Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 31 Degup jantung.


__ADS_3

...'Cinta adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Tiba di rumah minimalis berlantai dua hujan telah benar-benar berhenti. Langkah kaki Dinda ringan memasuki rumah tersebut karena tidak dikunci, tak lupa salam turut Dia ucapkan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," sahut Kaamil yang tengah duduk santai di ruang tamu, terlihat sajadah sudah terlampir di bahu kanannya.


"Tungguin Kakak, Mil ... Kakak mandi, dulu," ucap Dinda langsung berlari tanpa menghiraukan decak 'kan Kaamil.


"Bunda ... tungguin Adin, ya?" ujar Dinda ketika berpapasan dengan Vita di dekat tangga hendak naik ke lantai atas.


"Buruan! Emang kenapa sih, baru pulang?" tanya Vita penasaran menatap punggung Dinda.


"Nganter teman dulu tadi, ke rumah nya!" teriak Dinda sebelum menghilang di balik pintu.


Melempar tas ke atas kasur, dan melepas sendal nya asal berhamburan. Bagai dikejar ribuan anjing, Dinda jatuh bangun menuju kamar mandi.


Dalam waktu sepuluh menit, Dinda sudah keluar dengan handuk melilit tubuhnya yang setengah basah. Entah mandi apa itu namanya, yang penting Dia mandi dan harus lekas siap jika tidak ingin tertinggal.


Gegas memakai pakaian, mengambil perlengkapan solat nya dan mengenakan sendal nya, segera melesat sambil membawa sisir.


Turun menapaki anak tangga, tangannya bergerak-gerak menyisir rambut panjangnya yang masih sedikit basah.


"Bunda, pegangin dulu." Dinda langsung menyerahkan mukena dan sajadah yang terlipat jadi satu dalam tas kecil.


Vita menggelengkan kepala melihat kelakuan Dinda. Sementara sang empuhnya tidak peduli, malah sibuk menggulung rambutnya dan memasang jilbab instan. Diam-diam Kaamil dan Al mengabadikan nya dalam sebuah video.


"Udah .., ayo, Bunda," ajak Dinda mengambil kembali mukenanya.


"Ayo," sela Kaamil menyimpan ponselnya dan beranjak bersama Al.


Berjalan bersama beriringan, Kaamil dan Al di depan, sementara Dinda dan Vita di belakang. Mereka mendapati jalanan yang sedikit becek karena genangan air bekas hujan. Namun, tidak menghalangi niatnya menuju rumah Allah.


Usai salat isya dan tarawih, Dinda memutuskan mengajak yang lain makan di pinggir jalan yang menjual sate.


Dengan semangat dan senang hati, tentu Kaamil langsung menyetujuinya, disusul Vita juga Al yang sudah lama tidak mencicipi makanan tersebut.


"Tadi, Kakak habis anter siapa, sih?" tanya Kaamil selepas kepergian pelayan yang bertanya pesanan mereka.


"Nganter, Mas Candra," jawab Dinda jujur.


"Emang, Dia nggak bawa, motor?" Vita menimpali heran.


"Bawa! Tapi 'kan, hujan ... jadi nggak bisa pulang. Makanya, Adin yang anter," terang Dinda.

__ADS_1


"Emang ketemu di mana?" tanya Al.


"Kebetulan Mas Candra, buka puasa di resto." Al mengangguk samar.


"Kenapa nggak diajak ke sini aja sekalian, Kak," tanya Kaamil.


Belum Dinda menjawab, pelayan datang membawakan pesanan mereka, membuatnya tidak jadi bicara.


"Masa iya, Kakak aja ke sini?" tanya Dinda setelah pelayan pergi dan mengucapkan terimakasih.


"Ngapain coba, Kakak aja ke sini?" lanjutnya.


"Bilang aja, Aku yang suruh ke sini," jawab Kaamil santai sambil mengunyah sate.


"Idih ... emang Kamu siapa nya, Mas Candra? Pacar yang harus, didatangi?" kesal Dinda tidak masuk akal dengan saran Kaamil.


"Bilang aja, Bunda atau Ayah yang nyuruh ... pasti Nak Candra, mau," kata Vita menyahut.


"Enggak ah, Bunda! Adin 'kan nggak sedekat itu, sama Mas Candra? Masa iya, tiba-tiba ngajak ke rumah? Emang Adin, siapanya, Mss Candra?" Dinda benar-benar tidak mengerti dengan cara pikir Kaamil dan Bunda Vita.


"Nggak perlu pakai alesan dekat buat ngajak Candra ke sini. Dia 'kan, anak sahabat Mama Kamu. Jadi wajarlah, basa basi," ucap Al sambil menikmati makanannya.


