
...'Jangan terlalu berharap jika kamu tak ingin kecewa. Terkadang mereka yang pernah sangat peduli bisa berubah dalam sekejap saja.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Ini snack nya." Dinda menyerahkan tas belanjaannya dengan lemas.
"Banyak banget," pekik Kaamil kegirangan sambil menyambut tas tersebut.
"Bagi dua, jangan maunya cuman sendiri." Dinda kembali merebutnya dan langsung mengeluarkan apa saja untuk Kaamil.
"Nih." Kaamil buru-buru memeluk snack dan botol minum yang disodorkan karena tangan nya yang tidak muat.
"Kok masih banyak punya kakak?" protes Kaamil.
"Ini bahkan tidak akan cukup untuk mengurangi rasa maluku," ujar Dinda langsung berlalu pergi ke kamarnya.
"Apa hubungannya?" gerutu Kaamil tidak mengerti.
"Mil," panggil Dinda menghentikan langkah Kaamil di ambang pintu kamarnya.
"Apa?" tanya Kaamil pendek.
"Gimana keadaan kakek, sekarang?"
"Sudah ada kemajuan. Aku lagi banyak kerjaan, mungkin besok sore baru ke rumah sakit lagi."
"Ya sudah, nanti kita bareng." Dinda langsung menutup pintu kamarnya.
"Eh, buset;" pekik Kaamil menatap pintu di sebelah kamarnya. Mengangkat bahu, Kaamil pun beranjak masuk ke dalam kamar.
Meletakkan asal tas belanjaannya, dengan langkah gontai Dinda masuk ke kamar mandi. Melakukan rutinitas yang membuat badannya menjadi segar kembali.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, matahari bergeser mengikis senja dan malam pun kini datang sebagai latar bulan yang membentuk bulan sabit. Usai makan malam dan sholat Isya bersama Kaamil, Dinda merebahkan tubuh kecilnya di atas kasur besar nan empuk miliknya.
...----------------------...
.
Aktivitas yang Dinda jalani hari ini walau tak seberapa sibuknya, nyatanya tetap membuat tubuhnya merasa kelelahan. Hampir saja Dinda tertidur jika saja bunyi ponsel tidak mengagetkan dan mengembalikan kesadarannya.
"Mas Adit," gumam Dinda memicing'kan matanya membaca identitas si penelepon.
Masih dalam posisi tidur nya, Dinda bergegas menggeser icon tombol berwarna hijau. "Assalamualaikum," ucap Dinda sambil memeluk bantal guling.
📞"Wa'alaikumussalam sayangku ...." sahut di seberang sana, terdengar gembira.
Ketidak ingin'an Dinda untuk mengakui hubungan mereka membuatnya selalu bersikap biasa saja dihadapan Adit. Namun, di dalam hatinya, Dinda merasa sangat tersanjung mendengar sebutan sayang.
Bagi Dinda kejadian kapan mana itu hanya untuk membantu dirinya keluar dari rasa malu di depan nantan suaminya. Karena memang Dinda tidak menganggap serius setiap apa yang diucapkan Adit. Dinda takut masa lalu yang begitu menyakitkan kembali terulang lagi dengan luka yang begitu dalam sehingga harus membangun benteng pertahanan perasaannya.
"Ada apa Mas?" ujar Dinda bersikap wajar.
📞"Kok, ada apa sih ...? Seharian nggak ketemu kamu, bikin kangen tau! Emang kamu nggak kangen sama Aku?" ucap Adit dengan nada jenaka.
__ADS_1
Dinda diam sejenak sambil mengerutkan kening seolah sedang berpikir. "Enggak tuh," ujar Dinda apa adanya.
Sedikit pun Dinda memang tidak terbesit merindukan Adit, kecuali tadi pagi saat Dinda melihat Cincin di jarinya. Tapi itu dianggapnya sebagai bentuk luapan emosi untuk menunjukkan kenangan sabab musabab tersemat nya cincin ... dan bukanlah rindu.
📞"Jadi nggak kangen nih?"
"Sama sekali enggak," jawab Dinda cepat.
📞"Iya deh ... kalau kamu nggak kangen! Yang pasti dan yang jelas, aku kangen sama kamu."
Dinda memutar bola matanya malas, gombalan seperti itu sudah sering didengarnya dari mantan suaminya ketika masih berpacaran dan awal-awal pernikahan. Jadi Dinda tidak akan mudah luluh.
"Makan tuh kangen, biar kenyang," ucap Dinda santai dan dibalas tawa dari sana.
📞"Ahahaha ... kamu tu bikin aku gemes tau nggak? Oiya ... kalau nggak salah, satu bulan lagi masa idah kamu udah genap 'kan?"
"Kok tau? Memangnya kenapa?" tanya Dinda penasaran.
📞"Nanti aku datang, lamar kamu ya?"
