
Dinda sedang duduk bersila di atas kasur empuk nan nyaman sambil memangku bantal. Salah satu tangannya yang bertumpu di atas bantal itu tengah disibukan memegang ponsel yang sedang menampilkan wajah teman-temannya dan seorang anak kecil.
"Ciee ... besok menikah niye ...," goda Nurul mengudara sambil menciumi pipi gempal Nuri. Layarnya bahkan bergerak tak menentu.
Sementara sang batita tampak tidak terusik, padahal waktu sudah menunjukan pukul 21:25 malam. Namun, anak kecil yang tengah asyik memengang kendali ponsel itu terlihat masih segar.
"Iya, tapi caranya ini lo---," keluh Dinda.
"Nggak apa-apa sama cara pintasnya, yang menting niatnya ikhlas," ujar Soraya menimpali.
"Ambil hikmahnya aja, Din. Kamu, kan, jadi nikah sama Mas Adit, gara-gara masalah ini. Mendadak pula!" seru Nurul.
"Ehh aku jadi keingat, Imah nih .... Imah, kan, dulu nikahnya juga mendadak, ya?" ujar Soraya. Tangannya terlihat turun naik di atas permukaan perut yang membuncit, sehingga terlihat di depan layar ponsel karena posisi duduk setengah bersandar di atas bantal yang bertumpuk di belakang punggungnya.
"Iya ... mendadak seperti, Imah. Tapi beda kasusnya, kasus aku ini lebih parah," keluh Dinda murung.
"Oya? Lebih parah dari, aku? Masa sih?" sahut orang yang digunjingkan. Dari tadi lebih banyak menyimak, dan seketika terganggu karena merasa dibandingkan.
"Apa kamu sudah tahu, bagaimana rasanya mengandung dan membesarkan anak tanpa seorang suami? Atau, anakmu dikatakan anak h4r4m oleh seseorang, yang dikatakannya langsung sama anak kamu? Lalu bagaimana rasanya kehilangan, saat anakmu diculik? Dan yang lebih menyakitkan ... bagaimana persaanmu, ketika ditolak sama calon mertumu? Dan satu lagi, jangan lupakan depresi! Apa itu semua lebih parah dari, kamu?" kata Rahimah menggebu-gebu dan penuh penekanan di setiap kalimatnya karena tersulut.
"Bu--bukan seperti itu maksudku, Imah," larat Dinda lirih menyadari kesalahan ucapannya.
"Aku mohon ... kamu jangan marah ya? Aku benar-benar menyesal mengatakan itu, aku minta maaf, Imah?" pinta Dinda sungguh-sungguh.
"Iya, Imah ... maafin, Dinda! Kami tau bagaimana perjuangan, kamu dulu. Jelas masalah Dinda ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan sama, kamu. Mungkin Dinda, hanya merasa tertekan ... jadi dia lupa sama penderitaan, kamu," hibur Soraya agar temannya itu tidak tersinggung.
Sedangkan Nurul hanya diam memperhatikan ketiganya dengan layar yang selalu bergerak-gerak akibat ulah, Nuri.
Hening ... video call yang sedang berlangsung hanya menunjukan gambar tanpa suara. Ditambah lagi layar yang menunjukan keberadaan Rahimah kini berubah hitam. Namun, mereka tahu ... bahwa temannya itu masih di situ.
"Pa-pa," celetuk Nuri.
"Hei sayang, belum tidur ya?" itu suara Ari yang perlahan mendekat.
"Lagi ngapain, sih? Sini sama, Papa," lanjut Ari. Beberapa detik gambarnya menunjukkan langit-langit kamar, kemudian berganti lagi dengan wajah Nurul yang menatap ke arah lain.
"Sebentar," bisik Nurul sambil mengangkat tangan ke pipi yang ketiga jarinya di lipat ke dalam dan menyisakan ibu jari serta jari lengking, isyarat menelepon.
__ADS_1
"Imah, Dinda, dan juga Aya," sapa Nurul memecahkan kebisuan mereka.
"Aku harap ... apa pun yang terjadi di antara kita. Kita tetap berteman dan saling mendukung satu sama lain! Jangan ada yang merasa lebih menderita di antara kita, karena sejatinya kita tidak bisa mengukur segala sesuatu hanya dengan apa yang kita rasakan. Masih ada di luaran sana yang mungkin jauh lebih sakit dan juga menderita dari, kita. Aku harap ini akan jadi pengingat kita," ucap Nurul bijak.
"Aku setuju sama, Nurul. Imah ... kamu maafin, Dinda ya? Kita nggak boleh beramtem hanya karena berselisih gini, kita harus saling mengingatkan dan saling dukung," sambung Soraya.
