Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 19. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ada apa Tuan?" Tanya Aris saat sudah sampai diruangan Nathan.


Dia tetap menjadi asisten setia Nathan. Dia mengabdikan diri untuk membantu Nathan mengelola perusahaan miliknya.


"Duduklah Ris." Suruhnya sambil meletakkan buku yang dia baca.


"Baik Tuan." Aris duduk di soffa ruang kerja Nathan.


Nathan berdiri dari duduknya dan menghampiri Aris, duduk disoffa.


"Bagaimana keadaan putrimu?" Sambil merebahkan tubuhnya disana.


"Puji Tuhan dia sehat Tuan." Jawab Aris. Dia tersenyum mengingat putri semata wayangnya itu.


"Hem, Aris ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Nathan sambil memperbaiki dasi nya yang setengah bergeser.


Kening Aris berkerut "Bicara apa Tuan?" Tanyanya penasaran dan heran.


"Hem, ku dengar Anara meminta mu menikahi Ayana?" Nathan menatap asistennya dengan kedua tangan yang terlipat.


Aris mengangguk "Iya Tuan. Istriku ingin Ayana menjadi Ibu sambung Anaya." Jawab Aris cepat.


"Apa kau yakin ingin menikahi Ayana?" Tanya Nathan


Aris terdiam sejenak "Demi Anara, saya yakin Tuan." Lagi-lagi Aris menjawab dengan membungkuk hormat.


Terdengar helaan nafas berat dari mulut Nathan. Dia lalu menatap asistennya. Bagaimana pun Aris sudah seperti saudara kandung nya sendiri. Dia tidak mau asisten nya itu mengambil jalan yang salah karena itu tidak hanya merugikan orang lain tapi dirinya sendiri pun akan dirugikan.


"Apakah kau sungguh ingin mengabulkan permintaan istrimu?" Tanya Nathan sekali lagi.


Aris mengangguk "Iya Tuan. Saya ingin mengabulkan permintaan terakhir istri saya." Jawab Aris.

__ADS_1


Nathan menggeleng "Tidak ada niat lain selain mengabulkan permintaan Anara? Maksud ku, apakah hanya ingin mengabulkan permintaan nya atau kau memiliki perasaan pada Ayana?" Sambungnya.


"Maksud anda Tuan?" Aris terlihat tak paham dengan pertanyaan Nathan.


"Aris, apa kau yakin ingin menjadikan Ayana sebagai Ibu sambung putrimu hanya karena permintaan Anara? Kau tahu bukan jika Ayana dan Tuan Mars saling mencintai? Bagaimana perasaan Tuan Mars jika kau menikahi Ayana?"


"Tapi ini demi Anara Tuan." Sahut Aris.


"Aku tahu Aris. Aku paham posisi mu. Tapi ini tidak harus dikabulkan. Kau tidak bisa mengorbankan Ayana hanya demi permintaan Anara. Ayana bisa merawat putri mu tanpa menjadi istrimu."


"Apa kau yakin setelah menikahi nya kau tidak akan jatuh cinta padanya? Apalagi wajah Ayana begitu mirip dengan almarhum istrimu. Benih-benih cinta itu akan tumbuh jika kau sering bersama dengannya. Lalu bagaimana dengan Tuan Mars?"


"Sekarang aku tanya diposisi terbalik. Misal, Ayana meminta Anara menikah dengan Tuan Mars, apa kau sanggup Aris? Apa kau bisa Aris?" Cecar Nathan.


Aris terdiam. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Nathan.


"Jangan egois Aris. Kau masih bisa mencari Ibu sambung yang lain untuk Anaya dan tidak harus Ayana. Ayana sudah memiliki tambatan hatinya sendiri. Kau mau menikahi gadis yang memiliki pacar? Apa kau takkan sakit hati ketika melihat Ayana dan Tuan Mars bermesraan didepan mu, sedangkan kau suami nya?"


"Apakah kau mau mempermainkan pernikahan dengan menikah kontrak lalu bercerai setelah kontrak itu habis? Pikirkan baik-baik Aris. Aku tahu kau ingin mengabulkan permintaan terakhir istrimu, tapi kau tidak bisa mengorbankan orang lain terutama Ayana. Kasihan dia. Dia pasti terluka. Dia pasti sakit hati dan Tuan Mars juga akan merasakan hal yang sama. Jika pernikahan itu sampai terjadi kalian bertiga akan terluka dengan cara bersamaan."


