
"Bersiap untuk mengambil kendali," bisik Candra membuat yang lain langsung sigap dengan tangan dan kaki ancang-ancang.
Lima di antara rekan Candra menangkap tangan orang yang memengang pistol secara bersamaan, dan merebutnya. Tidak ingin terjadi baku tembak, senjata api itu mereka simpan di belakang punggung masing-masing.
Candra kembali melanjutkan langkah kakinya bersama salah satu si kembar ke lantai atas, karena rekannya sudah mengambil alih semua musuh yang tadi sempat menghadang.
Menapakkan kaki ke lantai teratas, Candra langsung berlari ke arah kamar yang samar dia lihat. Sembari memperhatikan sekelilingnya, Candra sudah siap membuka pintu itu.
"Terkunci," gumam Candra yang masih terdengar si kembar.
"Raka. Dobrak!" lanjutnya memberi perintah pada si kembar.
Raka pun langsung sigap menerima perintah tersebut, dengan menghantamkan salah satu pundaknya ke arah pintu. Akan tetapi, percobaan pertama gagal, tapi semangat nya semakin menggebu mana kala pintu itu sedikit ada pergerakan dari tindakannya yang mendorong secara paksa. Raka kembali mengulang aksinya hingga pada tiga kali dobrakan, barulah pintu itu terbuka.
Raka lebih dulu masuk memimpin jalan dengan perlahan di dalam ruangan yang sangat gelap. Candra pun berinisiatif mencari tombol lampu kamar tersebut, dan menghidupkannya.
"Adin," pekik Candra tersentak kaget saat cahaya lampu memberi penerangan ketika dia menoleh dan melihat seorang wanita tengah duduk di kursi kayu tunggal dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri dengan kepala mendongkak ke atas.
Candra bergegas menghampirinya dan melewati Raka yang terpaku di tempatnya.
"Adin," panggil Candra begitu khawatir dengan keadaan Dinda yang terlihat sangat pucat, sedang kedua tangannya mengusap pipi Dinda sayang.
Menyadari Dinda yang masih terikat, tangannya pun beralih melepaskan tali yang melilit tubuh ringkih istrinya.
"Berhenti!" sentak seseorang dan seketika mengambil penuh atensi Candra.
Candra menatap tajam pada orang yang sudah membentak dan menghentikan aktifitasnya saat hendak membebaskan istrinya dari jerat tali tersebut.
"Menjauh darinya!" tambah orang itu, dan mau tidak mau Candra harus menurutnya, karena sebuah pistol yang menempel di samping kepala Raka.
Candra mundur dua langka, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal erat hingga urat-urat di permukaan kulitnya bermunculan. Matanya pun tak lepas menatap lawannya.
Tatapan Candra beralih pada seseorang yang turut muncul dalam ruangan tersebut, dan mendekatinya. Dalam jarak yang lumayan dekat, tiba-tiba orang itu meninju perutnya.
"Aa," pekik Candra merintih kesakitan sambil terhuyung ke belakang, karena posisinya yang tidak siap.
Belum juga berdiri tegap, Candra kembali merasakan tendangan pada pipinya dari arah samping dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Bang!" panggil Raka khawatir sambil kakinya hendak maju.
__ADS_1
"Tetap di tempatmu!" ancamnya sambil mengencangkan genggamannya pada pistol dan menekannya ke kepala Raka.
Candra menoleh dan menggeram marah sembari memegang pipinya. Diliriknya Dinda yang belum juga menyadari kehadiran mereka. Kini tatapannya berpindah dan terkunci pada Raka, dengan saling pandang mereka memberi isyarat untuk mengunci dan merebut senjata kemudian pergerakan sang lawan.
Kaki musuh di hadapan Candra terayun hendak menendangnya. Akan tetapi, dengan segera ditangkap oleh Candra dan bersamaan juga Raka yang mencekal tangan orang di sampingnya.
"Elu, yang diam di tempat Lu!" sengit Raka membalas dengan meninju wajah musuhnya.
"Brenggg sekk," umpatnya marah sembari terduduk.
"Apa? Mau apa Lu?" balas Raka yang kini memegang pistol dan menodong ke arah lawannya.
"Lu yang udah ikat istri gue, hah?" tanya Candra sambil menarik kaki itu hingga ia jatuh terlentang dan menjerit kesakitan.
"Ehh, sialan," hardik orang yang menjadi lawan Candra.
