
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mars dan Ayana ikut masuk kedalam ruang rawat Anara setelah wanita hamil itu dipindahkan kedalam ruangan inap.
"Kak Nara." Gadis itu tersenyum ketika melihat Anara menggendong bayi munggil dalam posisi terbaring.
"A-ayana." Suara Anara masih belum tembus.
Ayana menghampiri Kakak nya diikuti oleh Mars yang tidak mau jauh-jauh lagi dari kekasihnya itu.
"Kak." Mata Ayana berkaca-kaca.
Ayana hampir ambruk ketika mendengar penjelasan Galvin. Bolehkah Ayana merayu Tuhan agar jangan mengambil Kakak nya dulu? Bagaimana dengan nasib bayi yang baru lahir ini nanti.
"Siapa namanya Kak dia cantik sekali?" Ayana mengusap kepala keponakan nya itu.
Sedangkan Aris menunduk menahan air mata yang sialnya selalu leleh dipipinya. Haruskah secepatnya ini? Harusnya? Tidak bisa kah ditunda?
"Anaya, itu kepanjangan nama kita berdua Ayana. Anara dan Ayana." Wanita itu tersenyum hangat diwajah pucatnya.
"Kak, kenapa harus pakai namaku? Bukankah harus nya memakai nama Kakak dan Mas Aris?" Tanya Ayana penasaran.
Anara tersenyum dia mengusap kepala putrinya yang terlelap.
"Karena dia akan menjadi anak kita berdua. Anak Kakak dan anak mu. Sedangkan Aris adalah Ayahnya." Jelas Anara "Sehat-sehat ya Nak." Ujarnya
"Na."
"Iya Kak?" Ayana kembali menatap Kakak nya
"Maukah kau menjaganya untuk Kakak? Maukah kau menjadi Bunda nya setelah Kakak sudah tidak ada nanti?" Anara menatap adiknya penuh harap.
"Kakak bicara apa? Kenapa harus aku menjadi Bunda-nya? Dan kenapa Kakak bicara begitu, Kakak tidak akan pergi meninggalkan aku kan?" Ayana juga menatap Kakaknya dengan air mata berlinang.
Wanita itu tersimpul dia mengelus wajah halus putrinya. Dia sudah memberi ASI pada putrinya itu. Jadi Anara yakin jika suatu saat putrinya akan tumbuh cantik, baik hati serta cerdas dan menjadi kebanggaan keluarga.
"Kakak lelah Na." Lirih Ayana.
"Kak." Ayana panik melihat Anara yang seperti merasakan sesak didadanya.
__ADS_1
"Sayang." Aris berhambur kearah istrinya.
Sedangkan Mars segera memanggil dokter. Dia juga panik. Bagaimana pun Anara adalah Kakak dari kekasihnya. Yang artinya Kakaknya juga.
"Sayang." Aris mengenggam tangan Anara.
Sedangkan Anara tangannya yang satu masih memeluk putrinya diatas dadanya.
"A-aris. Ke-napa d-dada ku se-se-sak?" Mata Anara semakin membesar menahan sesak didalam dadanya. Nafasnya tertahan di tenggorokan.
"Kakak." Ayana sudah menangis "Kakak." Air mata gadis itu menetes
Anara melihat Aris dan Ayana bergantian. Lalu menatap putri kecilnya yang masih terlelap dengan nyaman.
"A-aris, ak-ku ti-tip put-ri k-kita." Ucapnya dengan suara yang mulai hilang perlahan.
"A-ayana, menikahlah de-dengan A-aris. Dan jadilah Bu-bunda Anaya."
Mata Ayana melihat keatas. Tatapannya melekat. Pelukkannya pada sang putri mulai melonggar.
"ANARA." Teriak Aris.
Bersamaan matanya terpejam pelukannya pun terlepas. Seluruh tubuhnya langsung membiru dibagian tangan dan kaki.
Secepatnya Mars mengambil bayi itu dari dada Anara lalu memberikan nya kepada perawat.
"KAKAK."
Mars merengkuh tubuh Ayana dan memeluk wanita itu. Ayana menangis histeris sambil berteriak.
"KAKAK."
"Kenapa Kakak pergi? Kenapa Kakak meninggalkan ku? Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Kakak!"
Ayana hampir terjatuh jika Mars tidak langsung menangkap tubuh kekasihnya itu. Ayana menangis sepuasnya sambil berteriak memanggil nama sang Kakak.