"Bener tuh, Kak."


"Ihh, Ayah. Biar pun Mas Candra itu, anak temannya Mama, nggak etis kali langsung ajak Dia. ... Mas Candra, mampir yuk ke rumah Aku. Ohh, nggak bangettt," tolak Dinda mempraktekkan mengajak Candra ikut ke rumah mereka.


"Basa basi, Adin ... basa basi! Kamu hanya menghargai Candra sebagai anak dari teman Mama Kamu. Lagian Candra pasti nggak langsung bilang iya, kan? Pasti mikir dulu, bisa jadi Dia lagi sibuk dan menolak, halus" terang Al.


"Ya kalau sudah tau jawabannya nggak bilang, iya. Ngapain pakai diajak segala, Yah? Nggak usah aja sekalian," jawab Dinda pelan, Dia tidak ingin lancang menjawab pertanyaan Al. Namun, Dinda sebenarnya kesal.


"Basa basi Kak ... basa basi!" ujar Kaamil meniru Al.


Dinda memajukan bibir bawahnya sambil mendelik kesal pada Kaamil.


"Sudah ... nggak usah dipikirkan yang sudah lalu. Mending cepat habiskan sate nya, biar kita juga cepat pulang. Ini sudah larut malam," lerai Vita.


'Bisa-bisanya Bunda, Ayah dan Kaamil ngomong gitu! Nyebelin ....'


Tanpa disuruh dua kali, mereka langsung diam sambil menghabiskan sate. Usai membayar, mereka gegas pulang dalam keadaan perut sudah kenyang.


Tiba di rumah, Dinda langsung pergi ke kamar untuk istirahat begitu juga yang lain.


Baru saja Dinda mengunci pintu kamarnya, bunyi dering ponsel di dalam tas yang tadi Dia lempar di atas kasur mempercepat langkahnya.


"Hallo, Assalamualaikum, Mas Adit," sapa Dinda usai membaca nama penelpon dilayar ponselnya.


📱"Waalaikumsalam. Kenapa baru diangkat? Dari tadi Aku hubungin, malah nggak diangkat?"

__ADS_1


Dinda mengernyit kening sambil menjauhkan ponselnya guna melihat riwayat panggilan. Ternyata benar, ada sekitar sembilan panggilan tidak terjawab.


"Maaf, Mas Adit ... Aku baru pulang dari tarawih dan hape nya Aku tinggal, jadi nggak tau kalau ada, telepon," cerita Dinda.


📱"Bukannya tarawih nya sudah selesai, lama?"


"Iya, sudah lama, Mas. Tapi Aku mampir makan sate dulu tadi, sama Bunda dan Ayah."


Terdengar sahutan o bulat di seberang sana.


📱"Harusnya ajak Aku, tadi."


"Kan sekalian tarawih, Mas. Nggak kepikiran ngajak, Mas Adit." Dinda terkekeh dengan usul Adit yang ingin minta diajak.


📱"Oke, malam takbir kita makan bareng. Jangan nolak, anggap ini sebagai ganti waktu karena Kamu nggak ngajak Aku, tadi."


"Ehh, kok gitu?" pekik Dinda.


"Mana bisa," ujar Dinda kembali bersuara.


Sebenarnya tidak masalah bagi Dinda untuk pergi bersama Adit, Dia hanya reflek merasa malu karena ajakan tersebut. Hingga berkata demikian.


📱"Bisa, pasti bisa. Nanti ba'da isya, Aku jemput ya?"


"Emm, liat nanti aja deh," elak Dinda sambil tersenyum malu dan tentu saja tidak diketahui Adit.


📱"Mmm, gemes dengarnya. Jadi pengen cepet-cepet lamar, Kamu."


Seketika itu juga Dinda menengkulupkan wajahnya pada bantal. Pipinya terasa memanas, hingga bersemu menjadi merah. Jika ada yang melihatnya, Dinda bisa diledek habis-habisan.


📱"Sayang ... kok, diam?"


Dinda yang tidak pernah menanggapi kata 'sayang' itu, hari ini terasa begitu berbeda dan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya berdegup tak karaun, detak jantungnya tak seirama hingga dapat Dia dengar sendiri.


'Jantungku,' jerit Dinda membatin.


Untungnya sang penelpon tidak mendengarnya.


"Mas Adit, udah dulu ya? Perutku, sakit," ucap Dinda memberi alasan agar telepon segera diputus.


📱"Ya sudah, sampai ketemu besok lusa, sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Aaaaa," jerit Dinda dari dibalik bantal usai mematikan ponsel nya. Dia tersenyum tak tertahan sambil berguling-guling di atas kasur empuk nya.


'Aku tunggu, Mas.'

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2