Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 7 Rumah Baru Rahimah.


__ADS_3

...'Yakinlah ... pertemuan itu tidak akan salah tempat, tidak akan salah waktu, apa lagi salah orang.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda yang baru sampai di halaman rumah Rahimah langsung terkesip dan bengong. Bagaimana tidak. Bangunan itu awalnya hanya berdiri dua buah ruko yang berdampingan, tapi kini berubah menjadi sebuah rumah cukup besar.


"Dinda," panggilan seseorang menyadarkan Dinda dari lamunannya.


"Ya," jawab Dinda tersentak kecil.


"Ayo sini masuk, ngapain bengong?"


Dinda nyengir melihat Nurul berdiri di teras sambil menggendong Nuri yang terlihat menangis. Dinda pun bergegas mendekat. "Kenapa nangis?" Dinda mengusap pucuk kepala batita dua tahun itu.


"Pengen tidur, tapi nggak mau minum susu," kata Nurul sembari menepuk b0k0ng Nuri.


Dinda mengangkat tangan nya dan melirik waktu memang sudah menunjukkan jam tidur siangnya Nuri.


"Aya mana?" Dinda melirik mencari keberadaan temannya. Soraya.


"Itu di dalam ... sama Ustadzah Habibah, minta nasehat ibu hamil katanya," ujar Nurul sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.


Bocah kecil itu sudah diam dengan mata sayunya yang perlahan tertutup dan terbuka seirama.


"Aku kaget loh, liat rumah Rahimah jadi kaya istana di sekitar sini," ucap Dinda.


Rumah Rahimah memang tidak jauh berbeda dengan rumah pada umumnya, hanya saja terkesan elegan dan mewah. Ditambah lagi kebanyakan rumah warga di sekitarnya menyatu dengan ruko dan ada juga berbentuk seperti ruko, karena mereka membuka usaha di bahu jalan.


"Jangankan kamu, aku sama Soraya aja tadi kaget banget tau. Benar-benar ya, Mas Abdar itu ... bisa banget sulap rumah bininya dalam waktu seminggu," kagum Nurul tak percaya.


"Pantesan waktu itu Mas Adit, repot ngurus tukang! Sampai orangnya lima puluhan katanya, rupanya buat rumah ini," kenang Dinda.


Dinda ingat ketika satu hari setelah akad nikah Rahimah, Dinda sempat mencuri dengar percakapan Adit dengan seseorang ditelepon yang meminta disedikan tukang bangunan saat bertemu Adit.


"Masuk yuk. Nuri sudah capek, pasti mau kalau dikasih susu," ajak Nurul berlalu pergi.


"Assalamualaikum," ucap Dinda ketika melihat Ustadzah Habibah dan Soraya duduk di ruang tamu.


"Wa'alaikumussalam."


"Gimana sama kandungan kamu?" tanya Dinda ikut duduk di samping Soraya, tangannya terulur mengusap lembut perut yang sudah mulai membuncit jika bajunya melekat pada tubuhnya.


"Kandungan sih sehat aja, akunya yang kaya kurang sehat gitu," keluh Soraya.


"Masih mual ya?" tebak Dinda dan dibalas anggukan lemah Soraya.


Soraya memang tengah hamil muda, walau bukan yang pertama tapi ini berbeda dengan kehamilannya dulu. Karena Soraya yang selalu mengalami morning sickness dan tidak berselera makan, membuatnya tampak lesu dan sedikit kurus.


Dinda tersenyum melihat temannya yang berkeluh kesah, walau jika dirasakan begitu berat tapi akan sangat menyenangkan seandainya dirinya juga mengalaminya.


Seketika hati Dinda hancur kala mengingat sang suami yang menggugat cerainya demi wanita lain.


Dinda menggeleng samar, mencoba menghilangkan pikiran tentang suami yang kini sudah menjadi mantannya.


Sambil menunggu kedatangan Rahimah dari hotel, mereka bercerita tentang hari-hari yang Soraya alami. Mulai yang selalu muntah setiap pagi, ingin memakan sesuatu yang asam, dan ingin dimanja suaminya. Semua tak luput Soraya ceritakan.

__ADS_1


Sementara Nurul tengah menidurkan Nuri di kamar tamu, hingga waktu Dzuhur pun tiba. Mereka melaksanakan sholat berjamaah di mushola dekat ruang tamu.


Hampir satu jam setelah sholat, akhirnya pasangan pengantin baru yang mereka tunggu datang juga.


"Kalian lama banget sih? Emang dari mana aja? Kita nungguin sampai garing tau!" kata Nurul usai membalas salam.


"Tadi macet di jalan," jawab Rahimah.


"Emm, alasan itu mah. Mereka pasti habis menghabiskan malam panas terus disambung jadi siang panjangggg," kata Soraya sambil menekan kalimat diakhirinya.


Dinda mengulum senyum.


"Cieee ... yang udah buka puasa, habis berapa ronde Bang?" goda Nurul, tapi Abdar mengabaikannya.


"Kalau dilihat dari kedatangannya nih ya, kayanya lima ronde!" Dinda tergelitik ikut menimpali.


"Kalian apa-apaan sih? Orang kena macet juga," kata Rahimah acuh tak acuh.


"Ayo, kita lihat kamar kita." Abdar merangkul bahu Rahimah mesra guna melihat-lihat keadaan rumah baru mereka.


"Uuu ... ada yang bucin tuh. Dunia serasa milik berdua ... tau gak gays? Kita ini cuman ngontrak!"