Mendengar teriakan Ayana, bayi munggil itu ikut menangis didalam gendongannya seorang perawat. Merasakan kepergian sang Ibu yang belum dia kenali wajahnya.
Sedangkan Aris memeluk tubuh istrinya yang terbaring kaku tanpa darah dan pucat. Bahkan tubuh Anara seketika membiru.
__ADS_1
Aris tak percaya jika Tuhan begitu tega mengambil orang yang begitu dia cintai. Dia juga tak memiliki siapa-siapa. Hidup yatim piatu. Tak memiliki saudara. Orang satu-satunya yang dia miliki adalah istrinya.
"ANARA."
"ANARA."
"Kenapa kau pergi? Kau bilang ingin selalu bersama ku merawat putri kecil kita! Kenapa kau ingkar janji."
"Bangun Sayang. Bangun. Bangun. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpamu."
"Bangun..... Bangun...."
Aris pun berteriak memanggil nama istrinya berulang kali. Memeluk wanita itu mengguncang tubuhnya. Barangkali Anara hanya pingsan atau tertidur. Barangkali Tuhan masih mengasihi hatinya dan jiwanya, hingga bisa melepaskan segala takdir yang belum bisa dia terima ini.
"ANARA."
Aris menatap wajah pucat dan kaku itu. Selang-selang ditubuh Anara sudah dilepaskan. Dia terpejam tenang. Dia tertidur untuk selamanya.
Tangan Aris terulur membelai wajah istrinya. Dia menatap wanita yang dia cintai itu. Hatinya. Jiwanya. Seolah pergi bersama mata Anara yang terpejam.
"Aku belum siap kehilangan mu. Aku belum siap hidup tanpamu. Kenapa kau tega membuat airku terus mengalir begini? Bagaimana bisa aku hidup tanpamu Sayang? Bagaimana bisa? Harusnya kau tahu, sedetik tak melihat mu dunia ku bisa runtuh. Tapi sekarang, aku bahkan takkan bisa melihat mu selamanya." Ucapnya dengan air mata yang jatuh diwajah istrinya.
"Kau bahkan membiarkan aku membesarkan dan merawat putri kita seorang diri. Aku tak sanggup Sayang. Aku membutuhkanmu untuk berdiri disampingku. Aku sangat membutuhkan mu. Bangun Sayang. Bangun."
Aris memeluk kembali istrinya. Pelukan terakhir. Dia takkan bisa lagi memeluk wanita ini. Dia takkan bisa lagi menatap wajah wanita ini sebelum tidur. Wanita ini akan hilang selamanya dari peradaban bumi.
Tuhan, rasanya hati Aris seketika mati. Sebagian jiwanya ikut pergi. Menghilang dan tak kembali.
Aris melepaskan pelukan nya. Air mata sudah tak bisa diseka. Seribu tahun pun dia menangisi kepergian istrinya takkan membuat Anara kembali lagi disisinya.
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku harus mulai membiasakan diri hidup tanpamu. Kau tahu Sayang, aku tidak mau? Tapi aku tak bisa merebutku kembali dari pelukkan sang Pencipta takdir." Lirihnya.
"Selamat jalan Cinta. Selamat berpisah. Terima kasih pernah ada. Terima kasih pernah mencintaiku. Aku akan selalu mencintaimu. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik. Perasaan ku takkan pernah berubah sampai kapanpun. Sampai bertemu dikehidupan kedua nanti, tunggu aku ya."
Setelah mengucapkan kata perpisahan Aris mengecup kening Anara untuk terakhir kalinya. Dia begitu lama menempelkan bibirnya di kening yang sudah terasa dingin itu. Hatinya hancur. Jiwanya pergi. Cintanya telah pergi untuk selamanya.
Aris menyesal dulu pernah menyia-nyiakan istrinya. Sekarang penyesalan itu kembali membuat dihatinya terasa mati. Tak pernah terbayang dalam benak nya jika Anara akan pergi secepat ini dan meninggalkan dirinya sendiri.
Jika Aris boleh marah, Aris sangat ingin pada Tuhan. Kenapa Tuhan mengambil orang yang begitu dia cintai secepatnya ini? Tidakkah Tuhan kaishan padanya? Dia baru saja memulai hidup dengan istrinya. Baru merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan. Tapi harus berakhir dengan begitu cepat, disaat dirinya benar-benar butuh seseorang untuk melengkapi hidupnya.
__ADS_1
Bersambung..........