
"Hahaha," tawa Baskoro menggelegar memenuhi isi ruang tamu.
"Jebakan? Hahaha, saya menjebak siapa, Anak Muda?" tanya Baskoro masih diiringi dengan tawa.
"Saya menuntut permohonan maaf Anda secara langsung kepada keluarga besar Dinda, dan sebaiknya Anda juga segera mempertanggung jawabkannya dengan cara menyerahkan diri ke kontor polisi! Atau ... Anda ingin dijemput polisi secara langsung?" tutur Candra menawarkan.
"Hahaha ... sepertinya kau sudah salah orang, Anak Muda. Saya bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang sedang kamu bicarakan. Dan tentang tanggung jawab ... tanggung jawab untuk kesalahan apa?"
"Saya sudah memperhitungkan ini sebelumnya, saat saya tau siapa orang dibalik penjebakan, Dinda selama ini. Mungkin akan sulit bagi saya jika menyeret Anda ke penjara, mengingat Anda mempunyai pengeruh yang besar dan kekuasaan. Tapi, saya juga tidak ingin pulang dengan tangan kosong," jawab Candra membuat Baskoro terdiam dengan rahang yang mengeras.
"Kau sangat lancang dan bernyali besar rupanya?" ucap Baskoro dingin, hilang sudah tawa yang sejak tadi menghiasi wajah tuanya.
"Anda belum mengenal baik saya, Tuan," sahut Candra tersenyum tipis.
"Bukti apa hingga kau berani menuduhku, yang aku sendiri tidak tau tentang penjebakan itu?" elak Baskoro menatap tajam, dia bahkan tidak sepormal ketika pertama kali menyambut kedatangan Candra tadi.
"Saya tidak perlu menjelaskan, karna saya yakin ... Anda tau apa maksud saya," jawab Candra datar.
Candra jelas tidak akan berbuat ceboroh dengan melibatkan Danu dalam pembahasan ini, mengingat permintaannya yang menginginkan keselamatan ibu dan adiknya.
Dia hanya bertindak sesuai dengan informasi tentang Baskoro yang Candra temukan, dan itu berhubungan dengan seseorang.
"Sudah kukatakan, aku tidak tau apa yang kau bicarakan. Sebaiknya kau pergi dari sini!" perintah Baskoro sembari berdiri dan meninggalkan Candra.
Candra tidak akan menyerah begitu saja, dia sudah mengorbankan waktunya untuk menunggu pemilik rumah itu, dan sekarang dia pasti akan mengungkap rahasia ini.
"Apa pertu saya tunjungan ke publik tentang perselingkuhan anak Anda, Tuan?" ancam Candra.
Seketika Baskoro menggentikan langkah kakinya dan terdiam beberapa detik lamanya, hingga akhirnya dia berbalik sembari menatap marah pada orang yang sudah membuatnya berhenti berjalan.
"Apa maksudmu?"
Candra menarik salah satu sudut bibirnya, berhasil menahan lelaki setengah abad itu pergi. Dia ikut berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya dan berjalan mendekati Baskoro tanpa rasa takut.
"Saya tau apa alasan Anda sebenarnya, hingga menjebak Dinda seperti ini. Itu karena anak Anda," papar Candra membalasan tatapan Baskoro.
__ADS_1
"Kau terlalu ikut campur, Anak Muda," peringat pria paruh baya tersebut.
"Awalnya saya sedikit heran. Ada hubungan apa hingga Anda berani melakukan ini kepada Dinda ... tapi sekarang saya sudah tau jawabannya."
Baskoro masih menatap tajam Candra, seolah dia adalah daging yang siap diterkam hidup-hidup.
"Itu." Tunjung Candra pada sebuah foto keluarga yang di dalamnya terdapat dua pasang manusia. Satu di antaranya adalah Baskoro, dan yang di sampingnya bisa dipastikan bahwa itu istrnya, sedang di belakang mereka putra dan putrinya.
Baskoro melihat arah tunjuk Candra dan mengerutkan kening tidak mengerti.
"Biar saja jelaskan sedikit, Tuan Baskoro! Waktu itu saya tidak sengaja melihat Dinda, sedang dihina oleh sepasang manusia saat hendak pulang dari pesta pernikahan temannya. Dan tentu mereka saling balas," cerita Candra santai, "dan wanita yang menghinanya adalah wanita dalam foto itu. Anak Anda!"
"Saya melihat dari awal perdebatan mereka, hingga anak Anda dibawa pergi suaminya secara paksa. Yang tidak lain ialah mantan suami Dinda," lanjut Candra sambil berjalan mengitari Baskoro yang tercengang.
