
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Huweeeeeek."
"Huweekkkk."
Nandira merasa perutnya seperti dikocok-kocok.
"Sayang." Nathan mengurut tengkuk wanita itu "Minum dulu." Menyerahkan segelas air putih.
Dari tadi pagi Nandira mual-mual dan perutnya benar-benar serasa dikocok.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" Air mata Nathan menetes saat melihat wajah pucat istrinya.
Nandira menggeleng dengan lemes "Tidak usah Mas, aku menikmatinya." Ucapnya memaksanya senyum diwajah pucatnya.
"Biar aku bantu sayang." Nathan membantu wanita itu berdiri
Nandira duduk diatas ranjang dan menyedenderkan tubuhnya. Jujur saja energinya serasa habis karena pagi-pagi dia sudah diawali dengan mual-mual.
"Sayang maafkan aku ya. Ini semua gara-gara aku." Menggenggam tangan Nandira sambil mencium punggung tangan wanita hamil itu.
"Tidak apa-apa Mas. Kata Ibu ini lah saatnya menikmati perjuangan seorang Ibu. Aku tidak apa-apa aku menikmati nya." Jawab Nandira lemes suaranya juga pelan.
"Mas aku ingin makan cumi bakar saos pasti enak sekali Mas." Rasanya air liur Nandira ingin keluar ketika mengingat cumi bakar itu.
"Iya sayang nanti Mas akan perintahkan Aris beli ya." Sambil menyelipkan anak rambut istrinya.
Nandira malah menggeleng "Aku tidak mau beli. Tapi aku mau Mas yang masak." Renggek nya "Ayo dong Mas masak."
"Tapi Mas tidak bisa memasak nya sayang." Ini yang paling Nathan khawatirkan. Istrinya ini meminta makanan yang aneh-aneh tapi ketika sudah ada bukannya dimakan wanita itu malah jenggah melihat nya.
"Aku tidak mau tahu, aku mau Mas yang masak. Titik tidak pakai koma apalgi tanda seru." Final nya tak lupa wajah nya yang merajuk.
"Baiklah sayang, Mas akan masak. Jangan cemberut lagi ya." Nathan mencubit dengan gemes hidung istrinya. Wanita hamil ini sangat sensitif, salah sedikit dia bisa jadi sasaran.
"Aku mau lihat Mas." Nandira ikut menurunkan kakinya.
__ADS_1
"Jangan sayang kau istirahat sajalah." Padahal Nathan sudah berencana menghukum Aris yang masak, kalau Nandira iku dengannya bisa gagal rencananya.
"Tidak mau. Aku mau ikut." Tegas Nandira. Pokoknya Ibu hamil ini tidak menerima bantahan.
"Ya sudah sayang. Mas gendong ya." Sahut Nathan mengalah tapi pada istrinya menangis dan merenggek lebih baik dia mengalah saja.
"Iya Mas." Nandira menurut dengan senang.
Nathan menggendong istrinya alat bridal style. Sejak hamil Nandira manjanya luar biasa tapi Nathan malah senang. Dulu mana pernah Nandira bermanja-manja padanya, malah dia yang bermanja-manja dan sekarang Nathan merasa menjadi suami yang berguna sejak Nandira hamil.
Nandira melingkarkan tangannya dileher Nathan. Dia menatap wajah tampan suaminya.
"Mas aku baru tahu jika suamiku ini tampan. Kenapa aku baru sadar ya?" Ucap Nandira sambil mengelus wajah mulus Nathan.
Nathan terkekeh pelan. Perasaan nya terbang melayang saat Nandira memujinya tampan. Meski sudah biasa dipuji tampan tapi saat dipuji tampan oleh orang yang dia sayang serasa ingin melompat-lompat kegirangan.
"Suaminya siapa dulu dong?" Seru Nathan.
"Suami aku." Sahut Nandira terkekeh.
Mereka berdua lalu saling tertawa lebar sambil Nathan menggendong tubuh istrinya menuju dapur. Pokoknya hari-hari keduanya hanya bermesraan saja.
"Iya Mas." Nandira menurut.
Nathan menggaruk kepalanya. Dia bingung bagaimana cara masak cumi bakar. Dia memang bisa memasak karena terbiasa hidup mandiri tapi untuk masak makanan seperti itu seumur hidupnya belum pernah.
"Kenapa Mas?" Tanya Nandira melihat suaminya yang hanya diam bingung didepan kulkas.
