Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 43 Pernikahan di atas luka.


__ADS_3

...'Jangan tunjukan kebaikanmu untuk membuat orang lain bertahan. Namun, tunjukanlah keburukanmu dan lihat, siapa yang bertahan.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda duduk di tepi ranjang usai pelayan yang mengabari tentang kedatangan Adit dan memintanya menunggu, telah pergi.


Suara berisik dari ketiga sahabatnya yang tengah asyik membicarakan masa depannya nanti akan ditempuh dengan cara seperti apa, nyatanya tak mengusik pikirannya dari acara yang berlangsung. Do'a pun senantiasa dilafalkan dalam hati, untuk kelancaran berlangsungnya ijab kobul.


Hampir setengah jam, Dinda sibuk dengan pemikiran sendiri tanpa menghiraukan teman-temannya. Hingga seseorang mengagetkannya.


"Din, dengar nggak, aku tadi tanya apa?" Nurul mengguncang bahu Dinda pelan, menyadarkannya dari alam bawah sadar.


"Hah, tanya apa?" pekik Dinda tersentak kecil dan melirik Nurul yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya, padahal tadi setahunnya Nurul duduk di kursi meja rias.


"Aku dengar dari, Emil. Pelakunya, teman Emil, ya?" ulang Nurul yang tidak disimak Dinda.


Dinda mengangguk lemah, sembari berucap, "Iya, namanya Danu."


"Kok bisa, ya? Teman Emil ada masalah sama, kamu?" sahut Soraya menimpali dengan kening berkerut.


Dinda menghela napas sebelum mengatakan sesuatu, "Aku nggak yakin, tapi mungkin ada hubungannya sama ceweknya, Danu," jawab Dinda sambil meringis.


"Kamu kenal sama ceweknya?" Rahimah ikut penasaran.


"Pernah ketemu beberapa kali," jawab Dinda jujur.


"Trus, apa hubungannya?" tanya Nurul.


Lagi, Dinda menghela napas dan menghembus'kannya secara perlahan. Sebenarnya dia tidak ingin memikirkan macam-macam dalam momen bersejarah di kehidupannya kali ini. Namun, rupanya para sahabatnya itu tidak mengerti.


"Mungkin ceweknya takut, kalau aku kasih tau sama suaminya tentang perselingkuhan mereka."


"Astaghfirullah hal azim," pekik ketiganya nyaring dengan bersamaan membuat Dinda ikut terlonjat kaget.


"Astaghfirullah, kalian ya," kesal Dinda sambil mengusap dada.

__ADS_1


"Jadi si Danu, pacaran sama suami orang?" tanya Nurul tidak percaya dan mengabaikan kekesalan Dinda.


"Bukan suami orang, tapi istri orang," larat Rahimah, Soraya dan Dinda serentak.


"Ehh iya ... itu maksudnya," kata Nurul cengengesan.


"Ck, jaman sekarang, orang-orang tambah edan rupanya," decak Soraya.


"Aku pikir cuman di sinetron, loh? Ternyata ada juga di dunia nyata, ceweknya yang selingkuh. Hiiii." Rahimah bergidik ngeri, sampai-sampai kasur yang dia duduki terasa bergerak.


"Semoga kita selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk dan senantiasa berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta'ala. Amin," lanjut Rahimah sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke permukaan wajah.


"Amiinn," balas Soraya, Dinda dan Nurul mengaminkan.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketuk'kan dari luar membuat keempatnya memusatkan atensi mereka ke arah pintu. "Non, Adin," sapa seseorang dari balik pintu tersebut.


"Biar aku, yang bukain." Nurul beranjak dan berjalan ke arah pintu.


"Iya Bi," balas Nurul saat sudah berhadapan.


"Iya, makasih Bi. Ayo Din, kamu udah disuruh turun." Nurul beralih memberi tahu Dinda yang sebenarnya sudah didengarnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda berdiri dan berjalan dengan dituntun oleh para sahabatnya dan pelayan yang membuntuti dibelakang. Perlahan diapit ketiga sahabatnya menuruni anakan tangga sambil menundukkan pandang. Dia menahan degup jantung yang bekerja bagitu cepat ketika sudah mendekati ruang tamu yang menjadi tempat dilangsungkannya akan nikah.


