
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil Mars sampai di basement Apartement Ayana. Sebenarnya Mars sudah membelikan apartment baru untuk kekasihnya ini. Sebagai orang yang memiliki uang, dia merasa tak nyaman terus menumpang di Apartement Nathan. Meski pun secara Nathan memang sudah memberikan Apartement ini untuk Ayana. Namun dirinya tetap saja merasa gengsi. Dia bisa membeli banyak Apartement dari ini. Namun Ayana belum menerima, dia masih ingin tinggal disini mengenang tempat tinggalnya bersama sang Kakak, setidaknya sampai dia melepaskan masa lajangnya.
"Ayo Sayang."
Senyum bahagia menggembang diwajah kedua manusia yang tengah saling jatuh cinta itu.
"Iya Mas."
Ayana dengan sukarela menerima uluran tangan Mars. Dia terus menatap tangan kirinya yang dijari nya terdapat cincin melingkar dengan indah.
"Mas, aku penasaran Mas beli cincin ini dimana? Bagus sekali Mas, aku suka." Seru Ayana membolak-balik tangannya "Rasanya seperti mimpi dilamar oleh Tuan Planet menyebalkan." Dia cekikikan saat melihat wajah kekasihnya yang cemberut karena dipanggil Tuan Planet.
"Sayang kau ini yaa...." Gemes Mars.
Ayana membentuk jari v nya sebagai tanda damai saat lelaki itu hendak mencium nya lagi.
"Tapi aku serius Mas. Mas beli dimana?" Tanya Ayana. Dia belum puas sebelum tahu dimana sang kekasih membeli cincin sebagus ini.
"Memangnya kau mau apa?" Tanya Mars heran. Tangan keduanya saling mengggadeng.
"Kali saja nanti, uang Mas habis dan Mas bangkrut. Jadi aku bisa lelang ini di online shop. Lumayan lah buat menyambung hidup beberapa bulan." Celetuk Ayana.
Mars merenggut kesal. Dia memutar bola matanya malas. Sedangkan Ayana tertawa lebar.
"Jangan cemberut begitu Mas. Nanti tampannya hilang." Wanita itu menarik sudut bibir kekasihnya agar tersenyum
"Kau ya? Jangan macam-macam. Jangan coba-coba dijual. Kalau sampai kau menjualnya. Aku akan mengurungmu dalam kamar." Ancam Mars kesal. Bisa-bisa nya Ayana berpikiran jika dia akan bangkrut.
"Hem kan misalnya Mas. Aku hanya takut kau bangkrut saja Mas." Ayana cekikikan.
"Aku takkan bangkrut. Hartaku banyak. Bahkan takkan habis sekali pun kau membeli seratus cincin ini." Ucap Mars menyombongkan dirinya. Dia memang kaya. Perusahaan nya saja merajai bisnis Asia. Jadi hartanya takkan habis bukan?
__ADS_1
Kini Ayana yang memutar bola matanya malas "Ya. Ya. Saya tahu anda kaya Tuan. Sangat kaya. Tak terhitung." Seru Ayana tapi bibirnya menggerecut kesal.
Mars ngakak "Habisnya kau ini ya. Bicara suka sembarangan." Mars menarik kedua pipi Ayana dengan gemes.
"Mas..." Ayana mencebik karena pipinya panas akibat ulah Mars.
Mars hanya tersenyum simpul. Bahagia memiliki pasangan seperti Ayana. Meski sering mengundang emosi dan membuat marah tapi tak pernah membuat bosan.
Keduanya masuk kedalam Apartement.
"Mas aku langsung masak saja." Ayana meletakkan tas nya.
"Mandi dulu Sayang. Biar aku yang masak." Suruh Mars. Dia paling risih kalau tidak mandi pulang kerja.
"Tapi Mas_."
"Jangan membantah Sayang." Sergah Mars "Atau kau mau aku mandikan?" Dia tersenyum devil sambil menaik turunkan alisnya
"Baiklah. Aku akan mandi." Segera gadis itu menyambar tasnya dan bergegas ke kekamar mandi. Sebelum kekasih nya yang mesum itu membuat masalah.
"Imutnya." Pria itu tersimpul.
Mars membuka jas nya dan melemparnya disoffa. Dia juga menarik dasi yang terasa mencekik lehernya. Lalu dia mengulung kemejanya sampai disiku.
