Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Kemarahan Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ayana mengepalkan tangannya ketika mendengar cerita Anara. Apalagi Kakaknya itu bercerita sambil menangis. Sebagai sama-sama perempuan dan apalagi Anara adalah saudara kembar nya tentu memiliki intuisi perasaan yang begitu peka terhadap perasaan sang Kakak.


“Lagian kenapa Kakak tidak jujur dari awal Kak?” Tanya Ayana. Dia juga kesal pada Anara karena tidak bercerita dari awal. Hal ini tidak bisa disepelekan dalam hubungan.


Anara menunduk dengan air mata berderai “Kakak takut kehilangan Aris, Na. Kakak sudah terlanjur cinta padanya. Kakak tidak mau dia pergi saat tahu jika Kakak sudah tidak perawan lagi.” Jelas Anara sambil menyeka air matanya dengan tissue yang diberikan oleh Ayana.


“Ck, tapi Kakak lihat sekarang kan? Lebih Kakak kehilangan dia sebelum menjadi suami Kakak. Dan sekarang apa bedanya? Kakak hanya dijadikan pajangan hanya karena Kakak perawan lagi.” Ucap Ayana kesal.


Anara hanya bisa menunduk. Dia juga malu pada dirinya sendiri. Jika boleh menyesal dia sangat menyesal tapi apakah dengan menyesal bisa membuat semuanya kembali seperti sediakala.


“Dan Kakak harus tahu bahwa pria tua itu tidak mencintai Kakak. Kalau dia mencintai Kakak dia akan menerima masa lalu Kakak, bukan malah mengintimidasi seperti ini. Setiap orang pernah bersalah Kak, semua orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri.” Ucap Ayana menggebu-gebu “Suami lucnat, aku menyesal pernah jatuh hati padanya. Dia tidak lebih dari pria bajingan, dia pikir dia manusia suci apa? Dia juga pasti banyak melakukan kesalahan yang tidak Kakak tahu.” Imbuhnya dengan emosi.


Ayana berdiri dari duduknya “Kakak tinggalkan saja dia dan tinggal bersamaku. Untuk apa bertahan dengan pria yang sama sekali tidak menghargai Kakak. Dia tidak pernah cinta Kakak, dia hanya nafsu saja. Karena kalau cinta dia akan bisa menerima kondisi Kakak.” Ucap Ayana


Anara menggeleng “Tidak Na. Kakak tidak mau pisah dari Aris, Kakak mencintainya. Kakak tidak mau kehilangannya. Tidak apa-apa Kakak hanya dijadikan sebagai pajangan saja yang penting Kakak masih bisa bersamanya.” Tolak Anara sambil berdiri memegang tangan adiknya.


“Ayolah Kak jangan bodoh, jangan gunakan perasaanmu. Tapi gunakan logikamu. Cinta boleh, bodoh jangan. Kau takkan bahagia bertahan dengan pria tidak tahu diri tahu. Aku tidak mau tahu Kakak pisah saja.” Ayana sudah emosi tingkat dewa. Dia tidak terima Kakaknya diperlakukan seperti itu. Harusnya Aris bersyukur karena Anara mau membuka hati untuk Aris setelah merasakan kehilangan yang terhebat dalam hidupnya.


“Aku harus menemui pria itu.” Ayana melepaskan tangan Anara.


“Na, Kakak mohon jangan.” Air mata sudah berderai dipipi wanita itu.


“Maaf Kak. Untuk kali ini aku takkan menuruti kata-katamu. Kau itu Kakak ku. Kau iu saudara kembarku. Aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu. Percaya padaku, kau akan bahagia dan menemukan lelaki yang terbaik berpisah dengannya.” Ucap Ayana.


“Ayana.”


Namun gadis itu seolah menulikan telingannya. Dia keluar dari ruangan Anara dengan mulut yang mengomel tanpa henti seperti benar-benar siap mengajak siapapun yang ada didepannya untuk berperang. Dia tak terima Anara diperlakukan seperti itu, jika memang Aris tidak terima kenyataan itu, kenapa tidak ceraikan saja Anara dari pada bertahan tapi malah menjadikan Anara sebagai patung hidup dirumahnya.