Tidak ada tamu undangan, semua tamu yang hadir hanyalah keluarga inti, pekerja, juga sahabatnya yang tadi menemaninya. Semuanya diusahakan sedemikian rupa agar menjadi sebuah rahasia tanpa seorang pun tahu selain yang hadir, dan dilarang membocorkan pernikahan tersebut.


Dinda mengangkat kepala saat sudah berada di ruangan tersebut guna melihat sang suami yang sudah meng'ikrar'kan janji suci pernikahan. Namun, seketika terkesiap dan mematung ketika pandangannya langsung tertuju pada seorang lelaki bersetelan kemeja hitam dan peci dalam genggaman tangannya, berdiri di sudut ruangan bersama seorang wanita paruh baya sembari menatapnya sedih.


"Mas Adit," gumam Dinda lirih.


Tatapannya menurun sejajar pada lelaki di sudut ruangan itu. Terkejut untuk yang kesekian kalinya, matanya menatap nanar pada pria berkemeja warna navy yang duduk dihadapan penghulu berbataskan meja kecil.


"Adin," suara pelan sang Mama memanggil sambil mendekatinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" suaranya tercekat, bergeming di tempat walau Mita sudah menariknya pelan berganti posisi dengan Rahimah.


"Nanti, Mama jelaskan," bisik Mita sembari meraup bahu Dinda dan menariknya ikut bergabung, duduk bersama dihadapan penghulu.


"Silakan, diikrarkan sighat taklik-nya, Mas Candra," ujar penghulu memberi buku nikah suami pada Candra dan seketika Dinda memejamkan mata. Bingung, marah, kecewa, serta sedih mengaduk menjadi satu dalam satu waktu.


Dengan ringan, tangan Candra menerima dan membacanya dihadapan Dinda. Setiap kalimat yang diucapkan terdengar tegas dan serius hingga sampai pada kalimat terkahir. Lantas, penghulu meminta pria tersebut menandatangani buku nikah suami.


"Selanjutnya, Mas Candra bisa membaca do'a setelah akad."


Dinda sejenak melirik lelaki yang masih setia berdiri di tempatnya berpijak. Pandangan mereka bertemu, dia bisa melihat jika ada setetes air yang jatuh dari kelopak mata pria itu.


Dinda terkejut saat tangan Candra mendarat di pucuk kepalanya membuat dia seketika menunduk dengan suka rela. Dia menegadahkan kedua tangan yang bergetar di atas pangkuan seiring tangan Candra yang menengadah didepan dada.


Ingin protes dan melontarkan banyak pertanyaan yang bersemayam di benaknya, tapi dia tahu bahwa itu semua hanya akan sia-sia saat ini semua sudah terjadi.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya," ucap Candra fasih.


Dinda menahan napas bersamaan cairan bening yang jatuh ketika teringat bayang-bayang janji Adit padanya beberapa hari lalu, dan sekarang semuanya harus hancur tak berbekas.


"Aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamiin!" sahut semua orang menyadarkan Dinda dari kesedihan yang harus disembunyikan nya.


"Silakan bertukar cincin, Mbak."


Dinda melihat Candra sudah memegang cincin emas putih yang bertabur lima buah permata. Ragu, tapi dia tetap menyodorkan tangan kanannya. Dengan hati-hati cincin itu menyusup di jari manisnya.


Dinda pun mengambil cincin yang berada di atas meja dalam wadah kecil bening dan memasangkannya pada jadi besar Candra yang ternyata muat.


"Ayo, silakan dikecup tangan suaminya. Mas Candra juga bisa kecup kening, Mbak Dinda. Kan, sudah sah menjadi suami istri," ucap penghulu.


Darah Dinda berdesir ketika sebuah benda kenyal dan dan hangat menempel di permukaan keningnya. Menarik diri, Candra memberikan tangannya ke depan Dinda. Menghela napas berat, Dinda menggenggamnya dan menariknya hingga berhasil dikecupnya singkat.


Dinda mengedarkan pandang ke segala arah hingga mengabsen semua sudut ruangan ketika tidak lagi menemukan keberadaan pria yang tadinya dia harapkan akan duduk di sampingnya.


"Mas Adit," batin Dinda menjerit.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2