jantung yang berdegup kencang, dan membaca basmalah. Perlahan kakinya melangkah ke luar kamar.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2