
Dinda yang tadi memang sengaja mencuri dengar percakapan antara Papanya dan Adit, tak berminat menanyakan ulang pada sang ayah walau ada kesempatan untuk menegaskan.
Dia lebih memilih diam, menunggu orang yang merencanakan pernikahan mendadak itu mengatakannya sendiri.
"Masih nggak nyangka aku, sama Si Danu," kata Kaamil menahan geram, "Kalau aja nggak ada, Bang Candra ... pengen banget rasanya bunuh, dia," lanjut Kaamil bersungut-sungut.
"Astaghfirullah ... nyebut-nyebut, jangan asal ngomong, kamu," tegur Mita kesal dan melempar bantal sofa pada Kaamil yang duduk di kursi lain bersama Dinda.
"Hehe ... maaf, Ma." Kaamil cengengesan sambil berlindung di punggung kakaknya.
"Ehh, memangnya udah ketangkap?" tanya Dinda terkaget.
Mereka baru saja tahu siapa orang yang melakukan penyebaran foto dirinya dari penjelesan singkat Kaamil dan Candra tadi. Akan tetapi, masih bingung tentang motif sahabat adiknya itu melakukan semua ini.
"Kakak, dari tadi nggak nyimak?" kesal Kaamil.
Dinda meringis sembari menggeleng pelan dan seketika mendapat lemparan bantal dari Kaamil yang tadi bekas lemparan Mita.
"Kakak, payah," gerutu Kaamil.
"Kamu, yang payah." Dinda membalas mengembalikan bantal, tapi tangannya tertahan di udara karena keburu Kaamil berdiri dan bersembunyi di balik sofa kedua orang tuanya.
Dari tadi pikiran Dinda melayang pada pernikahan yang akan terjadi besok siang, sehingga dia tidak menyimak apa yang dibicarakan oleh adik dan ayahnya.
Candra juga sudah pulang usai berbicara pada Zahir tiga puluh menit lalu. Kini mereka berempat duduk di ruang tv guna membahas langkah selanjutnya untuk konferensi pers esok lusa.
Namun, rupanya Dinda tidak masuk dalam pembahasan tersebut karena sibuk dalam isi pemikirannya sendiri.
"Bleee." Kaamil memeletkan lidah, mengejek Dinda yang tidak mengenainya.
"Awas, kamu." Dinda terpancing dan langsung berdiri hendak menangkap Kaamil.
Kaamil siaga, segera berlari menghidari kejaran sang kakak mengitari sofa yang di tempati Mita dan Zahir guna mencari perlindungan.
Beberapa kali putaran mengelilingi kedua orang tuanya hingga Zahir bersuara menegur Dinda dan Kaamil.
"Kalian berdua, duduk," perintah Zahir.
Dinda dan Kaamil berhenti dan langsung menciut saat melihat tatapan tajam Zahir. Keduanya kembali duduk dengan wajah tertunduk takut.
"Kalian, ini. Bukannya serius, malah becanda," tegur Zahir tegas dan dingin.
"Maaf, Pa," seru keduanya lirih sembari menelan ludah.
"Kamu, Adin! Bukannya fokus, malah meladeni, Emil!" bentak Zahir.
__ADS_1
"Maaf, Pa," sesal Dinda.
"Kamu, juga Mil ... jangan becanda, masah ini belum selesai."
"Iya, Pa ... maaf," sahut Kaamil menyesal.
Zahir menghela napas berat melihat Dinda dan Kaamil. Dia senang jika keduanya bisa bercanda, hanya saja waktunya kurang tepat untuk sekarang disaat ketenangan jiwanya sebagai orang tua terusik oleh masah putri sulungnya.
"Sekarang kalian dengarkan, Papa baik-baik," kata Zahir serius menjeda kalimatnya. "Besok siang, Adin akan menikah dengan Adit! Papa dan Mama sudah menyiapkan semuanya. Jadi ... Papa, harap kalian bisa fokus untuk konferensi pers besok lusa," sambung Zahir.
"Hah. Kak Adin, besok menikah?" pekik Kaamil kaget.
Berbeda dengan Dinda yang tertunduk diam seribu bahasa. Kaamil melirik ketiganya bergantian dengan pandangan menuntut penjelasan. Rupanya, rencana tersebut hanya Mita yang tahu.
"Tadi, Candra dan Kaamil sudah menangkap, Danu. Dia akan kita paksa untuk mengaku, bahwa kalian berdua memang suami istri. Dan motifnya melakukan penyebaraan itu karena ada yang iri dengan kalian, sehingga membayar dia. Candra akan membantu mengurus semuanya," ujar Zahir menjelaskan kepada Dinda sekaligus menjawab pertanyaan Kaamil.
"Bagaimana kalau, Danu menolak?" Kaamil bertanya sama seperti apa yang Dinda pikirkan.
"Menurut informasi dari anak buah, Candra ... dia melakukan itu demi membiayai pengobatan orang tuanya. Dan kita akan melakukan penawaran untuk itu," jawab Zahir.