"Kemungkinan besar anak Anda, mengadu pada Anda. Dan mungkin sedikit mengarang cerita, seolah dia sedang dihina mantan istri dari suaminya. Mendengar itu, tentu Anda sebagai orang tua merasa terpancing dan akan membela anak Anda. Bukan begitu, Tuan Baskoro?" kata Candra berhenti di hadapan Baskoro.
"Anda, berhasil membalaskan dendam putri Anda, dengan cara merendahkannya."
"Kau cukup pintar, Anak Muda," puji Baskoro sambil bertepuk tangan.
Sekarang gilirian Baskoro yang berjalan dan mengitari Candra, sama seperti dia tadi.
"Tinggalkan istrimu itu, biarkan dia kembali terjatuh dalam sebuah sekandal! Dan kau bisa hidup nyaman bersamaku," imbuh Baskoro menawarkan.
Candra tersenyum mendengarnya. Sama sekali tidak terkejut jika Baskoro mengetahui jati dirinya, karena memang wajahnya pernah tampil di layar televisi. Otomatis orang yang mengelilinginya juga mengenalnya.
"Sepertinya Anda menawarkan kepada orang yang salah, Tuan! Saya tidak seperti menantu Anda," tolak Candra tegas.
"Saya tidak akan mudah terhasut hanya karena sebuah penawaran. Apa lagi itu sesuatu yang merugikan seseorang, dan sekarang ... dia adalah istri saya," urai Candra penuh penekanan dan sindiran.
"Kau cukup berani datang ke tempatku dan memberiku ancaman, tapi kalau terlalu bod0h karena tidak memikirkan resikonya," keduanya saling beradu pandang, mengukur kekuatan lewat tatapan tajam.
"Jangan harap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup," sambung Baskoro sambil berjalan mundur.
Seketika Candra dikepung oleh orang bertubuh kekar yang berjumlah delapan orang. Rupanya ketika Baskoro bertepuk tangan, ternyata dia memanggil anak buah yang Candra sendiri tidak tahu datang dari mana.
__ADS_1
"Anda terlalu meremehkan saya, Tuan," kata Candra tersenyum misterius.
"Tunjukkan kehebatanmu!" perintah Baskoro dari tempatnya yang berjarak enam meter.
Candra memindai semua orang yang kini sudah mengepungnya. Dia pun bersiap dan siaga jika mendapatkan serangan mendadak.
Menyadari beberapa orang yang mendekat dari arah belakang, Candra langsung melakukan serangan lebih dulu dengan melakukan tendangan memutar seraca cepat.
Dua orang tanpa perhitungan langsung terlempar dan terjatuh sambil menjerit kesakitan. Anak buah Baskoro yang melihatnya, sontak segera maju dan berusaha membalaskan kedua temannya.
Sudah dalam perhitungan Candra, ketika dia menangkap dari sudut matanya. Dengan pergerakan yang cukup gesit, Candra menangkap dua tangan orang yang berbeda dan memberi tendangan di perut pada lawan yang lain.
Satu lawan kembali tumbang. Kedua orang yang masih dalam genggamannya, seketika tangan itu diputarnya kebelakang hingga terdengar bunyi kayu patah.
"Aaaah," jerit keduanya yang langsung didorong Candra sampai tersungkur.
Tiga orang kembali melayangkan tindu secara bersamaan dalam pormasi segi tiga, dan Candra langsung berjongkok guna menghindarinya.
"Aaaa," terik mereka karena saling melukai.
Memberi Candra kesempatan untuk menghajarnya. Satu persatu mendapatkan bogem mentah darinya menggunakan pergerakan yang sangat gesit.
Namun, tidak cukup sampai di situ. Lawan yang sempat jahu kembali bangkit dan melawan Candra lagi. Hingga pertarungan memekan waktu setengah jam lebih.
Baskoro tersenyum memperhatikan keapikan Candra, dalam hal bela diri. Ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
"Saya beri Anda, waktu dua puluh empat jam dari sekarang untuk menyerahkan diri Anda, ke kantor polisi! Jika tidak ... maka akan saya pastikan, bahwa polisi yang akan menjemput Anda."
Baskoro diam sambil tersenyum, ketika melihat Candra berdiri di antara anak buahnya sebagai pemenang dengan napas yang memburu dan seluruh tubuhnya basah oleh keringat.
"Tidak semudah itu, Anak Muda."
"Oya? Kita lihat saja," janji Candra sembari berbalik meninggalkan rumah besar Baskoro.
Melewati lawan yang sudah tidak mampu perdiri, Candra mengambil ancang-ancang hendak memukul sebagai gertakkan. Tentu saja, itu membuat mereka beringsut dan kemencoba melindungi diri dengan tangan.
__ADS_1
"Menarik," gumam Baskoro sambil memperhatikan punggung Candra yang semakin menjauh.
BERSAMBUNG ....