Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 18 Status Dinda


__ADS_3

'Jadilah dirimu sendiri. Biarkan orang melihat dirimu yang nyata, tidak sempurna, cacat, unik, aneh, cantik, dan ajaib.'


...-Mandy Hale-...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Ngapain ke sini, mas Candra?" tanya Dinda sambil turun dari motor besar itu.


Candra tidak menjawab, dia sibuk memarkirkan motornya. Dinda yang tidak mendapat jawaban, dengan kesal melepas helm di kepalanya dan memperhatikan sekeliling.


"Ini." Dinda menyerahkan helm-nya yang langsung disambut Candra.


"Ayo," ajak Candra memimpin jalan.


Tidak tahu apa yang akan dilakukan, Dinda pasrah mengikuti langkah besar pria yang sudah membawanya ke tempat tersebut.


Sebuah warung makan sederhana yang tempat makannya duduk lesehan, dan saling berdampingan dengan tamu yang lain dengan pembatas dinding bambu.


"Bang Candra, silahkan duduk sini Bang," kata seorang pemuda yang umurnya kisaran dua puluh tahun menyapa nya sembari menunjuk tempat kosong.


"Rame ya, Ram!" sahut Candra mendekat, dan tentu saja di ekor Dinda.


"Alhamdulillah Bang, mungkin karena besok sudah mulai puasa jadi hari ini orang-orang pada mampir," ucapnya tersenyum senang.


"Ceweknya, Bang?" tanyanya pelan.


"Bukan," jawab Candra pendek.


"Ah, nggak percaya!"


"Terserah ... boleh saya minta tolong?"


"Silakan, minta tolong apa Bang?"


Dinda mengedarkan pandang keseluruh ruangan. Ada beberapa pengunjung sedang makan dengan keluarganya, dan ada juga hanya berdua dengan pasangannya.


Bagi Dinda, ini adalah pengalaman pertamanya datang ke tempat seperti ini.


"Apa kamu akan terus berdiri?" tanya Candra datar, mengembalikan kesadarannya.


"Ngapain ke sini, Mas?" Dinda kembali bertanya pada intinya.


"Duduk dulu," jawab Candra sambil melepas sepatu dan naik ke lantai yang agak lebih tinggi sekitar dua puluh senti meter.


Menghela napas, Dinda ikut melepas sendal yang tidak terlalu tinggi dan menyusul Candra duduk lesehan.


"Saya nggak mau makan, mas Candra!" ujar Dinda menebak akan diajak makan.


"Jangan ge'er, kamu."


Dinda diam.


"Ini Bang." Lelaki muda tadi datang lagi dengan sebuah mangkuk yang berisi es batu dan selembar kain.


"Terimakasih, Rama." Candra langsung menyambut kedua benda tersebut.


"Sama-sama, Bang. Apa Abang mau makan sekalian?" tanya emuda yang ternyata bernama Rama.


"Untuk sekarang nggak dulu Ram, tapi bisa buatkan minuman 'kan?"

__ADS_1


"Bisa-bisa, seperti biasakan? Teh es ...! Dua?" tanya Rama dan Candra mengangguk.


"Tunggu sebentar." Rama berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ini, kompres dulu kening mu." Candra menyerahkan es batu yang sudah dibungkus dengan kain tadi.


Kini Dinda mengerti kenapa Candra membawanya ke tempat tersebut. Ragu-ragu sambil menahan malu Dinda mengambilnya dan mengompres keningnya.


Duduk berdampingan dengan jarak satu meter, nyatanya masih bisa terdengar oleh Candra kala Dinda meringis kesakitan.


"Ini Bang."


Dua buah gelas berisi teh es datang dan di letakkan di hadapan mereka.


"Terimakasih," jawab Dinda dan Candra bersama.


"Sama-sama, saya permisi Bang. Kalau ada perlu, panggil saja, saya" katanya sopan.


"Iya."


Membiarkan teh es itu pada tempatnya, Dinda kembali melanjutkan kegiatannya yang terasa sakit tapi nyaman.


"Apa tadi ada yang menabrak mu?" tiba-tiba Candra bertanya, membuat Dinda menoleh padanya.


"Iya," jawab Dinda pendek dan jujur.


"Apa kamu ingat, dengan plat yang menabrak mu?"


Mengerti arah tujuan pembicaraan ini, Dinda segera meluruskan.


"Saya ingat, tapi saya tidak ingin melaporkannya!"


"Kenapa?" tanya Candra mencari tahu.


"Tidak apa-apa, saya hanya tidak ingin memperpanjang masalah."


Dinda melirik Candra yang juga tengah meliriknya, buru-buru Dinda berpaling dan meminum teh es-nya.