Mars menuju dapur untuk menyiapkan makan malam nya bersama Ayana. Malam ini dia akan mengajak Ayana menemui orangtuanya membicarakan masalah pernikahan mereka. Mars tak ingin tunangan dia ingin langsung mempersunting Ayana menjadi istrinya. Dia tak sabar berkelahi diatas ranjang bersama gadis itu, pasti seru. Apalagi Ayana yang liar membuat Mars akan semakin bersemangat untuk mempercepat pernikahan mereka.
Mars berkutat didapur dengan senyum sumringah. Jangan salah. Meski dia anak sultan tapi dia cukup mandiri. Apalagi dulu di Indonesia dia tinggal bersama adiknya Ranti dan adik ipar nya Ivan jadi sudah biasa jika masalah dapur dan makanan.
.
.
.
__ADS_1
.
Ivan memapah istrinya duduk disoffa ruang tamu, kehamilan Ranti memasuki bulan kedelapan. Namun wanita hamil itu terlihat mudah lelah. Apalagi dirinya yang memang asalnya manja jadi memiliki alasan untuk bermanja-manja dengan alasan bayi dalam perutnya.
"Kak pijitin." Dia memunggui suaminya.
"Iya Sayang." Ivan yang sudah cinta dan bucin setengah mati itu hanya menurut permintaan istrinya.
Sementara Dennis dan Syenti geleng-geleng kepala saja. Ranti sungguh manja, apa-apa suaminya. Untuk dia memiliki suami yang sabar dan baik seperti Ivan yang paham dan mau menuruti permintaan istrinya itu.
"Bagaimana kehamilan mu Girl?" Tanya Dennis menatap putrinya
"Ya beginilah Mommy. Lelah. Rasanya aku tidak mau hamil lagi." Ujar Ranti sendu. Hamil itu tidak enak
"Ck, makanya jangan melawan Mommy. Sekarang kau sudah rasakan 'kan bagaimana rasa nya menjadi Ibu hamil?" Syentia mencebik menatap anak perempuan nya itu "Sama suami juga jangan durhaka. Sudah lelah-lelah bekerja, kau malah menyuruh nya tidur diluar." Ranti wanita hamil yang kadang mood nya memburuk yang suka menghukum suaminya tidur diluar.
"Ini bawaan debay Mom. Bukan kemauan ku." Ranti membela diri.
Sementara Dennis dan Ivan geleng-geleng kepala saja mendengar percakapan antara Ibu dan anak itu. Sudah tak heran, keduanya memang suka berdebat beda argumen. Apalagi Ranti yang manja semakin membuat Syentia jengkel, dia juga dulu hamil tapi tidak manja seperti putrinya.
"Kak, disini." Sambil menunjukkan lehernya yang memang pegal-pegal "Mom tangan dan kaki ku sudah sedikit membengkak, apa itu artinya tidak lama lagi aku akan lahiran?" Tanya Ranti, sungguh dia tak sabar anak pertama nya lahir didunia.
"Ya itu biasa di alami Ibu hamil. Tapi kau masih ada sebulan lagi menunggu lahiran. Banyak-banyak lah bergerak jangan manja." Sahut Syentia.
"Kan manja dengan suami sendiri tidak apa. Iya kan Sayang?" Sambil menoel dagu Ivan "Suamiku kan sayang istri." Ranti tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.
Syentia mendelik. Bersyukurlah Ranti memiliki suami yang sabar seperti Ivan. Baik hati dan sayang istri. Bagaimana pun manja nya Ranti sebelum atau sesudah hamil, Ivan tak pernah mengomel dia selalu melayani istrinya seperti ratu. Namun semanua- manja nya Ranti, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri terutama dalam hal mengurus semua keperluan suaminya.
"Dimana lagi yang sakit Sayang?" Tanya Ivan.
"Tidak ada lagi Kak. Aku ingin bersandar dibahumu ya?" Wanita itu langsung menyandarkan kepalanya dilengan sang suami.
"Iya Sayang." Ivan tentu dengan senang hati.
__ADS_1
Ivan juga menikmati perannya sebagai seorang suami. Dirinya yang dulu tak pernah jatuh cinta sekali jatuh cinta benar-benar bucin parah. Ranti yang berisik sangat cocok dengan dirinya yang irit bicara dan dingin itu. Meski sifat dan karakter mereka bertolak belakang namun keduanya tetap menjadi pasangan yang saling jatuh cinta setiap hari.
Bersambung....