Kedua musuh itu bangkit dengan wajah penuh amarah. Begitu pula dengan Candra dan Raka yang sajak tadi sedang menahan kesal untuk tidak segera melepaskan Dinda dari ikatannya, karena harus melawan musuh lebih dulu.
"Kalian jangan ada yang bergerak! Kalau tidak ingin tertembak," gertak Raka serius sambil menodongkan pistol kepada keduanya bergantian.
Orang yang awalnya memegang pistol itu seketika tertawa, karena mendengar kalimat Raka. "Oya? Coba saja tembak!" tantangnya tersenyum mengejek.
Raka yang penasaran dengan tantangan tersebut, langsung berniat melepas peluru dari sarangnya.
Kedua orang itu tertawa kencang ketika tidak terjadi apa-apa pada mereka saat Raka benar-benar menarik pelatuknya.
"Sialan!" ujar Raka marah sambil melempar pistol tersebut ke lantai dan lansung melayangkan bogem mentah pada orang di hadapannya.
Candra juga tidak tidak tinggal diam, dia turut menghajar lawannya secara membabi buta. Mengeluarkan amarah yang sejak tadi harus dia pendam.
Namun, tidak semudah itu Candra dan Raka bisa mengalahkan lawannya. Keduanya juga dengan mudahnya menangkis dan membalas setiap serangannya.
Perkelahian satu lawan satu pun belum terlihat siapa yang akan bertahan menjadi pemenang. Disela-sela pertarungan itu. Candra dan Raka bertambah heran, karena teman-temannya yang di lantai bawah belum juga datang menyusul mereka.
Sementara itu ....
Dinda yang belum tersadar dari tidurnya, samar mendengar suara gaduh di sekitarnya. Suara itu semakin jelas dipendengaran kala seluruh kesadaran kini telah terkumpul penuh.
Pelan namun pasti, Dinda membuka matanya dan memperhatikan keempat orang yang sedang melakukan perlawanan untuk saling bertahan.
__ADS_1
Tubuhnya membatu, namun bergetar dengan perasaan yang sangat takut akan keselamatan dirinya. Masih belum menyadari bahwa di antara keempat orang itu adalah suaminya, karena dia diliputi ketakutan yang teramat hebat.
Candra yang tidak sengaja melirik ke arah Dinda, seketika kehilangan konsentrasin karena mengkhawatirkan istrinya. Sebab, tatapan Dinda terlihat kosong.
"Aaa!" teriak Dinda takut, karena Candra jatuh tepat di hadapannya.
"Sayang," panggil Candra cepat sambil mendongkak.
"Mas .... Itu beneran kamu, Mas?" tanya Dinda tidak percaya.
"Iya. Ini aku," balas Candra tegas agar mengurangi ketakutan istrinya.
Akan tetapi, bukannya ketakutan itu hilang. Dinda malah menangis histeris.
"Mas ... tolongin Aku, Mas. Aku takut," adu Dinda di atara tangis kesedihannya. "Mas Candra ...."
Candra mengeraskan rahangnya dan amarah pun kini tumbuh berkali-kali lipat setelah melihat mental Dinda yang sepertinya mengalami trauma.
"Kalian akan membayarnya," gumam Candra dengan tatapan yang membunuh.
Candra bangkit dengan lawan yang menarik baju di punggungnya. Tidak menunggu berdiri sempurna, Candra sudah berbalik dan menghantamkan kepalanya pada kepala musuh.
"Aaa, 4njing!" sumpahnya pada Candra sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Belum hilang rasa sakit dan pusing yang bersamaan, Candra kembali membenturkan kepala mereka.
"Berengg sekk!" ucapnya disela kesakitan.
"Lu udah bikin istri gue menderita. Dan Lu harus membayar semuanya!" ujar Candra dingin sambil meninju wajahnya bertubi-tubi.
"Bang, udah Bang! Mereka udah pingsan," Raka datang menarik Candra, namun tidak dihiraukannya dan terus menghajarnya.
"Mas Candra," seketika Candra menghentikan pukulannya saat mendengar suara lemah Dinda.
"Sayang," balas Candra sambil berjalan gontai mendekati Dinda.
Dinda menangis lemah dengan tubuh yang bergetar, membuat Candra segera memeluknya. "Jangan takut! Aku ada di sini," bisiknya.
"Maaf, karena datang terlambat," lanjutnya sambil mengeratkan pelukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....