Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
(Extra part) Naaman Malik Abrisam.


__ADS_3

PoV Dinda.


Melihat keinginan Mas Bara yang menginginkan seorang anak, tentu membuatku sadar. Bahwa aku tidak boleh egois dan berpikiran sempit.


Aku sempat lupa. Jika sebuah hubungan itu terjalin, maka akan ada rencana untuk masa depan yang disusun bersama. Dan salah satunya adalah seorang anak.


Sebenarnya bukan hanya Mas Bara yang menginginkan seorang anak. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku pun sangat menginginkannya, bahkan jauh sebelum pernikahan ini terjadi. Akan tetapi, entah kenapa bayang-bayang harapan palsu dan semu itu kini memenuhi pikiranku.


Apakah akan ada kemungkinan bahawa aku bisa hamil? Apakah aku bisa melahirkan anak, walau hanya sekali saja dalam hidupku? Apakah hasil tentang kesehatan rahimku yang menyatakan baik-baik saja itu keliru? Lalu kenapa dulu aku tidak bisa hamil jika tidak keliru? Berbagai pertanyaan selalu berputar-putar di benak tanpa kutahu jawabannya.


Mudah sebetulnya mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu. Aku bisa saja bertanya pada mama. Namun, pertanyaan itu tidak pernah muncul lagi ketika gugatan perceraian dari Mas Angga ada dalam genggaman tanganku. Dan sekarang, tiba-tiba pertanyaan itu mencuat begitu saja setelah mendengar keinginan Mas Bara.


Perlahan aku menghela napas dalam dan panjang. Berharap sesak yang menghimpit dada segera cepat menguap dan menghilang. Akan tetapi, tetap saja terasa tidak nyaman dan mengganggu paru-paru ku.


Seperti malam-malam sebelumnya. Mas Bara selalu mendekap ku erat ketika kami akan tidur guna memberikan ketenangan untukku. Tidak lupa juga meninggalkan kecupan mesra di kening dan bibirku. Sekarang aku menyadari, hubungan kami semakin erat dan saling bergantung.


Aku sangat berharap, jika dalam hubunganku yang sekarang tidak akan mengalami kegagalan untuk kedua kalinya lagi. Hanya itu pintaku.


Aku pun memutuskan jika besok berkonsultasi dengan mama, dan bertanya lebih mendalam tentang yang dulu kuanggap enteng dan tidak penting lagi.


Sesuai rencana, tadi malam mama sudah ku hubungi dan kami pun membuat janji. Mas Bara yang bertanya ke mana aku akan pergi, lantas aku jawab jujur. Bahwa aku akan ke rumah sakit menemui mama dan temannya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan. Bukan tidak bisa berkonsultasi dengan mama. Hanya saja mama merekomendasikan temannya, yang seumuran denganku.


Mas Bara yang awalnya hendak pergi ke kantor, malah putar haluan dan ingin ikut denganku. Katanya ingin mendengar langsung, dan kami sempat berdepat jika Mas Lintang akan marah padanya.


Namun, rupanya menasehati Mas Bara hanyalah sia-sia. Dia segera menghubung Mas Lintang dan meminta bolos kerja. Ya ampun Mas Bara, bolos kamu itu sudah terlalu sering dan banyak. Aku hanya bisa protes di dalam hati. Setibanya di rumah sakit, aku menghubungi mama dan langsung menuju ruangan yang mama maksud.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Apa saya masih bisa hamil, Dok? Sementara usia saya sudah mau tiga puluh dua tahun?" ungkap Dinda khawatir yang selama ini menjadi tanda tanya di benaknya. Namun, dia enggan bertanya lebih rinci pada sang mama yang notabennya seorang dokter kandungan.


Saat ini Dinda, Bara, dan Mita tengah duduk menghadap dokter yang tidak bukan adalah rekan dari Mita. Kedua pasangan muda itu menyimak dengan begitu serius.


"Umumnya wanita usia dua puluh tujuh hingga tiga puluh empat tahun memiliki kemungkinan hamil kurang dari empat puluh persen. Sedangkan wanita dengan usia tiga puluh lima hingga tiga puluh sembilan tahun memiliki peluang kurang dari tiga puluh persen untuk hamil. Dan untuk kasus Mbak Dinda ini, tentu termasuk katagori yang pertama," jelas dokter yang memiliki nama Paulina.


"Jadi, saya masih memiliki peluang untuk hamil, Dok?" Dokter Paulina mengangguk, "tapi bagaimana kalau saya tidak bisa hamil?" cicit Dinda.


"Dari analis catatan kesehatan untuk kondisi Mbak Dinda saat ini, secara keseluruhan sangat baik. Seperti kesehatan reproduksi, tekanan darah, tes urine dan kadar gula darah ... semuanya normal. Saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter menenangkan, "begitu juga dengan Mas Candra, kesehatan reproduksi kalian sangat bagus," lanjutnya sambil mengamati beberapa berkas kesehatan, "saya akan resepkan myo-inositol, asam folat dan melatonin untuk membantu meningkatkan kualitas telur dan fungsi ovarium."


