Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 63 Mengikuti alur.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan angka sembilan tiga puluh. Namun, Candra belum juga pulang, dan itu membuat Dinda bertanya-tanya. Kemana kira-kira suaminya itu pergi hingga malam mulai larut, tapi Candra belum juga kembali.


Tadi selepas solat isya, Candra hanya memberi pesan singkat yang isinya mengatakan kalau dia akan pulang telat tanpa kejelasan.


Tidak tinggal diam, Dinda mengirim pesan guna menanyakan posisi Candra saat ini. Akan tetapi, dia harus menelan kekecewaan, sebab pesannya tidak mendapat balasan. Jangankan balasan, dibaca pun tidak. Sebagai seorang istri yang pernah mengalami kegagalan karena perselingkuhan, tentu semakin membuatnya gelisah dan khawatir.


Apa lagi saat ini dia tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, bertambah gelisahlah jiwa dan raganya. Namun, egonya mengusik. Bukankah mereka sudah membicarakan prihal itu sebelumnya, jadi Candra tidak bisa menuntutnya untuk sebuah hak dan kewajiban. Berhubung semua itu terikat kesebakatan yang sudah ditentukan.


Untuk yang kesekian kalinya, naluri dan nalarnya bergelut hebat. Tidak dipungkiri, Cinta memang belum datang di hatinya. Akan tetapi, ketentuan dari sang pemilik kehidupan membuatnya gambang dan takut.


Sebuah kewajian berserta hak, telah terikat bersama datangnya pernikahan yang sudah jelas dia ketahui dan sadari.


Tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang terbuka, dan sukses menariknya dari alam bawah sadarnya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Dinda kaget saat melihat kedatangan suaminya yang berantakan.


"Nggak apa-apa, tadi ada masalah dikit," jawab Candra sekenanya sambil menutup pintu.


Dinda memicingkan mata mendengar jawaban yang menurutnya sedikit janggal.


"Apa masalahnya itu berantem?" tuduh dan tanya Dinda.


"Hmm," balas Candra bergumam.


"Jadi beneran? Kamu berantem, Mas? Kenapa bisa sampai berantem? Ada yang luka, nggak?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa menghiraukan Candra yang hendak mandi.


Candra yang hendak masuk ke kamar mandi pun urung saat menyadari Dinda, yang membuntutinya. Dia menatap Dinda dalam.


"Iya. Tadi berantem! Soalnya pas mau pulang dicegat sama orang, tapi nggak sampai terluka, kok. Kamu nggak usah khawatir!" sudut bibirnya terangkat seolah menyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.


"Syukurlah ...," ucap Dinda merasa lega, "lain kali hati-hati, Mas! Sekarang tuh banyak begal yang berkeliaran," imbuh Dinda menasehati.


"Iya. Udah mulai sayang, ya? Kok kayanya khwatir banget?" goda Candra sambil mengelus pipi Dinda.


Tindakan dan pertanyaan tiba-tiba yang Candra lakukan refleks membuat Dinda tersentak dan membatu. Namun, dia tersadar saat melihat senyum lebar Candra, yang sangat jelas menggodanya.


"Idih, sayang apanya? Nggak tuh!" elak Dinda sambil menangkis tangan Candra pelan, lekas menjauh karena pipinya terasa memanas.


"Tapi kalau sayang juga nggak masalah, kok. Sama suami sendiri juga," kata Candra tersenyun tipis melirik Dinda sambil berlalu pergi ke kamar mandi.


"Siapa yang sayang?" gerutu Dinda bergumam mengiringi pintu yang perlahan tertutup.

__ADS_1


Usai mandi, Candra melaksanakan solat isya sendiri di dalam kamar. Setelah solat, lanjut makan malam yang sudah disiapkan Dinda.


Candra pun makan malam sendiri ditemani Dinda. Hening, tidak ada suara kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Dinda dengan sabar menemani suaminya. Sekekali menawarkan nasi dan sayur pada Candra yang mungkin ingin menambah makanannya.


Tidak memerlukan waktu lama, Candra selesai dengan makan malamnya. Mereka memutuskan kembali ke kamar, karena memang sudah larut malam.


"Bisa minta tolong?" tanya Candra ketika mereka sudah di dalam kamar.


"Minta tolong apa, Mas?" Dinda menjawab dengan pertanyaan.


