
...'Rasa malu ada karena kamu sadar akan apa yang kamu perbuat, maka berubah'lah.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Pandangan Dinda bertemu dengan orang yang berdiri di depan pintu, tapi Dinda buru-buru memutus kontak mata tersebut.
"Rahman, ayo masuk," ajak Dinda mengabaikan orang itu.
Tiba-tiba saja ingatan Dinda melayang pada saat kejadian di mana sepasang manusia sempat terlibat perdebatan di pinggir jalan, ketika dirinya menuju rumah Rahimah tadi. Sungguh diluar dugaan, pria itu kini telah berdiri tepat di hadapannya.
"Tante Dinda, apa tante Maryam ada di sini juga? Aku lihat mobilnya juga ada parkir di depan," tanya Rahman sambil masuk.
Seketika Dinda tersadar. "Iya, baru aja datang. Tadi pulang dulu katanya, baru ke sini. Mama kamu sempat ngomel karena kamu nggak ikut tante Maryam, tapi pas dijelaskan ayahmu ... baru dia diam."
Dinda melirik sekilas ke belakang dengan tetap berjalan bersama Rahman. "Imah, Rahman sudah datang."
"Rahman, ayo sini sayang ... kita makan bareng." Rahimah melambaikan tangannya pada Rahman.
"Candra, ayo ikut makan," ajak Abdar menyadari kehadiran pelatih Rahman.
Semua sedang berkumpul di ruang makan dan akan bersiap makan. Meja yang hanya muat untuk enam orang pun diletakkan ke samping, sedang mereka duduk dengan lesehan dan melingkar.
Ada sepasang pengantin baru yang duduk berdampingan. Di sisi Rahimah ada Ibu hamil, Nurul dan Dinda. Sedang di sisi Abdar ada Maryam, Intan dan juga Rayan.
Sementara Ustadzah Habibah dekat anak-anak bersama Nuri. Sedang Nuri duduk diam sambil bermain dengan Intan dan Rayan, dan tampak habis bangun tidur.
"Terimakasih, tidak perlu repot-repot. Saya langsung pulang saja," tolak Candra halus.
"Jangan seperti itu master, ayo makan siang sama kami dulu. Tidak perlu sungkan-sungkan," bujuk Rahimah menahannya pulang.
"Tidak apa-apa mbak Imah, saya memang harus pergi."
"Biar saja Imah, kalau dia mau pergi ... tidak usah dicegah," ucap Dinda menyela walau Abdar dan Candra hendak angkat suara, tapi keburu tertahan oleh kalimatnya.
Sedang yang lain hanya diam menyimak, tak berminat untuk menyampaikan pendapatnya.
"Tapi kan, Din ...." Rahimah masih kukuh ingin mengajak Candra ikut bergabung.
"Saya memang harus pergi sekarang mbak, karena ada sedikit keperluan."
"Biarkan saja yank, mungkin memang ada keperluan mendesak," kata Abdar menjadi penengah.
"Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya master."
"Iya mbak, Rahman ... saya pulang dulu," pamit Candra pada sang murid.
"Baik master," jawab Rahman.
"Bu Ustadzah, saya pamit." Candra memberi sedikit anggukan pada wanita paruh baya dan yang lain kecuali Dinda.
"Baik silahkan."
"Assalamualaikum," ucap Candra sambil melirik Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," sahut mereka serempak.
Dinda bahkan dengan sengaja menunjukan mimik wajah tak sukanya, Dinda seperti punya dendam pribadi dengan Candra.
Lagi-lagi Ingatannya mengulang, tapi kali ini bukan kejadian siang tadi ... melainkan ketika pertemuan pertama mereka, saat Dinda terjatuh di atas tubuh Candra. Mulai saat itu Dinda selalu sinis terhadap guru dari anak temannya tersebut, ditambah lagi soal masalah yang Dinda lihat siang tadi.
Dinda bergidik ngeri membayangkan kalau Candra adalah salah satu koleksi wanita kesepian itu.
Tidak ingin berpikiran lebih jauh, Dinda pun melanjutkan makanannya hingga selesai. Dinda juga membantu membereskan bekas makan mereka dan mencuci piring kotor.
"Di mana Imah?" tanya Dinda saat kerjaannya sudah beres.
"Tadi Abdar minta izin membawa Imah dan Rahman pergi, dia juga berpesan ... kalau kita mau pulang, silahkan saja. Karena akan ada pelayan Abdar yang menunggu rumah ini," jelas Ustadzah Habibah.
"Memangnya mereka mau ke mana, Bu?" celetuk Nurul.
"Katanya mau ngajak Imah melihat butik, di ujung jalan sana," jawab Ustadzah Habibah.
"Oh, butik yang baru itu. Mungkin mas Abdar pengen beliin Imah dan Rahman baju!" tebak Nurul.
"Sok tahu kamu. Ya sudah kalau begitu, Bu. saya mau pulang dulu," kata Dinda pamit pulang.
"Iya, ibu juga mau pulang. Nurul nunggu dijemput Ari 'kan? Apa sudah dijalan?" tanya Ustadzah Habibah tentang suami Nurul.
"Iya, sudah dijalan Bu."
"Apa tidak apa-apa kalau ibu tinggal duluan?"
