Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 83 Senandung rindu.


__ADS_3

Sesuai dengan rencana. Sore harinya Candra dan Dinda sudah siap pulang ke rumah bersama Vita, Al, dan Kaamil.


Namun, kedua mantan pasien pasutri itu diharuskan ikut mobil yang dikemudian Al, serta tinggal di rumah om dan tantenya tersebut. Tidak ada pilihan bagi Candra selain mengiyakan ... seandainya dia menolak, maka dia takut keluarga Dinda akan bertambah kecewa padanya.


Candra tahu betul, walau pun tidak ada yang mengatakannya secara langsung tentang kekecewaan mereka padanya yang tidak bisa menjaga Dinda. Namun, dia yakin mereka mempunyai kekecewaan itu.


Lintang pun memutuskan untuk pulang langsung ke rumahnya setelah berpisah di parkiran rumah sakit. Kaamil yang juga membawa mobil sendiri mengekor di belakang mobil Al.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai," seru Vita sambil membuka pintu mobil dan keluar.


Usai menutup pintu mobil, Vita beralih ke pintu belakang dan membantu Dinda keluar dari mobil. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah yang sudah lama tidak dikunjungi Dinda dan Candra.


"Kalian istrahat di kamar saja, nanti Bunda siapin makan," suruh Vita membimbing Dinda yang otomatis diikuti Candra.


"Iya Bunda," Dinda menyahut mewakili Candra.


Setelah Dinda dan Candra masuk kamar, Vita berlalu pergi meninggalkan mereka. Candra yang baru pertama kali melihat isi kamar istrinya di rumah Vita, tampak memperhatikan sekelilingnya sambil duduk di kursi sofa.


"Mas, aku mandi dulu ya," Candra langsung menoleh pada Dinda.


"Iya," jawabnya singkat dan menatap punggung Dinda yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Candra menghela napas panjang menyadari bahwa dia tidak bisa membasahi seluruh tubuhnya, walau sebenarnya dia sangat ingin. Sembari menunggu istrinya mandi. Candra pun berbaring di kasur sambil miring ke arah kiri, guna tidak melukai lukanya.


Candra tersenyum melihat tempat tidur di sebelahnya. Dia baru menyadari, saat akan tidur maka dia akan menghadap pada istrinya.


Bunyi pintu yang terbuka menarik perhatian Candra dari bayangan tidur bersama setelah lama tidak berjumpa.


"Mas, mau mandi?" tawar Dinda sambil membetulkan handuk yang membungkus rambutnya.


Candra bangkit perlahan dari pembaringannya. "Hanya membasuh sebagian saja, karena lukanya nggak boleh basah," jelas Candra hendak menuju kamar mandi, kemudian terdiam seketika.


"Aku nggak bawa baju ganti," ujar Candra memperhatikan jins yang dia pakai kemarin, dan jas Lintang yang menutupi baju pasiennya.


"Sebentar!" kata Dinda hendak keluar kamar. Bertepatan dengan itu, pintunya diketuk seseorang.


"Baju buat Bang Candra," ucap Kaamil yang ternyata membawakan beberapa baju untuk Candra.


"Makasih Mil," balas Dinda mengambil alih, namun tidak dilepas Kaamil begitu saja.


Dinda menatap Kaamil penuh tanya atas tindakannya yang menahan baju tersebut.

__ADS_1


"Ini sewa ya! Satu lembarnya cuman lima puluh ribu," bisik Kaamil menyeringai dan mengedipkan matanya.


"Dadar!" salak Dinda marah hendak memukul Kaamil.


Setelah dirawat di rumah sakit walau hanya satu hari, membuat Dinda sudah memiliki sedikit tenaga untuk memukul adiknya itu. Akan tetapi, sebelum dia berhasil menggapai Kaamil, orangnya keburu pergi sambil tertawa penuh kemenangan.


"Dasar," gumam Dinda mengulang ucapannya sembari menutup pintu.


"Ini Mas, tadi Emil yang kasih." Dinda menyerahkan satu lembar baju kaus oblong berlengan pendek berwarna hitam dan celana chinos pendek berwarna senada, tak lupa juga terselip ****** ********.


"Makasih," sambut Candra yang sejak tadi memperhatikan siapa tamu Dinda.


"Sama-sama," sahutnya.


"Tunggu, Mas!" cegat Dinda menghentikan langkah Candra.


"Ya?" sahut Candra berbalik.


"Kalau boleh tau, sebenarnya ...," kata Dinda ragu-ragu.