"Tu-an." Aris menatap Nathan berkaca-kaca.


"Putrimu akan paham jika dia sudah dewasa nanti." Nathan tersenyum.


"Kau bisa merawat putrimu sendiri tanpa Ayana. Kau bisa bahagia tanpa istri. Kau cukup menerima putrimu dan menjadikan dia satu-satunya dalam hidupmu."


"Biarkan Tuan Mars dan Ayana bahagia. Jangan ganggu mereka. Mereka saling mencintai, kau tidak bisa memisahkan orang yang saling cinta hanya demi ego mu Aris." Nathan menepuk pundak Aris.


"Jangan takut. Ayana tetap bisa menjadi Ibu Anaya tanpa harus menjadi istrimu." Senyumnya


"Terima kasih Tuan, sudah menyadarkan saya. Tuan benar saya terlalu egois. Padahal saya tahu akan ada yang terluka jika saya mementingkan ego saya sendiri. Maafkan saya Tuan." Aris membungkuk hormat, lelehan bening lolos dipelupuk matanya.


"Jangan meminta maaf padaku, Aris. Minta maaflah pada Tuan Mars dan Ayana. Disini mereka yang terluka." Ucap Nathan

__ADS_1


"Baik Tuan terima kasih. Saya permisi Tuan." Aris menyeka air matanya.


Aris keluar dari ruangan Nathan. Apa yang Nathan katakan benar, dia terlalu egois padahal dia tidak perlu mengabulkan permintaan istrinya. Dia sudah menyakiti perasaan Mars dan Ayana. Dia sudah memaksa Ayana menikah dengannya.


'Maafkan aku Sayang, aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu. Aku tidak bisa menikahi Ayana. Ayana mencintai Tuan Mars. Aku tidak mau hatinya terluka karena menikahi pria yang tidak dia cintai seperti ku.' Batin Aris menyeka air matanya.


Aris kembali duduk dimeja kerja nya. Perasaan nya lega karena nasehat Nathan. Setidaknya dia tidak berperang dengan perasaan nya sendiri. Dia hampir saja merebut milik orang lain hanya karena ego nya sendiri. Untunglah, dia memiliki Tuan seperti Nathan yang begitu peduli padanya yang selalu menasehati nya jika dia salah ambil jalan.


"Hallo, Tuan Mars aku ingin bertemu dengan mu dan Ayana. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."


Setelah selesai berbicara, Aris menutup sambungan telponnya. Pria itu menghela nafas pelan. Sedangkan putrinya sekarang dia titip pada Hellena dikediaman Nathan, setiap sore dia akan menjemput putri nya itu untuk pulang ke rumah bersamanya.


"Anaya, maafkan Ayah. Ayah berjanji akan menjadi Ayah dan Bunda untukmu. Tumbuh yang sehat ya Nak. Kita akan bahagia, meski kita hanya berdua." Aris mengusap foto putri nya didalam layar ponselnya.


"Kau adalah jantung hati Ayah. Jangan pernah tinggalkan Ayah." Lelehan bening itu lolos lagi dari pelupuk matanya.


Aris menyimpan ponselnya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum bertemu Mars dan Ayana.


"Aris." Nathan keluar dari ruangan nya.


"Iya Tuan?" Aris mengangkat kepalanya.


"Ayo pulang."


"Baik Tuan."


Setelah anak-anak nya lahir, Nathan selalu tak betah dikantor. Perasaan nya selalu ingin pulang cepat. Karena ketika pulang dia sudah disambut oleh istri kesayangan nya dan anak-anak yang juga tampak menyambut dirinya.


Bahagia menjadi seorang Ayah itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyuman selalu terbit diwajah tampannya. Tak menyangka jika dirinya telah menjadi seorang Ayah dari empat bayi kembar sekaligus.


Nathan ikut andil dalam merawat keempat anaknya. Apalagi, Nandira yang tak ingin memakai jasa Baby Sitter jadi Nathan harus ikut turun tangan untuk membantu sang istri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2