Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 92 Pertikaian kecil berujung pernyataan.


__ADS_3

"Akhirnya, ketemu juga sama mantu Papa yang cantik ini," seru Arwan ketika Dinda bersalaman dan mencium punggung tangan yang sudah menampakan guratan-guratan keriput dengan hati berdebar.


Candra yang menyadari jika istrinya masih takut bertemu dengan orang-orang baru setelah kejadian kapan mana itu. Segera menggenggam tangannya sambil berbisik.


"Ada aku si sini," Dinda menoleh dan tersenyum tipis.


Zahir dan Mita yang hendak beristirahat segera mengurungkan niat guna menemani kedatangan sang besan yang sudah lama tidak bertemu. Arwan pun turut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya ayah dari Zahir.


Keadaan sempat diliputi kesedihan dan situasi mendadak hening. Namun, itu tidaklah berlangsung lama. Sebab semuanya menyadari, dan tidak ingin berlarut dalam kesedihan tersebut.


Semua orang juga tidak ada yang berniat membahas musibah yang menimpa Dinda, karena mereka tahu. Bahwa itu hanya akan memperburuk keadaan.


"Kalau Emil, kapan menikah?" Kaamil tersentak ketika Arwan memberinya sebuah pertanyaan yang selalu ingin dia hindari.


"Hehe, belum tahu, Om," jawab Kaamil kikuk sembari cengengesan.


"Jomblo dia, Pah," celetuk Candra.


"Mau Om kenalkan sama adik sepupu Bara, nggak?"


"Wah ... kamu punya adik sepupu, Mas? Boleh tuh, Pah," timpal Dinda melirik suami dan ayah mertuanya bergantian.


"Nggak usah, Om. Aku masih muda. Nanti saja kalau urusan jodoh mah," tolak Kaamil halus.


"Muda apanya? Kamu itu sudah cocok buat menikah," sahut Mita menyela.


"Trauma kali, Mbak," gurau Vita cekikikkan.


"Patah hati?" pekik Dinda terkesiap.


"Mana ada," sangkal Kaamil cepat.


"Gara-gara Mara, ya?" Dinda memicing sambil tersenyum jahil.


"Apa hubungan sama Mara?" tanya Kaamil tak acuh.


"Mara siapa siapa sih?" Mita menatap putra dan putrinya dengan penuh tanya.


"Bukan siapa-siapa."


"Pacar Emil," ucap keduanya serentak.


"Siapa yang bilang pacar? Dia itu cuman teman," Kaamil lekas meralat ucapan Dinda.


"Iya, sekarang cuman teman ... soalnya kamu sudah ditinggal nikah," ujar Dinda membuat yang lain terkesiap dan tergelak.


Di saat semua orang tertawa karena melihat wajah Kaamil yang cemberut. Dinda malah terdiam dalam lamunan usai berkata demikian, dan pikirannya pun seketika melayang pada seseorang.


"Hari ini dia menikah," gumamnya di dalam hati. Dia teringat pada Adit saat menggoda Kaamil.


"Ada apa?" bisik Candra menyadarkannya.


"Mau Mara menikah atau enggak, dia tetap cuman teman. Mbak Adin aja yang salah tanggap," kalimat pembelaan Kaamil pada diri sendiri membuat Dinda dan Candra menoleh.


"Jadi bukan karena trauma ditinggal nikah nih?" goda Vita, "kalau gitu kamu mau dong, kenalan sama adik sepupunya Bara," tambahnya lagi ikut-ikutan memanggil Candra dengan panggilan Bara.


"Kalau mau, bilang aja Mil," sahut Arwan semangat sambil diiringi tawa.


"Ajak aja ke sini, Wan. Siapa tahu nanti Emil mau," sambut Zahir.


"Iya Wan .., siapa tahu nanti seperti Adin dan Bara, yang langsung menikah," bukan hanya Vita yang ikut memanggil Candra dengan sebutan Bara. Kini Mita pun menyesuaikan nama yang sering digunakan basannya.

__ADS_1


"Ogah," semua orang kembali tergelak ketika mendengar penolakan Kaamil yang blak-blakan.


Dinda yang memulai pembahasan tersebut malah kini diam hanya sebagai pendengar. Candra diam-diam memperhatikan Dinda, dan di dalam hati bertanya-tanya. Apa yang sedang istrinya itu pikirkan.


Cukup lama mereka berbincang, hingga semuanya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Karena kamar tamu hanya ada satu yang akan di tempati Zahir dan Mita. Kaamil pun memberikan kamarnya untuk mertu kakaknya.


Sementara Kaamil ... dia pergi dengan alasan, ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan, dan mungkin akan lembur.


Dinda yang sudah berada dalam kamar lantas memeriksa ponselnya. Ternyata ada banyak panggilan dan pesan dari teman-temannya.


...Grup Chat...


Nurul :


Din, kamu jadi datang nggak di pernikahan, Mas Adit?


Rahimah :


Jangan dipaksakan kalau kamu nggak mau datang.


