
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nandira berdiri pelan. Usia kehamilannya memasuki bulan kedelapan. Perutnya semakin besar. Mungkin karena ada empat nyawa yang tinggal didalam sana. Mungkin itulah yang membuat perutnya membesar luar biasa.
“Sayang, pelan-pelan.” Nathan langsung membantu wanita itu untuk duduk ditepi ranjang “Apakah sakit?” Tanya Nathan yang begitu kasihan pada istrinya.
Nandira menggeleng sambil tersenyum “Tidak Mas. Aku menikmatinya.” Ucap Nandira mengelus perut besarnya “Aku tidak sabar menyambut kelahiran mereka Mas.” Tuturnya lagi.
“Aku juga Sayang.” Seru Nathan “Aku tidak sabar melihat wajah mereka nanti. Kira-kira dia mirip siapa ya?” Nathan terkekeh sambil menatap perut sang istri dan mengelusnya lembut penuh cinta. Rasanya masih belum percaya jika gelar Ayah itu sebentar lagi akan menempel padanya.
“Tentu saja mirip aku Mas. Kan aku yang mengandungnya.” Sahut Nandira.
“Eitssssss, jangan salah Sayang. Mereka hasil kerja kerasku juga. Jika aku tidak lembur setiap malam mereka takkan berdiam nyaman didalam perutmu.” Ucap Nathan tak terima jika anak-anaknya mirip sang istri.
Nandira terkekeh. Suaminya ini seperti anak kecil saja. Kalau membahas anak-anaknya mirip siapa pasti Nathan selalu tidak terima jika anak-anaknya mirip Nandira.
“Sayang, minum susunya dulu.”
Nathan mengangkat gelas susu istrinya. Minuman wajib yang harus Nandira minum setiap malam. Nathan, selalu mengingatkan istrinya untuk minum susu dan vitamin Ibu hamil. Dia ingin anak-anaknya sehat nanti. Dia ingin anak-anaknya tumbuh dan berkembang tanpa merasakan sakit ditubuh mereka.
Nandira menunggak susu yang ada digelas itu hingga tandas. Dia suka sekali rasa vanilla di susu yang selalu suaminya buatkan untuknya. Rasanya sangat enak. Tidak terlalu manis karena dia tidak suka manis.
“Terima kasih Mas.” Nandira menyerahkan gelas itu.
Nathan mengambilnya dan meletakkannya diatas nakas. Kebahagiaannya adalah bisa merasakan perjuangan sang istri. Menemani Nandira dan menikmati kehamilan Nandira bersama-sama.
“Sayang.”
Nathan mencium perut Nandira. Dia gemes sendiri melihat perut besar istrinya. Keajaiban Tuhan yang membuat hati terenyuh. Bagaimana bisa manusia hidup didalam perut manusia selama Sembilan bulan? Terkadang kalau memikirkan keajaiban Tuhan itu rasanya diluar nalar pemikiran manusia.
“Sayang, aku tak sabar bermain dengan mereka. Membelikan mobil-mobilan. Main kuda-kudaan dan kejar-kejaran ditaman belakang rumah kita. Saat besar nanti mereka akan jadi penghuni yang membuat rumah kita ramai. Kehadiran mereka akan membuat dunia kita terasa utuh.”
Air mata kebahagiaan menetes di pipi Nathan. Belum juga anak-anaknya lahir tapi sudah merasakan kebahagiaan yang membuat jiwanya menggebu-gebu menyambut kebahagiaan.
Sekali lagi Nathan tak pernah membayangkan bahwa dia akan menjadi suami dan Ayah. Hidupnya yang hanya dipenuhi dengan pekerjaan dan uang kini akan ditemani oleh istri dan malaikat-malaikat kecil yang akan menemani masa-masa tuanya nanti.
“Mas.” Nandira mengusap pipi suaminya yang basah karena air mata.
Nathan memejamkan matanya meresapi sentuhan lembut diwajahnya. Kenapa air mata bahagianya tak bisa berhenti? Hanya didepan Nandira dia berani menangis. Karena jika didepan Nandira dia selalu menjadi diri sendiri dan seperti anak yang mengadu pada Ibunya.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku. Terima kasih juga sudah selalu ada untukku. Maafkan aku jika belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu Mas.” Ucap Nandira sambil tersenyum mengusap kedua pipi suaminya.
Nathan memegang tangan Nandira yang menempel diwajahnya. Dia menatap wanita yang duduk di bibir ranjang itu dengan penuh cinta. Wanita muda yang berhasil membuat dunianya tak bisa beralih pada yang lain.
