Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 69 Gugup.


__ADS_3

Suara orang yang bersahutan dan diselingi tawa santai duduk di bagian kursi depan, tak lantas mengusik kedamaian Dinda dalam lamunan.


Matanya fokus menatap jalanan dari balik kaca dengan pandangan kosong. Pikirannya pun sedang tak terkendali, dan mengambil penuh seluru kesadaran.


Hingga panggilan yang ketiga kali saat Bagus menyebut namanya, seketika menyentakkan seluruh atensinya.


"Lagi ngelamun, Mbak?" tanya Bagus yang menyadari jika Dinda terkejut atas panggilannya.


"Ah, nggak! Siapa yang melamun?" elak Dinda berusaha santai.


"Itu tadi, Mbaknya lagi melamun lo! Buktinya sampai tiga kali dipanggil, Mbaknya baru sadar," jelas sang pengemudi.


"Hahaha .., udah Bob, Biarin Mbak Dindanya melamun; Asal jangan sampai kesambet aja. Nanti kasian, Bang Candra, kalau sampai kesambet," sambut Bagus sambil tertawa jenaka.


Dinda langsung membuang muka, dengan perasaan yang campur aduk. Antara kesal dan malu rasanya diejek oleh kedua rekan suaminya. Apa pagi dia juga tidak terlalu mengenal mereka. Jika saja itu Kaamil, sudah pasti akan dia jambak rambut orang yang duduk di depannya.


"Emmm, Mas Bagus dan Ma Boby ... udah lama kenal sama, Mas Candra?" tanya Dinda menganti topik. Dia tidak ingin terus-terusan menjadi bahan obrolan keduanya.


"Lumayan, Mbak. Udah tiga tahun."


"Sama Mbak, saya juga tiga tahunan," Boby turut menimpali ucapan Bugus.


"Bukannya, Mas Candra tinggalnya di Bandung ya?"


"Bang Candra memang tinggal di Bandung, tapi ayahnya, kan, punya dojang (pelatihan taekwondo) di sini. Jadi, Kadang-kadang Pak Arwan dan Bang Candra, datang."


Dinda mengangguk mengerti, mulutnya pun semakin gatal untuk terus bertanya, "Mmm ... lalu, apa kalian juga udah lama kenal sama Mbak Luna?"


"Kalau Mbak Luna, baru kali ini Mbak," jawab Bagus yang dibalas Dinda dengan membulatkan mulutnya tanpa suara.


Tak terasa mobil sudah sampai mengantar Dinda hingga ke rumah. Dia bergegas turun dari kendaraan yang mengantarnya sembari mengucapkan terimakasih.


Nenek Ratih yang menyambutnya, dan Dinda memutuskan mencari kesibukan bersama Nenek Ratih dan Bik Susi di dapur usai solat dzuhur.


"Bagaimana rumahnya, Nona?" tanya Bik Susi sambil memetik daun yang sudah berwarna kuning.

__ADS_1


Saat ini ketiganya sedang berada di halaman belakang, mereka tengah memangkas rumput yang mulai meninggi di sekitar tanaman hias. Dinda juga bercerita tentang kepergian ke rumah yang akan ditempati keluarga Danu.


"Sangat nyaman Bik, hanya saja---," ucap Dinda terlihat lesu.


"Hanya saja, kenapa Nona?" Nenek Ratih meninpali dengan rasa penasaran.


"Adinnya yang sempat nggak nyaman di sana," aku Dinda jujur dengan bibir yang dimajukan.


"Loh, emang kenapa Nona?" tanya Susi saling pandang dengan Nenek Ratih.


"Aku tuh ... kaya jadi pajangan aja di situ, Bik," keluh Dinda masih dengan mimik wajah merajuk.


"Mas Candra juga cuek bangat sama aku, dia malah sibuk ngomong sana Mbak Luna," sambungnya bercerita dan seketika menggundang gelak tawa kecil dari Nenek Ratih juga Bik Susi.


"Kok kalian malah ketawa sih?" protesnya tidak terima kerena sudah ditertawakan.


"Nona cemburu ya? Kok mukanya lucu banget sih," celetuk Susi menyembunyikan tawanya.


"Idiih, aku cemburu! Nggak tuh," bantah Dinda yakin.


"Aku tuh nggak cemburu, Nek. Aku bete aja ... diajak, tapi nggak ingat sama aku. Masa Mas Candra, ngajak aku ngomong cuman buat ngusir aku," kenang Dinda ketika teringat bagaimana Candra memintanya untuk menemani Zivi.