Soraya :


Tau nih Nurul. Udah dibilangin nggak usah ngajak Dinda. 😠


Nurul :


Kan, aku cuman nanya. Siapa tau Dinda mau pergi bareng. 👉👈🙁


Rahimah :


Dasar nggak peka. 😑


Soraya :


Nurul :


Emang salah, ya? Emang jawabannya apa? 🤔


Soraya :


Nggak pergi!


Rahimah :


Nggak pergi!


Dinda menghela napas panjang melihat percakapan teman-temannya.


"Sepertinya ada sesuatu yang kau pikirkan?"


Dinda tersentak kaget, dan Candra menyadari keterkejutan istrinya ketika dia melayangkan pertanyaan tiba-tiba.


"Ha, tidak ada," elaknya cepat sambil menyimpan ponsel di atas nakas.


Candra terdiam memperhatika gerak gerik Dinda.


"Apa kau sedih, karena tidak bisa menghadiri pernikahannya?"


Dinda langsung menoleh cepat.


"Seharusnya kau katakan saja, jika kau ingin menghadirinya," tambahnya lagi.

__ADS_1


Dinda menatap Candra tak percaya.


"Aku pasti akan mengantarkan mu," keduanya saling pandang.


"Apa kamu pikir, aku akan sedih karena tidak bisa datang ke pernikahannya?" tanya Dinda dengan nada tidak suka.


"Ku pikir begitu," ucap Candra jujur.


Dinda mendengus sinis dan melirik Candra kesal.


"Untuk apa aku merasa sedih?" nadanya pelan, namun penuh penekanan.


"Karena---," Candra tidak lantas melanjutkan kalimatnya. Dia menelisik wajah yang kini menatapnya datar.


"Karena apa?" desak Dinda tanpa merubah expresi mimik wajahnya.


"Karena kau merindukannya," pernyataan itu lolos begitu saja dari bibir tipis Candra.


Dinda seketika mengeraskan rahang dan menatap Candra lebih tajam dari sebelumnya.


"Untuk apa aku merindukannya? Sedang aku sendiri sudah bersuami," salak Dinda marah, tapi tetap merendahkan suaranya.


"Kita tahu betul, apa yang menyebabkan kau berstatus sebagai istriku. Kalian pernah menjalin sebuah hubungan, dan hubungan itu putus karena pernikahan kita. Apa aku salah jika berpikir demikian?" tanya Candra serius.


Dinda mengepalkan kedua tangannya hingga garis-garis urut mencuat kepermukaan.


"Apa hanya itu yang, Mas pikirkan ...? Salah, tentu saja itu salah," bantah Dinda tidak terima, "kami memang pernah menjalin sebuah hubungan, tapi bukan berarti sekarang aku akan merindukannya," lanjutnya menggeram marah.


Candra diam dengan tatapan yang tidak terbaca sembari menyaring semua kalimat dari istrinya.


"Jangan menyalahkan pemikiran ku! Ini semua berawal dari penolakan mu atas kewajiban mu sebagai seorang istri. Dan laki-laki mana yang tidak berpikir seperti itu, jika mungkin saja kau masih merindukannya."


Dinda membatu, perkataan Candra bagaikan sebuah cambuk yang tak kasat mata.


"Aku mungkin belum siap atas kewajiban ku. Tapi bukan berarti aku masih merindukannya," bantah Dinda tegas.


"Lalu apa yang kau pikirkan sejak di ruang tamu?" tuntut Candra.


"Iya. Aku memang memikirkannya, tapi itu bukan rindu. Itu seperti---."


"Itu sudah mewakili pertanyaanku," potong Candra menghentikan ucapan Dinda.


"Mewakili apa?" tanya Dinda bingung.


"Tentang perasaanmu," balas Candra dan langsung berbalik hendak meninggalkan Dinda.


"Memangnya bagaimana perasaanku?" Dinda menahan tangan Candra dan memaksa suaminya berbalik menghadap dirinya.


"Tahu apa kamu sama perasaanku? Ayo jawab!" desak Dinda.


"Mas tahu? Setelah orang-orang itu menculikku ... yang ada dalam pikiranku itu hanya kamu. Hanya kamu, Mas," sentak Dinda.


"Setiap hari, siang dan malam aku berdo'a. Aku berharap semoga kamu bisa datang menyelamatkanku, Mas. Dan sekarang ... setelah dia hanya melintas di pikiranku untuk sesaat. Kamu bilang aku merindukannya?" cecar Dinda penuh emosi.


"Lalu apa namanya saat aku juga memikirkan kamu, Mas? Bahkan itu jauh lebih lama darinya?" Candra tersentak kecil dalam diam.


"Itu karena kamu takut, dan berharap ada yang menolong kamu."


"Di sini!" Tunjuk Dinda pada dadanya, "hatiku bergetar saat menyebut namamu. Dan aku ketakutan, setiap kali memikirkan jika aku tidak bisa lagi bertemu sama kamu, Mas," ujarnya seiring air mata yang berjatuhan tanpa bisa dicegah.


"Apa itu juga karena takut? Apa perasaan itu tidak lebih besar dari perasaanku padanya?" Dinda semakin tersedu.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2