__ADS_1


“Kau mau kemana?” Tanya Mars dari tadi dia panikk mencari keberadaan Ayana


“Mau perang.” Jawab gadis itu ketus melewati Mars begitu saja.


Mars menyusul Ayana “Tunggu dulu.” Dia mencengkram tangan gadis itu.


“Ck, lepaskan tanganku.” Sentak Ayana kesal. Dia buru-buru dan kenapa pria ini malah menahannya?


Mars semakin erat mencengkram tangan Ayana “Katakan padaku kau mau kemana?” Mars memincingkan mata curiga siapa tahu Ayana mau bertemu Galvin.


Ayana semakin kesal “Ikut saja aku kalau kau ingin tahu.” Jawabnya. Dia menarik tangan Mars


“Ehhhh kau bisa pelan-pelan tidak?” Gerutu Mars, dia hampir terjungkal mengeimbangi gadis itu.


“Tidak.” Ayana membuka pintu mobil Mars.


Ayana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mars sambil berpegangan sakit takutnya. Pasti setelah ini dia akan muntah karena Ayana yang membawa mobil dengan membabi buta.


Pria itu memejamkan matanya sambil mulut komat-kamit merapalkan doa, dia belum siap mati. Dia belum menikah. Dia belum mendapatkan hati Ayana. Jika mati sekarang dia akan banyak merasakan rugi.


Mobil Ayana terhenti didepan perusahaan Nathan. Ban mobil itu berdesir saat Ayana menginjak rem dengan mendadak.


Ayana turun dari mobil dengan wajah merah padam. Preman kampong itu jago bela diri. Dia adalah orang yang berdiri paling depan saat Kakaknya disakiti orang lain.


Sedangkan Mars turun dari mobil dan langsung muntah. Perutnya serasa dikocok karena Ayana yang membawa mobil dengan membabi buta.


Ayana melangkah dengan wajah merah padam. Tangannya terkepal kuat. Bahkan matanya juga terlihat merah. Bersiap-siaplah Aris merasakan kemarahan Ayana.


“Huwek. Huwek. Huwek.” Rasanya semua isi perut Mars ingin keluar.

__ADS_1


“Gadis aneh tunggu.” Panggil Mars sambil berjalan sempoyongan sambil memegang perutnya.


Namun Ayana tak peduli. Gadis itu berjalan masuk tanpa peduli dengan tatapan para karyawan yang menatap nya dengan tanda tanya. Siapa gadis ini?


“Maaf Nona, anda mencari siapa?” Tanya Luna sang resepsionarist


Ayana menatap Luna tajam. Dia benar-benar sudah siap berperang. Gadis itu malah melengang tanpa peduli dengan pertanyaan Luna. Dia sedang marah. Dia tidak peduli pada siapapun. Dia harus bertemu Aris dan memberi Aris pelajaran.


“Pak kejar dia.”


Dua orang satpam berusaha mengejar Ayana saat gadis itu tidak mau mengisi buku tamu. Siapapun tamu yang berkunjung diperusahaan Nathan harus mengisi buku tamu. Sedangkan Ayana malah tidak.


“Berhenti Nona.” Dua satpam itu masih mengejar Ayana yang berjalan seperti orang lomba lari itu.


Langkah kaki Ayana terhenti. Dia menatap dua satpam yang sedang mengatur nafas mereka karena berlari.


“Dimana Tuan kalian?” Tatapnya tajam “Cepat katakan!” Bentak Ayana.


“Maaf Nona anda harus membuat janji dulu jika ingin bertemu Tuan Nathan dan Tuan Aris.” Ucap salah satu satpam sambil mengatur nafasnya yang memburu. Apalagi sudah berusia kalau diajak lari-lari seperti tadi membuat nafasnya serasa mau terlepas.


“Ayana.” Mars berjalan dengan lemas masih memegang perutnya dibantu oleh satu satpam.


“Alah, aku tidak peduli.”


Gadis itu kembali berjalan mencari keberadaan Aris. Pokoknya dia harus memberikan pelajaran pada pria itu. Aris sudah membuat Kakaknya menangis dan menderita jadi Aris juga harus merasakan hal yang sama.


Ayana susah payah menemani Kakaknya bangkit dari patah hati tapi dengan mudahnya Aris kembali menyakiti Kakaknya itu.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2