
Dinda termengu di balkon kamarnya, setelah mendengar penjelasan singkat dari sang Mama tentang Adit dan seorang wanita yang diduga adalah orang tua Adit, usai acara pernikahannya selesai setengah jam yang lalu.
Dari awal, dia memang sudah menyiapkan hati juga mental. Jika seandainya orang tua Adit menolak kehadirannya sebagai kekasih anaknya. Namun, ketika mengalaminya langsung, ternyata tetap saja terasa begitu menyakitkan dan sulit untuk diterima.
Genggaman tangannya di pembatas pagar balkon begitu erat sembari menahan tangis yang hendak pecah. Dia tidak ingin menyia-nyiakan air matanya untuk sesuatu yang sudah berlalu. Sama sekali tidak ingin!
Dulu ... dia bahkan lebih sakit dari ini dan bisa melewati begitu mudahnya. Akan tetapi, dia kembali teringat, jika masa sulitnya itu dilalui bersama Adit dan karena Adit.
Seketika, benteng pertahanannya runtuh. Bendungan air mata pun jatuh tak terelakkan, walau sekuat tenaga sudah menghalaunya.
Berbalik badan dan lari masuk ke dalam kamar, tujuannya ialah kasur. Menghempaskan tubuh kecilnya kasar sambil tengkurap, hingga menimbulkan pergerakan yang begitu kencang di tempat tidurnya. Namun, dia tidak peduli, dan meluapkan kesedihannya adalah yang utama.
Tidak lama dia, menangis. Bunyi pintu yang terbuka mengagetkan Dinda, hingga membuatnya bergegas duduk sambil menyeka jejak cairan bening di pipi putihnya dengan kasar.
"Hmm ... ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu."
Dinda diam memperhatikan lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Suami? Itu terdengar seperti sebuah lelucon, dan dia sangat membencinya.
"Katakanlah!" kata Dinda ketus sambil duduk tegap di tepi ranjang dan membuang muka. Enggan melihat Candra yang tetap berdiri di depan pintu.
Candra mendengus kesal mendapati perlakuan Dinda yang terkesan tidak peduli dengan apa yang akan dia sampaikan. Padahal menurutnya, bukan hanya Dinda yang sakit hati dengan pernikahan mereka, tapi dia juga sudah berkorban banyak untuk membantu Dinda dari masalahnya.
"Besok akan dilakukan konferensi pers---."
"Udah tau," pangkas Dinda cepat.
Candra menatapnya tajam dan memilih diam. Dinda yang tidak lagi mendengar Candra bersuara, langsung menoleh heran.
"Apakah itu yang diajarkan orang tuamu? Ketika seseorang sedang bicara, kau langsung menyelanya," sindir Candra saat beradu padang pada manik kecoklatan di depannya.
Dinda yang masih dalam suasana sedih, seketika terpancing dan marah. "Nggak usah bawa-bawa didikan orang tuaku. Tau apa, kamu?" sengit Dinda tidak suka.
"Aku ini suami, kamu. Harusnya, jaga bicaramu ketika berbicara denganku," tegur Candra tegas.
"Jangan memanfaatkan pernikahan ini, untuk mengguruiku! Urus saja apa yang dikatakan, Papa."
__ADS_1
"Walau bagaimana pun, pernikahan ini tetap sah. Mau tidak mau, suka tidak suka ... sekarang aku adalah suamimu, dan kamu harus menghargainya!"
Dinda memutus tatapannya sambil membuang muka dengan perasaan dongkol. Candra menghela nafas lelah, dia sudah dibuat pusing atas permintaan Zahir dan Papanya ketika Zahir menghubungi untuk meminta ijin agar merestui pernikahan mereka.
"Setelah konferensi pers, aku akan langsung menjemputmu. Jadi, bawa keperluanmu secukupnya."
Dinda menoleh cepat dengan mata melotot, tidak mengerti dengan apa yang dia dengar.
"Ke mana?"
"Tentu saja, mulai besok ... kamu tinggal di rumahku!"
"Apa?" pekik Dinda.
"Ini perintah dari papamu, jika ingin protes. Katakan saja padanya," jelas Candra yang mengerti dengan reaksinya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Dinda.
Dinda pun bangkit menyusul. Bukan ingin mencegat Candra, tapi ingin menemui Zahir. Seperti yang dikatakan Candra tadi, bahwa ini adalah perintah papanya dan dia perlu konpermasi secara langsung.
"Mil, papa di mana?" tanya Dinda yang melihat Kaamil akan masuk ke kamarnya di samping kamar Dinda.
Dinda menghela napas berat. Tidak mungkin dia mengganggu papanya yang sedang melakukan pembahasan untuk besok. Pertanyaan Candra tentang didikan papanya pun masih terngiang-ngiang. Tidak ingin apa yang dikatakan Candra menjadi kenyataan, dia masih punya sopan santun untuk itu.