"Tidak apa-apa sayang." Sahut Nathan tersenyum sambil mengeluarkan beberapa cumi dari dalam kulkas karena memang stok persediaan makanan selalu ada disana.
"Ehem, kenapa aku bodoh sekali kan aku bisa cari di Internet." Nathan menepuk jidatnya.
Nandira hanya mengawasi suaminya dari jauh. Senyum wanita itu menggembang.
"Suamiku memang paket konflit. Sudah baik hati. Tampan. Kaya raya. Pintar masak. Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau didustakan." Gumam wanita hamil itu sambil terkekeh pelan.
Sebagai seorang wanita Nandira begitu beruntung memiliki Nathan. Selama menikah suaminya itu tidak pernah marah padanya. Tidak pernah membentak dan memaksanya selalu bersikap lembut dan menghargai nya.
__ADS_1
Impian Nandira memang menikah dengan lelaki yang mencintainya dan sekarang mimpi itu telah terwujud dan lagi sebentar lagi mereka akan bertiga yang akan melengkapi kebahagiaan rumah tangga Nathan dan Nandira.
"Sehat-sehat ya Nak. Mommy tidak sabar menanti kedatangan mu. Lihatlah Daddy dia sangat pintar memasak nanti kalau kau sudah besar semoga kau mengikuti jejak kakinya." Sambil mengusap perut ratanya.
Nathan masih berkutat dengan alat dapur sambil menonton video memasak diponsel nya. Dia harus memastikan bahwa cumi bakar buatannya enak dan pas dilidah istrinya.
Selang beberapa waktu kemudian masakkan Nathan telah siap disajikan. Keringat membasahi kening pria itu. Dia harus mengulang beberapa kali karena banyak yang salah.
"Semoga istriku suka." Sambil tersenyum membawa piringnya.
"Sayang cumi bakarnya sudah ma_." Nathan menghembuskan nafas kasar ketika melihat Nandira yang tertidur dengan berbantalkan tangannya.
Pria itu meletakan masakkan diatas meja sambil menarik nafas nya sabar. Dia sudah setengah mati memasak makanan itu tapi setelah sudah matang istrinya malah tertidur.
Nathan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nandira.
"Kau ini membuatku gemas saja sayang. Namun aneh nya aku tidak bisa marah padamu." Gumamnya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, padahal ini masih jam sembilan pagi menuju jam sepuluh dan hari ini Nathan memutuskan untuk tidak ke kantor dia ingin merawat dan menemani istrinya dulu
Nathan menggendong wanita itu dan membawa nya ke kamar. Nandira sulit ditebak. Sejak hamil tingkah semakin aneh saja.
Nathan membaringkan istrinya dengan pelan. Lalu dia menyelimuti tubuh wanita itu.
"Kenapa kau semakin cantik sayang sejak hamil? Rasanya aku tidak rela membawamu keluar. Aku takut banyak pria diluar sana yang jatuh cinta padamu dan rasanya aku ingin membatalkan test mu Minggu ini. Tapi aku tidak mau egois. Entah kenapa aku takut ketika kau berhasil menjadi dokter nanti kau malah pergi meninggalkanku dan mencari pria yang jauh lebih muda dari aku." Lirih Nathan mengusap pipi istrinya.
"Kau ini cantik sekali meski masih sangat polos. Tapi aku suka kau yang polos. Aku suka kau yang menurut padaku. Jangan pernah berubah sayang. Aku mencintai mu hingga di ujung nadi. Semoga kita selalu bahagia selamanya." Nathan mengecup kening istrinya lama.
Jujur saja Nathan memiliki ketakutan dalam dirinya. Dia takut bahagia tidak selalu berpihak padanya. Dia takut Nandira pergi meninggalkan nya. Karena Nathan sudah pernah merasakan kehilangan dan kehilangan itu sakitnya luar biasa.
Apalagi nanti ketika Nandira sudah mendapat gelar dokter, Nathan takut istrinya akan bergaul dengan laki-laki diluar sana dan jatuh cinta pada orang lain. Apalagi semakin hari dia semakin tua hal itu membuatnya panik sendiri.
Bersambung....
Siapa yang kangen Aris sama Anara?
Si Tuan Planet sama Dedek Ayana??
Atau si berisik dan cerewet Ranti dan Ivan???
__ADS_1
Yuk ikuti terus jangan lupa dukungan buat author guys...