Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 25 Dinda Khawatir


__ADS_3

...'Jangan pernah bertindak tanpa berpikir lebih dulu, karena kita sudah diberi pengetahun tentang itu. Jika tidak, maka penyesalan adalah jawabannya.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Ketika Dinda menaiki anak tangga, tiba-tiba Dia mendengar Kaamil berteriak lantang pada seseorang dan itu sukses membuatnya menghentikan langkah kakinya.


Dengan rasa penasaran yang tinggi memenuhi isi pikirannya, Dinda langsung berbalik badan dan turun lagi dari tangga yang baru beberapa tapak.


Sebelum mengetahui kejadian tersebut, Dinda menyimpan napan nya di atas nakas di dekat tangga, dan barulah Dia keluar.


"Dasar Laki-laki, B0D0H!!" hardik Kaamil berteriak, mengulang kalimat yang sempat samar Dinda dengar tadi.


"Mil," panggil Dinda di ambang pintu sambil melirik Kaamil dan seorang Lelaki tidak jauh dari Adiknya itu.


"Aku tidak b0d0h, bangg satt!!" balas lawan Kaamil berteriak.


Kaamil melenturkan satu kakinya sambil berkacak pinggang, "Kalau Kau tidak, b0d0h ... Kau tidak akan langsung memutuskan sebuah hubungan hanya karena apa yang Kau lihat, dan tanpa mendengar penjelasan Mara," kata Kaamil tersenyum meremehkan.


"Ku rasa itu, sudah cukup! Aku tidak perlu lagi mendengar penjelasannya," ucap Arif sombong dan hendak berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


Kaamil yang melihatnya geram, tanpa banyak pikir Dia pun berlari menarik Laki-laki itu dan mendaratkan bogem mentah di pipi Orang yang beberapa menit lalu memutuskan pertunangan dengan teman satu kantornya.


"Kaamil," pekik Dinda nyaring tersentak kaget.


Arif yang mendapat tinju dadakan, segera membalas dengan penuh amarah.


"Pak, pisahin mereka," teriak Dinda berlari mendekat kepada penjaga yang terpaku melihat aksi mereka.


"I-iya Mbak," ucap penjaga gugup dan melerai perkelahian yang sudah berapa kali saling menghantam.


"Lepasan, awas lo," hardik Arif yang dipeluk Pak penjaga sambil mendorongnya mundur.


"Lu, yang awas," balas Kaamil belum puas dalam delapan Dinda.


"Pulang, Mas. Lebih baik pulang saja dulu," kata Pak penjaga membimbing Arif ke mobilnya.


Arif menyentak tangan pria paruh baya itu kasar. "Gw bisa sendiri," salak Arif marah.


Dinda melirik Arif tanpa melepas dekapannya pada sang Adik. Sebelum memasuki mobil, Arif juga menatap keduanya tajam sambil mengusap sudut bibirnya yang terdapat luka.


"Sebenarnya, ada apa sih, Mil? Kenapa Kamu tiba-tiba memukul Orang tadi? Memangnya Dia siapa?" tanya Dinda beruntun.


Dinda memperhatikan wajah Kaamil, terdapat lebam dan luka di wajahnya seperti lawannya tadi. Setahu Dinda, Kaamil tidak akan bersikap ceroboh itu, sehingga langsung menghajar pria yang tidak dikenalnya.


"Ayo kita ke dalam. Biar luka Kamu diobati, tapi Kakak mau kasih Mara minuman jahe yang tadi dulu," ajak Dinda masuk ke dalam rumah Mara.


"Aku tunggu di sini aja, Kak. Oiya ... tolong jangan kasih tau Mara soal ini ya, Kak?" cegat Kaamil enggan menemui Mara.


Jelas saja Kaamil tidak berani menemui Mara, yang ada nanti Dia akan berdepat dengan wanita itu tentang tindakannya yang sudah lancang mengajar Arif.


Dinda tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi Dia yakin ada hal yang sangat serius yang sudah terjadi di antara Kaamil, dan Laki-laki tadi.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Kakak antar minuman buat Mara, sekalian pamit,"


ucap Dinda.

__ADS_1


"Tapi, nanti Kamu harus cerita soal tadi," sambung Dinda dan meninggalkan Kaamil di luar setelah mendapat anggukan pasrah dari sang adik.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Mara," panggil Dinda sambil membawa napan nya masuk ke dalam kamar.


"Iya, Kak," sahut Mara pelan memaksakan senyum, duduk di tepi ranjang sambil menegang perutnya.


Dinda menelisik wajah dan mata Mara. Ada sisa jejak bulir bening di bulu matanya, dan pipinya pun mengering. Dinda menebak, bahwa Mara tadi sedang menangis.


'Apa Laki-laki tadi menemui Mara?'


"Apa masih sakit?" tanya Dinda.