"Tanya, kan, saja!" desak Candra melihat keraguan istrinya.


"Luka kamu, Mas di Mana?" terucap sudah pertanyaan yang sejak di rumah sakit mengganjal di hatinya.


"Di punggung," jawab Candra santai.


"Boleh ... aku melihatnya?"


Candra terdiam sejek seolah berpikir, kemudian detik berikutnya mengangguk mengijinkan. Dinda yang diperbolehkan dengan sikap mengambil kembali baju yang tadi dia serahkan.


Candra pun melepas jas yang menutupi tubuhnya. Namun, ketika bahunya sedikit menekuk kebelakang guna memberi ruang agar bajunya bisa dilepas, dia mendes4h kesakitan membuat proses melepas baju itu memakan waktu dari batas normal.


"Apa sangat sakit?" tanya Dinda yang sejak awal melihat mimik wajah suaminya ketika sedang menahan sakit.


"Lumayan," jawab Candra sambil menjatuhkan jasnya, kemudian membuka kancing baju perawat hingga terbuka semua.


Menyadari itu membuat Dinda bersemu merah ketika tubuh polos Candra mulai terpampang nyata di hadapannya. Dia lupa, jika hendak melihat luka di punggung Candra, otomatis dia juga melihat tubuh berotot suaminya.


Candra membalikkan badan membelakangi Dinda, guna memperlihatkan perban yang membalut lukanya selebar telapak tangan.


Tidak ada alasan bagi Candra untuk menyembunyikan lukanya. Sebab, dia pasti memerlukan bantuan Dinda untuk mengganti perban tersebut.

__ADS_1


"Luka karena apa, Mas?" tanya Dinda begitu penasaran, dan tanpa sadar tangannya terulur meraba punggung Candra sambil mendekap baju.


Sentuhan tangan Dinda membuat Candra tersentak kecil, karena tidak menduga dan terasa sangat dingin. Dia pun terbawa suasana oleh belayan tangan lembut hingga lidahnya terasa kelu, walau untuk mengeluarkan satu kata saja.


"Apa kamu tertembak, Mas?" tentu Dinda ingat betul, bahwa para penjahat itu memegang pistol sebelum akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.


Candra tersadar dari sebuah kerinduan oleh sentuhan tangan istrinya ketika dulu pernah dipijat Dinda. "Emm," gumam Candra. Mau tidak mau, istrinya itu memang harus tahu.


"Maaf, Mas. Karena aku kamu terluka."


Candra langsung menghadap Dinda, ketika mendengar isak kecil istrinya di antara permohonan maafnya.


"Hei! Kenapa malah nangis?" tanya Candra bingung sambil mengusap pipi Dinda yang dilewati butiran air.


Entah kenapa, bukannya diam. Dinda malah semakin terisak membuat Candra segera memeluk Dinda sayang.


"Jangan menyalahkan diri! Ini semua bukan salahmu," hibur Candra yang tidak mempan.


"Bukan salah aku apanya? Jelas-jelas kamu terluka karena nolongin aku, Mas," gerutu Dinda menyesal.


"Ini memang sudah takdir, bukan karena salah kamu," kembali Candra menenangkan sambil mendaratkan kecupan di kening Dinda.


Tangan Candra semakin mendekap erat tubuh kecil Dinda, karena istrinya itu masih saja menangis. Dia pun begitu merindukan istri yang sudah seminggu ini hilang dari penglihatannya. Bahkan rasa sakit di punggungnya akibat memeluk Dinda, tidak bisa menghentikan aksinya.


"Mas," panggil Dinda lirih dan sudah mulai berhenti menangis.


"Emm," gumam Candra sambil menghirup aroma sampo dan sabun dari tubuh Dinda.


"Bau asem," ujar Dinda yang seketika membuat pelukan itu terlepas dan Candra langsung mundur satu langkah.


"Sorry, aku lupa belum mandi," ucap Candra cepat dan meminta bajunya kembali.


Dinda pun menyerahkan baju itu sambil tertunduk malu di antara sedihnya.


"Jangan lagi menyalahkan diri dan menangis! Kalau kamu masih mau nangis ... tunggu aku selesai bersih-bersih dulu! Biar nanti pas aku peluk, sudah wangi," goda Candra terkekeh dan berlalu dari tempatnya berpijak.


"Aaa, ya ampun. Sejak kapan aku suka dipeluk, Mas Candra," jerit Dinda di dalam hati sambil menahan malu.


"Apa gara-gara lama nggak ketemu, jadinya kangen? Aaa," jeritnya lagi.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2