Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 60 Cinta yang sejati.


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Candra dalam pencarian mencari pelaku yang telah mengutus Danu, dalam penyebaran foto-foto tidak senonoh kepada seorang wanita yang tidak lain kini tengah menjadi istrinya.


Berita miring tentang Dinda memang sudah mulai mereda, dan tenggelam. Namun, mereka tetap tidak bisa tenang, karena walau pun begitu. Sekarang beritanya malah berganti dengan akar terjadinya insiden tersebut. Semua yang meliput pemberitaan itu lebih tertarik mencari siapa orang dibalik sekandal yang menimpa, Dinda. Mengingan waktu itu pengecara memberi sedikit informasi, bagaimana terjadinya masalah tersebut adalah akibat dari balas dendam seseorang kepada orang tua Dinda.


Pertanyaan siapa kira-kira pelakunya? Dan apa motifnya? Serta, sudah ditangkap atau belumkah si pelakunya? Itu semua adalah alasan utama para pemburu berita yang mulai mengintai Dinda dan keluarganya, terutama ketika dia sedang berada di restouran.


Candra pun segera menghentika aktifitas Dinda dan memberi perintah tegas padanya agar tidak bepergian terlebih duhulu untuk beberapa hari kedepan.


Dinda yang akan meresa bosan jika hanya berada di rumah saja, mau tidak mau, suka tidak suka, dia terpaksa menuruti apa yang sudah menjadi ketentuan, Candra. Mengingat alasan Candra memang sangatlah berdasar guna kenyamanan dan privasinya.


Usut punya usut, kebaradaan Danu pun mulai terkuak sebagai pelaku utama. Akan tetapi, pihak Candra tidak memberi klarifikasi yang sebenarnya dan membiarkan semua itu seolah memang kebenarannya.


"Bagaimana?" tanya Candra pada seseorang yang tengah mehubunginya. Saat ini dia sedang berada di ruang kerjanya.


Dengan wajah serius, dan mata yang menatap lurus kedepan pada satu titik, dia menajamkan pendengaran guna mencerna penjelasan orang nan jauh di sana.


"Jadi, kau tidak menemukan bukti keterlibatan orang itu?" suaranya terdengar kecewa.


Candra menghembuskan napas beberapa detik sebelum dia berkata, "Tidak perlu! Biar aku saja yang menemuinya."


Setelah mengatakan itu, Candra memutus sambungan lebih dulu. Baru saja ponselnya akan dia taruh di atas meja, ketika malah terdengar bunyi nada panggil pada ponselnya.


Tanpa dikomando, matanya membaca nama si penelpon sebelum menjawab, "Asaalamulaikum, Pah," sapa riang Candra.


📱"Wa'alaikummussalam. Apa sekarang kamu sudah lupa sama Papah?"


"Hehe, inget kok, inget ...." ucap Candra cepat sambil nyengir.


📱"Kalau kamu, ingat sama Papah. Kenepa Papah tunggu-tunggu, kalian berdua belum datang juga ke sini? Apa Papah, yang harus kesana?" Candra meringis mendengar itu.


"Maaf Pah, aku masih ngurusin masalah ini."


📱"Masih belum ketemu."


"Buntu," jawab Candra mengeluh.


📱"Ya sudah, Papah tunggu kedatangan kalian, secepatnya. Assalamualai'kum."


"Insya Allah, Pah. Wa'alaikummussalam."


Candra menghela napas pendek dan beranjak meninggalkan ruangannya setelah melihat waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebelum pergi meninggalkan kantor, dia tak sengaja bertemu dengan Lintang di dalam lift.


"Apa kau, langsung pulang?" tanya Lintang setelah mereka masuk lift.

__ADS_1


Tidak hanya mereka berdua, tapi ada juga sepasang manusia yang mengekori Lintang dan memberi anggukan hormat pada Candra.


"Tidak," jawab Candra santai, "aku ada sedikit urusan," imbuhnya.


Lintang mengangguk paham.


"Apa Mas, langsung pulang?" balas Candra menanyakan pertanyaan yang sama.


"Tidak, aku ada sedikit urusan."


Candra berdecak mendengar jawaban itu.


"Mas meniruku," protes Candra.


"Apa kau tidak sadar? Kau juga meniruku," ucap Lintang santai.


Candra baru akan membuka mulut, ketika pintu lift terbuka membuatnya urung mengatakan sesuatu. Sedangkan kedua orang yang berada di belakang Candra dan Lintang, hanya mengulum senyum melihat berdebatan singkat mereka.


Keluar dari lift, Candra dan Lintang tidak lagi berbicara santai seperti tadi. Mereka malah lebih memilih diam sambil berjalan beriringan dan berpisah di depan loby, karena mobil Lintang sudah terparkir menunggunya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Apa Anda bisa menjamin keselamatan ibu, dan adik saya, jika saya mengatakannya?" pertanyaan serius itu terlontar dari seseorang, yang sempat terlibat pembicaraan alot dengan Candra.


Tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, dan Candra ikut diam menelisik wajah kusam di hadapannya beberapa detik, kemudian mengangguk pahan dan berkata.


"Baik! Aku akan menjamin keselamatan keluargamu," janji Candra pasti.


