
Dinda langsung melarikan diri setelah mendengar pengakuan Candra yang sangat mengejutkan. Tidak dipungkiri memang, jika kalimat yang terlontar dari bibir tipis suaminya menggetarkan dan menghujani jiwa yang sedang gersang. Belum lagi sentuhan fisik yang membuat seluruh darahnya berdesir, walau hanya punggungnya yang menempel di dada bidang Candra, tapi itu sukses membuatnya malu dengan jantung yang berdetak menggila.
Setiap akan berpapasan dengan Candra, Dinda akan putar badan dan menghindarinya. Dia masih belum mampu mengontrol diri untuk tidak tegang dihadapan Candra, dan menghindar adalah jalan satu-satunya.
"Apa kau sedang mehindariku?" tanya Candra sambil menutup pintu kamar. Usai makan malam bersama, Dinda langsung kembali ke kamar tanpa menunggunya.
"Untuk apa? Dan kenapa aku harus menghindari kamu, Mas?" Dinda balik bertanya dan mencoba bersikap normal.
"Aku tidak tau. Tapi aku merasa, kau sedang menghindariku!" ucap Candra berjalan mendekat ke arah Dinda.
"Hahaha, itu hanya perasaan kamu saja, Mas," kelekar Dinda.
"Ah, aku lupa belum gosik gigi!" imbuhnya langsung berlari kecil ke kamar mandi ketika Candra semakin mendekat dan hampir tak berjarak.
Di dalam kamar mandi, Dinda menghela napas panjang sembari menyusap dadanya yang gugup.
"Hfuh ... jantung, ada apa denganmu?" gumam Dinda mengeluh sambil menatap wajahnya di cermin besar.
Mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan, hingga mengulangnya beberapa kali agar jantungnya bisa kembali normal.
Teringat dengan tujuannya masuk kamar mandi, Dinda gegas menggosok gigi walau sebenarnya dia sudah gosok gigi. Tidak seperti biasanya, kali dia sengaja lebih lama menggosok giginya. Akibat dari ulahnya, tiba-tiba saja Candra langsung masuk karena pintunya tidak dikunci.
Dinda melotot dengan sikat gigi masih dalam mulutnya.
"Aku juga mau gosok gigi, lama kalau nunggu kamu," papar Candra berdiri di sampingnya sambil mengambil sikat gigi dan pastanya.
Dinda tidak bisa berkata apa pun selain lekas mencuci mulutnya dan berlalu lebih dulu, meninggalkan suaminya.
Dengan langkah cepat, Dinda langsung masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata. Berharap suaminya mengira, dia sudah tidur.
Akan tetapi, dalam mata terpejam, tanpa dikomando pikirannya berkelana hingga sampai pada percakapan bersama ketiga temannya saat di restaoran.
"Kewajibab istri, hak suami," gumam Dinda dalam hati.
Hingga tiba-tiba, Dinda merasa ada pergerakan di sampingnya. Ya ... Candra turut berbaring di sisinya, membuat hatinya campur aduk tak karuan. Tidak lama kemudian terdengar lampu yang dimatikan.
Satu detik ....
Dua detik ....
Tiga detik ....
__ADS_1
Dinda menyerah dan membuka mata, melirik ke samping di mana suaminya berada. Bisa Dinda lihat, walau dalam penerangan yang temperam, Candra tengah terpejam, dan dia mengela napas berat. Ada sesuatu yang mengusiknya, dan ingin dia tanyakan kepada Candra. Namun, Dinda tidak ada keberanian untuk mengatakan semua yang ada dipikirannya.
"Apa ada sesuatu yang kau, pikirkan?"
Hampir saja Dinda melompat, karena pertanyaan itu. Menatap Candra yang tetep terpejam. Perlahan terbuka dan menoleh kepadanya.
"Kebiasaan deh, Mas Candra ini. Suka banget tanya sambil merem. Kok dia bisa tau ya, ada sesuatu yang kupikirkan?" batin Dinda penasaran.
"Kenapa tanya gitu?" tanya Dinda gugup menelan ludah.
"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Mungkin ada yang ingin kau tanyakan?"
Dinda diam sambil berpikir.
"Emm ...."
"Tadi siang papah menelpon, dia bilang ingin bertemu denganmu," pangkas Candra.
"Hah, papah mau ketemu? Kapan?"
"Nanti kita akan ke Bandung secepatnya," jawab Candra.
Menyingguk tentang orang tua Candra, membuatnya kembali teringan tentang cinta sejati ayah mertuanya itu.
"Apa?" tanya Candra sambil memiringkan badan menghadap Dinda.
