Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 67 Tanda tanya besar.


__ADS_3

"Milik Luna? Maksud Mas ...?" tanya Dinda ragu, "mereka akan tinggal di rumah ... Mbak Luna dan Mas Lintang?" imbuhnya tidak mengerti.


"Trus ... sejak kapan Mas Candra, tau rumahnya Danu?" belum juga terjawab pertanyaan sebelumnya, namun Dinda sudah kembali mengajukan pertanyaan yang lain walau pun ragu-ragu.


Rupanya pertanyaan yang muncul dalam pikira sejak di rumah warga tadi, belum sepenuhnya habis dan masih bersarang mengganjal di sudut hatinya.


"Ya udah, aku jawab satu-satu!" ucap Candra sambil merapatkan diri di sampingnya dan langsung melingkarkan tangan di bahu Dinda.


Dinda tersentak, namun tak dapat berkutik dan hanya bisa pasrah ketika Candra memberi sedikit tarikan guna berjalan beriringan.


"Rumah yang aku maksud adalah rumah Luna. Mereka tidak akan tinggal bersama Luna dan Mas Lintang, karena rumah itu juga bukan rumah yang di tempati Luna. Kalau soal dari mana aku tau rumah Danu ... Danu sendiri yang kasih tau aku, saat aku berkunjung ke sana," beber Candra sambil berjalan, Dinda mencoba menyerap semua bait kalimat yang dilontarkan suaminya.


"Kenapa Mas, menyuruh mereka tinggal di rumah Mbak Luna? Apa Mbak Luna, nggak akan marah? Karena Mas, asal bawa orang buat tinggal di rumahnya," Dinda segera masuk ke dalam mobil saat Candra membukakan pintu untuknya.


Dia harus sabar menunggu jawaban Candra, karena suaminya itu keburu menutup pintu dan berjalan memutar menuju pintu di sisi lain mobil.


"Luna nggak akan marah. Aku telepon dia dulu!" jawab Candra setelah duduk di balik kemudi, dan mengambil ponselnya telebih dulu.


Dinda menghela napas panjang, ketidak tahuan mengenai sifat Candra serta kebiasaannya adalah salah satu bukti nyata keterbatasaan hubungungan yang mereka jalani untuk layak disebut pasangan suami istri, dan itu membuatnya dalam keadaan pasrah juga tidak bisa mengungkapkan perasaan herannya.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi saat ini. Jika Candra mau menolong orang lain, itu sudah jelas hal yang terpuji. Bahkan sangat-sangat terpuji.


Akan tetapi, status yang mengatas dirikannya sebagai seorang istri, dan entah mengapa egonya mencuat untuk diakui. Dia seolah perlu tahu! Untuk apa Candra memberi tempat tinggal kepada keluarga Danu? Yang notabennya adalah penyebab kerugian pada dirinya, beserta hadirnya sebuah pernikahan di antara mereka.


Satu pertanyaan yang belum terucap, dan sekarang muncul lagi kepermukaan tentang pertenyaan hubungan suaminya bersama Luna.


Tentu Dinda ingat betul jika di antara dia dan Candra, dialah yang lebih dulu menarik garis merah. Saat di mana suaminya itu memberikannya ruang untuk menyembuhkan luka, maka sampai di situlah batasannya.


Seandainya Dinda melewati batasannya, jelas dia harus sudah siap dengan segala hubungan yang semakin mendalam. Terutama tentang hak dan kewajibab mereka.


Tidak ingin memperlihatkan rasa penasaraannya, Dinda hanya bisa bersembunyi dalam benaknya sendiri dan menyimak serta menduga-duga.


"Hallo, Assalamualaikum," sapa Candra.

__ADS_1


"Apa hubungan mereka sangat dekat? Bukankah waktu itu mereka terlihat tidak akur? Aku bahkan pernah melihat mereka bertengkah. Dan tidak cuman sekali, tapi beberapa kali," Dinda membatin sembari melirik dari ekor matanya.


"Tentang rumah yang kau beli waktu itu, aku ingin meminjamnya."


Karena Dinda tidak bisa mendengar jawaban dari seberang sana. Jadi, dia hanya bisa mengait dan menyimpulkan setiap kalimat yang Candra katakan selanjutnya.


"Iya," setelah menjawab pendek, Candra pun diam sejenak.


"Datang saja ke rumah itu besok pagi, dan jangan lupa bawa kuncinya! Aku akan menjelaskannya di sana," sahut Candra lagi.


"Iya, ini cukup penting! Dan ...," Candra menghentikan kalimatnya sembari menoleh pada Dinda.


Dinda yang diam-diam memperhatikan Candra, segera mengalihkan perhatiannya dan memaikan res sleteng jaket yang sengaja tidak menutup penuh tubuhnya.


"Kau masih ingatkan, tujuan kenapa kau membeli rumah itu?"


Dinda langsung berpaling ke samping menatap jalanan yang perlahan sudah mulai legang, kendaraan pun berjalan normal.


