Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 29 Malu lagi.


__ADS_3

...'Hal terbaik untuk menghormati hidup adalah menghargai dan menikmati waktu yang masih kau miliki.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Selepas kepergian Dinda dan Kaamil, tidak lama Candra juga pergi dari tempatnya duduk. Sambil berlari santai, Candra menikmati suasana pagi karena taman dan rumah yang Dia tempati tidak terlalu jauh.


Tiba di sebuah rumah mewah, Candra menerobos pagar besi sambil menyapa penjaga rumah tersebut.


"Pagi, Mang Ucok."


"Pagi, Den. Wah lari pagi ya? Pantesan dari tadi Saya tidak melihat, Den Bara," balas Penjaga panjang lebar.


"Iya Mang, biar rileks," sahut Candra atau lebih sering dipanggil Bara oleh keluarga besarannya.


"Bagus itu, Den Bara."


"Saya masuk dulu, Mang Ucok," pamitnya pada Mang Ucok.


"Bara, Kamu sudah pulang?" baru saja Candra masuk ke dalam rumah, tapi suasana hatinya mendadak buruk karena seseorang yang memanggilnya.


"Hmmm," gumam Candra malas dan bergegas menuju kamar yang Dia tempati.


"Bara," suara bariton dari arah lain menghentikan langkahnya.


"Iya, Mas Lintang?"


"Kamu langsung ke kantor, atau pulang ke rumah dulu?" tanya Lintang.


"Pulang dulu Mas, sekalian ngambil berkas," jawab Candra dan dibalas Lintang dengan anggukan kepala.


"Aku mandi dulu, Mas Lintang," ucap Candra lagi.


"Ya, segar'kan dulu badan mu. Mas berangkat, duluan," sahut Lintang sambil mengijinkan. Candra mengangguk dan langsung beranjak pergi tanpa melihat orang yang pertama menyapa nya tadi.


'Dasar Wanita jadi-jadian,' gumam Candra membatin.


Di dalam ruangan yang berukuran enam kali enam meter, Candra langsung menuju kamar mandi yang ada di sudut kamarnya. Mood-nya yang sempet memburuk karena kesal jika berpapasan dengan istri dari Kakak sepupunya, coba Dia buang.


Kehadiran Kaluna di rumah sepupunya itu adalah alasan terbesarnya, kenapa Dia selalu menolak diajak menginap di rumah besar tersebut.


Di hadapan Lintang, Kaluna bersikap layaknya seorang istri setia. Namun, jika di belakang sang suami, tak ubahnya seorang j4l4ng dimata Candra.


Candra begitu muak dengan Kaluna, karena bagaikan serigala berbulu domba. Ingin sekali rasanya merontokkan bulu-bulu yang menempel ditubuh Kaluna, tapi bukti yang Dia pegang masih sangat lemah.


Selesai mandi dan berpakaian, Candra langsung pergi sesuai rencana pulang ke rumah nya. Ketika melewati sebuah kamar, Dia mendengar sesuatu yang membuatnya tergelitik, untuk memperjelas pendengarannya.


"Awasi terus! Aku ingin tau, apa saja yang membuatnya bahagia. Setelah itu, Aku akan menghancurkannya."


Candra termengu mendengar perintah Kaluna pada seseorang, setelah itu hening tak terdengar. Dia pun kembali melanjutkan langkah kakinya.


Di lantai bawah Candra tidak menemukan Kakak Sepupunya, Dia pun bertanya pada penjaga dan ternyata sudah berangkat ke kantor.


'Pantesan, Serigala berani unjuk gigi.'


Menepi dan menjauh dari Mang Ucok untuk menelpon sebentar. "Halo, Jo," ucapnya pada seseorang.


"Aku ingin, Kau mengawasinya lagi. Aku curiga, Dia akan berulah," perintahnya. Usai menelpon, Candra segera menunggangi kuda besinya.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Di tempat lain, diwaktu yang sama.


Dinda sudah bersiap pergi ke restoran. Sudah beberapa hari ini Dia memilih pergi pagi ke tempat kerjanya, dengan pikiran yang masih tidak bisa dikendalikan. Dinda mencoba menyibukkan diri.


Namun, Dinda tidak mau mengambil resiko dengan mengendarai mobilnya. Beberapa hari lalu juga, Dinda nyaris bertabrakan akibat kebiasaan barunya yang melamun, alhasil Dia sekarang memilih taksi sebagai jalur aman.


Kaamil tidak tahu jika Kakaknya pergi menggunakan taksi. Karena Dinda pergi sesudah Kaamil pergi dan pulang sebelum Adiknya itu pulang, ditambah lagi trauma akan diculik orang.


Tidak memerlukan waktu lama, taksi yang ditunggu-tunggu pun kini datang juga. Gegas Dinda masuk dan duduk manis. Di perjalanan Dinda mendapat pesan dari orang yang akhir-akhiri ini semakin dekat dengannya.


[Mas Adit]


📨"Pagi sayang. Semoga hari mu menyenangkan dan puasanya tetep semangat. Love you. 😘😘"


Dinda tersenyum, tapi hanya sebentar. Dia merenung, tentang musibah yang menimpanya beberapa hari lalu belum Dinda ceritakan pada Adit. Ada keraguan yang dirasakannya untuk berbagi cerita.


Seandainya Dia bercerita, Dinda takut Adit berpikiran buruk tentang dirinya, lalu apa yang akan Dia lakukan.


Menghela napas berat, Dinda memutuskan tidak menceritakan aib nya pada siapa pun. Dengan cepat membalas pesan Adit.


📨"Terimakasih, Mas."