"Sudah nggak, Kak," balas Mara sedikit menggeleng.


"Syukurlah. Ini, minum dulu." Dinda menyodorkan gelas berisi minuman gula merah.


"Terimakasih, Kak. Maaf merepotkan," ucap Mara sungkan dan menyambutnya.


"Tidak masalah. Oiya ... tadi sudah Kakak simpan sisa minumannya, dalam kulkas untuk Kamu minum besok," kata Dinda usai Mara meletakkan gelasnya di atas nakas.


"Sekali lagi terimakasih, Kak."


"Kalau begitu, Kakak pamit pulang dulu ya?"


"Kaamil-nya mana, Kak?" balas Mara bertanya sambil melirik ke pintu.


Dinda menangkap gelagat Mara yang gusar.


"Oh," seru Mara.


"Semoga sakit cepat sembuh, ya? Assalamualaikum."


"Iya, Wa'alaikumussalam. Terimakasih, Kak."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda langsung turun dan menemui Pak penjaga. "Pak, jangan beritahukan Mara, soal yang tadi," pesan Dinda.


Kaamil sudah masuk ke dalam mobilnya, menunggu Dinda di tepi jalan.


"Wah, Mbak ... kalau itu Bapak tidak bisa, menjamin," jawab Pak penjaga.


"Loh, kenapa Pak?"


"Karena Pria tadi, tunangannya Non Mara, Mbak," jawab Pak penjaga jujur.


Dinda tersentak kecil, Dia menelan ludahnya kasar. Khawatir masalah tadi akan semakin membesar, dan menyeret Kaamil ke dalam masalah besar.


"Jadi, Pria tadi tunangannya Mara ya, Pak?" ulang Dinda memastikan sambil menahan gugup.


"Iya, Mbak," jawab Pak penjaga pasti.


"Baik, kalau begitu Saya permisi pulang Pak. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Gegas Dinda ke luar gerbang menjulang, dan menyusul Kaamil yang berada dalam mobil dekat mobilnya. Mereka tadi memang tidak memarkirkan mobil di halaman rumah Mara, karena di seberang rumah Mara juga cukup strategis untuk parkir.


"Awww, ampun Kak," pekik Kaamil kesakitan karena daun kupingnya di pelintir Dinda.


"Apa Kamu tahu, kalau Pria tadi itu tunangannya, Mara?" tanya Dinda menahan kesal.


"Lepas dulu, Kak," pinta Kaamil memelas.


Dengan enggan Dinda menarik tangannya dari kuping sang Adik.


"Kata 'kan!" ucap Dinda dingin.


"Iya, tau," jawab Kaamil sambil mengusap kupingnya.


"Kaamil!" bentak Dinda kembali hendak menjewer nya.


Namun, Kaamil langsung menghindar dengan berpindah ke kursi sebelahnya. Dinda yang terhalang pintu mobil tidak bisa menggapainya.


"Ampun, Kak. Kakak tidak kasihan apa sama, Aku? Lihat keadaanku," ucap Kaamil sambil menunjuk wajahnya.


Dinda menghela napas berat, tangannya terangkat guna memijat keningnya yang terasa tebal.


"Kamu harus jelaskan, apa sebenarnya yang terjadi," kata Dinda serius menatap tajam Kaamil.


"Baik, Kak," dengan cepat Kaamil mengangguk.


"Sekarang kita pulang, tapi tidak pulang ke rumah Bunda."


Lagi, Kaamil mengangguk paham.


Dinda berbalik badan menuju mobilnya, segera menjalankan mobil dan di ekor mobil Kaamil. Di perjalanan, Dinda memikirkan cara agar masalah ini tidak sampai kepada orang tua Mara. Namun, rasanya itu mustahil.


Tidak hanya Dinda, Kaamil pun baru memikirkan dampak atas tindakannya tadi. Akibat tuduhan dari Pria yang baru Dia tahu adalah tunangan Mara, membuat benteng kesabarannya runtuh tak bersisa.


'Sial.' gumam Kaamil di dalam hati.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Hallo, Mas Arif," sapa seorang Wanita pada sambungan ponselnya.


"Dengarkan penjelasan ku, soal tadi Mas," ucapnya bergetar.


"Tapi, itu tidak seperti yang Kamu lihat, Mas," sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Mas ... Mas ... dengarkan aku dulu," ucapnya pada sambungan telepon yang sudah putus.


Seketika tangisnya pecah, menggema di dalam kamar yang sunyi tanpa seorang pun tahu tentang luka di sudut hatinya terdalam.


BERSAMBUNG ....


Hai gays, judul dan cover nya saya ganti ya! Semoga dengan judul baru ini, pihak nt mau mengontrak karya saya. Mohon do'a dari teman-teman semuanya. 🙏


Terimakasih 🙏☺

__ADS_1


__ADS_2