
"Kamu ingat, kan, waktu kamu kecelakaan? Dan aku datang bantuin kamu?" Candra memulai penjelasannya dengan pertanyaan.
Dinda mengerutkan kening tanda berpikir. "Iya," jawabnya kemudian, "tapi apa hubungannya?" ucapnya merasa tak ada kaitannya.
"Dimulai dari situ," dan jawaban itu semakin membuat Dinda tak mengerti.
Masih terkenang dalam ingatan ketika mobilnya ditabrak oleh Luna, dan tidak lama setelah kepergian wanita itu. Candra datang mengantarnya pulang, karena mobilnya harus dibawa ke bengkel.
"Bagaimana bisa dimulai dari situ?" Dinda terheran-heran mempertanyakan perkataan Candra.
"Waktu aku antar kamu ke rumah ini, aku bertemu Bunda," Dinda langsung mengangguk membenarkan, "saat itu Bunda memanggilmu---," tambah Candra lagi dan menggantungkan kalimatnya sejenak. "... Adin."
"Ya, karena itu memang nama aku," balas Dinda masih keheranan yang sama sekali tidak menemukan titik terang dari semua rangkaian kalimat suaminya.
"Yang aku tau, gadis di foto ini namanya Adin. Jadi saat Bunda panggil kamu Adin ... aku langsung ingat sama gadis ini," jelas Candra perlahan sambil mengangkat ponsel, "lagian mana mungkin aku nggak kenalin kamu? Kan, mukanya sebelas dua belas sama yang sekarang," lanjutnya sambil mencolek ujung hidung Dinda.
"Jadi, kamu memang sudah tau lama, Mas?" mimik wajahnya menunjukan rasa tidak percaya.
"Iya, ett ... jangan dicubit!" Candra menangkap kedua tangan sang istri yang sudah gatal ingin mengulang aksinya.
"Kalau kamu sudah tau lama kenapa nggak bilang, Mas?" kesal Dinda merejuk dan menarik tangannya cepat.
"Aku lihat kayanya kamu nggak ingat. Jadi aku biarin aja."
"Iya sih. Aku bahkan baru ingat kalau pernah foto sama kamu waktu kecil, Mas," ujar Dinda dengan mata yang menerawang jauh, "berarti kamu sudah kenalin aku dong, ya? Saat di rumah Imah?" kenangnya.
Candra menggeleng sebagai jawaban, "Waktu itu aku nggak perhatiin muka kamu. Cuman saat Bunda panggil kamu, aku baru perhatian muka kamu sama foto di sini," jawab Candra jujur.
"Jadi sejak itu?"
"Hmm," gumamnya sambil mengangguk.
"Tapi, kan, bisa saja kamu salah orang waktu itu, Mas? Nama Adin itu bukan cuman aku. Dan muka yang mirip tidak menjamin itu adalah aku."
"Ya, itu memang benar! Tapi aku nggak mungkin salah tebak kalau di foto ini, adalah kamu ... itu karena, banyak foto-foto kamu saat kamu masih kecil di ruang kerja papa kamu," tutur Candra ketika dia pernah masuk ke ruang kerja Zahir saat mereka belum menikah, "sebenarnya aku agak heran sih, kenapa kamu nggak pernah pajang foto kamu di kamar," tambahnya.
"Ya karena sudah disimpan di album," ucap Dinda apa adanya. Dia memang tidak pernah memajang fotonya di dinding, kecuali yang satu itu.
"Jadi, itu sebabnya kenapa foto-foto kamu nggak ada di kamar?" tanya Candra yang tidak pernah melihat foto Dinda di kamar kediaman Zahir.
"Iya, foto aku terlalu banyak. Jadi mending dialbumin aja," ujar Dinda polos.
Candra mengangguk mengerti.
"Mau ke mana?" Candra menahan Dinda yang hendak beranjak.
"Ke---."
"Aku belum selesai," potong Candra cepat, "tarik dulu kata-kata kamu, yang ngatain aku nggak punya otak!" perintah Candra serius ketika teringat perkataan Dinda.
"Nggak! Itu salah kamu sendiri, Mas. Kenapa pura-pura nggak kenal? Padahal kamu sudah tau sebelum kini menikah," tolak Dinda mentah-mentah.
"Pura-pura atau enggak. Kamu tetap harus menarik kata-kata itu, dan minta maaf sama aku ...! Kamu mau, jadi istri yang durhaka?" ancam Candra menaikan satu alisnya.
"Idih, padahal---."
"Jangan lupa! Kamu belum menjalankan kewajiban kamu, sebagai seorang istri. Apa sekarang kamu mau nambahin dosa?" seketika dua bola mata Dinda membulat.
"Kenapa jadi bawa-bawa dosa? Itu nggak ada hubungannya, Mas. Kamu sendiri, kan, yang mengijinkan," sergah Dinda tak mau kalah.
"Aku memang mengijinkan, tapi itu tetap sebuah dosa."
Dinda kalah telak, lidahnya terasa kelu dan tidak bisa berkata-kata ketika kenyataan itu memang benar adanya. Pikirannya pun seketika beterbangan dan menerka-nerka, jika suaminya itu pasti menginginkan yang selama ini sudah menjadi haknya. Menatap langung kedua manik Candra yang kini terlihat begitu serius memandangnya, Dinda menelan ludah yang tiba-tiba mengeras bagai sebuah batu.
"Sudahlah, lupakan apa yang kukatakan tadi!" ucap Candra menyadarkan Dinda dari diamnya, "pergilah jika kau ingin pergi," sambungnya mengusir.
__ADS_1
Perlahan Dinda berdiri sambil memandang Candra dengan perasaan yang tidak menentu, hingga suaminya itu kembali membaringkan tubuhnya seperti semula.