Begitulah pesan balasan yang biasa Dinda kirimkan, tidak ada ucapan perasaan atau emot cium. Tidak ada. Namun, Adit tidak pernah protes dan tetap rajin menyemangati nya walau hanya berkirim pesan.


"Ada apa, Pak?" tanya Dinda heran ketika tiba-tiba berhenti di bahu jalan.


"Sepertinya, ban nya bocor, Neng," sahut Pak supir sebelum keluar.


"Trus, gimana ini, Pak?" tanya Dinda menatap sejenak pada Pak supir dan beralih memperhatikan sekitar tempat mereka menepi.


"Sambil Saya ganti ban, tunggu taksi yang lewat saja, Neng," ujar Pak supir.


Dinda mengangguk setuju, kalau keburu taksi ada yang lewat Dia akan berganti taksi, tapi kalau Pak supir lebih dulu mengganti bannya Dinda akan tetap di antar taksi tersebut.


"Kenapa sama, taksinya?"


Dinda tersentak ketika ada yang menyapa nya.


"Ban nya bocor, Mas," sahut Pak supir. Terlihat Pak supir itu masih berusaha melepas ban nya dari badan mobil.


Sementara itu, Dinda terkesiap saat tahu itu adalah Candra.


"Kamu ikut Saya, biar Saya antar," tawar Candra menatap Dinda.


"Hah," bengong Dinda.


"Silakan, Neng. Kalau Neng buru-buru, mending ikut, Mas itu saja," pangkas Pak supir.


Sedikit ragu, tapi Dinda pun menyetujuinya. Tidak tega dengan Pak supir, Dinda memberikan uang.


"Tidak usah, Neng. Saya, kan belum sampai mengantarkan, Eneng," tolak Pak supir.


"Rejeki jangan ditolak, Pak. Ini memang sudah rejeki, Bapak." Dinda menyisipkan uang ke saku baju depan Pak supir.


"Terimakasih, Neng," ucap Pak supir tulus.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak," sahut Dinda membalas senyum beliau, yang tidak luput dari perhatian Candra.


Dengan dibonceng Candra, Dinda pun sampai pada tempat tujuannya. Berhenti tepat di depan bangunan pemberian sang Kakek, tapi Dia tetap betah dalam posisinya.


"Apa Kau tidak ingin, turun?" Candra bersuara dingin menghancurkan lamunan sesaat nya.


"Hah, sudah sampai?" gugup Dinda sambil turun, bertumpu dikedua bahu kekar Candra.


"Apa Kau, sakit?" pertanyaan itu terlontar begitu saja, karena tidak tahan dengan perubahan Dinda. Sejak dijalan tadi, Candra sudah memperhatikan Dinda lewat kaca spion dan praduga muncul dibenaknya.


"Tidak," jawab Dinda tegas.


"Jangan salah, faham. Aku hanya kawatir, jika orang-orang melihatmu seperti tadi ... mereka pasti mengira Kau sudah tidak waras," kata Candra tanpa rasa bersalah.


Dinda melotot mendengar pernyataan Candra, yang secara langsung mengatai nya.


"Hee, Mas Candra! Kalau ngomong itu, pakai otak dong," ujar Dinda bersunggut-sunggut kesal tak habis pikir.


"Saya sudah pikirkan dari sejak Kamu bengong tadi, tidak mau turun dari motor Saya hingga hampir lima menit."


Kembali matanya melotot dan mulut yang ternganga tak percaya. Sempat kesal, tapi seketika berganti kaget dan malu.


"Tidak usah kaget, begitu. Saya memakluminya," ujar Candra tersenyum mengejek dan langsung pergi sebelum Dinda menyangkalnya.


'Ya Tuhan, kenapa dihadapannya Aku selalu mempermalukan diriku, sendiri,' rutuk Dinda di dalam hati.


Dinda masuk dengan wajah kusut tak menyapa bawahannya, hingga ke dalam ruangannya.


"B0d0h Aku," gumam Dinda sambil duduk di kursi kerjanya.


Cukup lama Dinda sibuk dengan penyesalan yang beberapa saat lalu Dia lakukan. Dia pun kini fokus pada kerjaannya. Waktu terus bergulir, detik berganti menit, dan menit pun berganti jam.


"Selamat sore, Nona." Nena adalah orang kepercayaan Dinda yang selalu bisa diandalkan.


"Ahh, iya Nena. Sudah sore ya?" pekiknya tersadar karena lupa waktu.


Nena tersenyum maklum, Dia tahu atasannya itu pasti tengah ada masalah. Sebagai bawahan, Nena cukup tahu diri untuk tidak melewati batasan dengan bertanya hal pribadi. Maka dari itu, Nena hanya membantunya tersadar dari lamunan.


"Hari ini ada pelanggan yang akan memakai resto kita untuk buka bersama, Nona. Kemarin mereka sudah memesan dan tadi mengkonfirmasi, lagi," tutur Nena mengingatkan.


"Oiya .., Kau atur saja ya, Nena. Aku akan sholat dulu, baru pulang." Dinda melirik jam yang berada di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 04:15 menit.


"Baik, Nona."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda menunggu taksi yang sebelumnya sudah dipesan'kan Nena. Kejadian buruk itu sudah mulai Dia lupakan, tapi terkadang masih saja Dinda terkenang walau sudah lama.


Dinda sadar, bahwa dirinya sering melamun akhir-akhiri ini. Maka dari itu Dia memilih pulang ke rumah mereka dari pada rumah Bunda Vita.


Tidak jauh berbeda ketika Dia sampai di restoran tadi, Dinda kembali melamun dan ditegur Pak supir.


"Melamun aja, Neng? Nanti dikira amnesia," gurau Pak supir halus.


'Ya ampun, kenapa sekarang Mas Candra berputar-putar di kepalaku?' ingan Dinda membatin.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2