
...'Orang yang kuat dan sabar adalah orang yang mampu menyembunyikan perasaan sedihnya kepada orang lain dan senantiasa mengukir senyuman dengan ikhlas.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Dinda mengerjapkan matanya berat, dan kepalanya terasa begitu pusing. Dengan kesadaran yang mulai terkumpul, memaksanya untuk segera sadar dari tidur singkatnya.
Menyesuaikan penglihatan, menembus sinar cahaya yang dihasilkan dari bola lampu berwarna putih terang. Memicing'kan mata kala menatap langit-langit dan sekeliling dengan kening yang berkerut dalam.
Gegas bangkit dari pembaringannya ketika menyadari tempat yang begitu asing. Dinda terkesiap saat duduk dan selimut yang menutupi tubuhnya terbuka, Dia mendapati dirinya dalam keadaan yang tak biasanya.
Bagian atas tanpa sehelai kain pun, berbanding terbalik dengan bawahnya yang nampak masih lengkap dengan celana gucci-nya.
"Astaghfirullah hal azim," pekik Dinda sambil menarik selimut, menutupi dadanya.
"Apa yang, terjadi? Di mana, ini?" gumam Dinda pelan berbicara sendiri sambil memegang kepalanya dengan perasaan yang begitu takut dan was-was.
Mengedarkan pandang, demi menelisik tempat yang Dia tinggal. Terdapat sebuah almari berukuran kecil, dan ada meja rias yang sama kecil. Di sudut ruangan, ada pintu.
Dilihat dari barang-barang tersebut, Dinda bisa menyimpulkan, jika Dia sedang berada di dalam kamar hotel.
"Siapa yang membawaku, ke sini?" monolog Dinda sambil mencari bajunya.
"Brenggg sekkk," umpat Dinda. Dia yang tidak pernah mengumpat, kali ini tanpa sadar menghardik orang yang sudah mempermainkan nya sedemikian rupa.
Tidak ada apa-apa yang dirasakan Dinda, di tubuhnya. Dia yakin, bahwa orang yang membawanya hanya melepas pakaiannya, dan tidak melakukan lebih. Namun, semua itu tetap saja membuatnya marah. Lalu siapa dan apa motifnya?
Meraup bajunya di atas lantai dan segera memakainya, usai Bra sudah terpasang. Menggulung rambut panjangnya asal, lantas mengambil jilbab di lantai yang sama. Dinda pun melihat tasnya ada di atas nakas.
Berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata tidak di gunci. Entah Dinda harus bersyukur atau tidak, karena pintunya tidak dikunci.
Seandainya Dia belum bangun dan ada orang mabuk masuk ke kamarnya, maka Dinda tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Namun, seandainya terkunci, jelas Dia juga tak bisa pergi dari kamar tersebut.
Dinda tahu, walau masih bulan puasa, tapi tidak menutup kemungkinan jika ada orang mabuk yang menginap di kamar hotel itu.
Melewati lorong hotel yang sunyi, Dinda mempercepat langkah kakinya. Setetes cairan bening gugur membasahi pipi mengiringi nya. Resah, gelisah, takut, dan bingung dengan apa yang terjadi melebur menjadi satu.
Mengingat-ngingat, adakah Dia mempunyai musuh? Namun, rasanya tidak ada. Dinda tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun.
Disetiap langkah kakinya, Dinda hanya ingin menemukan siapa orang yang sudah merendahkan nya hingga seperti ini.
Ke luar dari gedung hotel, Dinda berjalan ke jalan raya dan bertepatan dengan sebuah taksi yang melintas.
Melambaikan tangan, guna menahan taksi. Setelah taksi berhenti, gegas Dinda masuk dan menyebutkan alamat rumahnya.
__ADS_1
Disepanjang jalan, Dinda menatap kosong ke luar jendela. Dia masih begitu shok dan bingung.
"Sudah sampai Mbak!" suara supir taksi memecah keheningan dan menarik dirinya dari lamunan.
"Hah, sudah sampai?" tanya tersentak kaget.
"Iya, Mbak."
"Makasih ya, Pak," ucap Dinda sambil menyerahkan uang pecahan seratus ribu.
"Kembalian nya, Mbak."
"Ambil saja, Pak." Dinda langsung pergi tanpa mendengar ucapan terimakasih dari supir taksi.