"Baskoro," ucapnya setelah lama terdiam dengan janji Candra.


Setelah mengantongi nama orang yang selama ini Candra cari, dan beberapa petunjuk. Dia bergegaa pergi, dari tempat tahanan.


Sesuai janjinya, Candra menghubungi anak buahnya guna melindungi keluarga dari Danu, dan akan membuat pertemuan dengan Baskoro.


Sementara itu, di tempat yang berbeda di waktu yang sama ....


Dinda yang sudah bosan beberapa hari hanya diam di rumah besar yang sepi oleh penghuni, memutuskan untuk berjalan-jalan kembali menelusuri isi rumah yang kemarin juga sudah dia lakukan.


Foto keluarga yang hanya diisi oleh tiga orang berbeda genarasi, tidak pernah luput dari penglihatannya ketika dia melintas di ruangan tersebut.


Semakin mengenal setiap sudut dan runagan, serta kegunaan dari rumah Candra, membuatnya penasaran juga bertanya-tanya. Apa saja isi kamar tersebut?


Dinda berdiri di depan sebuah kamar kosong yang dikatakan Bik Susi, sebagai kamar dari orang tua Candra, dulu. Petanyaan yang tadi sempat bersarang di otaknya pun kini sudah dia dapatkan dari keterangan Nenek Ratih, hingga menarik perhatiannya.

__ADS_1


Menurut penuturan Nenek Ratih dan Bik Susi. Sudah bertahun-tahun kamar itu tidak ditempati, karena sang pemilik kamar hanya datang disaat-saat tertentu saja.


Ayah mertuanya bahkan dengan sengaja membawa jasad ibu mertuanya ke Bandung untuk dimakamkan di sana, yang notabennya mereka adalah asli Jakarta.


Bik Susi mengetakan, jika Tuannya itu teramat sangat mencintai istrinya. Hingga tidak akan sanggup jika harus melihat sisa-sisa kenangan sang istri di kamar tersebut. Namun, beliau juga tidak ingin berjauhan dari kuburannya. Hanya sebagian kenangan yang dibawa ayah mertunya dan sisanya tetap tersimpan di dalam kamar dihadapannya.


Ayah mertunya juga tidak lagi menikah usai kepergian ibu mertua yang hanya bisa dia lihat dari foto keluarga yang terpajang di ruang tamu.


Tentu pernyataan itu membuat hatinya tersentuh dan ada sedikit rasa iri. Disaat dia dicampakan oleh suaminya, di sisi lain dia melihat cinta tulus seorang suami. Ayah dari suaminya itu bahkan tetap mencintai istri yang sudah lama pergi meninggalkan mereka, tapi beliua tetap setia dengan kesendiriannya. Sungguh, cinta yang sangat luar biasa.


Tangannya terulur hendak membuka pintu kamar tersebut, yang sebelumnya sudah meminta ijin pada Nenek Ratih untuk melihat isinya. Ketika seseorang mengangetkannya.


"Sedang apa, kau di sini?"


Lekas menoleh, karena suara berat itu sudah sangat dikenalnya.


"Emm, ma-mau ... lihat kamar ini," jawab Dinda gugup sambil menelan ludah yang terasa sakit ketika melewati tenggorokannya.


"Mau lihat isinya?" utang Candra sambil bersandar di dinding dekat pintu.


"Kalau Mas, keberatan ... aku nggak jadi lihat," Dinda menarik tangannya dan langsung balik badan hendak pergi.


"Hei, mau ke mana?" cegat Candra menari tangan Dinda.


"Mau lihat isinya, kan? Ayo!" ajak Candra memimpin masuk.


Kamar besar dan nyaman, serta kasur besar nan rapi walau tidak berpenghuni bertahun-tahun lamanya, menjadi pemandangan pertama yang menarik perhatian keduanya.


Meja rias di sudut ruangan dengan berbagai alat make up, masih tertata rapi dan terawat menghiasinya. Hati tersentuh, darahnya berdesir melihat kenyataan, jika ayah mertuanya membuktikan cintanya sedemikian rupa kepada wanita yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Papah tidak ingin ada perubahan sedikit pun di kamar ini," jelas Candra tanpa di minta.


"Kamar ini tidak terlihat seperti tanpa penghuni," ucap Dinda pelan mendekati meja rias.


"Aku iri, pada wanita yang melahirkanmu. Dia begitu beruntung, mendapatkan laki-laki seperti papah. Laki-laki yang setia tetap mencintai hingga akhir hayatnya," kagum Dinda tanpa mengalihakan perhatiannya.


"Bukan hanya papah. Aku juga akan selalu setia pada wanita yang menjadi pendamping hidupku, hingga akhir hayatku."


Terkesiap dan membatu, Dinda bahkan tidak berani menoleh ke arah Candra. Pandangan mereka bertemu dalam pantulan cermin di depannya.


Darahnya berdesir dengan degup jantung yang tidak beraturan, membuatnya menjadi gugup dan menggila ketika Candra ternyata mendekatinya.


"Dan itu ... tentu saja dirimu," bisik Candra saling tatap dan mengunci dalam pantulan kaca.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2