Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 71 Candra khawatir.


__ADS_3

"Kenapa, Bar?" Lintang yang baru saja memasuki ruangan Candra, sangat penasaran saat melihat rahang adiknya itu mengeras usai mematikan ponsel dalam genggamannya.


Sebagai saudara sepupu, mereka cukup dekat untuk saling berbagi cerita, walau tidak semuanya bisa mereka utarakan. Bahkan Lintang yang merupakan bos di perusahan keluarga mereka, selalu mengunjungi Candra yang notabennya adalah bawahan. Sebab, dia sangat menyayangi anak pamannya tersebut.


"Baskoro dibebaskan," Candra menjawab pertanyaan Lintang dengan serius.


"Kenapa Baskoro bisa bebas?" Lintang membalas tak kalah serius.


"Danu mencabut laporannya! Dia bilang kalau semua yang dikatakannya kemarin, hanya kebohongan karena diancam seseorang. Dan tuduhan kita kepada Baskoro, tidak memiliki bukti kuat," cerita Candra sambil berdecak marah.


"Apa ini ada hubungannya dengan kebakaran itu!" ucap Lintang berasumsi setelah dia mengetahui hasil dari penyelidikan dari cerita Candra, bahwa kebakaran itu tidak berasal dari arus pendek listrik. Melainkan memang ada kesengajaan.


"Sepertinya, iya. Ada kemungkinan jika kebakaran itu memang direncanakan agar Danu mencabut kesaksiannya. Jadi ... besar pula dugaanku, bahwa mereka akan berbuat sesuatu yang akan menyerang balik kita," Candra melirik Lintang sambil memegang dagu nya yang bertopang di pegangan tangan kursi.


Lintang terdiam menyerap apa yang dikatakan Candra, dan dia pun mengangguk menyetujui pendapat sang adik. Keduanya beradu pandang beberapa saat, hingga Candra memutus nya lebih dulu kemudian terdiam dalam pikiran yang entah apa itu.


"Kau mau menghubungi siapa?" Lintang memperhatikan Candra yang tiba-tiba mengotak atik ponselnya sebelum akhirnya meletakkan ke daun telinganya.


Bukannya menjawab, Candra terlihat khawatir menunggu sambungan teleponnya terhubung.


"Wa'alaikumussalam. Apa kau jadi ke rumah papa?" Candra langsung melayangkan pertanyaan sambil bersikap santai tidak seperti saat dia menunggu sahutan tadi.


"Apa sudah lama? Kapan pulang?"


"Ada siapa saja di rumah?"


"Pak Ujang di mana?"


"Kau harus berhati-hati, ya!"


"Iya, hati-hati!"


"Tetap saja. Mau sudah berangkat atau belum, kau harus hati-hati!" beberapa pertanyaan Candra ajukan silih berganti saat mendapat jawaban.


"Bagus. Ya sudah, makan mie-mu. Assalamualaikum," Candra mematikan ponselnya sambil bersandar pada kursinya.


"Kau menghubungi istrimu?" tanya Lintang yang hanya bisa mendengar rentetan pertanyaan dari Candra untuk seseorang di seberang sana.


"Iya," jawab Candra pendek.


"Jadi dia pergi ke rumahnya?"

__ADS_1


"Hmm," sahutnya bergumam sekenanya dengan pikiran berkelana.


"Apa kau khawatir akan terjadi sesuatu padanya?" walau tidak dijawab pun, sudah tergambar gelas dari mimik wajah sang adik.


"Apa sebaiknya kau susul saja istrimu?" lanjutnya memberi saran.


Candra menatap Lintang diiringi senyum tipis. "Jika bosku langsung yang memberi perintah, maka dengan senang hati aku pergi menyusulnya!" sambutnya semakin tersenyum lebar.


Lintang berdecak. "Baiklah, baiklah ... aku ijinkan kau pergi. Tapi besok kau akan lembur."


"Oh ... tidak bisa Pak Bos! Karena ini perintah dari Anda, jadi tidak akan ada sangsi," ucap Candra tersenyum sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Lintang kembali berdecak sambil melirik sinis, pura-pura marah karena meresa terjebak dengan sarannya. "Ya sudah, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran," katanya mengalah pasrah.


"Terimakasih, Pak Bos," seru Candra ditutup dengan gelak tawa kemenangan.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Tanpa membawa tas kerjanya, dengan langkah tegas dan lebar kaki jenjengnya berjalan cepat menuju pintu lift. Tepat ketika Candra mendekati lift, pintu itu perlahan terbuka sampai sempurna. Dia pun segera masuk setelah seseorang keluar dari dalam lift tersebut.


Di dalam lift, Candra menyempatkan diri menelpon seseorang. Dipanggilan pertama, dia belum juga mendapatkan jawaban. Tidak ingin menyerah, sambil berjalan keluar dari lift ... tangannya kembali menekan tombol panggil.


