
...'Bagaimana kau bisa bangkit. Jika penyebab sedih mu masih terus kau pelihara dengan mengingatnya setiap hari.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Selesai sholat Magrib di Mushola mall, Dinda dan Adit segera memisahkan diri dari Lintang dan Luna.
Selain ingin mengikuti tarawih pertama, Dinda memeng ingin menghindari Luna. Bukan tanpa alasan Dinda demikian, hanya saja kalau dia tidak melakukan itu maka mulutnya akan terasa gatal untuk menyindir lagi. Mengingatkan wanita itu tentang dosa yang sengaja dikerjakannya.
Keluar dari gedung yang menyediakan berbagai perlengkapan keperluan orang-orang tersebut, Adit dan Dinda langsung melangkah ke tempat parkiran.
Membukakan pintu depan samping kemudi untuk Dinda, Adit kembali mengitari mobilnya dan gegas duduk di balik kemudi. Memasang sabuk pengaman, menghidupkan mesin, sedetik kemudian mobil melesat dengan perlahan.
Di jalan, Dinda tidak berhenti mengomel karena Adit yang tadi mengajaknya menonton membuat mereka harus pulang telat dan khawatir tidak bisa ikut tarawih.
Dinda bahkan dengan begitu berani mengancam Adit. Jika dia tidak sempat ikut tarawih, maka jangan harap Adit bisa bertemu dirinya lagi.
Dengan keahlian mengemudi yang Adit miliki, mereka pun sampai lebih cepat dari perkirakan. Hanya saja jika Adit pulang, dialah yang tidak bisa tarawih, karena jarak rumahnya yang lumayan jauh.
"Kenapa pulangnya telat?" omel Bunda Vita menyambut Dinda sambil berkacak pinggang.
"Maaf Tante, ini salah saya," sahut Adit ke luar dari mobil sambil menggaruk-garuk tengkuknya tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Nak Adit, tapi sudah sholat Magrib, kan?" tanya Vita.
Sebelum Adit mengajak Dinda pergi tadi, mereka sudah berkenalan. Itu sebabnya mereka bisa bicara akrab.
"Iya Tante," sahut Adit nyengir melihat muka cemberut Dinda.
Tentu Dinda cemberut, karena tadi bunda Vita hendak memarahinya. Namun, ketika bicara dengan Adit langsung memaklumi mereka yang telat pulang.
"Ayo masuk dulu. Nak Adit ikut tarawih di sini saja, nanti Bunda pinjam, kan baju Ayah," tawar Vita dan langsung diiyakan Adit kesempatan tersebut.
Dinda gegas membersihkan diri, begitu juga Adit yang dipersilakan membersihkan diri di kamar mandi tamu.
Adit dengan pembawaan dirinya, sangat mudah meng'akrab, 'kan diri kepada Vita mau pun Alvaro. Kini mereka berempat pergi ke masjid bersama-sama.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Memasuki kamarnya, Dinda tersenyum-senyum sendiri. Dia masih tidak menyangka kalau Adit tadi ikut tarawih bersama dengan mereka.
__ADS_1
Usai menyimpan mukena dan sajadah, Dinda langsung berbaring di atas kasurnya. Mata bulat tidak terlalu besar itu tidak langsung terpejam, Dinda menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkelana.
Memikirkan apa yang tadi sempat menjadi pembahasan ketika di restoran. Bahwa Adit akan memberitahu, kan, tentang dirinya pada orang tua Adit dan segera melamar usai lebaran.
Senang? Tentu ada rasa senang, yang menyusup dalam relung hatinya. Namun, selain senang rasa takut pun tak kalah mengganggu pikirannya.
Dinda terus memikirkan ini berkali-kali, bahkan mungkin sudah ribuan kali sebelum Adit mengutarakan niatnya tadi. Memiliki pendamping hidup memanglah keinginan setiap orang, termasuk Dinda.
Namun, keadaannya berdeda dengan dirinya sekarang yang baru saja berpisah, bahkan masa idah-nya saja belum genap. Ditambah lagi ketakutan memulai kembali mahligai rumah tangga menjadi pertimbangannya.
Seandainya, dia dikenalkan dan ditolak oleh orang tua Adit, jelas itu sudah menjadi tamparan keras bagi Dinda. Seandainya jika Adit tetap bersikeras pada rencana awalnya untuk mempersunting nya ... Dinda tidak akan bisa menjamin hidup tenang dengan bayang-bayang tanpa restu orang tua.