"Maaf, Imah," lirih Dinda. Tenggorokannya tercekat, mendadak matanya memanas dan mengabur, karena sang sahabat masih belum menampakkan wajahnya pada layar ponsel.
"Sayang ... kenapa nangis?" suara bas yang menegur Rahimah dengan nada panik membuat ketiganya terkesiap.
Dinda mendekap mulutnya sedetik kemudian guna meredam isak tangis yang tak tertahankan. Soraya dan Nurul, ikut terhanyut dalam kesedihan kedua sahabatnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku nangis, gara-gara tadi liat drakor," elak Rahimah yang bisa mereka dengar.
"Sejak kapan, kamu suka drakor? Perasan aku, kamu nggak pernah nonton?" cetus suami Rahimah.
"Sejak hari ini," jawab Rahimah pelan.
"Udah ah, aku mau liat drakornya lagi. Mas Abdar, mending pergi dulu sana," usir Rahimah.
"Maaf ya, gays. Aku terlalu menanggapinya serius. Aku nggak marah kok, sama Dinda. Udah ah, jangan ikut sedih juga, kalian."
Seketika kelegaan singgah di hati ketiga temannya, mereka pun saling meminta maaf jika ada salah yang tanpa sengaja diperbuat mereka.
"Tumben, ucapanmu bijak, Rul?" tanggap Dinda mengingat setiap kalimat yang diucapkan Nurul tadi.
"Iya dong, Nurul gitu loh!" sahut Nurul bangga.
"Cuman ini aja, kali," ejek Soraya membuat Nurul mencebik, kan bibir dan dibalas tawa renyah oleh yang lain.
"Udah dulu ya, Mas Abdar udah balik nih," pamit Rahimah hendak mengakhiri sambungan teleponnya.
"Iya, Nuri juga udah mulai rewel," terdengar suara anak kecil yang mulai merengek.
"Aku juga udah ngantuk!" kata Soraya sambil menutup mulut yang menganga.
"Assalamualaikum," ucap ketiganya bersamaan, setelah sempat berjanji akan datang ke rumah Dinda besok siang.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Dinda mematikan ponselnya dengan pandangan menerawang jauh.
Ingatannya menggali lebih dalam lagi tentang perjalanan hidup temannya. Menghela napas berat, menyadari jika penderitaannya tidak sebanding dengan teman itu.
Dinda menderita akibat sebuah skandal, tapi dia lupa. Bahwa di dunia ini bukan hanya dirinya yang paling menderita. Terbukti dengan Rahimah, mungkin juga masih ada wanita lain seperti Rahimah di ujung dunia ini.
.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
.
Dinda menatap pantulan dirinya di depan cermin yang menampakkan sekujur tubuhnya. Memindai ulang baju kebaya putih lengan panjang nan sederhana yang sudah membalut tubuh kecilnya dengan jilbab senada.
Kedua tangannya saling bertautan. Keringat dingin mulai membanjiri telapak tangan, diiringi degup jantung yang tak beraturan. Walau ketiga temannya tengah menemani, tapi tidak bisa menghilangkan kegundahan.
Ini memang bukan pernikahan pertamanya. Akan tetapi, bukan itu saja yang membuat perasaannya gugup dan gelisah tak mentu arah. Kehadiran sang kekasih yang mengusik ketenangannya.
Dinda sudah berpesan kepada pelayan untuk mengabarinya, jika calon suaminya sudah datang. Namun, di waktu yang sudah ditentukan, Adit belum juga muncul. Bertambah gelisah-lah jiwanya memikirkan itu semua.
"Yakin aja ... Mas Adit, pasti datang." Nurul menepuk pundaknya pelan dan memberi motivasi.
"Tadi sebelum ke sini, Mas Abdar juga sudah telepon dia! Katanya lagi siap-siap." Rahimah ikut menenangkan.
"Mungkin lagi kena macet." Soraya berbaik sangka.
Bunyi ketukan dari arah di pintu, mengambil atensi mereka bersamaan. "Biar aku, yang buka." Rahimah lekas membukakan pintu.
"Non, calon suaminya sudah datang," kata pelayan memberi kabar bagai angin segar.
"Alhamdulilah," seru Rahimah, Soraya dan Nurul bersama membaca hamdalah.
"Kata Tuan, Non Dinda disuruh tunggu di sini sampai ijab-nya selesai," pesan pelayan sebelum berlalu.
Dinda mengangguk dan menurut. Menunggu di dalam kamar bersama ketiga sahabatnya, berharap acara diberi kelancaran seperti apa yang diharapkan.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1