"Nggak apa-apa, Bu. Ibu pulang saja."
Dinda dan Ustadzah Habibah akhirnya pulang lebih dulu, meninggalkan Soraya dan Nurul berserta anak-anaknya.
Di perjalanan ponselnya berdering, Dinda pun menepikan mobilnya dulu ... takut ada telepon penting.
"Assalamualaikum, ada apa Mil?"
📞"Kak Adin, pulang ke rumah Nggak?" tanya seseorang di seberang sana usai menjawab salam.
"Emmm, memangnya kenapa?"
Dinda memang belum menentukan akan pulang ke rumah yang mana, dan hanya asal menjalankan mobilnya.
📞"Aku nitip belikan snack ya, malam ini ada lembur," katanya memelas.
Satu helaan napas lolos dari mulutnya. Kalau begitu cara memintanya, sudah bisa dipastikan jika Dinda akan pulang ke rumah besar.
"Baiklah, akan kakak belikan," ucap Dinda pasrah. Lagi pula itu Dinda anggap sebagai membalas kebaikan adiknya tadi yang mau mengantarkan Bunda Vita pulang.
📞"Terimakasih Kak, aku tunggu di rumah. Love you .., ummuah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," balas Dinda sambil menggeleng.
"Dasar adik pintar merayu," gumam Dinda menggerutu.
Menjalankan mobilnya pelan, dan segera memarkirkan mobilnya saat melihat ada alfam4rt. Turun dari mobil Dinda langsung masuk.
__ADS_1
Memasuki toko tersebut, terlihat begitu banyak orang yang berbelanja. Mengambil keranjang dan segera menuju rak yang berjejer berbagai snack.
Tidak tanggung-tanggung, satu keranjang pun penuh dengan snack dan minuman bersoda untuk dirinya dan Kaamil.
Menyudahi belanjanya, Dinda ikut menganti untuk membayar semua barang yang diambilnya tadi.
Dinda mengerutkan kening, ketika tidak sengaja menangkap sekelebat bayangan seseorang yang sepertinya Dinda kenal dari balik rak di ujung.
Dengan masih memperhatikan, Dinda tersentak kecil saat ternyata orang itu memanglah orang yang dikenal. Buru-buru menoleh ke arah berlawanan agar tidak diketahui keberadaannya.
Tapi rupanya pertemuan itu tidak bisa terelakkan, karena orang itu kini sudah berada di belakangnya. Hanya saja orang itu belum menyadari jika itu ialah Dinda.
Ketika giliran Dinda membayar belanjaannya, sesuatu terjadi pada dirinya.
"Total semuanya, Rp. 227.999,00- ucap penjaga kasir yang menyerahkan tas belanjaannya.
Dinda meraba celana depan dan belakangnya, dan seketika panik karena dompetnya tertinggal di dalam mobil.
"Sebentar mbak, dompet saya ketinggalan." Dinda berbalik keluar menuju mobilnya.
Sempat beradu pandang dengan orang di belakangnya tapi Dinda seolah menganggapnya tidak ada, dan berlalu melewatinya.
Dalam keadaan yang mendesak, Dinda sempat kerepotan mencari di mana dompetnya. Dinda pun mengingat-ngingat di mana terakhir meletakkannya. Seketika Dinda tepuk jidat, seingatnya tadi dirinya tidak membawa dompet, karena dompetnya tertinggal di rumah Bunda Vita habis acara tadi malam.
Dinda memang teledor, ketika ponsel sudah ditangan maka Dinda merasa sudah membawa segalanya.
Ingin kembali mengatakan jika tidak jadi belanja, tapi Dinda malu. Untuk beberapa saat Dinda terpaku di tempatnya.
"Ini." Seseorang menyodorkan tas belanjaannya tadi.
"Hah," pekik Dinda kaget.
Mengerjapkan mata sambil melirik tas belanjaan dan orang itu bergantian.
"Ambil," perintahnya datar.
"Kalau nggak punya uang, jangan sok-sok an belanja banyak," katanya pedas.
Dinda tersinggung. "Saya bukan nya tidak punya uang, tapi dompet saya tertinggal," jawab Dinda ketus.
"Terserah, ambil ini," menyerahkannya ke tangan Dinda secara cepat.
"Jangan anggap ini gratis. Saya hanya tidak ingin kamu malu di depan orang banyak," ucapnya datar sambil pergi ke arah motornya di samping mobil Dinda.
"Saya juga tidak ingin minta dibayarkan, anda tenang saja ... saya akan menggantinya dua kali lipat," sahut Dinda cepat menahan geram.
"Bagus! Untuk saat ini saya tidak ada waktu mengambil uang itu, jadi lain kali akan saya ambil."
Ya jelaslah ... nggak mungkin saat ini, dompet aku'kan ketinggalan. Dodolll.
"Oiya ... apa kau tidak tau, ponsel sekarang sudah canggih! Jadi kita bisa menyimpan uang di dalam ponsel," katanya lagi tersenyum mengejek.
Dinda terkesiap dan mematung, lupa akan hal itu. Dinda terbiasa belanja menggunakan kartu, walau juga mempunyai dompet di ponselnya. Belum lagi menjawab, motor itu sudah pergi meninggalkannya dengan keb0d0hannya.
Astaga ... malunya aku.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....