"Hah?" Dinda terkesiap sampai memekik dan langsung duduk dari tidurnya.
📞"Aku bilang, nanti aku datang ke rumah kamu untuk melamar!"
"Jangan ..!!" teriak Dinda cepat.
📞"Kenapa jangan?"
Belum Dinda menyahut, suara ketukan dari balik pintu menahannya untuk berbicara.
"Iya, Mil!" jawab Dinda cepat dan nyaring.
📞"Siapa?" Adit ikut penasaran.
"Kenapa tadi teriak?! Buka pintunya!" kata Kaamil tidak sabar.
"Iya ... iya, ini Kakak buka." Dinda berjalan dan meninggalkan ponselnya di kasur.
"Kenapa, kok teriak?" tanya Kaamil saat sudah berhadapan.
"Nggak ada apa-apa. Tadi kakak lagi ngobrol sama teman di telepon .... Pas dia ngomong sesuatu, kakak jadi teriak karena kaget," jelas Dinda santai.
"Aku pikir, apa!" kata Kaamil merasa lega.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau ngambil air putih di dapur. Ya sudah .., aku ke dapur dulu." Kaamil berlalu pergi meninggalkan Dinda.
Menutup pintu, Dinda kembali duduk dan menggapai ponselnya. "Halo mas Adit."
📞"Tadi ada siapa?"
"Gegara mas Adit tadi bilang mau datang melamar, aku jadi teriak ... terus Kaamil dengar, dia pikir ada apa-apa," jawab Dinda kesal.
__ADS_1
📞"Siapa itu Kaamil?" nada suaranya terdengar tidak suka.
"Adik akulah! Siapa lagi?" balas Dinda masih kesal.
📞"Adik kamu? Perasaan waktu aku cari ta-...."
"Cari apaan?" tanya Dinda penasaran dan bingung dengan kalimat Adit yang terputus oleh sang ampuhnya karena diam.
📞"Nggak ... nggak apa-apa!"
"Ihh, geje kamu mas. Ya sudah mas Adit, aku tutup teleponnya ... sudah mengantuk ini," ujar Dinda jujur.
📞"Yahh .., padahal aku masih kangen! Tapi kalau kamu mengantuk, ya sudah .... Sampai ketemu besok pagi di restoran. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Dinda menutup telponnya usai membalas salam dari Adit.
Dinda pun kembali merebahkan badannya dan bersiap tidur.
Keesokan harinya ....
Seperti janji Adit tadi malam, Adit benar-benar menyempatkan diri bertemu Dinda di restoran. Walau kenyataannya Adit begitu sibuk dengan segala perintah sang atasan.
"Pagi sayang," sapa Adit ketika Dinda sudah turun dari mobilnya.
Menghela napas Dinda menyahut. "Pagi mas Adit. Tapi bisa nggak, jangan panggil aku sayang? Nanti apa kata orang-orang?" pinta Dinda.
"Loh, kenapa? Kitakan sepasang kekasih?" Adit menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.
"Itu hanya akting mas, akting ... jadi nggak usah lagi bilang kita ini sepasang kekasih," ucap Dinda sabar.
"Awalnya itu memang akting, tapi sekarang aku sudah menganggapnya serius," ujar Adit pasti.
Dinda diam menatap lekat laki-laki di depannya. Sulit bagi dirinya untuk mengiyakan, mengingat status dirinya yang masih belum cukup masa iddah.
"Mending mas Adit cari yang masih gadis aja deh, buat menjalin hubungan serius. Aku ini janda, dan lagian belum bisa dibawa ke hal serius," kata Dinda sambil berlalu pergi hendak masuk ke restorannya.
"Sudah aku katakan tadi malam ..., aku akan menunggumu sampai masa iddah-mu berakhir, dan segera melamarmu," kata Adit lantang.
Seketika Dinda menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menghadap Adit.
"Jangan ngaco kamu mas, aku nggak akan mau! Aku baru saja jadi janda," ucap Dinda serius.
"Aku nggak ngaco, aku serius! Sekarang boleh saja kamu mengatakan nggak mau, tapi nanti ... aku yakin kamu pasti bilang mau."
"Sekali nggak, tetap enggak," kata Dinda penuh penekanan.
"Kalau pun kamu nggak mau, aku akan tetap berusaha supaya kamu mau. Nanti sehabis lebaran aku akan datang melamarmu," janji Adit sambil tersenyum.
"Usaha kamu nggak akan membuahkan hasil apa-apa mas, karena aku pasti akan tetap jawab nggak mau. Jadi sebaiknya, buang isi pemikiran itu."
"Kita lihat saja nanti."
Dinda malas berdepat, dan kembali berbalik melanjutkan langkah kakinya tanpa memperdulikan Adit.
__ADS_1
Jangan berharap lebih mas, karena aku juga tidak mau berharap.
BERSAMBUNG ....