Tangannya mencabut rumput kasar, hingga tanah di akarnya mengenai baju Dinda. "Au ah! Adin mau mandi dulu," ucapnya sambil berdiri dan mengibas tanah yang menempel.


Dinda segera pergi ke arah kamarnya usai mendapat anggukan dari kedua wanita berbeda generasi tersebut. Sembari mengayun langkah kakinya pelan, bibir tipis yang dihiasi warna lipstik baby pink itu tidak henti-hentinya menggerutu tentang asumsi Bik Susi dan Nenek Ratih.


Dengan perasaan dongkol, Dinda masuk dan menutup pintu kamarnya. Menuntaskan keinginan, dia bergegas mandi dan berndam. Di dalam bak mandi, perpaduan air panas dan dingin serta aroma soft rose yang dihasilkan dari busa memenuhi indra peninciumannya. Seketika memberikan sensasi nyaman dan damai hingga kedua kelopak matanya terpejam tanpa dikomando.


Melepaskan penatnya rasa letih dan lelah, masa pun berlalu begitu saja hingga menghabiskan waktu setengah jam lebih. Dinda langsung menyudahi aktifitasnya, ketika dia menyadari bahwa sudah melewatkan solat ashar.


"Yaahh, lupa bawa baju," gumam Dinda usai memeras rambut panjang dan hitamnya.


Dengan cekatan tangannya segera melilitkan handuk ke tubuhnya yang hanya dapat membungkus bagian sebatas dada dan paha. Rambut panjang yang masih setengah basah pun dia biarkan tergerai.


Dinda membuka pintu dan keluar kamar mandi. Tujuannya adalah almari pakaian miliknya yang berada tak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


Belum kakinya napaki marmar bercorak putih tersebut, pintu walk in closet tempatnya berada, seketika terbuka. Dinda menoleh dan membatu dengan wajah yang sangat terkejut.


"Ma--Mas Candra ... kapan pulangnya?" tanya Dinda gugup sambil menyilangkan kedua tangannya memegang baju.


Bagaimana Dinda tidak terkejut, jika biasanya suaminya itu beberapa hari ini akan pulang malam, tapi sekarang tiba-tiba saja dia pulang lebih awal. Ditambah lagi dengan keadaan yang sebagian tubuhnya menjadi perhatian Candra saat ini.


Dinda menelan ludah yang terasa sakit melewati tenggorokan. Pelan Kakinya bergerak walau sulit untuk digerakkan. Karena tidak mendapat jawaban, dia pun mencoba bersikap biasa dan melirik dengan ekor matanya. Mengabaikan kehadiran Candra, Dinda langsung mengambil keperluan pakaiannya.


"Aku baru saja pulang," bisik Candra lembut. Tanpa disadari Dinda, suaminya itu sudah berada di belakangnya.


"Hah," pekik Dinda tertahan ketika sepasang tangan keker Candra tabi-tiba melingkar di atas perutnya yang masih berbalut handuk.


"Aku baru pulang," ulang Candra mendekatkan bibirnya pada kuping Dinda, dan berakhir mendarat di permukaan pundaknya.


Tidak bisa mengelak dengan apa yang sedang Candra lakukan, Dinda bergeming sambil mengencangkan pegangan tangannya pada baju yang baru dia ambil.


"Se--sebaiknya ... Mas--Mas mandi dulu gih," usir Dinda halus gugup.


"Sebenrar lagi," tawar Candra santai sambil menghirup dalam-dalam aroma sabun yang melekat di bahu dan cekuk lehernya.


"Tapi, kan, Mas. Aku mau ... pakai baju," lirih Dinda menunduk semakin gugup.


"Emm, baiklah. Aku mau mandi dulu!" ujar Candra dan memberi kecepun di pipnya.


Dinda lekas memegang pipinya dan mendekap bajunta. "Mas Candra, udah mulai terang-terangan," ucapnya bergedik ngeri.


"Aku harus bagaimana ini?" tuturnya berlanjut.


Tidak ingin hilang kesempatan, Dinda langsung memakai pakaiannya.


"Ya Allah, kenapa ini jantung ngak berhenti detaknya ...? Tarik napas, dan hembuskan ... tarik lagi, dan hembuaskan."


"Santai Din, semua ini adalah hal wajar bagi sepasang suami istri!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2