Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 73 Di ujung pencarian.


__ADS_3

Dengan mata tertutup oleh kain hitam dan tangan yang terikat di depan, Dinda ditarik paksa tanpa mengetahui sebenarnya berada di tempat mana dirinya.


Rasa takut dan pasrah adalah dinding pertahanan Dinda saat ini disetiap langkah kakinya. Berharap akan ada seseorang yang bisa menyelamatkannya sebelum terkikis oleh perasaan putus asa karena takdir sudah mempermainkannya sedemikian rupa.


Otaknya mendapati jalan buntu dan tidak mampu untuk memikirkan motif penculikan yang dilakukan kedua orang yang kini berjalan di depan juga belakangnya.


"Mas Candra, aku takut ...!" jerit Dinda di dalam hati. Entah karena apa malah nama Candra yang menjadi pusat pikirannya kala ini.


"Mas ... tolongin Aku ...!" Dinda masih bermonolog pada hatinya, ketika kedua pria itu mendorongnya hingga terjerembab ke dalam sebuah ruangan gelap dan pengap.


"Aww---," pekik Dinda kesakitan sambil menopang tubuhnya untuk bangkit dan duduk.


"Sebenarnya kalian ini siapa?" lanjutnya berteriak dengan keberanian yang tiba-tiba muncul ke permukaan, karena tidak terima diperlakukan kasar seperti itu.


Tidak terdengar jawaban dari kedua laki-laki itu, selang beberapa detik hanya terdengar pintu yang ditutup dan dikunci oleh mereka. Perlahan tangannya menarik kain yang menutupi penglihatannya.


Dinda memicing saat kelopak mata terbuka, dan kegelapan memenuhi kornea matanya. Sedikit demi sedikit penglihatan Dinda mulai terlihat jelas walau dalam penerangan yang minim cahaya.


"Ya Allah, di mana ini?" Dinda menatap sekelilingnya dengan perasaan was-was.


"Apa itu tikus ...?" sambung Dinda khawatir sambil menelan ludah saat mendengar bunyi berisik seperti suara binatang mamalia di sudut ruangan.


"Aaa ... tikuus," teriaknya berusaha berdiri ketika tikus melintas di sampingnya.


Dinda merapatkan diri ke tembok guna memberi rasa awas disekitarnya. Ruangan gelap dengan pencahayaan yang terbatas dan bau pengap, semakin membuatnya tidak nyaman serta gelisah.


"Mama ... papa ... Emil ... ayah ... bunda ... tolong Adin," mohon Dinda memelas mengabsen keluarganya sembari beringsut.


Menekuk lutut, lantas menengkulupkan wajah di kedua lutut dan mengapit tangan yang terikat di antara perut dan pahanya. Dinda terdiam memikirkan bagaimana cara agar dia bisa terbebas dari penyanderaan ini, ketika tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang.

__ADS_1


Dinda mendongkak, sedikit cahaya masuk bersamaan pria yang membawanya ke tempat dia berada saat ini. Degup jantungnya menggila ketika lelaki itu mendekat, dia semakin beringsut seolah dapat membuatnya berubah menjadi partikel-partikel kecil agar tidak terlihat oleh si penculik.


Namun, tentu saja itu hanyalah sebuah ilusi penenang diri yang kini terpatahkan, saat lengannya ditarik dan seketika dia berdiri sempoyongan karena tidak siap.


"Le--lepaskan saya," ujar Dinda berusaha menarik diri dengan takut-takut.


Tangan si penculik terulur ke bagian depan leher Dinda, dan itu membuat Dinda terus berontak ingin menjauh. Akan tetapi, kekuatannya lemah karena bercampur ketakutan.


"Diam," sentak pria itu sambil menarik kain hitam di leher Dinda.


Dinda menelan ludah terdiam takut, ingin sekali bisa bebas dari cengkeraman tangan lelaki itu. Namun, lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa, karena ketakutan begitu besar menyelimutinya hingga melawan saja mustahil untuk dia lakukan.


Pria itu kembali menutupi mata Dinda dan membawanya pergi. "Jangan coba-coba membukanya," ancam si penculik yang hanya bisa Dinda patuhi.