“Aku yang harus berterima kasih padamu Sayang. Kehadiranmu membuat hidupku berubah. Dan ditambah dengan mereka.” Kembali mengusap perut istrinya “Kalian adalah harta paling berharga yang kumiliki.” Ucapnya lagi tersenyum hangat “Tidur yuk.” Ajak Nathan berdiri
“Iya Mas.” Sahut Nandira.
Nathan membantu istrinya berbaring diranjang. Nandira harus berbaring dengan cara menyamping karena perut besarnya itu membuatnya perutnya sakit jika harus berbaring dengan telentang.
“Sayang.” Keduanya saling menatap.
“Iya Mas.” Sahut Nandira. Dia menjadikan Nathan sebagai bantalnya.
“Aku bangga memilikimu.” Katanya lagi. Bukan gombalan, dia sungguh merasa bangga dengan wanita ini.
“Aku juga Mas.” Nandira menggosokkan wajahnya ditangan Nathan dengan manja.
“Kau ini….” Nathan menacapkan ciuman dikening Nandira
“Selamat tidur istri kecilku.” Ucapnya kemudian.
“Selamat tidur juga Mas.” Balas Nandira dengan senyum.
Nathan bukan pria sempurna tapi ketika dia bertemu Nandira, dia merasa bahwa hidupnya begitu sempurna. Tak ada lagi yang ingin dia cari didalam hidup ini. Dia hanya ingin bersama Nandira hingga dia menemukan akhir dari usia. Hingga dia lupa sudah berapa lama dia hidup.
.
.
.
.
.
“Argghhhhh Mas.”
Mata Nathan sontak terbuka saat mendengar rintihan istrinya. Dia menatap istrinya yang kesakitan sambil memegang perutnya.
__ADS_1
“Sayang.” Pria itu terbangun.
“Mas sakit.” Rintih Nandira sambil berusaha bersandar
“Yang mana yang sakit Sayang?” Tanya Nathan sambil menyimak selimutnya “Astaga Sayang, kau berdarah. Kenapa bisa berdarah Sayang?” Tanya Nathan panic.
“Aku tidak tahu Mas, ini sakit sekali.” Nandira terus merintih.
“Sabar ya sayang. Aku panggil Mey dulu.”
Nathan keluar dari kamar sambil berlari panic. Panic bukan main? Kenapa kaki istri berdarah? Ada apa pikirannya sudah berkelana tidak jelas.
“M-meyyyyy.” Suara Nathan tak tembus karena saking kencang nya berlari
Mey dan Hellena yang sedang asyik menyiapkan sarapan pagi dibantu oleh beberapa pelayan lainnya. Mereka kompak melihat Nathan yang berkeringat dengan nafas yang tak beraturan.
Namsin dan Tio yang berada diruang keluarga juga terkejut mellihat Nathan yang berlari. Dalam hati bertanya-tanya ada apa.
“Ada apa Kak?” Tanya Mey heran.
“M-meyy t-to-long.” Suara Nathan masih kurang jelas.
“Tarik nafas dulu Nak.” Hellena memberikan segelas air putih pada menantunya itu.
Nathan menunggaknya hingga tandas. Dia menarik nafas sedalam mungkin.
“Ada apa Nat?” Tanya Tio menghampiri Nathan bersama Namsin.
“I-istriku ber-d-darah.” Karena Nathan sebenarnya begitu phobia darah.
“Apa?” Pekik keempat orang itu bersamaan.
“Kak, kenapa kau bodoh sekali sihhh? Kakak ipar mau melahirkan Kak.” Mey masih sempat-sempatnya mengomel.
Mereka berlima berhambur kekamar Nathan dan Nandira. Wajah Nathan begitu panic dia sampai berlari takut jika istrinya kenapa-napa. Ahh dia benar-benar takut darah. Bagaimana jika istrinya itu kehabisan darah? Pokoknya Nathan sangat takut.
Namsin dan Tio biasa-biasa saja karena mereka sudah pengalaman saat istri hendak melahirkan. Tapi berbeda dengan Nathan yang wajahnya pucat fasih karena panic dan takut.
“Ck, kau itu Kak. Hanya tahu membuatnya saja tapi tidak tahu kalau dia mau lahir. Ayah macam apa kau itu?” Omel Mey.
__ADS_1
“Sudah Sayang, jangan mengomel terus ayo bawa Dira.” Tio menangahi istrinya yang masih sempat-sempatnya mengomeli Nathan.
Bersambung....