
Dinda membaca ulang pesan teman-temannya dengan penuh keseriusan dan jeli, masih tidak faham dengan isi pertanyaan yang semua tertuju padanya dan tampak khawatir.
(Soraya)
"Din, Kamu nggak apa-apa 'kan?"
~~
(Nurul)
"Kamu yang sabar ya, Din ... Aku nggak akan biarin, orang yang sudah menyebarkan berita itu hidup tenang 😡."
~~
(Rahimah)
"Yang sabar Din, Aku minta maaf sekarang nggak bisa nemenin Kamu 🙏. Tapi janji nanti Aku ke tempat, Kamu."
~~
(Soraya)
"Gimana kalau nanti sore, kita ke rumah Dinda?"
~~
(Nurul)
"Aku sih, oke aja. Nanti Aku usahain tinggal Nuri sama Mama."
~~
(Rahimah)
"Aku ijin Mas Abdar, dulu." 🙏
~~
(Soraya)
"Oke .., nanti konfirmasi kalau bisa."
~~
(Rahimah)
"Boleh kata Mas Abdar, tapi diantar sama Dia."
~~
(Soraya)
"Aku juga sama Mas Zidan, berarti nanti bisa jadi teman ngobrol Dia. Atau mereka juga bantu mikir, buat bantu masalah Dinda?"
__ADS_1
~~
(Nurul)
"Kalau gitu Aku minta diantar sama Mas Ari aja deh, biar kita sama para mansu bantuin Dinda."
~~
(Soraya)
"Setuju."
~~
(Rahimah)
"Setuju."
~~
(Nurul)
"Deal."
'Ada apa, ini? Maksud mereka masalah, apa?' Dinda membatin penuh pertanyaan.
Keluar dari pesan grup yang hanya berisikan empat orang, Dinda bergulir membaca pesan-pesan grup sekolah SMK.
Tercengang ketika pertama membuka grup sekolah sambil tangannya terangkat guna membekap mulut yang reflek menganga.
"Gw nggak nyangka. Yang dikira alim, pakai kerudung dan baju tertutup ... nyatanya cuman buat topeng doang."
"Iya. Gw pikir Dia alim! Ehh, ternyata ... lebih buruk dari sampah ini."
"Gw mah juga nggak alim-alim banget, tapi se'enggak nya ... gw nggak berkedok dibalik jilbab. Dan satu lagi, gw nggak sampai sejauh itu."
"Apalagi sengaja mengabadikan ... gil4 bener itu mah."
"Iya. Benar-benar gil4."
"Wah, gw jadi pengen jadi cowoknya! Masih buka pendaftaran nggak ya?"
"Yoi, ingin bini ..!! Lo udah punya buntut kali."
"Bini nggak usah tau kali! Gw juga pengen daftar, bukan Dia doang. Jadi gimana, Din? Gw nomor berapa, nih?"
"Gw ikut, dong! Nggak apa-apa nomor akhir, yang penting dapet giliran."
"Bener-bener nih ya, para cowok ... ketauan kalian, nggak ada yang setia sama bini lo."
"Gw nggak mau munafik, coba kalian liat Dia! Pakai kerudung, tapi nyatanya?"
"Itu memang benar, tapi masa sih ... nggak ada suami yang setia? Wah gw jadi curiga nih, sama laki gw."
__ADS_1
"Jadi gimana? Kita keluarin aja, atau gimana nih?"
"Keluarin aja."
"Bener. Keluarin aja."
"Setuju."
"Tapi sebelum di keluarin, gw mau mastiin dulu. Gw nomor berapa nih?"
"Ett dah ... untung gw nggak jadi naksir sama cowok-cowok ini. Kalau nggak, gw pasti nyesel."
"Bangettt. Dah, keluarin aja, Dinda nya."
Tiba-tiba tubuhnya gemetar saat membaca isi pesan dari percakapan teman-teman sekolahnya. Tenggorokannya memanas dan pandangan pun mengabur, ketika melihat lekat foto yang tadi menjadi penyambut Dia membaca pesan-pesan menyakitkan tersebut.
Ingatan Dinda mengulang saat berada di hotel dalam keadaan tidak memakai baju tanpa seorang pun di sana ketika Dia sadar.
Lalu kenapa sekarang foto dirinya tersebar dengan seorang lelaki yang tengah memungungi kamera tanpa baju dan memeluk tubuhnya yang tertutup selimut hanya memperlihatkan bahu mulus nan putihnya.
Dinda beringsut di samping ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Tangannya semakin erat membekap mulut yang hampir menjerit, tangan satunya pun turut menggenggam erat ponsel tersebut.
Pandangan lurus kedepan dengan tatapan kosong. Kata-kata orang di grup tadi begitu menyakitkan. Bertanya-tanya, siapa orang yang sudah membuat dirinya terhina dan menjadi bahan gunjingan teman-teman.
Tanpa bisa dihentikan, tangisnya semakin deras dengan suara tertahan guna tak terdengar oleh orang rumah.
"Adin," ketukan dan panggilan dari balik pintu malah Dinda abaikan dan semakin larut dalam kubangan kesedihan tiada tara.
"Astaghfirullah, Adin," pekik Vita usai mendorong pintu dan berjalan mendekati Dinda.
Mendongkak dengan derai air mata, seketika tangis Dinda pecah dan langsung memeluk Vita erat.
Dinda tidak peduli bagaimana dirinya sekarang, yang terpenting adalah sandaran untuk rasa luka hatinya itu.
"Sabar ya, Nak," ujar Vita sambil mengusap pucuk kepala Dinda yang masih terbungkus jilbab.
Mendengar kalimat pendek penuh makna semakin membuat Dinda terisak dalam dekapan Tantenya.
Tanpa diperjelas Dinda sudah yakin, bahwa Adik Ibunya pasti sudah tahu. Mungkin saat Dinda meninggalkan tadi, Vita juga mendapat kabar yang juga Dia terima.
"Mil, cari orang untuk mencari tau ... siapa yang menyebarkan foto-foto palsu itu!" ucap Al geram yang berdiri tidak jauh dari Dinda dan Vita.
"Baik, Ya." Kaamil segera ke luar sambil mengotak-atik ponselnya.
Dinda melirik, Dia baru sadar kalau Al dan Kaamil juga menyusulnya di kamar. Dinda yang tergugu tidak bisa membenarkan atau menyangkal, jika foto itu bukanlah palsu, tetapi adalah benar.
Dia semakin menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Vita dengan perasaan yang berkecamuk.
"Bangun, Sayang." Vita meraup bahu Dinda dan membimbingnya bangun.
"Bunda ...," ucap Dinda lirih bergetar.
"Tenang aja, Sayang. Ada Bunda, di sini," hibur Vita sambil memeluk Dinda duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Dinda terharu, Vita selalu menenangkannya dan tidak ada tuntutan untuk penjelasan foto itu. Cukup lama Dinda menangis, hingga Dia kini merasakan lelah dan tertidur.
BERSAMBUNG ....