Ada sedikit sesal di sudut hati Dinda, kenapa tadi dia memilih ikut ke tempat ini? Hingga secara tidak langsung saat ini dia harus mendengar pembicaraan suaminya dengan wanita yang Dinda tahu adalah selingkuhan Danu. Ditambah lagi kalimat yang dikatakan Candra, terdengar aneh menurutnya.


"Apa ...? Mengabulkan apa?" batin Dinda menjerit penasaran.


"Iya, besok lagi saja kujelaskan! Assalamualaikum," Candra mengakhiri pembicaraannya.


Tanpa menjelaskan apa pun, Candra langsung menghidupkan mesin mobil dan perlahan bergerak meningkalkan tempat tersebut.


Di perjalanan keadaan hening tanpa seorang pun yang berniat memulai pembicaraan, hingga akhirnya ponsel Candra memecah kesunyinya.


"Ada apa, Mas," ujar Candra usai mengucap salam. Atensinya terbagi antara ponsel dan kemudi, tapi karena sudah mendekati rumah. Dia tetap melajukan mobil, walau perlahan.


Seperti sebelumnya, Dinda lagi-lagi hanya menjadi pendengar dan tidak mau bertanya siapa yang menelepon suaminya itu di malam yang mulai larut. Namun, panggilan Candra pada seseorang itu, menandakan bahwa orang tersebut ialah laki-laki.


"Iya, itu benar," ucap Candra membenarkan, selanjutnya aja jeda sejenak. "Untuk sementara ada pihak warga yang menampung mereka, dan besok aku akan membawa ibu juga adiknya ke rumah yang dibeli Luna. Mungkin mereka akan lebih aman jika di sana, dan aku juga akan menambah pengawasan," lapor Candra menambahkan yang membuat Dinda mempertanjam pendengarannya.

__ADS_1


Matanya memicing memperhatikan luar jendela yang di setiap pinggirnya berdiri lampu jalan dengan jarak lumanyan jauh. Benaknya bekerja keras guna menebak siapa yang sedang berbicara dengan Candra. Besar kemungkinan jika orang itu juga mengenal Luna, karena nama wanita itu terselip di antara kalimat suaminya.


Akan tetapi, bukan hanya itu saja yang merenggut perhatian serta pola pikirnya. Sederet kalimat sirat akan makna keamanan juga pengawasan, seolah menjadi sebuah teka teki untuknya.


Apa makna yang tersimpan di dalamnya? Sedari tadi selalu membuat otaknya bekerja tanpa terungkapkan oleh kata-kata. Sunggu! Saat ini semua pertanyaan hanya bisa dia tumpuk menjadi satu. Dinda terlalu menjunjung tinggi harga diri dan tidak ingin melewatinya.


"Iya. Apa dia memberi tahumu, Mas?"


Kini mobil yang menampung mereka tengah melewati pagar tinggi, perbatasan antara aspal dan halaman rumahnya.


"Bersabarlah, dan bicara baik-baik padanya! Mungkin nanti dia akan berbah pikiran," mobil berhenti sempurna.


Dinda memutuskan turun tanpa menunggu suaminya selesai berbicara dengan lawan nan jauh entah di mana.


Berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam rumah, samar Dinda mendengar sedikit pembicaraan terakhir Candra, yang mengatakan akan bertemu dengan Luna di sana.


Baru saja menjauh dari pintu kamar, tiba-tiba saja pintunya terbuka dengan bersamaan kemunculan Candra.


Tidak ingin bersikap acuh, Dinda pun bertanya tentang makan malam Candra, "Apa makan malammu mau disiapkan sekarang, Mas?" ujarnya perhatian.


"Tidak usah, tadi aku sudah makan sebelum ke tempat kebakaran," tolak Candra jujur.


Dinda mengangguk mengerti dan membiarkan suaminya masuk kamar mandi. Selagi Candra mandi, Dinda seperti biasa ... menyiapkan pakaian sang suami.


Dia yang berniat mencuci kaki dan tangan pun menunggu gilirannya sambil duduk di sopa panjang. Rasa lelah dan kantuk seketika menghinggap dan membuat kelopak matanya menjadi berat. Berusaha agar tetap terjaga dan cara yang Dinda tahu untuk membunuh masa, ialah memainkan ponselnya.


Entah sudah berapa kali Dinda menguap dan hampir menjatuhkan ponsel di tangannya, tapi dia kembali menahan itu semua.


Perlahan namun pasti, rasa nyaman yang dihasilkan dari sandaran sofa telah mengantarkannya pada sebuah alam yang menenangkan dan dia ingin menetap selama mungkin.


Di alam bawah sadarnya, Dinda merasakan tubuhnya melayang dan kemudian mendarat di atas awan empuk. Tidak sampai di situ, awan tersebut bahkan menjalar dan membungkus tubuhnya hingga menimpulkan epek hangan.


Sesuatu tengah mengusiknya, benda kenyal dan hangat telah mendarat di permukaan bibirnya sedikit lama. Namun, ketika kesadaran hampir datang, seketika benda itu lenyam dan tak berbekas. Dinda pun kembali berkelana di atas awan empuk nan lembut miliknya.

__ADS_1


Samar aroma lemon fresh semakin menenggelamkan dan menghanyutkannya hingga ke dasar awan terdalam.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2