Menghela napas berat, dengan hati-hati Dinda membuka pagar besi rumahnya agar tidak ketahuan penjaga.
Untungnya Dinda selalu membawa kunci rumah nya, dan dalam keadaan seperti ini Dinda tidak ingin ada yang tahu bahwa Dia pulang di subuh hari.
Kekhawatiran Dinda semakin meninggi, tatkala sayup-sayup suara qiroah terdengar dari masjid dan langgar di sekitar rumahnya. Dia khawatir jika bertemu Kaamil yang bersiap pergi ke masjid.
Perlahan Dinda melangkahkan kaki ke teras rumahnya dan membuka pintu dengan kunci yang Dia miliki.
Menelan ludah yang serasa begitu sulit untuk ditelan. Dinda mengendap ngendap naik ke lantai atas, menuju kamarnya.
"Kakak habis dari mana?" tanya Kaamil menatapnya penuh selidik.
"Hah, Kakak ..." pekik Dinda bingung.
"Tadi Aku mau ajakin, sahur. Ternyata Kakak nggak ada? Emang Kakak, pulang ke rumah Bunda? Trus, kenapa pulang ke sininya subuh?" tanya Kaamil beruntun.
"Hah, iya. Kakak pulang ke rumah Bunda, tadi malam. Pulang subuh karena khawatir sama, Kamu. Lagian, Kakak nggak puasa," jawab Dinda memberi alasan.
"Alahh. Khawatir sama Aku, harusnya pulang ke sini dong, tadi malam?" ujar Kaamil heran.
"Emm, I-itu ..."
Suara azan menghentikan Dinda berpikir, dan mengalihkan topik yang sedang dibahas.
"Eh, udah azan! Ayo buruan ke mesjid, sholat yang bener." Dinda mendorong Kaamil agar melanjutkan langkah kaki sang Adik yang hendak pergi ke masjid.
"Iya ... Iya," ujar Kaamil pasrah.
Untuk sesaat Dinda menghela napas lega, tapi tiba-tiba pikirannya kembali kalut dan gelisah. Masuk ke dalam kamar, Dinda segera mandi guna menenangkan pikirannya yang hampir membeku.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi?" monolog Dinda dengan suara lirih sambil merasakan setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya.
.
Duduk termenung di atas kasur, usai mandinya. Karena tamu bulanannya, Dinda tidak puasa dan tidak sholat. Namun, Dia tetap berdo'a. Di dalam hati, dengan tulus memohon ampun atas apa yang terjadi pada dirinya hari ini.
'Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hambamu ini.'
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Bagaimana? Apa Dia sudah pergi?" tanya seorang Wanita kepada sambungan teleponnya.
"Kerja bagus," pujinya bangga.
"Kau simpan saja itu untukku, sebagai kartu AS," ujarnya setelah memberi kesempatan lawannya bicara.
"Nanti, saat waktunya tiba ... kartu itu akan Ku gunakan," sambungnya lagi.
"Besok, uang Mu akan Ku kirim," ujarnya sebelum mematikan sambungan telepon.
"Sedang apa Kau di sini?" tanya seseorang tajam tiba-tiba membuka pintu di mana Dia berada.
"Bara," pekik Wanita itu gugup.
"Tidak, ada. Aku hanya membereskan tempat kerja Suamiku," elaknya.
"Atau ..." ucapnya menggantung sambil berjalan mendekat.
"Kau ingin, membantuku?" tanya sambil tersenyum manis dan mengedipkan satu mata.
Orang itu menatapnya tajam. "Inilah alasan terbesarku, kenapa Aku malas menginap di sini. Melihat dirimu saja, Aku sudah jijik," jawabnya pedas.
"Jahat sekali bicara Mu."
"Kau sendiri, yang membuat orang berbicara demikian." Bara segera berbalik dan berjalan. Namun, baru satu langkah, Dia kembali menatap Wanita yang dihina nya.
"Mas Lintang, sudah menunggumu untuk sholat ke masjid bersama. Aku disuruh nya mencarimu! Tak Ku sangka, ternyara Kau di sini. Bertobatlah, ketika Kau sholat Nanti." Bara kembali meninggalkannya usai berbicara seperti itu.
Wanita itu menggenggam ponselnya erat dan menatap tajam punggung yang lebih dulu pergi.
'Apa Bara mendengarnya?'
BERSAMBUNG ....
__ADS_1