"Jadi, tidak ada masalah Dok?" Dinda memastikan ulang yang mendapat anggukan dari sang dokter. Seketika Dinda merasa lega, begitu pula Candra.


"Yang harus Mbak Dinda lakukan adalah menjaga pola hidup sehat dengan diet seimbang dan rutin berolahraga untuk mencegah terjadinya kegemukan. Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi seperti makan buah dan sayur," lanjutnya, "lakukan hubungan intim secara teratur. Jangan terlalu stress dan kelola dengan baik," wajah Dinda seketika bersemu ketika mendengar saran dari sang dokter.


"Baik, dokter," celetuk Candra yang dilirik kesal oleh Dinda.


Dokter Paulina dan Mita seketika tersenyum melihat keduanya.


"Konsumsi vitamin E dan asam folat. Oiya, Masnya nggak merokok, kan?" tanya Paulina beralih pada Candra.


"Tidak, Dok. Tapi, pernah coba waktu ditawari temen," jawab Candra jujur.


"Kamu pernah merokok, Mas?" Dinda terkejut mendengar pengakuan suaminya.


"Pernah, waktu di kantor," ucapnya tidak enak, "tapi itu dulu, Yank," lanjutnya cepat ketika melihat tatapan membunuh dari Dinda.

__ADS_1


"Tapi sekarang tidak lagi, kan, Mas?" dokter memecah intraksi Dinda dan Candra.


"Tidak, Dok," kata Candra tegas dari jawaban pertama.


"Bagus. Saya harap kedepannya, Mas Candra jangan coba-coba lagi, ya!" peringat Dokter Paulina sembari tersenyum ramah.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Satu bulan, dua bulan, tiga bulan ....


Hari-hari yang kulalui penuh penantian dan rasa kekhawatiran. Bagaimana tidak, dulu ... aku pernah berada di posisi ini selama tiga tahun lamanya. Namun, sekarang ada yang berbeda. Jika dulu yang kurasakan adalah, seperti seorang istri yang diabaikan dan tidak dinginkan. Sedangkan sekarang, aku meresa begitu diperhatikan dan dipuja oleh Mas Bara.


Tidak hanya itu, Mas Bara selalu memberi kata-kata penyemangat untuk harapan kami. Agar aku tetap berpikir positif dan berbaik sangka kepada pemilik kehidupan.


Seperti pagi ini. Aku baru saja memeriksa kalender pengingat tamu bulananku, karena aku merasa sudah lama tidak mendapatkan bulanan itu. Dan seketika aku terkejut, ketika menyadari jika tanggal yang memang sudah diperhitungkan telah lewat satu minggu lebih.


Tidak, tentu saja aku tidak akan memberitahukan Mas Bara dulu sebelum ada kepastian. Diam-diam aku membeli alat yang biasa para wanita gunakan untuk memeriksa kehamilan di apotik terdekat sebelum Mas Bara pulang dari kantor. Tidak tanggung-tanggung ... aku bahkan membeli sepuluh buah alas tes kehamilan itu dengan berbagai merek yang berbeda-beda.


Sesuai petunjuk penggunaan. Jika aku ingin mendapatkan hasil yang akurat dan bagus. Maka akan lebih baik digunakan di pagi hari. Aku putuskan besok saja menggunakannya, karena hari sudah sangat siang.


Subuh-subuh sekali, aku ke kamar mandi usai solat subuh. Aku pun membawa lima buah alas tes kehamilan dan segera mencobanya sekaligus. Hingga hitungan yang ke lima menit, barulah kulihat hasilnya.


"Ya Allah," kataku lirih ketika hanya mendapati garis satu di kelima alat kecil itu.


"Ternyata nggak hamil."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Pagi ini aku dikejutkan dengan kabar jika Aya akan melahirkan. Tentu aku sangat senang mendengar berita itu. Ternya Aya sudah dibawa ke rumah sakit sejak subuh. Saat aku dan Mas Candra sampai di depan ruang persalinan, aku tersentak ketika mendengar teriakan Aya yang menjerit kesakitan dari dalam ruangan.


Selang beberapa menit, teriakan itu semakin nyaring dan panjang. Seketika aku menelan ludah dan langsung takut untuk hamil.


"Apa sebaiknya aku tidak usah hamil saja, ya?" tentu pertanyaan itu ada dalam benakku.


Akan tetapi, pertanyaan itu tiba-tiba menguap begitu saja ketika suara Aya kini berganti dengan suara tangis bayi, membuat hatiku bergetar hebat dan menggila.


Kulirik dan kugenggam tangan sahabatku yang sejak tadi duduk di dekatku. Senyum mengembang pun tidak lepas dari wajahnya. Tanganku seketika terulur untuk mengusap perut besarnya.


"Hahaha," Imah tertawa kecil saat kurasakan tendangan dari perutnya.