"Emang kenapa, Kak?" Dinda tersadar dengan pertanyaan Kaamil.
"Nggak apa-apa," elak Dinda sembari melihat sekilas punggung Candra yang berjalan menuju ruang kerja papanya.
Kaamil mengangkat bahu tak peduli sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya yang tadi sempat tertahan oleh sang kakak.
Dengan langkah gontai, Dinda pun masuk juga ke kamar dan naik ke atas kasur. Lelah! Hari ini dia, begitu lelah dengan rentetan kejadian yang tidak diharapkan. Berbaring sejenak, guna menyiapkan semangat baru adalah pilihan terbaik.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Malah hari ....
Dinda masih belum mendapati keberadaan orang yang kini telah menyandang status suaminya hingga usai solat isya. Suaminya itu sama sekali tidak terlihat sejak terakhir mereka bicara tadi sore.
__ADS_1
Bertanya pada Kaamil pun, jawaban yang dia dapat adalah pergi sebentar. Namun, hingga menjelang makan malam, Candra belum juga datang.
Dinda bukannya cemas dengan ketidak hadiran Candra di rumah itu. Dia lebih mencemaskan, bagaimana jika nanti Candra, akan tidur di kamarnya? Apakah mereka harus satu tempat tidur? Apa boleh jika dia, menyarankan kamar tamu untuk Candra, agar tidak tidur bersama?
Memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan kecil itu, membuatnya ingin bersembunyi di dalam lubang semut sekali pun. Bingung dan gelisah, telah mengusik sebagian akal sehatnya.
Makan malam pun akan segera dimulai, walau tanpa kehadiran Candra. Akan tetapi, ketika suapan pertama hendak mendarat dalam mulutnya, tiba-tiba pelayan datang bersama orang yang sejak tadi memenuhi separoh pikirannya.
Dinda menelan ludah, sambil melihat tas punggung yang terlampir di salah satu pundak kokoh Candra. Tanpa dijelaskan, dia sudah bisa menembak. Jika di dalam tas itu, pastilah baju Candra untuk persiapan besok pagi. Dengan kata lain, Candra memang akan menginap di rumah mereka.
"Bi, tolong bawakan tas Candra, ke kamar Adin," ucap Zahir. Dinda hanya mendelik.
"Ayo Candra, kita makan malam bersama!" lanjut Zahir mempersilakan menantunya duduk di samping Dinda, dan sang empuhnya acuh tak acuh sambil melanjutkan aktivitasnya.
"Makasih, Pa," balas Candra segera duduk.
"Ukhuk, ukhuk." Dinda tersedak ketika mendengar Candra yang memanggil papanya, dengan sebutan papa. Untung saja nasi yang sudah masuk ke tenggorokan tidak sampai menyebur keluar, karena terhalang tangan yang menutup mulutnya.
Tidak ada yang salah. Hanya saja, Dinda belum terbiasa dan cukup terkejut dengan panggilan yang cepat sekali berubah.
"Kenapa, Kak?" tanya Kaamil memberi minum yang duduk di sisi lain Dinda.
Dinda menggelang dan segera menyambut gelas pemberian Kaamil. Dengan sekali teguk, airnya langsung habis setengah. Usai batuknya reda, mereka kembali melanjutkan makan dengan tenang.
Usai makan malam, Dinda berjalan diikuti Candra menuju kamarnya. Sesekali dia melirik wajah datar suaminya. Membuka pintu selebar mungkin, dan membiarkan Candra masuk lebih dalam.
"Mmm ... Mas Candra, bisa tidur di sebelah sana. Aku nggak bisa kalau tidur sebelah kanan." Tunjuk Dinda setelah sempat hening.
"Hemm," jawab Candra bergumam sambil membuka tas yang lebih dulu berada di kamar tersebut, dan mengambil sikat gigi.
"Itu kamar mandinya," kata Dinda yang faham keinginan Candra. Dia tidak menyahut, tapi langsung menuju tempat yang begitu mencolok walau tidak diberitahu Dinda.
"Ya, ampun ... bisa-bisa tidur aku nggak nyenyak ini." batin Dinda menjerit.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Hallo teman-teman semua! Terimakasih karena masih setia menunggu kelanjutan cerita percintaan rumit Dinda. Kemarin, saya sempat keluar akun dari akun ini, dan iseng-iseng masuk ke akun lain. Tapi pas mau balik lagi ke akun ini, tau-tau malah gak bisa kembali. Selama seminggu saya tersesat dan berusaha memulihkan kembali akun ini. Berkat bantuan teman-teman saya, yang memberi saran untuk menghapus data diri di fb dan nt ... akhirnya saya bisa kembali lagi. Sungguh, perjuangan yang menguras pikiran. Sekali lagi, terimakasih karena mau berkenan menunggu bab ini. Semoga teman-teman semua terhibur dan tidak bosan. Saya tunggu kritik dan sarannya di kolam komentar. 🙏☺