Bukannya menjawab, suaminya itu malah membuka baju yang membuat Dinda terbelalak kaget. Dia gelabakan dan rasanya ingin segera bersembunyi di lubang semut sekali pun, jika apa yang dipikirkannya itu adalah apa yang sejak tadi menjadi pergelutannya.


Menelan ludah ketika tanpa aba-aba tangannya digenggam Candra dan ditariknya perlahan mendekati ranjang.


Jantungnya berdegup semakin menjadi mana kala kedua bahunya ditekan tangan besar Candra untuk duduk. Sesaat Candra berbalik dan membungkuk di depan nakas dekat ranjang.


"Pijitin!" perintah Candra sambil menyerahkan salep ke telapak tangan Dinda. Salah satu salep untuk memijat dengan merek terkenal.


"Hah," pekik Dinda menganga sembari menatap Candra dan salep bergantian.


"I--iya," sahut Dinda masih setengah sadar. Perlahan tangannya pun menepuk di kening.


Membetulkan posisi duduk sambil membuka tutup tube dan menuangkannya ke tapak tangan, dengan ragu-ragu Dinda menyentuh pundak Candra.


Sedikit keras dan berotot membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memberi tekanan pada kulit putih suaminya.


"Tadi siang, Kaamil telepon aku."


"Hah?" sahut Dinda menghentikan pergerakan tangannya.


"Pijit lagi!"


"Ah, iya," kata Dinda bersusah payah menelan ludah, "tadi apa?" sambungnya.


"Kaamil telepon. Katanya, kalau besok ada waktu ... mau ke sini nengokin kamu."


Dinda memutar bola matanya malas, dan tanpa sadar semakin kencang memijit pundak sang suami.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aneh banget sih, Emil. Dulu nih ya, Mas ... kalau mau apa-apa dia langsung hubungin aku! Tapi sekarang, kenapa malah hubungin, Mas Candra?" ketus Dindi dan gugupnya mengup bersama kesal.


"Kan, sudah aku bilang kemarin! Mau dia kasih tau ke kamu, atau ke aku. Ujung-ujungnya, tatap sama, kan?"


"Beda dong. Aku ini kakaknya lo, Mas ... kakaknya," kesal Dinda bersungut-sungut.


"Tadi siang aku ketemu Danu."


"Danu?" kesalnya kembali menguap bersama berita baru yang dia dengar.


"Danu mau kasih tau siapa orang yang nyuruh dia, dan penyidik sudah menanyainya," cerita Candra, "besok akan ada surat penangkapan untuk orang itu."


"Emang yang nyuruh Danu, siapa Mas?"


Larut dalam pembicaraan tersebut, kini kedua tangannya berpindah memijat pinggang Candra. Tidak hanya dia yang menikmati memijat, tapi suaminya pun semakin menikmati pijatan lembut Dinda.


"Baskoro, ayah mertu Angga," jawab Candra jujur.


"Baskoro? Mertunya angsa?"


"Hah, angsa?" bingung Candra melempar pertanyaan.


"Iih, Mas Candra. Aku tanya, malah balik tanya," kesal Dinda diiringi pukulan pelan di pinggang Candra sebelum kembali memijatnya.


"Gimana nggak tanya? Kamu bawa-bawa nama angsa," Candra berbalik cepat ke samping membuat Dinda tertarik dan terjatuh di atas suaminya dengan tangan bertumpu di dada Candra.


Dinda melotot dan lekas menarik diri, namun kedua tangan Candra malah menahan pinggangnya. "Mas," protes Dinda berusaha bangkit.


"Emang angsa, siapa?" tanya Candra santai dan menyelipkan rambut yang menjuntai ke balik daun kuping Dinda.


"I--itu, si angsa ... ya si Angga. Nurul sama Aya yang kasih dia gelar," keduanya beradu pandang.


"Mas!" pekik Dinda nyaring saat tersadar, bahwa Candra sudah mendaratkan kecupan di atas bibirnya.


Sedikit memberontak agar Candra melepaskan tangan dari pinggangnya, tapi kalimat yang Candra lontarkan seketika membuatnya bergeming.


"Tidak ada yang salah, saat seorang suami mencium istrinya," ucap Candra dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti olehnya.


"Lagi pula aku hanya menciummu, bukan meminta hak atas dirimu."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2