Dinda terkesiap, tiba-tiba saja lidahnya kelu. Jantungnya kembali memberontak. Ingin batal bertanya, tapi sudah terlanjur.
"Emm, apa ... Mas Candra---," Dinda menghentikan kalimatnya guna menelan ludah.
"Hmm?" gumam Candra menanggapi.
"Apa Mas, mengingankan hakmu sebagai suami?" tanya Dinda pelan sambil menunduk.
Hening ... Dinda tidak mendengar jawaban membuatnya kembali menatap Candra.
Pandangan keduanya terkunci, perlahan tangan Candra terangkat dan mendarat di mermukaan pipi Dinda. Tentu saja itu membuatnya terkejut bukan main dan semakin gugup. Di dalam hati dia merutuki kebodohannya atas pertanyaan tadi. Menyesal karena berani bertanya demikian, tapi tidak bertanya pun akan semakin tidak tenang.
"Aku ini laki-laki normal! Saat sepasang manusia dihadapkan dalam satu kamar, apa lagi wanitanya halal baginya. Dan jika kau bertanya seperti itu? Maka sudah jelas ... jawabannya, iya!"
Dinda melotot dengan pengakuan Candra yang sangat jelas dan juga jujur. Darahnya berdesir di setiap urat nadinya, tangannya menggenggam erat dari balik selimut. Jantungnya semakin berdetak kuat hingga menggila.
__ADS_1
"Tapi aku juga tidak ingin memaksakan kehendakku. Aku tau, kalau kamu belum siap untuk itu," ucap Candra sambil mengusap pipi Dinda lembut.
"Tidurlah, tidak usah dipikirkan!" lanjut Candra. Di penerangan yang minim, Dinda bisa melihat senyum tipis suaminya sebelum akhirnya memejampan mata.
"Maaf," gumamnya pelan dengan penuh penyesalan.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Sesuai rencana, Candra sudah mencari informasi tentang Baskoro dan akan menemuinya. Saat membaca semua tentang identitas pria itu, dia merasa heran.
Baskoro Wardodo, seorang pengusaha yang tak kalah sukses seperti kakak sepupunya. Berusia lima puluh tahun, dan yang mengejutkan adalah ... ternyata pria paruh paya itu sedang bekerjasama dengan perusahaan keluarga mereka.
Ada sesuatu lagi yang membuatnya mulai paham tentang keterkaitan Baskoro dengan Dinda, istrinya.
Candra pun mengatur pertemuan dengan Baskoro, tapi rupanya tidak semudah itu. Apa lagi Candra mengatur pertemuan dengan alasan urusan pribadi. Baskoro yang tidak mengenal siapa Candra, tentu saja langsung menolaknya mentah-mentah. Baskoro hanya akan membicarakan tentang bisnis dan kerja sama, bukan urusan priabadi dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Namun, Candra juga tidak akan menyerah. Dengan alamat yang dia dapatkan, Candra langsung mendatangi kediaman pria baruh baya itu saat pulang kantor.
Di kediaman Baskoro, ternyata pemiliknya belum datang. Akan tetapi, Candra memaksa untuk menunggu hingga bisa bertemu. Hampir dua jam lamanya Candra menunggu dengan diam seorang diri di ruang tamu.
Selayaknya seorang tamu, Candra tetap bersikap tenang dan betah duduk di kursinya. Sekekali Candra berdiri guna mengurangi penanat.
Candra sedang berkirim pesan pada Dinda, mengabari jika dia belum bisa pulang, ketika orang yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Selamat malam, Pak Baskoro," sapa Candra lebih dulu menyambut kedatangan pria paruh baya itu.
Baskora tidak terkejut dengan keberadaan Candra, dan tentu saja dia sudah diberi kabar oleh pelayan di rumahnya.
"Siapa kamu? Dan ada keperluan apa kamu, ingin bertemu dengan saya?" tanya Baskoro langsung.
"Perkenalkan, Saya Candra," ujar Candra mengulurkan tangan berlaku sopan.
Baskoro diam melirik tangan Candra beberpa detik, barulah menyambutnya.
"Katakan, apa keperluanmu!" suruh Baskoro sambil duduk di hadapan Candra berbataskan meja kaca persegi panjang berukuran sedang.
Candra menelisik orang di depannya sebelum berkata, "Ini tentang Dinda," ujar Candra menangkap keterkejutan dari wajah Baskoro.
"Dinda siapa maksud, kamu?"
"Dinda, orang yang sengaja Anda jebak," jawab Candra dingin dan tegas, membuat lawannya menatap tajam. Keduanya saling menatap, seolah sedang mengukur kekuatan lewat sorot mata mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
Jangan lupa kasih dukungannya ya teman-teman semua. 🙏😊