Setibanya di parkiran, Candra gegas memasuki mobil dan menghidupkan mesinnya. Dipandu oleh pria paruh baya yang mengarahkan jalannya, dia pun keluar dari area parkir. Candra membuka kaca di sampingnya, dan memberikan uang pecahan dua puluh ribu yang disimpannya di dalam laci mobil.


Jalan yang dilewati Candra cukup legang, hingga akhirnya dia tiba di rumah mertuanya. Pagar besi yang menjulang tinggi itu rupanya tengah terbuka lebar, sehingga memudahkannya langsung masuk ke halaman rumah tersebut.


Akan tetapi, itu membuat keningnya berkerut dalam. Perhatiannya pun adalah pos keamanan yang terlihat kosong tanpa adanya penjagaan.


"Pak Ujang, mana ya?" Candra bertanya sendiri sambil mendekati bangunan itu.


"Astaghfirullah hal azim," pekik Candra melengking ketika mendapati Pak Ujang yang terbaring di lantai dengan kursi terjungkal di sampingnya.


"Pak ... Pak Ujang!" panggilnya sembari menepuk-nepuk pelan pipi kiri dan kanan Pak Ujang. sementara tangan satunya menopang kepalanya.


"Pak Ujang ...!" Candra masih berusaha membangunkan penjaga itu, dia bahkan lupa dengan tujuannya ke rumah tersebut.


"Loh, ada apa ini Den?"


Candra langsung menoleh ketika mendapat pertanyaan dari arah pintu pos jaga. "Bik Arti. Kalian baru pulang?" balasnya bertanya melirik kepada dua wanita yang masing-masing menenteng tas belanjaan.


"Iya Den, ada apa ini?" Bik Arti nampak panik mendekati mereka.

__ADS_1


"Bantu bangunin Pak Ujang, Bik," Bik Arti menganggu tak mengerti dan mengambil alih kepalanya.


Tanpa bicara Candra melesat cepat masuk kedalam rumah melewati Bik Dami. Tiba-tiba rasa khawatirnya yang tadi sempat singgah, seketika menggila.


"Adin!" teriak Candra berlarian sambil menoleh ke kiri, kanan, dan depannya.


"Sayang ...!" ulangnya terus masuk semakin dalam di rumah besar itu.


"Sayang! Kamu di mana?" tanya Candra berlari menaiki anak tangga, matanya fokus ke lantai atas tanpa mempedulikan langkah kakinya.


"Sayang!" panggilnya sembari membuka pintu kamar sang istri. Kosong, tidak ada seorang pun di sana. Masih mencari kebeeadaan Dinda di dalam kamar, Candra segera membuka kamar mandi.


"Adin!" tak ubahnya dengan hasil sebelumnya, kamar mandi itu juga tak berpenghuni.


Berbalik badan, dengan berlari cepat. Candra kembali turun ke lantai bawah. Sama seperti ketika dia masuk rumah, Candra terus meneriaki nama Dinda.


"Sayang! Kamu di---," kalimat Candra terputus ketika dirinya tiba di ruang dapur.


Candra bergeming, matanya tak berkedip menelisik ruangan tersebut. Lantai granit berwarna putih tempatnya berpijak, kini di atas lantai itu telah berhamburan beling bersama mie instan yang sudah masak.


"Ya Allah gusti," pekik Bik Dami di belakang Candra, tapi tak merusak lamunannya.


"Ada apa sama dapur ini?" heran Bik Dami dengan logat jawanya sambil meletakkan dua tas belanjaannya asal, dan segera mengumpulkan benda yang berserakan.


"Bik Dami!" panggil Candra dingin mengagetkan Bik Dami.


"I--iya Den," sahutnya takut.


"Pak Ujang sudah sadar?"


"Su--sudah Den. Saya ke sini ma--mau mengambil minum---."


Candra langsung pergi meninggalkan Bik Dami tanpa menunggu penjelasan lebih rinci dari pelayan mertuanya tersebut.


"Ada yang menculik istriku."


BERSAMBUNG ....


Mohon maaf semuanya, karena saya telat up date beberapa hari ini πŸ™. Saya ucapkan terimakasih sebelumnya kepada kakak-kakak yang masih setia menunggu kelanjutan Dinbar, atau Dincan. Di sini saya juga ingin mengatakan sesuatu, ya! Bahwa saya tidaklah malas untuk menulis cerita ini, tapi karena kesibukan di RL dan saya juga tidak ada gaji dari novel ini. Itu membuat saya harus kumpulin duit dulu buat beli koata πŸ˜…. Jadi ... harap dimaklumi ya, kakak-kakak 🀭, karena kantong saku saya tidaklah tebal. Semoga saya tetap bisa menyelesaikan cerita ini pelan-pelan tanpa harus menggantungnya. Aamiin ...! Mohon doanya juga ya, kakak-kakak sekalianπŸ™πŸ˜.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2