Semua terkekeh geli, Nurul adalah teman yang sangat humoris.


"Heh kalian, ayo temani mereka melihat-lihat keadaan rumah baru," tegur Ustadzah Habibah sambil berlalu ke dapur.


"Ibu mau kemana?" tanya Dinda cepat.


"Ke dapur," jawabnya pendek.


"Buat minuman untuk Imah dan suaminya."


"Aku ikut Bu." Dinda segera menyusul Ustadzah Habibah ke dapur.


Sementara itu, Soraya dan Nurul menemani Rahimah dan Abdar melihat keadaan rumah barunya. Tadi mereka memang belum melihat seluruh isi rumah itu, karena keasyikan mendengar cerita Soraya seputar kehamilannya.


"Maaf ya Bu, Dinda nggak bawa kue. Habisnya tadi dari rumah sakit jenguk kakek," sesal Dinda yang lupa membawa buah tangan.


"Nggak apa-apa. Aya sama ibu sudah bawa. Ayo kamu taroh dalam piring, ibu yang buat minumnya." Ustadzah Habibah menyerahkan kotak yang berisi kue.


"Memangnya kakek kamu sakit apa Din?" tanya Ustadzah Habibah sambil membuat minuman ke dalam sebuah teko berukuran sedang.


"Kena serangan jantung, Bu."


"Innalillahi wa innalillahi rojiun," pekik Ustadzah Habibah.


"Lalu bagaimana keadaan beliau sekarang?"


"Masih dalam pemulihan, Bu."


"Ibu hanya bisa mendo'akan semoga lekas membaik, dan maaf karena tidak tahu."


"Nggak apa-apa Bu, memang Dinda yang tidak ingin bercerita."


Ustadzah Habibah mengangguk maklum, mengingat musibah yang dialami Dinda tentang perceraian hampir tiga bulan lalu ... pasti Dinda tidak ingin terlalu diusik.

__ADS_1


Dinda pun menyusun kue ke dalam beberapa piring, dan meletakkannya di atas napan.


"Ayo, kita bawa ke atas!" ajak Ustadzah Habibah.


"Iya, Bu."


Mereka naik ke lantai atas. Di lantai dua itu ada ruang santai untuk berkumpul sambil menonton tv, Dinda dan Ustadzah Habibah meletakan minuman serta kudapan tersebut di atas meja guna mencari keberadaan Rahimah, Abdar, Soraya dan Nurul.


"Mungkin mereka di kamar itu Bu." Dinda menunjuk salah satu kamar yang pintunya terbuka.


Ustadzah Habibah mengangguk dan ikut berjalan ke kamar yang tadi ditunjuk Dinda.


"Kalian di sini rupanya?" Dinda masuk mengagetkan mereka.


"Ayo minum dulu," suruh Dinda.


"Bagaimana Imah? Rumah baru kamu bagus ya?" ujar Ustadzah Habibah ikut melihat-lihat.


Di rumah berlantai dua tersebut, terdapat lima buah kamar tidur. Satu diantaranya ialah kamar utama yang di tempati Rahimah dan Abdar.


Dua kamar tamu di lantai bawah, Mushola dekat ruang tamu, ruang makan dekat dapur, dan ada juga ruang tv selain di lantai atas.


"Iya Bu, alhamdulillah bagus banget."


"Kalau gitu kita baca do'a syukuran dulu, buat rumah baru." Semua mengangguk setuju.


Dengan dipimpin Ustadzah Habibah sebagai pembaca do'a, hanya mereka yang hadir saja yang mengaminkannya.


"Minum dulu Imah, Nak Abdar."


Usai do'a mereka menikmati sajian yang sudah disiapkan.


"Iya Bu, terimakasih," ucap Abdar sopan mengambil gelas yang isinya berwarna orange.


Ketika sedang menikmati kuenya, Dinda tersentak kecil mendengar Soraya yang tiba-tiba bersuara.


"Yang lagi bisik-bisik, pasti lagi merundingkan tentang berapa banyak mereka memberi Rahman adik!" kata Soraya.


"Tadi ada yang pura-pura ngambek, eh tapi ternyata ada yang lagi rapat soal anak!" Nurul menambahkan.


"Wah ... aku ketinggalan up date ini," sahut Dinda yang tidak mengerti arah pembicaraan.


"Jangan percaya sama mereka, itu ngawur," kata Rahimah cepat. Seketika tawa membahana memenuhi isi rumah tersebut.


Tidak lama setelah mereka berkumpul, Maryam dan Intan datang ikut bergabung. Rahimah sempat menanyakan keperadaan sang putra, yang tidak ikut pulang bersama Maryam. Adik iparnya itu mengatakan kalau Rahman pergi bersama pelatihnya, Rahimah sempat mengomel takut terjadi sesuatu dan baru berhenti saat Abdar sudah mengonfirmasi kepada Candra.


Rayan juga datang dengan supir pribadi Soraya, Nuri pun kini sudah bangun menambah kegaduhan suasana yang ada.


Karena semua belum makan siang walau pun sangat terlewat, mereka menyiapkan untuk makan bersama dan sekarang mereka duduk lesehan di ruang makan.


Ketika mereka sudah siap untuk makan, terdengar bunyi salam dari depan. Dinda pun mengajukan diri guna menyambut tamunya.


"Wa'alaikumussalam." Dinda menyahut sambil membuka pintu.


Dia ....

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2