Masih dengan perasaan takut. Dinda melangkahkan kaki beranjak pergi dari tempatnya tadi. Tidak tahu akan dibawa ke mana dan akan diperlakukan bagaimana, yang dapat dia lakukan hanyalah bersikap pasrah dengan segala apa yang akan terjadi nanti.


Dinda yang tidak dapat melihat apa-apa di sekitarnya, hanya mampu mempertajam pendengaran saat terdengar suara seperti pintu yang dibuka dan meraba sesuatu ketika dorongan itu membuatnya merapat ke sebuah benda di depannya.


"Mobil," gumam Dinda dalam hati dan segera masuk tanpa diperintah ulang.


Selang beberapa detik pintu itu tertutup bersamaan pintu yang lain terbuka dan disusul pintu lain terbuka lagi, kemudian tertutup hampir beriringan. Perlahan mesin mulai menyala dan mobil bergerak entah membawanya ke mana.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Candra dan kawan-kawan mulai memperlambat laju kendaraan ketika jalan yang mereka lewati memasuki daerah pedesaan dan rumah-rumah pun berjejer dengan jarak kurang lebih dua meter.


Mereka harus berhenti dan menepikan mobil ketika berselisihan dengan mobil lain di selingi beberapa pejalan kaki, kerena jalan yang mereka lewati tidak rata dan tak terlalu lebar untuk dilalui bersama.


Lama kelamaan rumah warga terlihat sedikit dari yang mereka lihat sebelumnya dan berjarak lumayan jauh saat mereka semakin memasuki pedesaan. Di ujung jalan yang sudah tidak ada rumah lagi terdapat tanjakan dan hutan menuju pegunungan yang belum terjamah manusia, mereka memutuskan untuk benar-benar berhenti dan memperhatikan sekitarnya.

__ADS_1


"Gimana ini Bang? Apa kita salah jalan?" tanya seseorang mendekati Candra yang sedang resah karena memikirkan Dinda.


"Apa jangan-jangan mobilnya nggak masuk desa ini," timpal yang lain.


"Nggak mungkin kita salah jalan! Mobil itu pasti masuk desa ini. Dari rekaman yang terkahir kita lihat, hanya jalan ini yang kemungkinan mereka lalui," sahut Bagus menengahi percakapan keduanya.


"Kalau begitu, kenapa kita tidak melihat mobilnya juga? Bahkan kita sudah sampai sini, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda keberadaan mobil itu," keluh orang yang menghampiri Candra dengan nada kecewa.


"Mending Lu diam! Dari pada tanya-tanya yang kita sendiri juga nggak tau dan ujung-ujungnya bikin kesel," ucap Bagus tidak suka, "Lu, kan juga lihat sendiri rekaman yang kita dapat tadi ... dan mobil itu pasti memang ke sini," tambahnya menatap tajam.


"Iya Gus, gue minta maaf," sesalnya tidak enak hati karena terburu-buru protes.


Candra masih terdiam sembari memperhatikan sekitar dengan pikiran yang selalu tertuju pada sang istri. Tiba-tiba matanya memicing saat dia melihat di antara deretan pohon yang rendah dan rindang ada sesuatu yang janggal. Kakinya mengayuh tanpa dikomando menuju tempat yang menarik atensinya.


"Kemana Bang?" Bagus menyadari pergerakan Candra yang beranjak ke semak-semak.


Candra menelisik pohon-pohon itu beberapa detik, lantas menarik salah satu di antaranya menggunakan sedikit tenaga. Seketika pohon yang ditarik hendak roboh. Ternyata pohon-pohon itu hanya ditanjakkan ke dalam tanah.


"Apa itu Bang?" rupanya Bagus dan yang lain sudah menyusulnya di belakang.


"Hei, singkirkan pohon-pohon ini!" suruh Bagus kepada rekannya yang lain ketika menemukan sesuatu di balik pohon.


Candra mencaput pohon yang ditariknya tadi dan melemparnya asal. Dia pun menerobos pohon itu dan menatap tak percaya sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu.


Perasaannya saat ini berkecamuk sembari dengan langkah cepat mendekati bangunan itu dan mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci.


"Apa Adin, ada di sini?" tanya Candra seiringnya pintu yang terbuka lebar.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2