
Candra terbangun tatkala merasakan punggungnya yang sakit. "Iss," desisnya ketika membuka mata. Sebab, selain punggung yang sakit, kepalanya juga terasa pusing.
Samar terlihat orang yang melintas. Belum mampu untuk membuka mata sempurna dan terlalu lama, dia memilih kembali memejamkan mata sembari mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya terbaring di tempat ini.
Bunyi bising orang-orang yang saling bersahutan dan bau obat-obatan seketika menerpa indra penciumannya seiring dengan kesadaran yang semakin terkumpul. Candra yang merasa pusingnya sudah mulai reda, kembali membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
Ada sekitar enam buah ranjang pasien terhitung dengan tempat tidurnya, dan semua telah terisi penuh. Namun, yang berada di sana bukan hanya sang pasien, melainkan juga keluarga dari pasien tersebut yang menjaga mereka.
"Adin," gumamnya yang berhasil mengingat kejadian semalam.
Mimik wajahnya berubah masam kala punggungnya diterpa kesakitan. Refleks tangan yang terdapat selang infus pun terangkat memegang bahu kanannya.
Candra berusaha hendak bangun ketika matanya menatap wajah pasien di samping kirinya. Dia bergeming tanpa berkedip dan menelisik wajah pucat yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.
"Adin," ucapnya lirih.
"Dasar b0d0h," hardik seseorang sambil bicara pelan membuatnya langsung menoleh ke samping kanan.
"Mas ...," balasnya tersenyum tipis.
"Akan ku panggilankan perawat," ucapnya berbalik dan pergi.
Tidak lama kemudian datanglah seorang perawat pria dan mencek keadaan Candra. Setelah memberi instruksi, dia pun pergi.
"Kapan datang? Dan tahu dari mana aku ada di sini?" tanya Candra pada orang yang sudah memanggilkan perawat.
Lawannya langsung melipat tangan di dada dan duduk di tepi ranjang samping kaki Candra sambil menatap tajam.
"Bukankah harusnya aku yang bertanya?" ucapnya dingin, namun tetap dengan suara pelan agar tidak mengganggu orang di ruangan tersebut.
"Oh iya ... rumah sakit ini, kan, yang paling dekat sama lokasi semalam," ujar Candra menjawab sendiri pertanyaannya dan mengabaikan orang yang tengah menahan marah padanya.
"Apa kau merasa baikan?" Candra menatap orang yang menanyakan keadaannya itu.
"Alhamdulillah, lumayan," akunya jujur.
"Itu sudah sangat cukup, agar nanti aku bisa menghajarmu."
Candra meringis dan menelan ludah. "Maksudku, aku belum merasa baik, Mas," ralat Candra cepat.
"Tidak masalah. Nanti ketika kau pulang, berarti kau sudah baik," ucapnya tersenyum misteri, "dan bersiap-siaplah," nasehatnya.
"Serius Mas, masih sakit ini," kata Candra meyakinkan.
"Iya aku tahu, dan aku juga serius."
Candra menghela nafas panjang. Dia tahu kalau itu sebenarnya tidaklah serius, namun itu membuatnya malah tidak enak hati.
"Maaf Mas Lin," sesal Candra.
"Sudah sadar rupanya?" sindir Lintang.
"Waktu itu aku hanya mengkhawatirkannya ... dan aku pikir cukup teman-temanku saja. Jadi, tidak berpikir untuk menghubungimu," jelas Candra sambil menoleh ke samping kirinya.
Lintang ingin melayangkan protes, namun urung dia lakukan dan memilih ikut melihat ke mana adiknya pandang.
__ADS_1
"Sepertinya Dinda sangat lelah, jadi belum bangun sejak tadi pagi," ungkap Lintang.
"Iya," sahutnya pendek.
"Oh iya, bagaimana dengan teman-temanku?" ingat Candra kepada para kawannya.
"Beberapa dari mereka juga tertembak, dan satu di antaranya---," ujar Lintang menghentikan kalimatnya sambil menatap Candra yang turut menatapnya.
"Satu di antaranya?" ulang Candra bertanya penasaran.
"Meninggal."
Dorr
Candra terkesiap dengan tubuh yang menegang. Kalimat itu bahkan terus mengulang-ngulang di pendengarannya.
"Si--siapa Mas?" tanya Candra gugup dan tidak rela.
"Bagus."
Dorr
Untuk yang kedua kalinya, dia merasa ditembak petir di siang bolong saat hari sangat cerah karena kematian Bagus. Sesal pun seketika menyeruak memenuhi isi hatinya.
"Tadi jenazahnya sudah ku kirim pada keluarganya. Dan kemungkinan sore ini akan dikuburkan."