Dinda masih berdiri di samping tempat tidur dengan Candra yang membelakanginya guna tidak menindih luka di punggungnya.
"Mas ...," panggil Dinda pelan.
"Kalau kau merasa tidak nyaman, maka tidak perlu dibahas!" balan Candra tetap pada posisinya.
Dinda semakin dilema ketika mendengar nada suara suaminya yang terkesan datar. Belum lagi kata 'dosa' terus memenuhi isi pikirannya.
Dengan memberanikan diri, Dinda duduk di tepian ranjang dekat kaki Candra. "Mas ...," ulangnya yang tidak peduli dengan peringatan sang suami tadi.
Tidak ada jawaban dari Candra. Namun, Dinda tahu betul kalau suaminya itu tidaklah tidur.
"Aku minta maaf .., karena belum bisa menjadi istri yang berbakti sama kamu, Mas," ujar Dinda lirih, "seharusnya pengalaman mengajarkanku untuk menjadi istri yang jauh lebih baik dari sebelumnya," lanjutnya bersungguh-sungguh.
"Aku tarik kata-kataku yang bilang, kamu nggak punya otak. Seharusnya aku malu sama kamu, Mas. Bukan kamu yang nggak punya otak. Tapi akulah yang nggak punya otak! Aku sangat-sangat b0d0h!" ungkap Dinda dan diakhiri tangisan penyesalan di ujung kalimatnya.
Candra yang memang hanya memejamkan mata karena merasa teteh, sengaja tidak menghiraukannya istrinya. Akan tetapi, seketika terkesiap saat mendengar Dinda tersedu. Dia pun langsung berbalik, sebab mulai khawatir.
"Aaa," rintih Candra kesakitan. Akibat dari tindakan yang ceroboh, punggungnya pun langsung nyeri dan sangat sakit.
"Kenapa, Mas?" panik Dinda masih menangis sambil membantu Candra duduk.
"Aku yang harusnya tanya ... kenapa kamu malah menangis?" katanya sambil menahan sakit.
"Maaf," lirih Dinda sambil mengusap air mata, karena merasa bersalah.
"Untuk apa minta maaf? Ini bukan salahmu. Aku yang lupa dengan luka ini," Candra memperhatikan wajah Dinda yang tertunduk.
"Iya, ini salah kamu, Mas. Karena kamu sengaja mendiamkanku, waktu aku minta maaf dan menarik kata-kataku," adu Dinda kembali menangis.
Candra menghela napas berat dan membiarkan Dinda menangis tanpa berniat membujuknya agar berhenti menangis. Dinda yang merasa kembali diabaikan langsung menoleh pada sang suami dengan deraian air mata.
"Kamu nggak mau maafin aku, Mas?" tanya Dinda dengan tatapan yang teramat sedih.
"Iih, ditanya malah balik tanya," kesal Dinda menggerutu.
"Iya, sudah kumaaf, kan. Jadi berhentilah menangis!"
"Tapi kaya nggak ikhlas gitu ngomongnya."
"Ikhlas atau nggak, itu tidak perlu pembuktian. Cukup Tuhan dan aku yang tahu. Kalau orang meragukannya ... itu urusan dia," ungkap Candra serius.
Dinda langsung mengangguk patuh dan mengambil tangan kanan suaminya, kemudian mencium punggung tangan Candra yang sempat terkejut karena tiba-tiba.
"Maaf, Mas," kata Dinda dan lagi mencium punggung tangannya.
"Hmm. Aku mau istirahat sebentar, punggungku terasa sakit."
Candra kembali berbaring, Dinda yang melihatnya pun malah ikut berbaring di tempat bagiannya. Candra tersentak kecil dengan hal itu, terlebih lagi ketika istrinya dengan sengaja merapat padanya. Bahkan tanpa ragu mengambil tangan suaminya dan melingkarkannya di atas punggung Dinda.
"Istirahatlah! Aku temani."
Candra tersenyum tipis dan mengusap jejak air mata yang masih ada di pipi sang istri. "Terimakasih, dan maaf sudah membuatmu menangis."
Dinda membalas senyum Candra. "Itu tidak sebanding dengan kesalahanku."
Tidak mehiraukan ucapan Dinda, Candra kembali merangkul istrinya dan memejamkan mata. Dinda pun melakukan hal yang sama. Tangannya terulur dan mendekap pinggang suaminya.
BERSAMBUNG ....
...🎵🎵🎵🎵🎵...
Deraian demi deraian air mata
__ADS_1
Kupeluk mesra saat kita berpisah
Satu yang kupinta setialah padaku
Hanya dirimu kucinta
Lambaian tangan mengiringi langkahku
Terasa berat kau melepas diriku
Tiada terngiang kita untuk berpisah
Jangan kau ragu sayangku
Dermaga biru saksi bisu
Walaupun ku terlanjur, sayang
Meninggalkan dia yang ku cinta
Namun hatiku terasa berat
Pahit manisnya ku telan jua
Tiada satu yang terindah
Selain dirimu yang ku sayang
Kau pelita hati di sanubariku
Pelipur lara suka dan duka
Lambaian tangan mengiringi langkahku
Terasa berat kau melepas diriku
Tiada terniat kita untuk berpisah
Jangan kau ragu, sayangku
Dermaga biru saksi bisu
Walaupun ku terlanjur, sayang
Meninggalkan dia yang ku cinta
Namun hatiku terasa berat
Pahit manisnya ku telan jua
Tiada satu yang terindah
Selain dirimu yang ‘ku sayang
Kau pelita hati di sanubariku
Pelipur lara suka dan duka
Sabarlah, adindaku
Pasti ku kembali
Sabarlah, oh, kasihku
Pasti ku kembali
__ADS_1
...Dermaga Biru. Thomas Arya....