Senyum yang tadi terbit menggambarkan suasana hatinya kini berangsur sirna, yang awalnya cerah seketika mendung.
Memajamkan mata guna menguragi dilema yang sedang melanda, antara nalar dan logika. Bunyi dering ponsel membuat mata yang sudah tertutup seketika terbuka.
Menyambar ponsel di atas nakas, lantas membaca identitas si penelfon. "Kaamil," gumam Dinda sebelum menjawab.
"Assalamualaikum, Mil," ucap Dinda cepat.
📞"Wa'alaikumussalam, kak," balas Kaamil di seberang sana.
📞"Ada apa Mil, ada apa Mil ..," omel Kaamil nyaring terdengar kesal.
Dinda sedikit menjauhkan ponsel dari daun kupingnya, karena suara Kaamil yang membuat telinganya sakit.
"Kenapa sih, kok malah marah-marah?" balas Dinda bersungut-sungut kesal, hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja dan sekarang Kaamil menambahnya.
📞"Kakak tega banget sih, masa aku sendirian terus di rumah."
Dinda baru ingat kalau Mama dan Papanya sekarang tidak berada di rumah melainkan di Kalimantan. Dinda mengerti kenapa Kaamil terdengar sangat kesal dengannya, rupanya lelaki itu kini kesepian.
Dia yang awalnya ikut kesal, tiba-tiba menguap begitu saja. Dinda menutup mulutnya agar suara tawanya tidak sampai terdengar sang Adik satu-satunya.
"Apa susahnya sih Mil, susul aja Kakak di sini," kata Dinda sambil menahan tawa. Terdengar Kaamil berdecak sebelum kembali bersuara.
📞"Enak bener ngomong nya, kenapa nggak Kakak aja yang pulang."
Kini Dinda pun berdecak, "Kalau nggak mau, ya nggak usah. Mending kakak di rumah Bunda aja," ucap Dinda sambil merubah posisi tidurnya menyamping dan memeluk guling.
__ADS_1
📞"Ya sudah, besok sore aku ke sana. Aku nggak mau buka puasa sendirian," keluh Kaamil akhirnya mengalah akan menyusul.
"Iya, itu lebih bagus ... Kakak tunggu kamu, nanti Kakak kasih tau Bunda sama Ayah."
Malam kian meninggi dan mata yang sudah mengantuk, menjadi alasan bagi Dinda untuk mengakhiri telepon Kaamil.
Sejenak berbicara dengan Kaamil membuatnya lupa akan masalah hubungannya bersama Adit. Tanpa beban dan terasa ringan, Dinda tertidur menuju alam mimpi.
Dinda sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi beberapa hari kedepannya. Yang di pikirannya nanti adalah, Dia akan menikmati hari-hari menjelang masa idah-nya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Adit yang sudah diberi tahu Dinda tentang mobilnya yang masuk bengkel, dengan senang hati menawarkan diri untuk menjemput Dinda ke restoran. Sebenarnya Dinda sempat menolak, tetapi lelaki itu memaksa.
Seperti pagi ini, Adit sudah datang menunggunya dan sedang berbicara bersama Alvaro. Walau sudah memasuki bulan puasa, bukan berati Dinda harus bermalas-malasan mengurus restorannya.
"Ayo, Mas Adit," ajak Dinda yang baru muncul dari lantai atas.
"Sudah siap?" Adit kembali memastikan.
"He'eh," jawab Dinda bergumam.
"Baiklah. Om, kami permisi dulu," dengan sopan Adit berpamitan.
"Ya, kalian hati-hati di jalan."
"Bunda, kami berangkat sekarang," kata Dinda yang melihat Vita datang.
"Oh, sudah siap ya? Hati-hati ya, kalian," sahut Vita.
"Titip anak Om, ya." Al menepuk punggung Adit pelan.
Tentu Alvaro dan Vita tidak khawatir membiarkan Dinda pergi dengan Adit, karena semenjak menunggu tadi mereka saling bercerita satu sama lain. Itu cukup membuat mereka saling mengenal, malam tadi pun Alvaro dan Adit terlihat sangat Akrab.
"Siap, Om." Adit mengangkat tangan nya ke kening, memberi hormat.
Saling memberi salam kepada Alvaro dan Vita, barulah Adit dan Dinda pergi menuju tempat restorannya di hari pertama puasa.
Tanpa siapa pun yang menyadari, dari jauh'an ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka dan langsung mengikuti dari jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....