"Kerasnya?" tanya Imah, karena mendapati aku yang tersentak.


"Iya," jawabku apa adanya.


Tidak lama kemudian seorang dokter datang memberitahukan kami, bahwa persalinan Aya sudah selesai dan akan dipindah ke ruang perawatan. Seorang bayi mungil berambut lebat adalah hal pertama yang aku lihat ketika masuk ke dalam bangsal tempat Aya tinggal.


Bayi itu terlihat damai dalam buaian sang ayah, tanpa mempedulikan keributan yang tengah kami buat. Siapa lagi jika bukan aku, Nurul, dan Imah, sementara Aya terlihat kelelahan, namun tetap memaksakan berinteraksi dengan kami.


"Sebaiknya kita biarkan Aya, istrahat dulu," usul Imah yang langsung kami setujui.


Aku dan Mas Bara tidak terlalu lama berkunjung, mengingat Aya juga pasti ingin ketenangan saat dia istrahat. Pulang dari ruangan Aya, aku berpapasan dengan seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi bersama pasangannya. Aku pun langsung membuang muka ketika wanita dan pria itu menatapku.


"Maaf," aku terkejut bukan main ketika wanita itu memyapaku dengan kata maaf.

__ADS_1


Aku menoleh dan kulihat wajah penuh penyesalan begitu nampak dari keduanya.


"Maaf, karena aku ... kau mendapatkan banyak masalah," terdengar tulus, namun aku enggan untuk menjawabnya.


"Dinda, aku tahu kalau kau tidak akan memaafkan kami begitu saja setelah apa yang terjadi padamu. Tapi, asal kau tahu saja, kalau kami tulus mengatakan ini. Sekali lagi, kami minta maaf."


"Kami sudah memaafkan kalian," bukan aku yang menjawab, tapi Mas Bara, dan aku membiarkannya.


"Terimakasih," Mas Angga dan istrinya mengatakan secara bersamaan.


"Kenapa, apa aku salah karena sudah memaafkan mereka?" Mas Bara bertanya ketika aku hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang.


"Tidak," jawabku jujur, "aku juga sudah memaafkan mereka."


"Lalu, apa yang kau pikirkan?"


"Entahlah, aku hanya merasa aneh saat melihat wajah istri Mas Angga."


"Terlihat pucat?"


"Ya, pucat. Apa dia sedang sakit?"


"Mungkin."


Dan pertanyaan itu terjawab setelah dua hari kemudian. Aku mendengar kabar jika istri Mas Angga meninggal karena sakit berat. Tentu saja aku merasa prihatin, terutama kepada bayi mereka yang sempat mencuri perhatianku kala pertemuan itu.


Tidak sampai disitu, selang beberapa hari kami kembali mendengar kabar duka, jika Mas Angga mengalami kecelakan hingga merenggang nyawa saat kejadian.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun," untuk kedua kalinya aku mengucapkan kalimat itu.


"Saya selaku pengecara dari Pak Angga, ingin menyerahkan surat wasiat yang beliau tulis."


Aku dan Mas Bara saling tatap tidak mengerti dengan kedatangan pengecara almarhum Mas Angga bersama seorang wanita muda yang menggendong bayi. Bisa dipastikan jika bayi itu adalah anak dari Mas Angga.


"Beliau menyerahkan ini dan berpesan pada saya untuk memberikannya pada kalian sebelum kecelakaan itu terjadi. Sepertinya beliau memang sudah mendapatkan firasat saat menulis surat ini," pengacara itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, dan tertutup rapat oleh perekat.


"Apa ini," Mas Bara bertanya sambil membolak-balik amplopnya.


"Silakan Anda membacanya sendiri!"


"Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan surat ini dan diwakili pengacara ku, aku ingin menitipkan putraku kepada kalian. Aku memohon pada kalian agar mau membesarkan putraku! Semua ini aku anggap sebagai permintaan maafku yang pernah menyakiti Dinda. Sekali lagi ku mohon pada kalian. Tolong rawat dan jagalah putraku seperti anak kalian sendiri! Terimakasih. Wassalamu'alaikum Wr. Wb."


Air mataku seketika jatuh ketika mendengar isi surat yang telah Mas Angga tuliskan untuk kami. Ku ambil bayi berusia dua bulan itu dari wanita yang menggendongnya. Dia tertawa dan menepuk-nepuk pipiku yang banjir air mata.


"Namanya siapa, Mbak?" aku bertanya tanpa mengalihkan pandanganku.


"Marvin, Nona."


"Sekarang namanya, Naaman Malik Abrisam," kataku tiba-tiba sambil menoleh pada Mas Bara, "Mas tidak keberatan, kan, jika aku tambahkan nama keluargamu? Abrisam."


"Jika kau menginginkannya, aku tidak masalah."


Aku tersenyum bangga dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi pada Malik, "Selamat datang putra, Bunda."

__ADS_1


__ADS_2