
Candra dan Dinda langsung beristirahat di kamar mereka sehabis dari bepergian. Namun, sebelumnya mereka melaksanakan solat dzuhur terlebih dahulu.
Candra yang selalu merasa punggungnya sakit segera membaringkan tubuhnya miring. Dinda lantas membiarkan dan dia pun memilih berselancar di salah satu aplikasi berwarna hijau, kemudian membuka grup yang berisikan teman-temannya.
Sembari duduk di atas sofa yang terdapat di ujung kaki ranjang, sekekali Dinda melirik Candra yang terdiam kaku. Tiba-tiba pikirannya melayang pada sebuah foto yang muncul di layar ponsel Candra saat itu.
Dinda melirik ponsel Candra yang berada di atas nakas, kemudian beralih lagi melirik suaminya. Beberapa kali dia melakukan itu, hingga akhirnya hatinya tergelitik untuk melihat kembali foto itu.
Dengan tanpa dikomando tubuhnya bangkit dari kursi, kakinya pun melangkah pelan ke arah yang terpikir olehnya. Sebelum mengambil benda kecil nan terasa berat tersebut, dia memastikan Candra yang terpejam rapat.
Bagaikan seorang pencuri. Dinda mengambil ponsel Candra dengan gerakan pelan guna tak mengeluarkan suara dan langsung menjauh cepat kembali ke tempat asalnya.
"Kemarin aku nggak salah lihat, kan?" gumam Dinda bermonolog sambil duduk dan bersiap membuka kunci ponsel Candra.
Akan tetapi, sebelum dia berhasil membuka kunci di layar, ponsel itu malah berdering dan membuat sang empunya menyadari kalau itu panggilan dari ponselnya.
Dinda seketika gelagapan dan langsung berlari ketika Candra berusaha mencari asal suara yang tercipta dari ponselnya.
"Ini Mas! Ponselnya bunyi," Dinda menyodorkan ponselnya bersamaan Candra yang duduk usai bangkit dari posisi tidur miring.
"Aneh sekali, tadi suaranya sepeti jauh dari sini," ujar Candra mengambil alih ponsel itu sambil melihat istrinya.
"Mas tadi ketiduran, jadi nyawanya belum kumpul semua. Makanya serasa jauh suaranya," elak Dinda gugup.
Candra masih ingin menyahut, tapi karena ponsel yang berdering seketika menahan suaranya di ujung tenggorokan.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Candra.
Dinda bergegas menjauh masih dengan kegugupannya setelah aksinya hampir saja ketahuan.
"Udah kaya pencuri aja," gumam Dinda lirih sambil memperhatikan Candra yang berbicara.
Berusaha menghilangkan kegugupan, tangannya pun bergerak-gerak di atas layar ponselnya. Akan tetapi, bukannya sibuk dengan salah satu aplikasi, dia malah hanya menggulir-gulir aplikasi lainnya seolah sibuk sendiri.
"Lagi apa?" suara Candra mengagetkannya.
"Hah, kenapa, Mas?" tanya Dinda balik dan gugup.
"Kamu lagi apa?" ulang Candra.
Dinda menelan ludah yang tiba-tiba terasa amat besar dan sangat susah untuk ditelan.
"Lagi chatting sama teman-teman," jawab Dinda langsung membuka grup teman-temannya.
"Siapa yang telepon?" tanya Dinda menganti topik.
"Mas Lintang. Katanya dia juga dipanggil ke kantor polisi."
__ADS_1
"Loh, emang Mas Lintang ngapain? Kok dipanggil juga?"
"Dia yang datang nolongin pas kita pergi."
Dinda refleks berdiri dan beranjak mendekati Candra. "Ceritanya gimana sih, Mas? Kok bisa?" tanyanya yang baru ingat bahwa dia belum mengetahui isi seluruh kejadian usai pergi dari lokasi penyekapan. Selain itu, dia juga tak sadarkan diri.
"Tadi, kan, sudah aku jelaskan di kantor polisi," jawab Candra yang sempat ditanya oleh penyidik.
"Mas, kan, nggak nyebut kalau itu Mas Lintang," balas Dinda sambil mengingat-ngingat.
"Aku sebut kok sayang, aku sebut. Arifin Lintang Saskara," jelas Candra menyebut nama lengkap Lintang.
"Oh," ujar Dinda kikuk dan malu bersamaan.
Dia yang terlalu fokus dengan rasa takutnya sampai tidak memperhatikan nama yang Candra sebutkan ketika ditanya oleh penyidik.
"Aku cuman ingat Arifin-nya," tambahnya jujur.
"Karena kamu sudah di sini, tolong pijitkan punggungku sebelah sini!" ujar Candra sambil menarik Dinda duduk di sampingnya dan berbalik memunggungi istrinya.