"Oiya ... kalau nggak salah, aku sama Kakak pernah ketemu Danu, di rumah sakit pas jenguk, Kakek," kenang Kaamil.
"Kakak juga ingat, kan?" balas Kaamil menoleh pada Dinda.
"Iya, Kakak ingat kok."
"Apa?" desak Zahir.
"Emmm, itu---."
"Pasti dibayarin ceweknya, kan?" tebak Dinda.
"Siapa tau uangnya masih kurang ... dan dia dapat kerjaan ini," pangkas Zahir cepat.
"Emmm tapi, Pa ... ceweknya itu ... bukan cewek biasa," sahut Kaamil masih ragu-ragu.
"Cewek jadi-jadian maksud, kamu?"
"Bu-bukan." Kaamil menggaruk pelipisnya dengan kedua alis yang terangkat.
"Lalu?" Mita menimpali, ikut penasaran.
"Temannya Emil itu, cowok bayaran, Pa, Ma ...," pangkas Dinda membantu menjawab.
"Iya. Sudah jelas, kan bayaran? Makanya dia kerja gitu, karena dibayar. Jadi, kita juga akan bayar dia dan suruh dia ngaku. Siapa orang yang sudah bayar dia," tanggap Zahir santai.
__ADS_1
Dinda dan Kaamil saling pandang.
"Bukan sekedar itu, Pa," tolak Kaamil dengan praduga Zahir yang sedikit melenceng.
"Yang jelas dong ngomongnya, jangan muter-muter. Bikin pusing aja," keluh Mita.
"Gimana ya, jelasinnya?" gumam Kaamil bermonolog.
"Papa sama Mama, ingat nggak sama pemberitaan Adin di mensos?" sela Adin dengan pertanyaan dan mendapat anggukan dari kedua orang tuanya.
"Mana mungkin lupa, Adin. Kan masih kita usut, biar cepat berhenti beritanya," kesal Mita.
"Apa beritanya?" tanya Dinda mengabaikan kekesalan sang Mama.
"Kenapa pakai nanya segala? Itu, kan berita, kamu sendiri, malah tanya-tanya lagi," kesal Mita bersungut-sungut.
Mita masih syok dengan pemberitaan yang menimpa Dinda. Sekarang ketika mendapat pertanyaan itu dari putrinya sendiri membuatnya berpikir jika anaknya itu tidak kepikiran dan mungkin menganggap masalah itu sepele, tidak seperti dirinya dan sang suami.
"Jawab aja, Ma," desak Dinda tidak sabar. Dia juga tidak ingin lama-lama mengingat pemberitaan tersebut.
Namun, Dinda sadar, jika masalah itu belum tuntas ... maka mereka pasti akan terus membahasnya walau tidak ingin.
"Menyewa pria bayaran karena kesepian," jawab Mita malas dan sangat malas.
Sedetik kemudian, Mita dan Zahir saling pandang dan tercekat kemudian menatap Dinda dan Kaamil bergantian yang sedang mengangguk pasti.
"Astaghfirullah hal azim. Ini udah akhir jaman," pekik Mita bergidik ngeri.
"Kalau ceweknya punya banyak uang, kenapa repot-repot ngambil kerjaan ini?" Zahir menggelengkan kepala tak habis pikir. Di satu sisi pengerjaan Danu itu salah, tapi mengingat pekerjaan yang lainnya pun juga semakin salah.
"Itu yang jadi pertanyaannya! Apa Kakak, punya masalah sama Danu? Atau ceweknya?" sergah Kaamil.
Dinda tertegun, mencerna pertanyaan dan mengingat sesuatu sekaligus. Dinda menggeleng ragu sambil menelan ludah. Buru-buru minum, dengan ingatan menerawang jauh. Apakah ada kesalahan yang dia tidak ingat dan tanpa sengaja menyakiti seseorang.
"Nanti, biar Papa bicarakan sama, Candra tentang info ini," ucap Zahir menghancurkan lamunan Dinda.
"Sekarang kita cukup urus rencana pernikahan besok."
"Jadi itu alasan, Papa ketemu sama, Mas Adit? Apa Mas Adit, setuju dengan pernikahan yang terkesan kaya mengambil keuntungan buat kita, tapi berdampak pada kehidupan, Mas Adit nantinya?"
Dinda kembali murung mendengar penuturan Kaamil, sebenarnya itu juga yang sedang dia pikirkan tentang Adit.
"Kita liat besok. Kalau Adit, datang ... berarti dia setuju."
"Mas Adit, pasti setuju. Karena memang rencanya juga ingin melamar, Adin," ujar Dinda sendu.
__ADS_1
"Dia memang sejutu, tapi kita belum tahu dengan pendapat keluarganya. Seperti yang dikatakan, Emil tadi ... ini menguntungkan untuk kita, tapi bisa jadi akan berdampak buruk untuk masa depannya atau sebaliknya."
BERSAMBUNG ....