Tidak mungkinkan Dinda melaporkan wanita yang dia tahu juga sedang terlibat hubungan rumit dengan Candra. Bisa-bisa dia akan semakin terjerumus dan mengetahui yang tidak ingin Dinda ketahui dari keduanya.


"Apa sudah baikan?"


Dinda tersentak kecil. "Lumayan," jawab Dinda pendek dan cepat.


"Bagus, saya akan mengantar kamu pulang. ... Rama!!" ujar Candra sambil beralih memanggil Rama.


"Iya, Bang?"


"Ini." Candra menyerahkan uang pecahan lima puluh ribu.


"Sebentar, saya ambil kembaliannya." Rama berbalik tapi seketika langkahnya tertahan.


"Tidak perlu, ambil saja buat kamu."


"Wahh, terimakasih Bang," ucap Rama tersenyum senang.


"Sama-sama, kami pulang dulu." Candra memasang sepatu, Dinda yang melihat langsung berdiri dan segera memasang sendalnya.


...🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


Sesuai janji Candra, Dia mengantarkan Dinda pulang ke rumah Bunda Vita yang langsung mendapat sambutan hangat.


"Loh, Nak Candra ... kenapa lama nggak ke mari?" tanya Bunda Vita di teras rumahnya.


"Iya, lagi sibuk Tante," jawab Candra tersenyum tipis dan bersalaman.


"Adin, kenapa bisa pulang sama Candra?" tanya Bunda yang juga menyalami Dinda.


"Tadi ada insiden kecil, jadi mobilnya harus di bawa ke bengkel! Kebetulan Mas Candra lewat, dan nawarin Adin tumpangan, Bunda," jelas Dinda tidak mengatakan tentang kecelakaan yang dia alami.


"Oh, gitu!"


Selagi Dinda sibuk dengan ceritanya yang tidak sengaja bertemu Candra pada Bunda Vita, Candra menatapnya lekat dan tak berkedip.


Ada sesuatu yang Candra pikirkan, dan entah itu apa.


"Nak Candra, ayo masuk dulu!"


Suara bunda Vita membuyarkan lamunannya. "Terimakasih Tante, tapi saya harus segera pergi. Karena ada keperluan sedikit," tolak Candra halus.


"Baiklah, tapi lain kali berkunjung lagi ya? Atau nanti, ikut buka puasa di sini?" usul Vita senang.


"Insya Allah, Tante. Terimakasih untuk ajakannya, saya permisi dulu. Assalamualaikum," pamit Candra.


"Waalaikumsalam."


Dinda dan Vita menatap punggung lebar dan kekar Candra yang perlahan menjauh


"Ayo masuk, sayang."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Waktu bergulir begitu cepat, jam menunjukan pukul empat sore hari. Adit datang menjemput Dinda, guna membawanya jalan-jalan yang dia katakan tadi siang.


Dengan senang hati Dinda menerima ajakan tersebut. Kini keduanya tengah singgah di sebuah restoran yang tersedia dalam sebuah Mall terbesar di kotanya.


Sengaja Adit memilih restoran itu, walau kendatinya Dinda mempunya restoran tapi dia ingin sekalian jalan-jalan berdua.


"Aku akan memberi tahu Mama ku, tentang dirimu. Selama ini Aku terlalu sibuk, dan belum sempat menemui Mama," kata Adit setelah pelayan pergi dengan catatan pesanan mereka.


"Aku Mas? Kenapa memberi tahu tentang diriku?" tanya Dinda panik.


"Tentu saja ... kau, kan calon istriku," ucap Adit sambil tersenyum.


Dinda diam, tidak dipungkiri jika dia merasa bahagia walau hubungannya tidak jelas. Namun, sekarang Adit sudah memperjelas siapa dirinya bagi pria dihadapannya.


Tiba-tiba sesuatu mengusik pikirannya. "Tapi masa idah-ku, belum sampai Mas," kata Dinda lirih.


"Apa tidak terlalu cepat?" lanjutnya bertanya.


"Masa idah-mu selesai mendekati lebaran, kan? Sebaiknya aku beritahu Mama sekarang, jadi pas lebaran tinggal lamar saja," sahut Adit enteng tapi tidak dengan Dinda.


"Bagaimana kalau seandainya ... seandainya ya, Mas," kata Dinda ragu, tapi harus dia utarakan.


"Seandainya apa?" tanya Adit cepat bertepatan pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Apa?" tanya Adit lagi usai pelayan pergi.


"Seandainya ... orang tua Mas Adit, menentang hubungan kita karena statusku, lalu apa yang akan Mas lakukan?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2