Dinda pun dengan suka rela memijat punggung Candra yang tidak terluka.
"Sebenar!" kata Candra menghentikan tangan Dinda.
Candra pun meletakkan ponselnya ke atas nakas setelah istrinya berhenti memijat. Dinda yang melihatnya seketika kembali teringat aksinya tadi dan tujuannya melakukan itu.
"Silakan! Tanya apa?" balas Candra santai dan menikmati sentuhan tangan sang istri.
"Emm, itu---," masih saja merasa ragu, namun hati ingin bertanya.
"Itu apa?"
"Iya, itu."
Candra semakin dibuat bingung dengan pertanyaan ambigu sang istri. Dia bahkan sampai berbalik dan membuat Dinda turut menarik tangannya.
"Itu, itu apa?"
Pandangan keduanya terkunci dengan tatapan yang berbeda. Dinda yang menatap Candra ragu, sedang Candra menatapnya penasaran.
"Sayang, kok bengong?" Dinda tersentak dari lamunan keraguannya.
Dengan tekat penuh, Dinda pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Soal wallpaper ponsel kamu," kata Dinda pada akhirnya.
Candra mengerutkan kening tanda berpikir. Dia terdiam sejenak, kemudian mengambil ponselnya yang belum lama diletakkan.
__ADS_1
"Ini!" Candra memperlihatkan layar ponsel usai membuka kuncinya.
Dinda terdiam memperhatikan foto itu lekat, dan memastikan kalau dia memang tidak salah lihat. Setelah dirasa yakin, kini Dinda beralih menatap suaminya.
"Gadis kecil itu---," ujar Dinda menghentikan kalimatnya.
"Seperti kamu yang pernah mencintai laki-laki lain sebelum menikah denganku, begitu juga aku. Dia adalah gadis yang pernah aku cintai," aku Candra jujur membuat Dinda membantu.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena belum menghapus fotonya. Itu karena foto ini sudah lama menjadi latar ponselku, jadi aku lupa untuk menghapusnya," tambah Candra memperhatikan layar ponsel yang berada dalam genggamannya.
Setelah puas menatap, jarinya pun bergerak-gerak di atas permukaan layar ponsel. Dinda yang melihat dan menebak jika Candra akan menghapusnya segera merebutnya.
Candra tersentak kecil dan memandang Dinda penuh tanya.
"Boleh tau siapa namanya?" tanya Dinda santai dan dibalas Candra dengan gelengan.
"Jadi Mas, nggak mau kasih tau namanya?" Dinda memastikan makna dari sebuah jawaban isyarat suaminya.
"Bukan begitu," ucap Candra cepat, "aku lupa namanya," lanjutnya lagi.
Dinda pun tak kuasa menahan tawanya. Seketika suaranya memenuhi isi kamar tersebut. Candra yang mendapati reaksi Dinda, di dalam hati menjadi bertanya-tanya.
"Kenapa tertawa?" terucap sudah yang mengganjal di hati Candra.
"Serius, Mas ... kamu lupa namanya?" masih dengan tawa, Dinda balik bertanya.
"Itu karena sudah lama," elak Candra hendak mengambil kembali ponselnya, namun segera dijauhkan Dinda.
"Tapi aku heran, Mas. Itu kamu masih SD, kan! Kamu masih kecil, kok sudah punya cinta pertama?"
"Tidak ada yang bisa melarang kapan cinta itu datang, apa lagi diriku sendiri. Sekarang kembalikan ponselku!" pinta Candra menadahkan tangan.
"Mau ngapain?" Dinda menyimpan ponsel itu ke belakangnya.
"Tidak hanya kamu yang harus melupakan dirinya. Aku juga akan melupakan dan menghapus foto itu. Aku juga tidak akan menyalahkan kamu, kalau kamu belum bisa melupakan dia. Jujur saja, aku pun begitu sulit melupakannya walau itu hanya sekedar cinta monyet," kata Candra panjang lebar.
"Nggak perlu dihapus!" ujar Dinda sambil mengembalikan ponsel suaminya.
"Apa berarti kamu juga tidak akan melupakannya?" tanya Candra berubah serius.
Dinda mengulum senyum, dan beralih menatap dinding di hadapan mereka.
"Coba lihat itu!" Tunjuk Dinda pada sebuah foto kecil yang terbingkai menggantung di dinding.
Candra melihat arah tunjuk Dinda dan memperhatikan foto itu dengan teliti. Dia baru menyadari bahwa ada sebuah foto yang tergantung di sana. Ditambah lagi dengan posisi tidurnya yang menghadap ke arah Dinda membuatnya tidak melihat foto itu sebelumnya.
Tidak puas menelisik foto itu sambil duduk, kini Candra berdiri dan beranjak.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....