Candra semakin terdiam tanpa bisa berkata-kata, dia bahkan belum mengucapkan terimakasih pada rekannya itu karena sudah menemukan tempat penyekapan istrinya.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku akan menemui keluarganya," hibur Lintang yang mengerti perasaan Candra saat ini.
"Ada beberapa orang lagi yang meninggal di tempat kejadian," Candra langsung mempertajam pendengarannya dan menuntut pernyataan lewat sorot matanya.
Walau pun Baskoro adalah biang dari semua kejadian yang terjadi pada dirinya, Dinda dan rekannya. Akan tetapi, Candra juga merasa kasian dengan kematiannya.
Candra masih larut dalam lamunan dan penyesalan ketika Lintang bersuara, "Dinda, kau sudah sadar?"
Seketika seluruh atensinya berpindah pada sesosok orang yang terbaring di sampingnya.
"Sayang," panggil Candra pelan sambil memperhatikan tatapan Dinda yang kosong ke arah langit-langit ruangan tersebut.
Lintang mendekati Dinda dan menyapanya. "Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Dinda melirik dan mengangguk samar.
"Baiklah, kau tunggu sebentar! Biar ku panggil perawat," kata Lintang untuk kedua kalinya memanggil perawat.
"Adin."
Dinda menoleh dan mata mereka terkunci. Detik berikutnya, Dinda tersenyum tipis.
"Jangan pikirkan tentang kejadian itu!" pinta Candra khawatir.
Dinda menggeleng pelan. "Aku tidak mau memikirkannya," aku Dinda jujur.
"Syukurlah. Lalu apa yang kau pikirkan?" tanya Candra ingin tahu.
__ADS_1
"Aku hanya memikirkan mimpiku."
"Mimpi? Kau bermimpi?"
Dinda mengangguk pelan.
"Tentang apa? Bukan tentang kejadian itu, kan?" tanya Candra kembali khawatir.
"Bukan. Tapi mimpi yang aneh."
"Aneh?" Candra mengerutkan kening.
"Iya, aneh. Aku ingin mengingat mimpiku, tapi rasanya tidak bisa diingat."
"Sudah, tidak sudah ingat."
Tiba-tiba Lintang datang dengan perawat pria yang tadi sempat memeriksa Candra.
"Jangan mendekat," tolak Dinda panik.
Candra dan Lintang saling pandang, dan mereka yakin jika Dinda masih ketakutan akibat penyekapan itu.
"Tidak apa-apa, Dinda. Dia hanya mau memeriksamu," ucap Lintang mendekat.
"Tidak mau," tolak Dinda bertambah panik.
Candra yang melihat itu pun segera memaksakan diri untuk bangun dan turun dari ranjangnya. Hampir saja dia terjatuh ketika berjalan mendekati Dinda, akibat pusing yang menyerap karena bangun dan berjalan secara tiba-tiba.
Selang infus yang mengganggu pergerakannya pun lantas dicabutnya, membuat Lintang dan perawat itu kini berubah panik.
"Bara," sentak Lintang langsung berjalan ke arah Candra yang sama sekali tidak menghiraukannya, dan memilih duduk di samping Dinda sambil memegang tangan istrinya dengan tangan satunya.
"Mas, kenapa malah dicabut?" protes perawat sudah berpindah tempat dan mengambil tangan Candra yang mengeluarkan darah.
Keributan yang terjadi seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Mas, ada saputangan?" tanya perawat itu pada Lintang.
"Ada," balas Lintang sambil mengambil saputangan di kantung celananya.
"Tolong pegang sebentar! Saya mau mengambil perban," pinta perawat yang langsung diambil alih Lintang.
"Kenapa kau malah bertindak ceroboh?" kesal Lintang.
Dinda mengeratkan pegangan tangan mereka saat melihat saputangan itu sudah berubah warna menjadi merah darah.
"Tidak apa-apa, tidak usah khawatir! Aku ada di sini," ujar Candra menenangkan.
"Aww," pekik Candra karena mendapat jitakkan dari Lintang.
"Tidak usah khawatir apanya? Dasar b0d0h," kembali menjitak kepada Candra yang hanya bisa berpasrah diri.
Akhirnya pemeriksaan Dinda terhambat karena harus membalut luka Candra terlebih dahulu, yang juga membuat perawat itu merasa dongkol. Bagaimana tidak kesal, pekerjaannya bertambah gara-gara sebuah kesengajaan seorang pasien.
Candra tidak tahu saja, kalau perawat itu tengah mengumpat di dalam hati sambil membalut tangannya.
__ADS_1
"Apa karena cinta, sampai-sampai dia rela mencabut jarum infusnya? Apa dia tidak merasa sakit karena mencabut paksa? Dasar bucin."
BERSAMBUNG ....